NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Syahira berdiri didepan cermin sambil merapikan hijabnya dengan gerakan pelan. Kedua netranya menatap dirinya sendiri dengan renungan, entah kenapa ucapan Bilal maupun Kaizan teman kampusnya itu benar benar terus saja berputar di kepalanya saat ini.

Seolah otaknya itu juga butuh istirahat saat ini, kalimat yang sederhana dan terdengar ringan tapi justru itulah yang membekas, seakan Kaizan bisa melihat apa yang bahkan belum mampu ia akui pada dirinya sendiri.

"Suara,..sarapan dulu!." suara Abi terdengarnya dari bawah, syara panggilan akrabnya dirumah. "Iya bi." sahutnya cepat.

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Di meja makan, Fahrizal sudah duduk dengan secangkir kopi ditangannya.

Seperti biasa, wajahnya yang tenang, tapi.sorot matanya itu selalu saja menyimpan sesuatu tanda tanya yang ada dipikirannya dan sulit untuk dijelaskan.

"Tidurmu nyenyak Ra?" tanya Fahrizal. Syahira mengangguk sambil mengambil tempat duduk di hadapannya. "Lumayanlah."

Fahrizal mengamati putrinya beberapa detik. "Lumayan itu artinya ada yang dipikirkan, iya kan?."

"Abi ini terlalu peka." sahut Syahira terkekeh.

"Bukan peka, cuma kan Abi udah lama jadi ayahmu Ra." dan jawaban itu membuat Syahira tersenyum,.kadang hanya dengan beberapa kata sederhana, tapi ayahnya selalu berhasil membuat beban dihatinya terasa sedikit lebih ringan.

Namun senyum itu tak bertahan lama ketika suara motor berhenti didepan rumah. Syahira menoleh refleks ke arah jendela, sementara Fahrizal ikut mengangkat pandangannya.

Tak lama kemudian, terdengar salam dari luar. Assalamualaikum." Syahira membeku seketika dan ia sangat mengenali suara itu, Fahrizal bangkit dari kursinya sambil tersenyum tipis. "Waalaikumsalam. Masuk Zan."

Beberapa detik kemudian, Kaizan muncul diambang pintu dengan senyum santainya uang khas. Ia mengenakan jaket hitam, rambutnya sedikit berantakan seperti habis diterpa angin pagi.

"Pagi om," ia mengalami Fahrizal dengan sopan sebelum pandangannya beralih pada Syahira. "paginjuga nona koridor."

"Nona koridor apaa" Syahira mengernyit heran.

"Ya karena kemaren dikoridor terus kan sambil.jalan kayak abis tarung sama isi kepala sendiri." Fahrizal terkekeh pelan, sementara Syahira hanya bisa memutar matanya malas. "Ada apaan pagi pagi kesini?" tanyanya to the point.

"Ada titipan dari kampus, kebetulan aja lewat sekalian anter."

"Tumben?" ulang Syahira penuh curiga.

"Iya didunia ini sering terjadi serba kebetulan, entahlah secara kebetulan motorku juga lewatin rumah ini, jadi ya sekalian aja kesini kalo mau dijamu sarapan hehe."

"Ngarep."

"Syara nggak boleh gitu, ayo masuk sini Zan, sarapan bareng."

"Siap om."

***

Menjelang siang, kampus sudah mulai ramai, langkah kaki yang saling beradu dengan lantai, obrolan receh para mahasiswa dan suara pintu yang dibuka tutup.

Syahira baru saja keluar dari perpustakaan dengan dua buku tambahan ditangannya ketika sebuah suara memanggil dari arah samping.

"Syahira." ia menoleh, Haikal berdiri beberapa langkah darinya mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Senyum yang tipis seperti biasanya.

"Kamu baru dari perpustakaan?" tanyanya.

"Syahira mengangguk, "iya,..cari referensi buat tugas tafsir."

"Pantas bawaannya kayak mau pindahan." sahut Haikal ringan. Syahira terkekeh kecil "lebay."

"Sedikitlah," balas Haikal sambil mengangkat bahu.

Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor, tidak ada kesunyian yang canggung diantara keduanya. Bersama Haikal, suasana selalu terasa mudah. Tidak ada tekanan, tidak ada keharusan untuk menjadi siapa siapa selain dirinya sendiri.

