【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Setelah bayangan tubuh Tina benar-benar menjauh dan menghilang di balik kelokan jalan setapak desa, Andry mengembuskan napas perlahan. Ia membuka pintu kemudi, melangkah keluar dari dalam kabin SUV hitamnya yang sejuk, lalu menjejakkan kakinya di atas tanah pekarangan yang kering.
"Nak Andry! Kenapa masih berdiri melamun di situ? Ayo, cepat naik ke atas!" sebuah teriakan ramah memecah keheningan pagi.
Andry mendongak. Di ambang pintu sebuah rumah panggung yang berdiri kokoh, tampak Ibu Yuna sedang melambaikan tangan dengan senyum lebar. Rumah Ibu Yuna adalah rumah panggung khas daerah tersebut, namun penampilannya terlihat sangat mewah dan megah. Seluruh dinding dan tiang penyangganya terbuat dari kayu jati mahal yang dihiasi ukiran-ukiran detail nan bernilai seni tinggi—sebuah simbol kemakmuran yang mencolok di tengah kesederhanaan Desa Sukamaju.
Andry terkekeh pelan, memperbaiki letak kerah kemejanya. "Ah, iya, Tante!" sahutnya seraya melangkah menaiki tangga kayu satu per satu.
Begitu Andry menginjakkan kaki di lantai teras yang bersih mengkilap, Ibu Yuna langsung menyambutnya dengan gelengan kepala, meskipun binar matanya memancarkan rasa rindu yang besar.
"Kamu ini, ya... kemarin lusa kan sudah Tante bilang untuk bermalam saja di sini. Jarak dari kota ke desa ini kan jauh, jalanannya juga banyak yang rusak. Apa tidak capek kamu pulang-pergi terus dalam waktu singkat begini?" omel Ibu Yuna begitu mereka berdua duduk di kursi rotan teras.
Andry menyandarkan punggungnya dengan santai, menampakkan senyum khasnya yang menawan. "Ah, itu... Tante kan tahu sendiri, kemarin lusa itu aku cuma iseng doang jalan-jalan ke kampung, sekalian mau mengunjungi Tante tercinta. Kebetulan jadwal kantor sedang agak renggang."
Ibu Yuna menyipitkan matanya, menatap keponakannya itu dengan pandangan menyelidik. "Terus, kalau kemarin lusa cuma iseng, kenapa hari ini kamu datang lagi? Mana bawa mobil sendiri, tidak pakai sopir seperti biasanya."
Andry langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat, menurunkan sudut bibirnya, dan berbicara dengan nada merajuk yang sengaja dilebih-lebihkan. "Ah... apa Tanteku yang cantik ini sudah tidak suka lagi kalau keponakan tampannya ini datang berkunjung? Teganya..."
Ibu Yuna yang sudah sangat hafal dengan sifat jail dan jenaka keponakannya itu sejak kecil langsung mendengus gemas. Tanpa ragu, sebuah pukulan ringan dari telapak tangannya mendarat mulus di bahu tegap Andry. "Kamu ini, ya! Umur sudah matang, memimpin perusahaan bisa, tapi kelakuan kalau di depan Tante masih saja seperti anak kecil. Bagaimana kamu mau dapat istri kalau sifatmu masih jail dan tidak serius begini terus?"
Mendengar kata "istri", senyum di wajah Andry sesaat berubah menjadi lebih hangat dan bermakna. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu berkata dengan nada bangga yang penuh keyakinan, "Tante tenang saja. Sebentar lagi aku bakalan nikah kok. Jodohnya sudah mulai kelihatan hilalnya."
Saat mengucapkan kalimat itu, sekelebat bayangan wajah manis Tina—dengan binar mata ketangguhannya saat melihatnya lewat tadi maupun saat menyeka keringat di kebun—kembali berputar dengan sangat jelas di dalam kepala Andry.
"Oh, ya? Siapa wanita malang yang mau sama kamu itu?" goda Ibu Yuna, lalu berdiri sejenak untuk mengambilkan segelas teh hangat yang baru ia seduh dari dalam.
