NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Revisi Pertama

Sudah berlalu dua minggu sejak hari pertama aku mulai menulis novel pertamaku.

Dua minggu yang terasa jauh lebih lama dari hitungan hari—seolah telah berjalan selama dua bulan penuh. Waktu yang diisi dengan perjuangan melawan rasa buntu saat kata-kata enggan muncul, rasa lega dan bahagia saat kalimat-kalimat mulai mengalir deras seperti air sungai, serta tentu saja rasa rindu yang tak pernah benar-benar pergi, meski disibukkan oleh kesibukan apa pun.

Hingga saat ini, aku telah berhasil menuliskan sebanyak lima puluh halaman. Lima puluh halaman yang menceritakan kisah cinta terlarang antara seorang gadis mahasiswa jurusan sastra dan seorang psikolog forensik yang ternyata adalah adik kandung dari mantan kekasihnya.

Lima puluh halaman yang lahir dari campuran air mata dan tawa, dari secangkir kopi yang sering dibiarkan menjadi dingin karena terlalu asyik menulis, serta dari malam-malam panjang yang sering terlewatkan tanpa tidur.

Lima puluh halaman yang penuh usaha, namun aku sadari masih jauh dari kata sempurna.

Pagi itu, tepat pukul delapan pagi, ponselku yang tergeletak di meja kerja tiba-tiba bergetar perlahan. Sebuah pesan masuk, dan pengirimnya tertulis jelas: Tante Ratna.

“Selamat pagi, Mbak Tari. Semoga harimu menyenangkan. Bagaimana perkembangan penulisan novelnya sejauh ini?”

Aku menggigit pelan bibir bawahku, merasakan sedikit kegugupan yang muncul setiap kali Tante Ratna bertanya tentang kemajuanku. Rasanya seperti sedang menjalani ujian tanpa angka, di mana setiap kata yang aku tulis akan dinilai dan dipertanggungjawabkan. Ada rasa takut tersembunyi di dalam hati—takut hasil kerjaku dianggap belum cukup baik, takut mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan, dan takut dianggap tidak serius dalam menjalani kesempatan ini.

Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mulai mengetik balasan dengan hati-hati.

“Selamat pagi juga, Tante. Terima kasih atas perhatiannya. Sejauh ini sudah ada sekitar 50 halaman yang berhasil aku tulis. Memang masih cukup jauh dari target akhir sebanyak 300 halaman, tapi aku terus berusaha melangkah perlahan.”

Tak lama kemudian, balasan darinya masuk kembali.

“Lima puluh halaman dalam waktu dua minggu? Itu sudah termasuk pencapaian yang sangat baik, Mbak. Jangan merasa terbebani atau terburu-buru. Yang paling penting adalah menjaga konsistensi dan kualitas tulisan, bukan hanya mengejar jumlah halaman semata.”

“Baik, Tante. Terima kasih banyak atas dukungan dan nasihatnya,” balasku lega.

“Ngomong-ngomong, saya sudah membaca sepuluh halaman pertama yang Mbak kirimkan minggu lalu. Ada beberapa catatan kecil yang ingin saya sampaikan sebagai bahan perbaikan. Boleh saya sampaikan sekarang?”

Detak jantungku seketika berpacu lebih cepat. Mendengar kata “catatan perbaikan” selalu membuatku merasa campur aduk antara penasaran dan was-was. Namun aku tahu, kritik dan saran itu adalah jalan satu-satunya agar tulisanku bisa menjadi lebih baik.

“Silakan saja, Tante. Saya siap mendengarkan dan menerima masukan apa pun.”

“Baiklah, saya sampaikan satu per satu. Pertama, mengenai bagian pembuka cerita. Menurut pandangan saya, alur ceritanya terasa terlalu cepat. Pembaca belum sempat mengenal siapa tokoh utamanya, belum tahu latar belakang hidupnya, dan belum merasakan suasana tempat ia berada, namun sudah langsung dihadapkan pada puncak konflik. Coba diperlambat iramanya. Tambahkan lebih banyak deskripsi mengenai suasana lingkungan, perasaan yang sedang melanda hati tokoh, serta sedikit gambaran tentang asal-usul dan kebiasaannya agar pembaca bisa lebih mudah terhubung dengan kisahnya.”

Aku segera mengambil buku catatan dan pulpen, lalu menuliskan setiap kalimat yang dikatakan Tante Ratna agar tidak ada satu pun yang terlewat.

“Baik, Tante. Saya akan perhatikan dan perbaiki bagian itu,” jawabku.

