Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Perjalanan ke Desa
Zivanna tidak menjawab. Dadanya terasa sesak. Dia seperti merasakan sakit seperti yang gadis di dalam mimpinya rasakan. Dia kembali menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir potongan mimpi dari ingatannya.
"Aku tidak apa-apa, Ma, " jawabnya tidak ingin membuat sang ibu khawatir. Itu hanyalah sebuah mimpi. Bukankah berlebihan jika Zivanna sampai ketakutan setengah mati hanya karena sebuah mimpi.
Kesamaan area persawahan di dalam mimpinya dan persawahan di desa neneknya mungkin hanya sebuah kebetulan. Banyak tempat di dunia ini yang terlihat mirip, apalagi sawah yang ditanami padi. Bukankah rata-rata sawah di desa memang terlihat seperti itu?
Anita mengernyit cemas. Zivanna mengatakan jika dirinya tidak apa-apa, tetapi yang terlihat jelas sebaliknya.
"Kalau kamu kurang sehat kita bisa menunda pergi ke rumah nenek sampai kamu merasa lebih baik."
"Aku tidak apa-apa, Ma. Kita tidak jadi pergi nanti sore."
"Terserah kamu saja, Zi."
"Kalau papa ada urusan di perusahaan sebaiknya diselesaikan sekarang. Jadi kita bisa pergi ke rumah nenek agak siang agar nanti sampai di sana belum malam."
Anita dan Wisnu saling pandang dan melongo bersamaan. Jika Zivanna sudah berkata demikian maka tidak bisa dibantah lagi. Mereka hafal betul sifat anak semata wayang mereka yang keras kepala dan jika sudah memiliki keinginan tidak bisa ditahan. Mungkin karena mereka terlalu memanjakannya.
"Ya sudah kalau begitu. Papa berangkat ke perusahaan sekarang," tutur Wisnu tidak punya pilihan.
* * *
Setelah menempuh perjalanan selama hampir lima jam, mobil yang dikendarai Wisnu mulai melambat. Mereka sudah tidak lagi berada di jalan raya dengan mobil yang saling beradu kecepatan.
Sekarang mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki wilayah pedesaan. Jalan aspal yang mereka lalui hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat. Jika berpapasan dengan mobil lain, maka salah satu harus mengalah, memundurkan mobilnya dan mencari tempat yang sedikit lebih luas untuk menepi agar mobil dari arah berlawanan bisa lewat.
Zivanna membuka kaca mobil untuk melihat pemandangan yang tidak akan bisa dia temukan di kota tempat tinggalnya.
Langit sudah mulai berwarna jingga. Sementara genangan air di sawah yang baru saja ditanami padi memantulkan warna jingga itu sehingga tercipta pemandangan langit sore yang luar biasa, seakan desa ini sedang menyambut kedatangannya.
"Sepertinya aku akan betah tinggal di rumah nenek," celetuk Zivanna. Angin sore yang berhembus menyapu kulitnya ditambah pemandangan yang menakjubkan langsung membuatnya merasa nyaman.
"Zi, masukkan tanganmu! Itu bahaya! Sudah dewasa tapi kelakuan masih seperti anak kecil" seru Anita melihat Zivanna melambai-lambaikan tangan kanannya keluar mobil.
"Bahaya apa sih, Ma? Disini kita tidak akan berpapasan dengan mobil lain. Lihat tuh, kiri kanan depan belakang." Telunjuk Zivanna menunjuk semua arah yang tadi dia sebutkan. "Tidak ada kendaraan lain selain kita. Bahkan kalau papa mau mengendarai mobil ini dengan gaya zig zag pun tidak akan kenapa-kenapa. Ini desa, Ma. Beda cerita kalau di kota," sungutnya.
"Memang susah kalau dibilangin!" Anita menyerah. Seperti inilah sifat asli Zivanna sebelum dia mengalami kecelakaan.
Dari jalan ini mereka masih harus menempuh perjalanan selama tiga puluh menit barulah sampai di rumah nenek Zivanna.
Mata Zivanna menyapu hamparan sawah yang terbentang begitu luas yang kemudian membuatnya teringat perkebunan tebu di dalam mimpinya.