Andry memajukan badannya begitu Ibu Yuna kembali dan meletakkan segelas teh di atas meja kayu. Memanfaatkan momen, ia mencoba mengarahkan pembicaraan ke arah yang sejak tadi mengusik rasa ingin tahunya. "Oh iya, Tante... tadi waktu aku baru sampai, ada seorang gadis yang berjalan lewat di depan pagar rumah Tante. Dia pakai baju rapi, sepertinya mau pergi bekerja. Itu... siapa, Tan?"
Ibu Yuna mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat-ingat siapa saja warga yang lewat di depan rumahnya beberapa menit lalu. "Gadis? Yang pakai kemeja katun, rok panjang dan hijab hitam tadi?"
"Iya, yang itu," jawab Andry, berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar seolah-olah itu hanya pertanyaan angin lalu.
"Oh, maksudmu Tina? Dia itu anak tetangga yang rumahnya berjarak sekitar lima rumah dari rumah Tante ini," jawab Ibu Yuna, lalu menatap Andry dengan alis terangkat. "Memangnya kenapa? Tiba-tiba menanyakan dia?"
"Ngak... cuma nanya doang, Tan. Kelihatannya dia buru-buru sekali tadi," kilih Andry cepat, lalu meraih gelas tehnya untuk menyembunyikan getaran kecil di matanya.
Tanpa perlu Andry bertanya lebih jauh, Ibu Yuna yang memang dasarnya sangat menyayangi Tina, langsung mengalirkan cerita tentang gadis itu dengan penuh semangat. Bagi Ibu Yuna, Tina sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Kamu tahu tidak, Dry?" tanya Ibu Yuna, menjeda kalimatnya dengan sengaja.
"Ngak tahu, Tan," jawab Andry polos.
*Plak!* Suara tangan Ibu Yuna mendarat lagi di bahu Andry untuk yang kedua kalinya pagi itu. "Dengerin dulu kalau orang tua sedang bicara! Dasar tegil!" Omel Ibu Yuna dengan gemas.
Andry langsung tertawa lepas, memegangi bahunya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. "Hahaha... iya, iya, Tanteku sayang. Ayo silakan dilanjutkan ceritanya, aku dengerin ini."
"Hmp!" Ibu Yuna membenarkan posisi duduknya, wajahnya melembut saat kembali membicarakan Tina. "Tina itu... anak gadis yang paling Tante suka dari semua gadis yang ada di desa ini, selama 5 tahun tante tinggal di sini. Dia itu rajinnya luar biasa, cantik alami tanpa perlu dandan aneh-aneh, pintar karena dia itu sarjana, sabar, dan juga pintar memasak. Kalau saja Tante ini seorang pria, sudah sejak lama Tante datang ke rumahnya untuk melamar dia." Ibu Yuna menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman, lalu menatap Andry dengan senyum penuh arti yang jenaka. "Kalau kamu mau... Tante bisa kok jadi perantara untuk melamarkan dia buat kamu."
*Uhuk! Uhuk! Uhuk!*
Andry yang sementara meminum teh hangatnya langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk kecil dengan wajah yang mendadak memerah karena terkejut. Kata-kata tantenya benar-benar langsung menusuk tepat ke sasaran utama di hatinya.
"Ya ampun! Kamu tidak apa-apa? Makanya, kalau minum itu pelan-pelan, jangan melamun!" seru Ibu Yuna panik, menyodorkan tisu ke arah keponakannya.
"Ngak... ngak apa-apa, Tan. Cuma tersedak sedikit," sahut Andry setelah berhasil menguasai diri kembali. Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Di dalam hatinya, Andry mendadak merinding sekaligus kagum. *“Apa Tante Yuna ini punya kekuatan batin atau indra keenam, ya? Sampai-sampai bisa membaca isi pikiranku yang memang berniat menjadikan Tina sebagai istri?”* batinnya heran.
"Kalau begitu... tadi dia lewat itu mau pergi ke mana, Tan?" tanya Andry lagi, berpura-pura tidak tahu tentang status pekerjaan Tina demi menggali informasi lebih dalam dari sudut pandang warga desa.
"Maksudmu Tina? Iya, Tan, siapa lagi? Kan dari tadi cuma dia yang kita bahas," ujar Andry menahan tawa melihat tantenya yang sempat bingung.
