Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Malam itu, suasana di dalam rumah terasa begitu hangat dan tenang. Hujan baru saja reda, menyisakan udara sejuk yang masuk lewat celah jendela. Genesis sudah tertidur pulas di kasurnya, wajahnya terlihat damai, jauh dari kesedihan yang dulu selalu menghantuinya.
Namun Naura atau yang kini dikenal sebagai Alexa masih terjaga. Ia duduk di sudut ruangan, menatap wajah anaknya yang terlelap dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Rasa cinta itu meluap-luap. Begitu besar hingga rasanya ingin meledak keluar dari dadanya.
Ia menggeser tubuhnya perlahan, mendekat ke arah kasur tempat Genesis tidur. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena kerinduan yang sudah tertahan terlalu lama.
“Gen… sayang…” bisiknya sangat pelan, suaranya bergetar hebat.
Tangannya terulur, jari-jarinya gemetar saat hendak menyentuh rambut anak itu. Ingin sekali ia membelai wajah itu, ingin sekali ia mengusap pipi itu dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya.
Tangan itu berhenti tepat di udara, hanya beberapa senti dari wajah Genesis.
“Maafin Ibu ya…” isaknya pelan, air mata mulai mengalir deras membasahi pipi.
“Maafin Ibu karena ninggalin kamu dulu. Maafin Ibu karena harus ninggalin dunia ini dan ninggalin kamu sendirian saat ibu belum bisa bikin kamu bahagia…”
Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpanya. Kenangan masa lalu berputar cepat di kepalanya. Kenangan saat ia harus bekerja keras membesarkan Genesis sendirian, kenangan saat mereka tertawa bersama meski hanya makan nasi dengan garam, kenangan saat ia mencium kening anaknya sebelum tidur.
“Kamu tumbuh jadi anak yang kuat ya… Ibu bangga banget sama kamu. Lihat kamu sekarang, ternyata kamu sudah besar, kamu sudah ganteng, kamu sudah bisa jaga diri…”
Air matanya jatuh menetes tepat di pipi Genesis.
Anak laki-laki itu sedikit menggerakkan wajahnya, menggumam tidak jelas dalam tidurnya, namun tidak bangun.
Naura segera menutup mulutnya, menahan isak tangis agar tidak terdengar. Ia menunduk semakin dekat, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah anaknya.
“Tapi kenapa Tuhan kejam banget sama kita, Nak?” lanjutnya dengan suara pecah, penuh keputusasaan.
“Kenapa Ibu harus kembali dalam wujud ini? Kenapa Ibu harus jadi orang lain di depan mata kamu sendiri?”
Ia memegangi dadanya sendiri, rasanya sakit sekali. Sakit karena cinta yang terpendam. Sakit karena ia ada di sini, tapi tidak bisa memeluknya. Sakit karena ia harus mendengar anaknya memanggil nama orang lain, padahal jiwa di dalam tubuh ini adalah ibunya sendiri.
“Kamu sayang sama Alexa kan? Kamu nyaman sama Alexa kan?” bisik Naura sambil tersenyum getir, air mata masih terus mengalir.
“Tau nggak… Alexa ini sebenernya Ibu. Ibu yang selalu sayang sama kamu, Ibu yang selalu rindu sama kamu, Ibu yang rela mati demi lihat kamu bahagia…”
“Tapi Ibu nggak bisa bilang… Ibu nggak boleh bilang. Kalau Ibu bilang, kamu bakal syok. Kamu bakal takut. Dan Ibu nggak mau kamu kehilangan lagi…”
Tiba-tiba, tangan Genesis bergerak.
Naura tersentak kaget, hendak menarik diri, tapi terlambat. Dalam keadaan setengah sadar, tangan kekar anak itu menangkap pergelangan tangan Naura yang masih tergantung di udara.
“Lex…” gumam Genesis serak, matanya masih terpejam rapat. “Jangan pergi…”
Naura membeku. Tubuhnya kaku. Ia bisa merasakan hangatnya kulit Genesis menyentuh kulitnya. Sentuhan itu begitu nyata, begitu kuat, dan begitu… memikat.
“Aku di sini…” jawab Naura pelan, suaranya lembut sekali, kali ini ia tidak lagi berusaha menyembunyikan nada keibuan yang keluar begitu alami. “Ibu… aku nggak ke mana-mana.”
