NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Yang Terbuang

Perjalanan Dewa Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi Isekai
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Zhou Ming, seorang pekerja kantoran di Bumi yang mati karena kelelahan bekerja berlebihan, tiba-tiba terbangun di dunia yang asing—dunia tempat para kultivator bertarung demi kekuatan, umur panjang, dan kedudukan tinggi. Ia masuk ke dalam tubuh tuan muda keluarga Zhou yang terkenal sebagai orang sampah: tidak memiliki akar spiritual, tidak bisa berkultivasi, selalu dihina, disiksa, dan akhirnya dibuang ke Hutan Kematian yang penuh bahaya saat tubuhnya sudah penuh luka parah.

Di saat harapan hampir lenyap, sebuah Sistem Poin Tak Terbatas muncul di pikirannya. Poin yang didapatkan dari setiap tindakan, pencapaian, atau bahkan hal kecil bisa ditukar menjadi segala sesuatu yang diinginkan: batu spiritual, teknik dewa, tubuh sekuat dewa, senjata legendaris, akar spiritual tingkat tertinggi, bahkan langsung menaikkan tingkat kultivasi dalam sekejap.

Dengan pengalaman hidup, pengetahuan, dan barang-barang unik yang hanya ada di Bumi—mulai dari masakan lezat yang bisa meningkatkan energi,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Kota Awan, Pasar Gelap, dan Nasib Para Budak

Setelah ujian petir usai, Zhou Ming membereskan semua peralatan, sambil diam-diam mengeluarkan dua benda kecil berkilau dari dalam ruang simpanan Sistem. Itu adalah Cincin Penyembunyi Aura Tingkat Tertinggi, barang ajaib yang bisa menutup seluruh gelombang energi, aura, dan jejak kekuatan pemakainya sampai tidak bisa dideteksi oleh siapa pun—bahkan oleh orang yang kekuatannya jauh lebih tinggi, atau alat pendeteksi paling canggih sekalipun.

Zhou Ming menyimpan rahasia asal usul cincin itu dengan baik, lalu memanggil Yue’er yang sedang melompat-lompat gembira karena merasakan tubuhnya jadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.

“Yue’er, kemari sebentar. Aku mau kasih kamu barang bagus lagi,” kata Zhou Ming sambil tersenyum.

Yue’er segera berlari mendekat, matanya berbinar penasaran. “Barang apa lagi Kak? Apakah lebih bagus dari kacamata hitam kemarin?”

Zhou Ming mengangguk, lalu memasangkan satu cincin perak kecil yang indah di jari manis tangan kanan gadis itu.

“Ini cincin penyembunyi aura. Selama kamu pakai ini, tidak ada satu orang pun yang bisa melihat seberapa kuat kekuatanmu, tidak ada yang bisa mengenali siapa kamu, dan tidak ada yang bisa mengetahui asal usul kita. Aura Naga di tubuhmu juga akan tertutup rapat sepenuhnya, seolah-olah kamu hanya anak kecil biasa yang tidak punya kekuatan apa pun.”

Yue’er memutar-mutar cincin itu dengan jari kecilnya, wajahnya terkesan kagum.

“Wah! Bagus sekali Kak! Jadi nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa ada orang yang menatap aneh atau takut sama kita ya?”

“Tepat sekali,” jawab Zhou Ming santai, lalu memasangkan cincin yang sama di jarinya sendiri. “Sekarang kita sudah siap. Kita akan keluar dari hutan ini, dan pergi berkeliling ke Kota Awan.”

“Kota Awan? Itu kota besar yang sering dibicarakan orang-orang kan? Asyikkk! Aku mau pergi! Mau lihat gedung-gedung tinggi, mau lihat banyak orang, mau coba makan makanan di sana!” seru Yue’er riang, langsung menarik lengan Zhou Ming untuk segera berangkat.

Dua sosok itu pun melangkah keluar dari kedalaman hutan purba, berjalan santai menuju arah kota besar yang ramai itu. Dengan cincin ajaib di jari mereka, aura dahsyat yang membuat langit dan bumi gemetar itu lenyap sepenuhnya. Di mata orang lain, mereka hanyalah sepasang kakak beradik muda yang berpakaian sederhana, wajah tampan dan cantik, terlihat sopan dan ramah, sama sekali tidak ada yang mencurigakan atau menakutkan sedikit pun.