“Kedua, mengenai percakapan antara tokoh utama wanita dan tokoh pria saat pertama kali bertemu di kafe. Menurut saya, dialognya terasa terlalu singkat dan kaku. Dalam sebuah novel, percakapan yang baik biasanya memiliki kedalaman—bisa mencapai panjang setengah halaman atau lebih, diselingi dengan jeda, gerakan tubuh, perubahan ekspresi wajah, pergantian topik pembicaraan, serta makna tersirat yang tidak langsung diucapkan. Coba dikembangkan lagi agar terasa lebih hidup dan alami, seperti percakapan sungguhan yang terjadi di dunia nyata.”

“Baik, Tante. Saya akan perbaiki juga bagian dialognya,” jawabku lagi.

“Dan yang ketiga, soal gambaran latar tempat. Saat mereka bertemu di kafe, gambaran tempatnya masih terasa samar dan belum jelas. Coba deskripsikan lebih rinci: bagaimana dindingnya terbuat dari apa, bagaimana cahayanya menerangi ruangan, bau apa saja yang tercium di udara, suara apa yang terdengar di sekitar, hingga tekstur dan warna perabotannya. Saat membaca, pembaca harus bisa membayangkan dirinya ikut duduk di sana, merasakan suasana, dan menghirup wangi kopinya.”

Aku mengangguk dalam hati, menyadari betapa pentingnya hal-hal yang selama ini aku anggap sepele.

“Saya mengerti maksud Tante. Saya akan lengkapi deskripsi tempat dan suasana tersebut.”

“Baiklah, itu saja dulu yang perlu diperbaiki untuk tahap ini. Mbak Tari kerjakan dengan tenang, lalu kirimkan kembali versi revisinya paling lambat minggu depan ya.”

“Siap, Tante. Terima kasih banyak atas bimbingannya.”

Aku meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap tulisan-tulisan di buku catatanku.

“Pembukaan terlalu cepat… Dialog terlalu singkat… Gambaran latar kurang rinci…”

Aku menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.

“Ternyata menulis sebuah novel yang utuh dan memuaskan tidak semudah yang aku bayangkan selama ini. Banyak hal yang harus diperhatikan, bukan sekadar merangkai kata-kata saja.”

***

Pukul sembilan pagi, aku membuka kembali laptopku.

Aku membaca ulang sepuluh halaman pertama yang sudah aku kirimkan, dan perlahan mulai menyadari kebenaran dari setiap saran yang disampaikan Tante Ratna.

Benar saja, bagian awal ceritanya terasa tergesa-gesa. Tokoh utamanya langsung digambarkan sedang menangis di halaman pertama, tanpa penjelasan sedikit pun mengapa ia merasa sedih, bagaimana kehidupannya sehari-hari, atau seperti apa tempat ia tinggal. Dialog antartokoh hanya terdiri dari kalimat-kalimat pendek yang terputus-putus, seolah mereka sedang terburu-buru ingin segera mengakhiri percakapan. Sedangkan gambaran tempat tinggal dan kafe tempat mereka bertemu hampir tidak ada—pembaca tidak akan bisa membayangkan suasana apa yang sebenarnya terjadi di dalam cerita itu.

“Kalau begini, aku harus menulis ulang semuanya dari awal,” gumamku pada diri sendiri.

Dengan hati yang sedikit berat namun penuh kesadaran, aku menghapus seluruh sepuluh halaman itu dan memulai lembaran baru yang kosong.

Aku menulis dengan lebih sabar, lebih teliti, dan lebih berusaha memasukkan segala perasaan yang ada di hatiku.

***

Pukul dua belas siang, aku baru saja berhasil menyelesaikan tiga halaman pertama.

Namun tiga halaman ini terasa jauh lebih kaya, lebih mendalam, dan lebih hidup dibandingkan dengan versi sebelumnya.

Aku mendeskripsikan kamar kos tempat tokoh utama tinggal dengan sangat rinci: dinding yang mulai terlihat retak di beberapa sudut, jendela kayu yang sudah tidak rapat lagi sehingga angin malam bisa masuk dengan bebas, hingga bau pengharum ruangan sederhana yang tergantung di depan kipas angin tua. Aku juga menggambarkan perasaannya saat itu—rasa sesak di dada yang sulit dijelaskan, napas yang terasa berat saat ditarik, dan air mata yang jatuh tanpa suara saat ia mencoba menenangkan diri.

Begitu juga dengan kafe tempat mereka bertemu. Aku menuliskan setiap detail yang bisa aku bayangkan: dindingnya yang terbuat dari batu bata yang sengaja dibiarkan terbuka, lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya kuning lembut ke seluruh ruangan, kursi beludru berwarna merah tua yang terasa nyaman saat diduduki, hingga aroma kopi arabika yang kuat bercampur dengan wangi kue vanila yang baru saja dipanggang. Aku juga menambahkan suara mesin pembuat kopi yang mendengung lembut, percakapan pengunjung lain yang terdengar samar, serta dentingan sendok yang menyentuh pinggiran cangkir.

