Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Elfa berdiri mematung, menatap punggung pria yang menghilang di balik pintu, pria yang menghantarkan uang untuk biaya aborsi, tiga belas tahun lalu.Ia merasa akhir akhir ini, sudah sangat berhati-hati, dia mengingatkan teman temannya. tapi tetap saja kecolongan, seseorang pasti mengenali dirinya, walaupun dia berpenampilan seperti ninja.
"Mbak... apakah beberapa hari ini, pria itu selalu berdiri di depan butik ini ?
"Iya Bu, aku pernah melihat dia bicara dengan wanita yang beberapa kali ke sini juga,Tapi Bu, maaf....." Suara asistennya sangat pelan.
"Kenapa mbak?"
"Aku terpaksa ngomong yang lain, aku lihat gelagat bapak bapak itu, seperti mencurigakan, dia bolak balik di depan butik saja. sampai ia bicara dengan wanita itu. Jadi aku bilang saja, ka...kalau ibu di butik ini hanya buruh cuci. Bukan pemilik butik seperti yang wanita itu katakan "
Kening Elfa berkerut, dia ingat wanita yang pernah mengotori gaun di butik ini. Dan pria yang menjadi orang suruhan keluarga Aditya dari mana dia tau tentang Elfa, tentang butik ini ?
"Apakah dia mengatakan yang lain tentang aku,mbak ?"
Asistennya mengangguk " Pria itu bertanya, apa ibu punya anak usia sekitar tiga belas tahun ?"
"Dan mbak Lis bilang apa ?"
"Aku bilang aja, kalau ibu nggak punya anak "
"Makasih mbak Lis...."
" Bu, saat aku mengatakan pekerjaan ibu di sini, wanita itu terkejut, dia bilang ibu hanya perempuan yang berkhayal tinggi, sampai mengaku pemilik butik "
"Tidak apa-apa, biarkan saja dia berpikir seperti itu..."
"Aku ingin mengatakan yang sebenarnya Bu, tapi...."
"Tidak usah mbak, mulai sekarang. Bilang saja aku di sini hanya tukang cuci atau bagian bersih bersih saja "
"Tapi Bu.....gimana sama pelanggan lain yang udah kenal ibu ? Mereka pasti berpikir ibu selama ini berbohong..."
"Kalau ada yang tidak kamu kenal, dan bertanya tentangku, kamu ngomong gitu aja ya mbak.."
"Baiklah Bu..."
Elfa menatap asistennya yang keluar dari ruangannya, senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Sekalipun aku tak tau apa maksud kamu mencari ku, aku akan bermain main dengan mu, Aditya. Seperti kau permainkan hidupku dulu " Ucap Elfa sekali.
Beberapa saat kemudian..
"Hallo, ibu lagi ngapain?"
"Baru aja pulang dari lihat ternak ternak ibu nak, kamu sama Gavin apa kabar?"
"Kabar baik....Bu....pria itu mencari aku ?"
"Pria itu ? Maksudmu, Ayah..kandung..."
"Iya Bu...tapi dia membayar seseorang untuk memata matai aku. Aku hanya...?" Elfa langsung memotong ucapan ibunya.
"Lalu kamu tahu apa alasan dia mencari mu ?" Tanya ibunya, Elfa hanya diam.
"Kamu khawatir mereka tahu tentang Gavin, kamu takut mereka merebut Gavin dari kamu, apa seperti itu nak ?" sambung ibunya
Elfa masih diam...
"Kamu pikir semudah itu nak..?"
"Maksud ibu ?"
"Kamu mengenal anakmu lebih dari siapapun, Usianya udah tiga belas tahun nak, kamu harus percaya padanya "
"Bu, apa ibu tahu sesuatu?" Tanya Elfa, karena seingatnya dia hanya mengatakan pada Steven, agar memberitahukan kepada ibunya bahwa pasti ada yang akan mencarinya.
"Ibu punya informan rahasia nak... Hehehe...sudah lah, ibu sudah katakan. Kamu harus percaya pada Gavin "
Elfa tak bergeming, dalam hati ada rasa takut kalau Aditya melakukan segala cara untuk merebut Gavin, Itu kekhawatiran Elfa.
"Baik Bu, Elfa tutup dulu ya Bu "
"Baik lah nak..."
_____
Keesokan harinya, dering ponsel Elfa tak kunjung berhenti. Dengan perasaan dongkol Elfa menyambar ponselnya dan ingin menekan tombol hijau tapi jarinya berhenti saat ia melihat nomor baru tanpa nama dan foto profil. Elfa memilih mengabaikan panggilan itu.
Lima kali panggilan, tidak satupun yang Elfa jawab. Elfa menghela nafas panjang " Nomor siapa ini"
Tingg....
"Hi Elfa.. lama nggak ketemu kamu ? Gimana anak kamu udah besar ya ?"
Kening Elfa berkerut, Elfa tidak pernah menyembunyikan keberadaan Gavin tapi hanya segelintir orang saja yang tahu tentang Gavin.
Elfa hanya membaca..
"Aku pikir, kamu jadi menggugurkan kandungan kamu. emang uang dari Aditya nggak cukup ya Fa ?"
Elfa masih membaca pesan itu..
"Ah ya, kamu pasti bingung ya. Karena aku bisa tau semua tentang kamu dan Aditya? Apa kamu takut aku cerita tentang anak kamu...ah siapa namanya, Gavin..ya... Gavin "
Kening Elfa semakin berkerut.
"Takut ? Kenapa aku harus takut ?"