 

Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di gerbang raksasa Kota Awan, kota perdagangan terbesar, paling ramai, dan paling makmur di seluruh Benua Timur. Kota ini adalah tempat pertemuan semua sekte besar, keluarga bangsawan, pedagang kaya, dan orang-orang dari segala penjuru wilayah.

Di sini, beberapa hari yang lalu, nama mereka menjadi pembicaraan panas yang menggemparkan seluruh penjuru. Semua orang hanya membicarakan Dua Dewa Misterius yang menghancurkan Sekte Pedang Langit dan Sekte Pedang Surga, orang yang melewati ujian petir lima warna legendaris dengan santai, sosok yang ditakuti dan dipuja oleh semua orang.

Namun saat Zhou Ming dan Yue’er berjalan masuk melewati gerbang kota, petugas penjaga hanya melirik sekilas dengan tatapan biasa, lalu mengangguk hormat sedikit—tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kaget, tidak ada satu pun yang menyadari bahwa dua orang muda yang berjalan santai di depan mereka itu adalah sosok yang membuat seluruh Benua Timur gemetar ketakutan beberapa hari yang lalu.

Mereka berjalan santai di jalanan yang penuh sesak, melihat kanan kiri dengan rasa penasaran. Suara orang berteriak menawarkan dagangan, suara kereta kuda lewat, suara percakapan ramai terdengar di mana-mana. Semua orang melewati mereka begitu saja, tidak ada yang curiga, tidak ada yang menatap lama. Bagi penduduk Kota Awan, mereka hanyalah tamu biasa dari luar kota.

“Wah, kotanya besar dan ramai sekali Kak! Lebih ramai dari tempat mana pun yang pernah aku lihat,” kata Yue’er sambil berputar-putar kecil, matanya sibuk melihat semua pemandangan baru.

“Iya, ini kota terbesar di sekitar sini. Kita jalan-jalan dulu, nanti kita cari tempat makan yang enak,” jawab Zhou Ming santai sambil mengikuti langkah kecil Yue’er.

Mereka masuk ke kedai makan yang cukup besar dan terkenal di tengah kota, memesan berbagai macam hidangan khas Kota Awan yang konon rasanya sangat lezat dan terkenal sampai ke wilayah jauh. Saat makanan datang, piring-piring penuh berisi masakan yang berwarna-warni dan berbau harum diletakkan di atas meja.

Yue’er yang sangat suka makan, segera mengambil sumpit dengan semangat, mencicipi satu suap besar. Tapi begitu makanan itu masuk ke mulutnya, wajah gadis itu langsung berubah cemberut, bibirnya mengerut, dan dengan cepat dia menelan paksa makanan itu lalu meletakkan sumpitnya kembali dengan kasar.

“Huahhh… tidak enak sekali Kak!” keluh Yue’er dengan wajah kecewa besar. “Dagingnya keras, bumbunya hambar, sayurnya tidak segar, rasanya aneh sekali! Padahal orang-orang bilang makanan di sini paling enak seantero benua, tapi rasanya jauh-jauh di bawah masakan yang biasa Kakak buat atau yang kita makan di dalam hutan!”

Zhou Ming tertawa melihat ekspresi kecewa itu. Dia sendiri sudah mencicipi sedikit dan memang merasakan hal yang sama. Bagi orang biasa makanan itu sudah dianggap sangat lezat dan mahal, tapi bagi Yue’er yang sudah terbiasa makan bahan-bahan terbaik, buah roh, daging binatang roh, dan makanan yang diolah dengan teknik sempurna, masakan biasa ini rasanya sama saja seperti makanan hambar dan buruk.

“Tenang saja, memang rasanya biasa saja. Kita cari tempat lain nanti, atau nanti aku beli bahan segar, aku masak sendiri buat kamu. Sekarang kita habiskan saja sedikit, atau kita pergi ke tempat lain,” kata Zhou Ming menghibur.