Dan untuk bagian percakapannya… aku mengembangkannya jauh lebih panjang. Awalnya hanya terdiri dari lima baris kalimat, kini menjadi dua halaman penuh. Aku menyisipkan jeda, gerakan tangan, tatapan mata, senyum tipis yang disembunyikan, dan pertanyaan-pertanyaan yang seolah hanya ingin tahu, namun sebenarnya menyimpan rasa ingin tahu yang lebih dalam. Percakapan itu kini terasa lebih alami, lebih tegang, dan lebih menyentuh hati.

“Bagus sekali. Rasanya sudah jauh lebih pas dan hidup. Lanjutkan saja dengan ritme ini,” ucapku memuji hasil kerjaku sendiri.

***

Pukul dua siang, aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat untuk makan siang.

Aku membuat makanan sederhana seperti yang biasa aku lakukan saat masih tinggal di kamar kos dulu: sepotong roti tawar yang dipanggang sebentar, lalu diolesi selai stroberi manis yang terasa pas di lidah. Sambil mengunyah perlahan, aku membuka ponsel untuk melihat pesan masuk. Ada satu pesan yang baru saja dikirimkan oleh Aldo.

“Hai Sayang, bagaimana perkembangan tulisanmu hari ini? Apakah revisinya berjalan lancar?”

Aku segera membalasnya.

“Cukup berat, Aldo. Aku akhirnya harus menghapus seluruh sepuluh halaman pertama dan menulis ulang semuanya dari awal.”

Tak lama kemudian balasannya masuk.

“Sepuluh halaman? Itu jumlah yang cukup banyak. Pasti melelahkan sekali ya?”

“Memang terasa berat pada awalnya. Tapi setelah membaca ulang, aku sadar Tante Ratna benar. Tulisan tadi terasa terlalu tergesa-gesa, kurang detail, dan kurang menyentuh perasaan pembaca. Jadi menulis ulang itu adalah keputusan yang tepat.”

“Apakah kamu tidak merasa kesal atau marah karena tulisanmu dikritik dan harus diperbaiki?”

Aku tersenyum membaca pertanyaannya.

“Kenapa harus marah? Kritik itu justru yang membuatku tahu di mana letak kekuranganku. Tante Ratna membantuku untuk tumbuh dan menjadi penulis yang lebih baik, bukan malah menjatuhkanku.”

“Wah, kamu semakin dewasa dalam menyikapi hal-hal seperti ini ya, Tari.”

“Itu semua karena aku belajar dari kamu, Aldo.”

“Dari aku? Apa yang aku ajarkan padamu soal ini?”

“Kamu mengajarkanku untuk tidak takut mendengar kebenaran, tidak gampang tersinggung, dan berani menerima masukan demi menjadi lebih baik.”

“Baiklah, baiklah… kalau begitu aku terima pujian itu dengan senang hati."

Aku tertawa kecil, merasa suasana hatiku menjadi lebih ringan hanya karena mengobrol dengannya.

“Oke, aku harus kembali melanjutkan tulisannya sekarang. Nanti malam kita bicara lagi ya, kalau sudah selesai semuanya.”

“Siap. Semangat bekerja, Sayangku. Jangan lupa istirahat secukupnya.”

“Terima kasih, Aldo.”

***

Pukul delapan malam, akhirnya aku berhasil menyelesaikan seluruh revisi pada sepuluh halaman pertama.

Aku membacanya kembali berulang kali, memeriksa ejaan, tata bahasa, alur cerita, serta kesesuaian sifat dan sikap para tokohnya. Aku memastikan tidak ada lagi bagian yang terasa tergesa-gesa atau kurang jelas.

“Bagus sekali. Versi ini terasa jauh lebih baik, lebih utuh, dan lebih dekat dengan apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan,” gumamku puas.

Segera aku mengirimkan berkas revisi itu ke alamat surel milik Tante Ratna, lalu menyertakan pesan singkat:

“Tante, ini dia versi revisi dari sepuluh halaman awal ceritanya. Semoga sudah lebih baik dari sebelumnya. Mohon bimbingan dan masukan selanjutnya.”

Beberapa menit kemudian, balasan dari Tante Ratna masuk ke kotak masukku.

“Terima kasih banyak, Mbak Tari. Saya akan segera membacanya dengan teliti dan menyampaikan tanggapan saya besok ya.”

“Baik, Tante. Terima kasih atas waktunya.”