"Kalau suatu saat kamu butuh teman buat cerita, yah setidaknya ceritanya nggak harus sekarang sih dan nggak harus hal besar juga."

Langkah Syahira melambat sesaat. Ia menatap Haikal, lalu tersenyum tulus, "makasih Kal."

"Sama sama, lagian tema yang baik kan memang tugasnya siap sedia, walau kadang cuma jadi tempat ngeluh soal tugas numpuk."

"Atau soal.dosen killer?."

"Nah itu juga termasuk kategori darurat sih." jawab Haikal serius yang justru bikin Syahira ketawa ngakak.

Disisi lain koridor, tanpa mereka sadari Kaizan baru saja keluar dari ruang administrasi. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat keduanya berjalan bersama. matanya menyipit tipis buka karena cemburu melainkan karena sedang menilai sesuatu.

"Satu lagi kandidat manusia sabar." gumamnya pelan. Namun ada sedikit rasa lega dihatinya, setidaknya jika Syahira berada di dekat Haikal, ia tahu gadis itu berada di tempat yang aman. Dan Haikal bukan tipe orang yang akan memaksa ataupun mengambil keuntungan dari keadaan.

Kaizan memasukkan kedua tangannya ke saku celana, mengamati sejenak sebelum akhirat berbalik pergi. Untuk sekarang, ia memilih tetap menjadi pengamat.

Dan sementara itu diruang dosen, Bilal tengah memeriksa beberapa lembar tugas ketika tanpa sengaja pandangannya terarah ke jendela. Dari sana, ia melihat Syahira berjalan bersama Haikal di koridor.

Hanya pemandangan biasa, dua mahasiswa yang sedang berbincang, tidak ada yang salah. namun entah mengapa ada sesuatu yang mengencang di dadanya.

Bilal segera mengalihkan pandangannya, menunduk pada tumpukkan kertas di depannya. Jemarinya pun berhenti seketika berhenti sesaat diatas lembaran tugasnya. ia menghembuskan napasnya perlahan dan berusaha mengabaikan perasaan nya itu uang muncul begitu saja tanpa diundang.

Diluar sana Syahira dan Haikal berhenti didepan tangga. "Aku ke kelas dulu," kata Haikal.

"Oke makasih udah nemenin."

"Kapan kapan traktir sebagai ucapan terimakasih Ra," canda Haikal. Syahira langsung mengangkat alisnya "modus kau" sahut Syahira dan keduanya tertawa "bisa jadi sih haha."

"Aku pikir kamu lebih halus dari itu."

"Sesekali boleh jujur kan?." Syahira menggeleng sambil setelah berpamitan, mereka berpisah ke arah masing masing.

Syahira berjalan sambil sedikit melamun ia tersadar ditengah segala kerumitan yang sedang ia hadapi masih ada orang orang yang hadir dengan tulus.

Tanpa menuntut tanpa memaksa dan terkadang kehadiran seperti itulah yang paling dibutuhkan seseorang untuk tetap bertahan.

Namun mengabaikan rupanya tidak semudah mengucapkannya, Bilal menatap lembar tugas dihadapannya tanpa benar benar membacanya satu kata pun.

Tulisan tulisan itu seolah hanya menjadi garis hitam yang tak mampu lagi ia cerna. Pilihannya itu justru kembali pada pemandangan singkat diluar jendela tadi. Dan Syahira tertawa tanpa beban dan ekspresi itu yang akhir akhir ini sangat jarang sekali ia lihat apalagi ketika gadis itu berada di dekatnya.

Apakah Bilal dan Syahira bisa mempertahankan prinsip mereka terhadap rasa yang seharusnya tidak tumbuh diantara mereka?..

Apakah Kaizan dapat mengendalikan sesuatu yang ia ketahui dari kekuatan instingnya itu?, sementara Feryal yang masih mencari jati dirinya apakah dirinya aka tetapi teguh pada prinsip terhadap keyakinan yang ia miliki ataukah pada akhirnya akan goyah?.

Entahlah bagaimana kisah cinta yang rumit ini kedepannya, yang masih masing pada bertarung dengan akal pikiran juga hati mereka satu sama lain.

Sementara Abi Fahrizal dan Santi istrinya apakah akan kembali damai dan saling menjaga toleransi diantara mereka?.

To be continued

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!