Yue’er menggeleng kuat, wajahnya masih cemberut. “Tidak mau! Aku tidak mau makan yang rasanya begini lagi! Kita pergi saja Kak, aku sudah kenyang karena rasanya tidak enak!”

Mereka pun segera membayar dan keluar dari kedai itu, Yue’er masih terlihat sedikit kecewa karena harapannya yang tinggi tidak terpenuhi.

“Baiklah, baiklah. Jangan cemberut terus. Aku tahu ada tempat yang lebih menarik dan aneh di kota ini, mau ikut?” kata Zhou Ming sambil mengedipkan mata.

“Tempat apa?” mata Yue’er langsung kembali berbinar.

“Pasar Gelap. Tempat jual beli barang-barang langka, barang terlarang, dan… berbagai hal lain yang tidak boleh dijual di tempat terang. Di sana banyak hal aneh yang bisa kita lihat,” jawab Zhou Ming santai.

“Pasar Gelap? Asyik! Aku mau lihat! Ayo ke sana Kak!” seru Yue’er segera melupakan rasa kecewanya soal makanan.

 

Mereka berjalan menuju sudut kota yang agak terpencil, di bagian selatan Kota Awan yang penuh gang sempit, rumah tua, dan suasana yang agak suram. Di sini, di balik pintu besar yang tertutup rapat, tersembunyi Pasar Gelap terbesar di wilayah itu—tempat di mana hukum tidak berlaku, tempat di mana segala sesuatu bisa dibeli dan dijual, tidak peduli itu barang curian, benda terlarang, hewan buas, atau bahkan manusia.

Dengan cincin penyembunyi aura, Zhou Ming dan Yue’er masuk dengan mudah, penjaga pintu hanya melirik sekilas lalu membiarkan mereka masuk tanpa pertanyaan apa pun.

Di dalam sana, suasananya gelap, penerangan hanya berasal dari beberapa lentera redup. Suasana jauh lebih suram dan tegang dibandingkan pasar biasa. Di setiap sisi, terdapat lapak-lapak yang menjual berbagai barang aneh, mulai dari tanaman beracun, senjata berdarah, tulang makhluk purba, sampai benda-benda yang tidak diketahui asalnya.

Namun apa yang membuat hati Zhou Ming sedikit mengencang, dan mata Yue’er perlahan berubah menjadi murung, adalah bagian paling belakang dari pasar itu.

Di sana, berjajar puluhan kandang besi kasar, berukuran kecil dan sempit. Di dalam setiap kandang itu, ada manusia—pria, wanita, anak-anak, bahkan bayi kecil sekalipun—semuanya terikat rantai besi berat di leher dan kaki, wajah mereka kotor, pakaian mereka compang-camping, tubuh mereka kurus kering penuh luka bekas cambuk dan pukulan.

Mereka adalah budak.

Orang-orang yang ditangkap dari perang, orang miskin yang dijual keluarganya, orang yang melunasi hutang dengan tubuhnya, atau orang yang diculik secara diam-diam. Semuanya dibawa ke sini, dikurung, diperlakukan seperti barang dagangan, dan dijual kepada siapa saja yang punya uang, untuk dijadikan tenaga kerja kasar, pengawal, pelayan, atau bahkan bahan percobaan kejam bagi para kultivator jahat.

Di depan kandang-kandang itu, berdiri pedagang besar yang gemuk dan berwajah kejam, sedang berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya kepada orang-orang yang lewat.

“Ayo ayo! Lihat-lihat tuan-tuan! Budak muda, tubuh kuat, sehat semua! Ada yang pandai bertarung, ada yang pandai melayani, ada yang cantik jelita! Murah meriah, beli banyak dapat diskon besar! Beli sekarang, bawa pulang sesuka hati kalian!”

Orang-orang yang lewat melihat para budak itu dengan tatapan dingin, acuh tak acuh, sama seperti sedang melihat hewan ternak atau barang mati. Ada yang menepuk-nepuk tubuh mereka untuk memeriksa kekuatan, ada yang menawar harga dengan kasar, ada yang bahkan mencambuk ringan hanya untuk melihat reaksi mereka.

