Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9
Alisa masih berdiri mematung di tempatnya. Menatap Harlan yang mulai melepaskan jas hitamnya, lalu ia sampirkan begitu saja di sofa besar yang ada di sampingnya.
Ia melonggarkan dasi yang sejak tadi terasa mencekik lehernya, lalu membuka dua buah kancing teratas kemeja putihnya.
"Mandilah duluan." suara Harlan memecah keheningan. Masih datar, namun ada nada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
“Baiklah.” jawab Alisa singkat.
Ditengah kebingungannya, Alisa mulai melangkah, berjalan menuju kamar mandi. Namun, lima menit kemudian, gadis itu terlihat keluar lagi dari kamar mandi dalam keadaan yang sama, seperti awal ia masuk kesana.
Membuat Harlan yang sedang duduk di sofa, menatap heran ke arahnya.
"Mas…” Panggil Alisa, sedikit ragu, tapi ia coba memberanikan diri memanggil suaminya itu.
“Hhmm…”
“Bisa bantu aku?" .
"Bantu apa?"
"Resletingnya... di belakang. Tanganku tidak sampai. Aku… tidak bisa membukanya sendiri."
Alisa memutar tubuhnya membelakangi Harlan, menunjukan resleting yang memang tidak bisa dijangkau oleh tangannya.
Meski lelah, Harlan tetap bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Alisa yang sedang berdiri membelakangi.
Setibanya di dekat Alisa, Harlan bisa melihat deretan kancing kecil dan resleting yang tersembunyi di dalamnya.
Suasana mendadak kembali canggung. Namun tidak ada pilihan lain. Alisa harus melepaskan gaun itu. Tidak mungkin juga, kan jika ia harus mandi dan tidur dengan masih mengenakan gaun pengantin itu.
Harlan terdiam sejenak. Ia bisa melihat kulit putih mulus tengkuk Alisa yang meremang karena suhu pendingin ruangan atau mungkin karena kehadirannya.
Tangannya mulai ia angkat, mulai membuka satu per satu kaitan kancing kecil yang berjejer itu. Ujung jarinya sesekali bersentuhan dengan kulit punggung Alisa, mengirimkan gelombang listrik statis yang membuat Alisa harus menahan nafas.
"Terima kasih, Mas," gumam Alisa saat merasakan gaun itu melonggar.
"Sama-sama." jawab Harlan pendek.
Ia segera menjauh begitu tugasnya selesai, seolah jarak adalah satu-satunya cara untuk menjaga kewarasannya malam itu.
"Aku akan menunggu di balkon sampai kamu selesai.”
Harlan melangkah menuju pintu kaca besar yang menuju balkon, meninggalkan Alisa yang masih terpaku di tempatnya.
Alisa menarik nafas panjang, mencoba meredakan sisa-sisa kegugupan yang masih bergelayut di dalam dadanya. Ia segera masuk kembali ke kamar mandi, kali ini dengan langkah yang lebih cepat.
Bunyi gemericik air shower yang jatuh menghantam lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang menemaninya, membilas tubuh yang terasa sangat lelah dan sisa riasan yang terasa berat di wajahnya.
Di luar, angin malam menerpa wajah Harlan saat ia berdiri di balkon. Ia merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran nya, namun ia baru sadar bahwa ia telah meninggalkan ponselnya di atas nakas.
Ia menghela nafas, membiarkan pikirannya melayang pada kejadian di lantai dansa tadi. Ciuman itu... meski singkat dan berdalih tuntutan keadaan, ada sesuatu yang mulai mengusik hati dan pikirannya.
Sekitar tiga puluh menit berlalu. Pintu kaca balkon bergeser perlahan. Mendengar suara itu, Harlan langsung menoleh dan mendapati Alisa berdiri di sana, mengenakan piyama sutra berwarna gading yang tampak jauh lebih nyaman daripada gaun pengantin tadi.
Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, masih sedikit basah di bagian ujungnya, menebarkan aroma sampo bunga melati yang lembut.
"Aku sudah selesai, Mas." ucap Alisa lirih.
Ia tidak berani menatap langsung ke arah Harlan, melainkan sibuk merapikan ujung piyama yang sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan juga, hanya sekedar mencari kesibukan demi menutupi kegugupan.
“Baik. Sekarang giliranku." Jawabnya sambil mengangguk pelan.
Saat Harlan melewati Alisa untuk masuk ke dalam, aroma maskulin yang bercampur dengan sisa parfum tadi kembali terhirup oleh Alisa. Ia tetap berdiri di dekat balkon, tidak tahu harus melakukan apa di ruangan sebesar ini.
