DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagimu Tidak Bagiku!
Melihat Zevana yang terjatuh dan bersimpuh, Bani menghentikan diri lalu mendekat ke arah Zevana.
Hap!
“Sepertinya Nona terkejut, maaf,” ucap Bani lembut lalu mengangkat Zevana dan membantunya bangkit.
Plak!
“Lepaskan! Aku bisa berdiri sendiri,” ucap Zevana sembari mendorong Bani.
Kacung menjijikkan, batin Zevana penuh kebencian.
“Aku gak paham kenapa kamu harus sejauh ini hanya untuk diakui? Apakah ini lucu buatmu?” bisik Zevana tepat di dekat telinga Bani.
“Saya tidak paham apa maksud Nona,” ujar Bani dengan senyum miring.
Tanpa berkata-kata lagi, Zevana menekuk wajahnya menahan luapan emosi yang campur aduk di dadanya. Selain itu, bau anyir darah segar yang bercampur keringat menyeruak di seisi ruangan, membuatnya menahan lonjakan isi perutnya yang terasa ditarik paksa.
“Bagaimana menurutmu? Menyenangkan bukan?” tanya Garda dingin.
Bajingan ini maunya apa? Sebenarnya mau menunjukkan apa? Mengesalkan. Bagian mana yang salah, batin Zevana sembari menatap Garda setenang mungkin.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini. Tapi terus terang, jika yang Tuan maksud adalah soal 'Dopamin', aku punya cara sendiri melakukannya. Yang pasti aku tidak suka mengotori tanganku secara langsung—seperti seseorang,” ungkap Zevana sembari menutup hidung dan mulutnya dan mendelik ke arah Bani.
“Aku paham maksudmu. Baiklah,” ucap Garda sembari bangkit lalu mendekat ke arah Zevana.
“Aku tahu ada maksud di setiap gerak-gerikmu. Jika memang kamu suka cara seperti itu, aku menantikannya. Balaskan dendammu, seperti yang sudah kamu tunggu-tunggu selama ini,” ucap Garda dengan senyuman bangga.
“Haha,” kekeh Zevana spontan.
“Tuan memang selalu tahu dan selangkah lebih dulu dibanding siapapun,” ucap Zevana sembari tertawa renyah.
“Kalo begitu, izinkan aku melakukan hal pribadi di luar urusan perusahaan, sebagai jalan untuk memulainya,” ucap Zevana memohon izin.
“Silahkan, tunjukkan kemampuanmu menciptakan 'dopamin' itu tanpa mengotori tanganmu secara langsung, seperti maumu.” Garda menaruh kedua tangannya di bahu Zevana lalu berbisik, “tapi ingat, tetaplah menjadi serigala manisku yang patuh. Karena selama itu terjadi, aku akan selalu ada di belakangmu—tidak peduli apapun yang kamu lakukan. Paham?”
Zevana memeluk tubuhnya sendiri, merasakan gelanyar kengerian yang menjalar di seluruh tubuhnya. Darahnya seolah membeku saat mengingat betapa Garda adalah manusia kejam yang akan melakukan apapun jika ada yang mengusik teritorinya.
“Sejauh mana dia tahu? Atau sejak awal aku ada di bawah permainannya?” monolog Zevana sembari meremas bahunya sendiri, seolah ingin menyingkirkan ingatan saat Garda menyentuhnya.
“Dia tidak pernah menyentuhku. Selama ini dia tidak pernah mengusik privasiku,” gumamnya kini sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja.
Pikirannya begitu berisik. Tentang pertanyaan soal peranan dirinya bagi Garda, rencana balas dendamnya, hingga cara supaya bisa terlepas dari cengkeraman Garda.
“Hah ... Menyebalkan karena semua yang kunikmati dan kujalani adalah miliknya, dan pemberiannya,” desah Zevana frustrasi.
Mencoba menenangkan diri, ia kembali fokus pada pekerjaannya, menatap deretan nama perusahaan di layar laptop. Sementara di atas mejanya berserakan dokumen pembelian aset dan surat peralihan hak milik atas nama perusahaan cangkang yang ia dirikan.
“Masa bodoh dengan teka-teki menyebalkan itu. Aku bahkan gak bisa buka suara soal Bani yang tiba-tiba jadi sok mengatur banyak hal. Untuk sekarang, lakuin dulu apa yang bisa dilakuin,” ucap Zevana menyemangati diri.
Merasa bahwa semua berkas itu tak bisa ia urus sendirian, Zevana pun memanggil Arka.
“Saya sudah menyalin dan mengirimkan berkas yang Ibu minta kemarin, ada lagi yang perlu saya kerjakan Bu?” tanya Arka penuh semangat.
“Minggu depan kita akan pindah kantor ke kota sebelah. Ini data nama-nama perusahaan yang sebagian sahamnya sudah jadi milik kita dengan nama perusahaan lain. Tolong data ulang lalu buat agenda rapat santai untuk menjalin kemitraan,” titah Zevana sembari menyodorkan tumpukan berkas berisi banyak coretan melingkar kepada Arka.
“Baik Bu,” jawab Arka tanpa komentar.
Pria jangkung itupun melengos pergi sembari membuka-buka lembaran kertas yang Zevana berikan padanya. Namun saat ia hampir berada di ambang pintu, pria itu memutar tubuhnya kembali lalu mendekat ke meja Zevana.
Brukh!
Berkas setebal hampir 10 cm itu ditaruhnya dengan kasar di atas meja Zevana, hingga membuat wanita muda itu terkesiap.
“Maaf, Bu. Apa benar PT Argadian itu nama samaran perusahaan cangkang yang Ibu kelola?” tanya Arka dengan nada penuh penekanan.
“Ya? Ada masalah dengan itu?” tanya Zevana dengan mimik wajah tidak suka.
Untuk pertama kalinya setelah ia menyandang gelar CEO, ada seseorang yang meninggikan suara dengan nada menuntut kepadanya, tentunya selain Garda.
“Masalah? Apa Ibu bercanda? Sebelum dipindah tugaskan ke sini, saya berusaha mencari-cari siapa kiranya dalang di balik perusahaan bayangan yang memiliki kendali penuh atas anak-anak perusahaan yang ada di dalam berkas ini. Ternyata itu adalah Anda Bu Zevana,” desah Arka dengan nada putus asa.
“Masalahnya adalah Ibu memotong gaji karyawan lama secara sepihak! Ibu menaikkan harga bahan baku ke rekanan lokal sampai mereka hampir bangkrut! Lalu lihat ini ... Ibu memerintahkan untuk memutus pasokan barang ke toko-toko kecil yang tidak mau patuh pada aturan Ibu. Itu bukan bisnis, Bu. Itu pemerasan.” Arka menatap tajam kedua manik mata legam Zevana yang tengah menatapnya acuh.
“Lantas?” tanya Zevana angkuh.