"Oh, dia itu mau pergi mengajar di PAUD desa kita ini," tutur Ibu Yuna, helaan napas berat kini terdengar dari bibir wanita paruh baya itu. "Hmm... sebenarnya Tante itu sering merasa kasihan melihat dia mengajar di PAUD itu. Kamu tahu sendiri kan, bangunan PAUD itu sudah sangat usang, atapnya bocor kalau hujan. Mana gajinya cuma sedikit sekali, tidak sebanding dengan gelar sarjana dan kerja kerasnya."
Andry mendengarkan dengan saksama, sorot matanya berubah menjadi lebih serius. "Memangnya di PAUD itu tidak ada guru lain selain Tina, Tan?"
"Ada... ada satu orang lagi, tapi dia itu jarang sekali masuk kelas. Cuma datang sesekali untuk mengatur ini-itu saja, sisanya ya Tina yang mengerjakan semuanya sendirian. Tina masih bertahan di sana sampai sekarang karena dia tidak punya pilihan lain. Dia harus membantu ekonomi ayahnya yang cuma petani kecil, sementara dua saudaranya yang lain... ah, sudahlah, malas Tante membahasnya," ucap Ibu Yuna dengan nada jengkel saat mengingat tabiat keluarga Tina yang lain.
Andry terdiam, mencerna setiap informasi yang ia dapatkan. Pikirannya berputar cepat, menyusun strategi baru untuk mendekati gadis itu tanpa terkesan agresif. "Tante... bagaimana kalau aku lewat yayasan keluarga kita memberikan bantuan dana dan renovasi ke PAUD itu? Kebetulan kita memang ada program CSR untuk pendidikan daerah pelosok."
Mendengar tawaran spontan itu, Ibu Yuna tidak langsung menjawab. Ia menghentikan kegiatannya, lalu memajukan tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah Andry dengan pandangan mata yang sangat tajam, seolah-olah sedang menembus masuk ke dalam isi kepala keponakannya itu.
Satu detik... dua detik... keheningan melanda teras rumah panggung itu.
"Andry... jangan bilang... tujuan utamamu datang jauh-jauh kembali ke desa ini hari ini... adalah karena Tina?" selidik Ibu Yuna dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi penuh kemenangan.
Skakmat. Wajah Andry yang biasanya tenang, penuh wibawa, dan dingin saat memimpin rapat di depan para direksi perusahaan, seketika berubah menjadi merah padam. Ia mendadak salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan tidak tahu harus berkata apa untuk membela diri di hadapan tantenya sendiri.
"Hmm... hahaha!" Ibu Yuna langsung meledak dalam tawa renyah, menepuk tangannya dengan puas melihat keponakan yang biasanya selalu jago bersilat lidah itu kini mati kutu. "Pantas saja! Pantas saja dari awal kamu datang tadi, kamu terus-menerus memancing pembicaraan tentang Tina. Pakai pura-pura tidak kenal, pura-pura tidak tahu, dan nanya ini-itu segala. Ternyata keponakan Tante yang gengsian ini sudah jatuh hati, ya?"
Andry hanya bisa tersenyum kecut, wajahnya masih terasa panas. "Ah... Tante ini sok tahu banget deh," gumamnya pelan, mencoba mengalihkan pandangannya ke arah jalanan luar.
"Eh, kamu jangan meremehkan insting seorang perempuan, apalagi insting Tante sendiri," balas Ibu Yuna dengan nada bangga, menunjuk Andry dengan jari telunjuknya. "Tante ini sudah melihat kamu tumbuh dari kecil, Dry. Tante tahu betul kapan kamu sedang berbohong dan kapan kamu sedang menyembunyikan sesuatu yang berharga. Jadi... kapan rencana bantuan PAUD-mu itu dimulai? Biar Tante bantu lancarkan jalanmu menuju rumah Tina."
Andry akhirnya tidak bisa menahan senyum lebarnya. Di bawah perlindungan dinding kayu jati yang mewah itu, sebuah persekutuan kecil yang tak terduga antara keponakan dan tante baru saja terbentuk, siap mengantar takdir baru yang akan segera mengetuk pintu kehidupan Tina.