Zivanna pun akhirnya menyadari jika tidak ada perkebunan tebu sepanjang jalan ini, yang berarti persawahan yang ada di mimpinya hanya kebetulan saja mirip dengan persawahan di sini.
Seingatku memang tidak ada perkebunan tebu di sekitar rumah nenek, batinnya.
"Suasananya dari dulu tidak berubah ya, Pa? Dari papa kecil memang seperti inikah?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian kepada papanya yang duduk di kursi kemudi. Tak henti-hentinya Zivanna mengagumi keindahan alam yang mungkin bagi orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu menganggapnya biasa.
"Sebenarnya ada banyak perubahan. Hanya saja tidak terlihat. Katanya, banyak sawah yang tadinya ditanami padi kini beralih menjadi perkebunan tebu."
Deg!
Tiba-tiba Zivanna berdebar-debar. Perkebunan tebu adalah tempat dimana gadis dalam mimpinya mengalami tindakan yang sangat menyakitkan.
"Berarti ada perkebunan tebu di sekitar sini?"
"Iya, tetapi tepatnya di sebelah man papa juga kurang tahu, mungkin di bagian selatan. Kalau di bagian utara daerah nenekmu tinggal sepertinya tidak ada."
"Nenek pasti senang melihatmu. Apalagi dia belum tahu kalau kamu sudah bisa melihat lagi." Anita mengalihkan pembicaraan.
Zivanna tidak membalas. Ekspresi ceria yang tadi sempat terlihat memudar begitu saja berganti ekspresi murung.
Anita bisa menebak pasti anak kesayangannya itu kembali teringat mimpinya. "Sebenarnya kamu memimpikan apa, Zi? Apa tentang Rio yang akan segera menikah? Banyak laki-laki di dunia ini kamu bisa mendapatkan yang lebih baik daripada Rio, apalagi kamu cantik dan pintar."
Zivanna mendengus. Harus berapa kali dia katakan jika mimpinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan Rio. Dan berapa kali juga harus dia jelaskan jika dia sama sekali tidak memikirkan Rio.
Memang terkadang masih sakit hati jika mengingatnya, tetapi Zivanna sama sekali tidak berharap agar suatu hari mereka bisa kembali bersama.
Baginya Rio hanyalah sampah yang jatuh dan tidak perlu dia pungut lagi. Laki-laki itu tidak bisa menerima dirinya karena kondisinya yang sedang cacat. Lalu dengan mudah menjalin hubungan dengan perempuan lain dan melupakannya. Jika mereka kembali bersama, bukan tidak mungkin suatu saat Rio meninggalkannya demi mencari wanita lain.
"Apakah itu mimpimu itu sama dan terus berulang-ulang?"
"Mmm ... Ya gitu deh, Ma," jawab Zivanna tidak jelas. Sulit bagi Zivanna menjelaskan mimpinya. Terlalu sadis dan brutal hingga Zivanna tidak bisa merangkai kata-kata untuk menggambarkannya.
Mimpinya tidak selalu sama di setiap malamnya. Tetapi hampir semuanya tentang penyiksaan terhadap seorang gadis yang Zivanna tidak tahu siapa. Hanya mimpi di perkebunan tebu saja yang sampai berulang dan itu adalah mimpi yang paling menakutkan sekaligus menyakitkan.
"Sudahlah, Zi. Mimpi itu kan hanya bunga tidur. Kalau semua mimpi jadi kenyataan pasti di dunia ini tidak ada orang miskin karena semua orang bermimpi menjadi kaya raya. Jangan kamu pikirkan lagi." Kata-kata Wisnu sedikit memberi Zivanna kehangatan.
Zivanna mengangguk lalu kembali menatap pemandangan di luar.
"Nih, baru sekali kita berpapasan dengan orang di jalan ini," ucap Wisnu.
Zivanna melongok ke depan. Dia melihat dari arah berlawanan mobil mereka berpapasan dengan sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki.
Zivanna memerhatikan laki-laki itu dengan seksama. Tidak ada yang salah, awalnya. Hingga akhirnya Zivanna menyadari pakaian yang laki-laki itu kenakan. Jaket hitam dengan gambar tengkorak di bagian dadanya.
Seketika jantung Zivanna berdetak tidak karuan. Jaket itu sama persis dengan jaket yang laki-laki di dalam mimpinya pakai.