"Karena aku tau, kamu sedang menyembunyikan anak kamu itu "
"Menyembunyikan? itu tidak perlu "
"Aku senang banget pas dengar kamu hamil dan kamu di buang sama Aditya, kamu ingatkan kata Aditya... Kalian itu bagaikan langit dan bumi. Tidak akan mungkin bersatu. kamu aja yang terlalu berkhayal tinggi, Elfa "
Elfa membeku , dia tau semua " Siapa dia ?" Batin Elfa
"Dan sekarang kamu sembunyikan anak kamu? Untuk apa ? kamu ingin Aditya mencari kalian ? Hahaha....Apa perlu aku beritahu Aditya?"
Elfa diam....
"Tapi aku nggak bakalan kasih tahu, aku tahu Fa. kamu masih berharap sama Aditya kan ?"
Elfa terkekeh geli membaca pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
"Seharusnya malam itu, aku yang bersama Aditya, aku yang memasukkan obat itu dalam minuman Aditya tapi bagaimana bisa kamu yang menemaninya ?"
"Minuman ? Obat... Jadi saat itu Aditya dalam pengaruh obat ?" Elfa tidak ingat, yang ia tahu, sejak saat itu Aditya selalu mengajak Elfa melakukan lagi dengan alasan sebagai bukti cinta, ia menyerahkan kesuciannya. Elfa yang polos akhirnya pasrah.
"Percuma kamu mencoba mengingat-ingat kembali. Dulu kamu terlalu berani mendekati Aditya tanpa melihat kalau kamu nggak selevel sama Aditya dan akhirnya...... ?"
Senyap, hanya sejenak, Elfa ingat. Bukan hanya dia yang mengejar Aditya, Mereka berdua sama sama mabuk dengan cinta, ia seperti bayangan Aditya dan Aditya seperti bayangan Elfa.
"Lalu siapa dia ?" Batin Elfa, ia sedikit penasaran dengan pengirim pesan misterius ini
Ia hanya mengingat pesan pesan berisi ancaman agar meninggalkan Aditya. Itu pesan dari beberapa wanita yang menyukai Aditya, Elfa tahu itu, dan saat itu Aditya selalu mengatakan semua baik-baik saja selama bersama dia.
"Kamu, terlalu banyak omong " Elfa hanya membalas pesan seperti itu.
"Sekarang kamu hanya dapat ampasnya saja dari Aditya, kasihan banget kamu "
Elfa menyimpan ponsel nya, dia tidak berniat menanggapi pesan tidak jelas seperti itu.
Elfa duduk di ruang tengah, menatap setiap sudut ruangan di rumah ini, tatapan nya berhenti pada deretan foto Gavin dari bayi sampai saat ini. Ia ingat, foto ini di ambil menggunakan ponsel Steven dan sejak saat itu setiap ulang tahun Gavin, Steven akan mengambil gambar Gavin dan mencetak, membingkai foto foto Gavin.
Ingatan tentang tahun tahun yang lalu, rasanya baru kemarin ia menggendong, menyusui Gavin. Elfa tidak pernah mendapatkan tatapan hinaan dari orang-orang namun yang paling menyakitkan ketika Gavin menunjukkan hasil gambar satu keluarga.
"Ibu, ini gambar aku dan ibu.. dan nenek "
"Wah bagus banget, siapa yang gambar ?"
"Gavin dong Bu, aku tidak gambar ayah Steven--- kata teman teman Gavin, Ayah Steven--- itu cuman ayah bohongan aja "
Elfa merasakan sakit yang luar biasa, terkumpul dalam hatinya.
"Ayah Stev tetap ayah Gavin..." Kelopak mata Elfa mulai berembun melihat wajah polos anaknya. Elfa tau itu hanya kata anak anak seusia Gavin. tapi kata kata itu tetap menghantam dinding hatinya. Nyeri
Elfa memejamkan matanya "Tuhan, aku mohon... Bantu aku agar lebih kuat lagi " Ucap Elfa dalam hati.
"Gavin punya Ibu, nenek dan Ayah Stev. Itu cukup ya.."
Gavin tersenyum, anggukan kepala anak usia 7 tahun yang belum mengerti apa-apa. Sejak saat itu Gavin tidak pernah lagi bertanya padanya ,kenapa dan bagaimana....
Hari ini Elfa tidak ke butik. Karena dia sedang menunggu kedatangan Steven dan Gavin. Elfa sedang masak. Mereka akan makan siang bersama. Elfa melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit.
"Sudah jam empat lewat, ini bukan makan siang lagi, mereka kemana sih. Lama banget " Batin Elfa.
Tak lama kemudian, Elfa mendengar suara mobil di luar. Elfa mengintip dari celah kain gorden. Ia tersenyum, senyum yang menenangkan dan dewasa. Elfa melihat makanan yang tersusun di atas meja.
"Bu, Aku pulang...."
"Iya sayang, selamat siang... Kok lama sekali kalian sampai rumah? Ayah Stev mana ?"
"Diluar Bu, Katanya tidak berani masuk karena belum sah "
Elfa mengangkat sudut bibirnya...
"Elleeehhh.... bilang saja mau di jemput masuk " Katanya sambil berlalu menuju pintu depan.
"Stev....."
"Hallo calon ibu dari anak anak ku..."
"Iiss apa apaan sih Stev, lebay banget" Tapi setelah itu Elfa terkejut, terpaku...Elfa ternganga " Stev... Ini apa ?"
.
.
.
Next sama kisah Steven, Elfa dulu ya readers 🤭😁
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.