Genesis mengeratkan genggamannya, menarik tangan itu hingga menempel di pipinya sendiri. Ia menggesekkan wajahnya ke telapak tangan Naura dengan manja, layaknya anak kucing yang mencari kenyamanan.
“Tangan lo hangat…” gumamnya lagi, senyum tipis terukir di bibirnya. “Rasanya… kayak tangan Ibu. Lembut. Hangat. Bikin tenang.”
Kalimat itu bagai petir yang menyambar di siang bolong bagi Naura. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya semakin tak terbendung.
Dia merasa itu. Dia benar-benar merasa itu. Ikatan darah itu nggak bisa bohong.
“Iya… aku di sini…” Naura akhirnya membiarkan dirinya hanyut. Ia tidak menarik tangannya. Ia justru membalikkan tangan itu, membelai pipi Genesis dengan lembut, mengusap air mata yang tadi menetes di sana.
“Tidur ya sayang… Ibu jaga kamu. Ibu janji bakal selalu jaga kamu.”
Ia membiarkan dirinya berbicara seperti dulu. Ia membiarkan hatinya bicara, melupakan sejenak bahwa ia sekarang adalah Alexa. Rasanya begitu lega. Rasanya begitu benar.
“Sayang kamu… sayang banget sama Genesis…” bisiknya tepat di telinga anaknya.
Genesis mendesah puas dalam tidurnya, wajahnya terlihat semakin tenang. Genggamannya pada tangan Naura tidak juga dilepaskan, seolah ia takut jika dilepaskan, sosok ini akan menghilang lagi seperti asap.
Naura duduk di samping kasur itu semalaman. Ia tidak berani bergerak, tidak berani melepaskan tangannya. Ia membiarkan kakinya pegal, membiarkan matanya lelah, asalkan ia bisa merasakan kebersamaan ini.
Di dalam keheningan malam itu, emosi Naura meledak tak terkendali. Ia sadar posisinya berbahaya. Ia sadar bahwa semakin ia dekat, semakin besar risikonya. Tapi ia tidak peduli.
Cinta seorang ibu adalah buta. Cinta seorang ibu adalah segalanya.
Dan malam ini, ia membiarkan dirinya menjadi Ibu lagi. Walau hanya dalam gelap, walau hanya dalam bisikan, dan walau hanya untuk sesaat.
“Tuhan… kalau memang ini salah, kalau memang ini dosa… hukumlah aku saja nanti. Tapi sekarang… biarkan aku bahagia dulu. Biarkan aku merasa menjadi ibunya lagi.”
.
.
Pagi pun mulai menyingsing. Cahaya matahari mulai menyelinap masuk, menyentuh wajah mereka berdua yang masih saling menggenggam tangan dalam tidur.
Genesis perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, namun yang pertama kali ia lihat saat terbangun adalah wajah Alexa yang berada sangat dekat dengannya. Wajah itu terlihat pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya menandakan kurang tidur, tapi tetap terlihat begitu cantik dan damai.
Dan baru Genesis sadari… tangan gadis itu ada di pipinya, dan tangannya memegang tangan gadis itu dengan erat.
“Lex…” panggilnya pelan, masih bingung.
Alexa tersentak bangun, matanya terbuka lebar saat menyadari posisi mereka. Ia buru-buru menarik tangannya kembali, wajahnya memerah padam karena malu dan panik.
“A-ah! Maaf! Aku nggak sengaja!” serunya terbata-bata, langsung berdiri dan memunggungi Genesis untuk menyembunyikan wajahnya yang basah sisa tangis semalam.
“Aku… aku mau bikin sarapan dulu!”
Ia berjalan cepat menuju dapur dengan jantung yang berdegup kencang bukan main.
Genesis duduk di kasur, menatap tangannya sendiri yang masih terasa hangat bekas sentuhan tangan Alexa. Ia mengerjap bingung, tapi ada senyum tipis yang muncul di wajahnya.
“Kamu aneh banget, Lex…” gumamnya pelan. “Tapi… gue suka.”
Di dapur, Naura memegangi meja untuk menopang tubuhnya yang gemetar.
“Duh Naura… kamu hampir ketahuan tadi. Hampir banget…” tegurnya pada diri sendiri.
“Kamu harus kuat. Kamu harus bisa kendalikan diri. Jangan sampai emosi kamu bikin semuanya hancur.”
Tapi sulit. Sangat sulit. Karena cinta itu ada di depan mata, dan ia harus berpura-pura tidak memilikinya.