Aku menutup laptop perlahan, meregangkan kedua tangan dan punggung yang terasa kaku karena duduk terlalu lama, lalu langsung merebahkan tubuh di atas kasur.

“Rasanya sangat lelah sekali…” keluhku pelan.

Namun ini bukan sekadar rasa lelah karena bergerak atau bekerja secara fisik. Ini adalah kelelahan pikiran dan batin—rasa penat karena terus memutar kata-kata, menyusun kalimat, membayangkan suasana, dan memikirkan perasaan setiap tokoh di dalam cerita.

Namun di balik rasa lelah itu, ada perasaan puas yang mendalam menyelimuti hatiku.

“Tapi inilah yang sebenarnya aku inginkan sejak lama. Menjadi penulis. Menyampaikan perasaan dan kisah lewat tulisan. Jadi semua lelah ini terasa sangat berharga,” pikirku sambil tersenyum sendiri.

***

Pukul sembilan malam, ponselku kembali bergetar di samping kasur.

Tampilan layar menunjukkan panggilan video masuk dari Aldo.

Aku segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Begitu layar menyala, wajah Aldo langsung terlihat jelas. Ia masih berada di ruang kerjanya di apartemennya; di belakangnya terlihat deretan rak buku yang penuh dengan berbagai judul, dan di samping laptopnya tergeletak secangkir kopi hitam yang sudah setengah habis.

“Hai Tari… kamu terlihat sangat lelah hari ini,” sapanya lembut begitu melihat wajahku.

“Aku memang lelah, Aldo. Tubuh dan pikiran terasa berat. Tapi anehnya, hatiku justru merasa sangat bahagia dan tenang.”

“Bahagia meski lelah?”

“Iya. Karena hari ini aku berhasil melakukan apa yang paling aku sukai. Menulis, memperbaiki kekuranganku, dan membuat cerita ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.”

Aldo tersenyum lebar—senyum yang hangat dan menenangkan, yang seolah mampu menghangatkan hatiku meski terpisah jarak ribuan kilometer di dua benua yang berbeda.

“Aku sangat bangga padamu, Tari. Sungguh.”

“Aldo… kamu selalu saja bilang kamu bangga padaku, apa pun yang aku lakukan.”

“Karena itu bukan sekadar kata-kata manis semata. Aku benar-benar merasa bangga melihatmu tumbuh dan melangkah maju.”

“Aldo…”

“Aku serius. Kamu berani mengejar mimpi yang dulu hanya menjadi angan-angan. Kamu berani mengambil risiko untuk pergi jauh dari rumah dan belajar di tempat yang asing. Kamu berani melawan segala ketakutan dan keraguan, serta berani menjadi diri sendiri meski itu terasa berbeda dari kebanyakan orang.”

“Kamu juga berbeda, Aldo. Dan aku juga sangat bangga padamu.”

“Berbeda bagaimana?” tanyanya penasaran.

“Kamu berani mempertahankan perasaanmu padaku, meski harus melawan pendapat keluarga dan pendapat banyak orang. Kamu berani memilih jalan yang tidak mudah, demi sebuah cinta yang menurut orang lain terlarang.”

Aldo terdiam sejenak, matanya menatapku lekat-lekat seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak terucapkan lewat pandangan saja.

“Aku melakukan semua itu bukan karena keberanian semata, Tari. Aku melakukannya semata-mata karena aku sangat menyayangimu, dan aku yakin kita berdua bisa melewati segala rintangan ini bersama-sama.”

“Aku juga sangat menyayangimu, Aldo. Lebih dari yang bisa aku tuliskan dalam ribuan halaman sekalipun.”

Kami berdua terdiam sejenak, hanya saling menatap lewat layar ponsel, merasakan kehadiran satu sama lain meski terpisah jarak yang sangat jauh.

“Tari, sebaiknya kamu segera beristirahat. Besok pagi kamu juga harus bangun untuk mengikuti kuliah kan?”

“Iya, benar. Sudah waktunya tidur.”

“Baiklah. Selamat malam, Sayangku. Semoga tidurmu nyenyak dan mimpi indah.”

“Selamat malam juga, Aldo. Sampai kita bertemu lagi lewat panggilan besok.”

Aku menutup sambungan telepon, lalu meletakkan ponsel di samping bantal. Aku merebahkan tubuh kembali di atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar yang sudah mulai terbiasa aku pandangi setiap malam.

Udara malam terasa sejuk, namun hatiku terasa hangat dan damai.

“Aku sangat merindukanmu, Aldo… Lebih dari apa pun di dunia ini,” bisikku pelan dalam hati, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk beristirahat.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!