Para budak itu hanya menunduk diam, wajah mereka penuh keputusasaan dan rasa sakit, mata mereka kosong tanpa harapan. Mereka sudah lama terbiasa diperlakukan seperti benda, tidak berani melawan, tidak berani bersuara, takut mendapat hukuman yang lebih parah lagi.

Yue’er berhenti melangkah di depan barisan kandang itu, kakinya terasa berat, matanya perlahan berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Dia melihat seorang anak perempuan seusianya, kurus kering, kaki dan tangannya penuh luka, sedang duduk meringkuk di sudut kandang sambil menangis pelan, mulutnya tertutup kain agar tidak bersuara keras.

Hati kecil Yue’er yang lembut terasa perih sekali. Dia menoleh ke arah Zhou Ming dengan mata yang penuh rasa sedih dan marah.

“Kak Zhou Ming… mereka… mereka manusia sama seperti kita kan? Kenapa mereka dikurung seperti hewan? Kenapa mereka dijual beli seperti barang? Kenapa orang-orang memperlakukan mereka begitu jahat?” suaranya bergetar menahan emosi.

Zhou Ming mengerutkan keningnya, tatapannya menjadi dingin dan tajam. Dia sudah tahu hal seperti ini ada di dunia ini, tapi melihatnya secara langsung tetap membuat darahnya mendidih. Dia merangkul bahu Yue’er dengan lembut, suaranya rendah dan serius.

“Di dunia ini Yue’er, masih banyak hal yang tidak adil dan kejam. Orang yang kuat seringkali menindas orang yang lemah, orang yang jahat memanfaatkan orang yang tidak berdaya. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan, jadi mereka menderita seperti ini…”

Yue’er menggertakkan giginya kecil, matanya bersinar marah.

“Tidak adil sekali! Mereka juga punya keluarga, punya hati, juga bisa sakit dan menangis sama seperti kita… Aku tidak suka melihatnya Kak! Aku ingin menolong mereka, aku ingin membebaskan mereka semua!”

Zhou Ming menatap gadis itu dengan senyum lembut, hatinya merasa bangga. Meski Yue’er punya kekuatan setara dewa, hatinya tetap murni, baik, dan penuh kasih sayang. Itulah hal yang paling berharga dari dirinya.

Dia mengangguk perlahan, tatapannya berubah dingin dan penuh tekad.

“Baiklah. Kalau kamu mau menolong mereka, kita akan menolong mereka semua. Hari ini, Pasar Gelap ini akan tahu, bahwa memperlakukan manusia seperti barang dagangan… adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka buat.”

Suara Zhou Ming rendah tapi penuh tekanan yang mengerikan, meski orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak menyadari aura membunuh yang perlahan memancar dari tubuh pemuda itu, tersembunyi rapat di balik cincin ajaibnya.

Di depan mereka, pedagang gemuk itu masih terus berteriak-teriak dengan senyum jahat, sama sekali tidak tahu bahwa dia dan seluruh tempat itu, baru saja menarik perhatian dua sosok yang kekuatannya bisa menghancurkan seluruh kota ini menjadi debu dalam sekejap mata.

“Tunggu sebentar Yue’er… kita akan pastikan, tidak ada satu pun dari mereka yang masih terikat rantai setelah hari ini selesai,” bisik Zhou Ming pelan, matanya tertuju pada para budak yang penuh keputusasaan itu.

Di sisi lain, Yue’er mengencangkan genggamannya, matanya penuh kemarahan dan rasa iba, bersiap untuk melakukan apa saja demi membebaskan orang-orang malang itu.

Suasana di Pasar Gelap yang gelap itu perlahan menjadi tegang, seolah udara di sekitarnya mulai berubah berat… pertanda bahwa badai besar akan segera datang.

1
verto
10 poin lagi dari mana? kan hargnya 20
Bang Jun: Aduh maaf kak,kesalahan dan kelalaian autor.maklum baru belajar nulis🙏,sebagai ganti nya,ke depan autor akan perbaiki lebih baik lagi.juga mohon dukungan dari para sahabat ya,kita usahakan tembus 300 episode kalau ramai tidak nutup kemungkinan 500 sampai 800 episode💪.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!