Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Semua terasa asing
Malam itu, kamar tidur luas rumah mewah itu dipenuhi cahaya hangat lampu temaram, memantul lembut ke dinding dan lantai marmer yang mengilap. Laura Roberts duduk di tepi ranjang, tubuhnya terasa berat, otot-ototnya kaku, dan kepala penuh dengan sensasi asing. Di dunia sihir, ia tidak pernah merasa lelah seperti ini. Tubuhnya selalu bisa diandalkan, energi tidak pernah habis, dan tidur hanyalah formalitas, sesuatu yang hampir tidak pernah ia butuhkan.
Namun sekarang… setiap gerakan, setiap tarikan napas, bahkan duduk di sini terasa sulit. Tubuhnya manusia, dan manusia lelah. Ia merasa asing dengan kelemahan ini, dengan kerentanan yang sebelumnya tidak ia kenal.
Martin, duduk di sisi ranjang di kursi rodanya, menatap Laura dengan ekspresi datar namun penuh perhatian. “Sudah cukup untuk hari ini. Kamu harus beristirahat,” katanya pelan, nadanya lebih hangat dari biasanya, tapi tetap ada nada dingin yang membuatnya terasa tegas.
Laura menarik napas, menelan berat. Kata “istirahat” terasa aneh di telinganya. Di dunia sihir, ia tidak pernah istirahat, tubuhnya tidak mengenal batas. “Aku… aku tidak terbiasa,” bisiknya, suaranya hampir tersedak oleh keanehan kata-kata itu. “Di dunia sihir… kita tidak pernah benar-benar istirahat.”
Martin mencebik, matanya menatapnya tajam tapi ada nada setengah bercanda. “Kita sering tidur bersama, kamu lupa? Ini bukan hal baru.”
Laura menelan ludah, sedikit terkejut oleh kata-kata Martin. Ia menatap pria itu, terdiam sejenak. Di dunia sihir, ia tidak pernah merasakan kedekatan semacam ini, apalagi tidur bersama orang lain—apalagi laki-laki. Semua itu asing dan… sedikit menakutkan.
Martin mencondongkan tubuhnya sedikit, suara tetap tenang tapi ada kesabaran yang nyata. “Ini bukan tentang kebiasaanmu di dunia lain. Kamu manusia sekarang, tubuhmu manusia. Manusia perlu tidur, perlu istirahat. Itu bukan kelemahan.”
Laura menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya. “Aku… aku hanya belum terbiasa,” bisiknya lagi, matanya menatap selimut yang menutupi tubuhnya. “Segalanya terasa… aneh.”
Martin tersenyum tipis, matanya menatap Laura dengan campuran kesabaran dan ringan hati. “Semua hal baru terasa aneh pada awalnya. Kamu akan terbiasa. Aku di sini.”
Laura mengangguk perlahan. Rasa lelahnya benar-benar nyata, dan ia menyadari betapa asingnya tubuh ini. Ia menurunkan diri perlahan ke ranjang, menyesuaikan diri di samping Martin. Tubuhnya terasa berat, tapi hangatnya selimut dan keberadaan Martin membuatnya sedikit tenang.
Martin tetap di kursi rodanya dekat ranjang, matanya mengawasi Laura dengan cermat. “Kalau kamu nyaman… kita bisa mulai terbiasa dengan ini. Tidak ada yang salah.”
Laura menutup mata sejenak, menarik napas dalam. Tubuhnya mulai rileks sedikit demi sedikit, otot-otot tegang perlahan melepaskan ketegangan. Ia menoleh ke arah Martin, rasa canggung masih ada, namun ada sedikit rasa aman yang menenangkan.
“Terima kasih,” bisiknya pelan. “Karena… sabar.”
Martin mencebik lagi, kali ini sedikit tersenyum, nada suaranya ringan. “Aku sabar? Aku cuma ingin kamu tidak mati kelelahan sebelum sempat tidur.”
Laura tersenyum tipis, matanya kembali menutup. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya bercampur antara kebingungan dan kelelahan, namun ada satu hal yang nyata: keberadaan Martin di sampingnya membuatnya merasa… aman.
Ia menyadari bahwa, di dunia manusia, tidur bukan hanya tentang istirahat fisik. Ini tentang mempercayai seseorang, menerima bantuan, dan membiarkan diri sendiri lemah tanpa takut. Sesuatu yang di dunia sihir tidak pernah ia lakukan.
Martin menggeser kursi rodanya sedikit lebih dekat, matanya tetap hangat, tapi tidak menekan. “Kamu akan terbiasa,” katanya lagi. “Percayalah.”
Laura menarik selimut lebih rapat, menenangkan diri. Ia sadar, mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, menjadi manusia tidak hanya tentang merasakan lelah atau kenyataan fisik, tapi juga tentang hubungan, kepercayaan, dan rasa aman yang nyata.
Ia menutup mata perlahan, dan dunia asing itu mulai terasa sedikit lebih familiar. Tubuh lelah, pikiran berat, tapi hatinya mulai menerima—bahwa ia manusia sekarang, dan ini adalah bagian dari prosesnya.
Dan di sisi ranjang, Martin tetap diam, menunggu, memberikan ruang sekaligus hadir, sesuatu yang membuat Laura perlahan menyadari satu hal: manusia bisa lemah, tetapi dalam kelemahan itu, mereka juga bisa menemukan kekuatan baru.