Ranjang king size yang sudah dihias dengan taburan kelopak bunga mawar merah itu tampak mengintimidasi. Sepuluh menit kemudian, Harlan keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana kain panjang dan kaos hitam polos.
Penampilannya jauh lebih santai, namun tetap memberikan kesan tegas yang sama. Ia mendapati Alisa sedang duduk di tepi ranjang, tampak ragu untuk merebahkan diri.
Harlan berjalan menuju sisi ranjang yang lain. Ia mematikan lampu utama melalui panel kontrol di dekat nakas, menyisakan lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan yang temaram.
"Tidurlah. Kamu butuh istirahat, Alisa," ujar Harlan sambil naik ke atas ranjang, menarik selimut, lalu membaringkan diri tepat di samping Alisa yang masih duduk kebingungan.
“Tidak tidur?” tanya Harlan saat tidak ada pergerakan yang dilakukan oleh Alisa.
“Eemm… kita… tidur satu ranjang?”
Harlan yang sudah menutup matanya dan bersiap untuk tidur pun urung pria itu lakukan. Ia langsung membuka matanya kembali saat mendengar pertanyaan dari Alisa.
Harlan kembali bangkit, duduk, lalu bersandar di sandaran ranjang. Menatap Alisa dengan tatapan yang cukup serius.
“Bukankah, setiap pasangan suami istri melakukan hal yang sama? Apa ada yang salah?” tanya Harlan.
“Itu… berlaku untuk pasangan yang menikah normal. Sedangkan kita….”
Alisa menggantung ucapannya saat Harlan menggeser duduk, mengikis jarak diantara mereka.
Kini… pria itu duduk di sampingnya dengan berjarak beberapa senti saja.
“Memangnya kenapa dengan kita? Saat ijab kabul, ada aku, kamu, papamu, dan juga para saksi. Aku juga menyebut namamu dalam ijab itu. Semua syarat utama pernikahan sudah lengkap. Lalu, di bagian mana letak ketidak normalannya, Alisa?”
Alisa terdiam, tidak langsung menjawab. Ingin rasanya ia mengatakan jika ia hanya pengantin pengganti. Namun, keraguan membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
“Apa hanya, karena kamu seorang pengantin pengganti, jadi, kamu anggap kalau pernikahan ini tidak normal?”
Deg.
Refleks, Alisa langsung menoleh saat Harlan menyinggung pengantin pengganti. Jujur, memang itulah hal utama yang mengganjal di hatinya.
Melihat reaksi Alisa, Harlan semakin mengikis jarak. Kini, tubuh keduanya sudah tidak berjarak sedikit pun.
Bahkan, Alisa bisa merasakan hangatnya suhu tubuh Harlan, saking dekatnya posisi mereka.
Harlan mengulurkan tangan, menggenggam lembut tangan Alisa yang terasa dingin dan sedikit basah oleh keringat dingin.
“Dengar baik-baik, Alisa. Bagiku, tidak ada yang namanya pengantin pengganti. Siapa wanita yang ada bersamaku disaat ijab kabul itu dilakukan dan aku sebut namanya saat ijab. Maka, dialah istri sahku,” jelas Harlan. Membuat Alisa membalas genggaman tangannya.
“Tapi… apa Mas tidak keberatan dengan pernikahan ini? Aku… bukan wanita yang kamu inginkan. Aku hanya pengganti wanita itu,” lirih Alisa.
“Siapa yang bilang kalau kamu bukan wanita yang aku inginkan? Kita, tidak akan pernah tahu akan masa depan, Alisa. Tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba menjalaninya dulu? Masalah kita jodoh atau tidak, biar waktu yang menjawabnya,” jelas Harlan.
“Lagipula, kalau aku keberatan, kita… tidak akan pernah berada di kamar ini, berdua saja, Alisa.” lanjutnya.
Alisa tidak lagi bersuara, gadis itu hanya bisa menunduk lesu. Ia masih tidak tahu kemana arah dari pernikahan ini.
Pertemuan dan pernikahannya bersama Harlan terlalu mendadak. Membuatnya kesulitan untuk mencerna semua ini.
Awalnya, tidak ada niatan sama sekali untuk tinggal dan menetap. Niat Alisa datang ke ibu kota hanya untuk menghadiri pernikahan Kakak sambungnya. Bukan menjadi pengantin wanitanya.
Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan dengan status barunya itu? Semua pertanyaan itu masih belum ada jawabannya.