Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESONANSI DI ATAS JURANG BESI
Angin bertekanan tinggi melolong di sela-sela poros vertikal Menara Pusat, merobek sisa jubah hitam Kian saat tubuh setengah mesinnya melesat jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang besi. Di bawahnya, ratusan pipa konduktor energi dan jalinan kabel magnetik raksasa membentang seperti urat nadi mekanis yang memancarkan pendaran merah berbahaya.
Mata mekanis kirinya, The Probability Lens V2.0, berputar liar dalam frekuensi tertinggi, memetakan laju kecepatan jatuhnya dan mencari simpul daya yang mengaliri dinding laser di lantai 85.
«[Kalkulasi Kecepatan Jatuh: 32 Meter/Detik.]
[Waktu Benturan Dasar Menara: 8 Detik.]
[Simpul Daya Utama Terdeteksi: 15 Meter di Sisi Kanan (Konduktor A-9).]»
Kian memusatkan pikirannya. Jalur sirkuit perak di sepanjang lengan dan kaki kirinya menyala biru safir terang, memicu sistem Internal Kinetic Resonance V3.0.
Tepat saat tubuhnya melintasi pipa baja horizontal berdiameter dua meter, Kian menghantamkan tombak silikon-titaniumnya ke permukaan pipa untuk mengubah momentum jatuhnya.
CRASH!!!
Ujung tombaknya merobek pelat baja pipa, memercikkan badai bunga api listrik. Hantaman itu begitu keras hingga memicu indikator kerusakan di pelipis kirinya berkedip kuning, namun tubuh sibernetiknya berhasil menahan tekanan getaran tersebut.
Kian mengayunkan tubuhnya di atas pipa, lalu melompat akrobatik mendarat tegak lurus di atas anjungan besi konduktor A-9.
Di depannya, sebuah generator berbentuk tabung kaca setinggi tiga meter berdenyut-denyut merah, mengalirkan arus laser berfrekuensi pemotong molekul ke jembatan tempat Viona berada.
"Simpul terunci," suara Kian bergetar dengan distorsi mekanis.
Dia tidak mencari saklar atau panel peretasan. Kian menancapkan tangan kiri peraknya langsung menembus pelindung kaca generator tersebut. Cairan pendingin plasma instan menyembur, membakar lapisan kulit sintetis di lengannya hingga memperlihatkan anyaman serat karbon putih di dalamnya.
Kian mencengkeram inti kabel sirkuit di dalam generator, lalu mengalirkan seluruh energi resonansi kinetik tubuhnya dalam satu denyut balik yang brutal.
“Resonansi Kelima: Kelebihan Beban Sistem!”
BOOOOOOMMMM!!!
Sementara itu, di atas jembatan gantung Lantai 85, ketegangan telah mencapai batas maksimum.
Viona mencengkeram pagar besi dengan jari-jemari yang memutih. Di depannya, dinding laser jaringan laba-laba merah itu bergetar semakin cepat, mengeluarkan suara mendengung tinggi yang memekakkan telinga. Suhu di sekitar jembatan mulai naik, dan dari balik dinding laser, moncong puluhan senapan mesin otomatis telah berputar, siap memuntahkan ratusan peluru dalam hitungan detik.
«[Hitung Mundur Kiamat Terbimbing: 10 Hari, 22 Jam, 58 Menit.]»
"Viona! Lift ini mulai kehilangan daya magnetiknya! Kita harus bergerak sekarang atau kita akan terjebak di dalam kapsul ini!" teriak salah satu prajurit Suku Kuno dari balik The Core Uplink.
"Tunggu! Kian sedang mematikan sistemnya!" balas Viona, suaranya parau menembus keputusasaan.
Matanya terus menatap ke bawah jurang gelap, berharap melihat pendaran cahaya biru milik kaptennya. Namun yang ada hanya kegelapan dan suara gemuruh mesin menara.
Apakah Kian gagal? Apakah tubuh mesinnya hancur menabrak dasar?
Pikiran-pikiran buruk mulai menggerogoti mental Viona.
Tiba-tiba, suara dengungan dinding laser di depan mereka berubah menjadi pekikan statis yang nyaring.
BZZZZZT—CRASH!
Jaringan laser merah itu berkedip dua kali sebelum akhirnya lenyap total, menyisakan kepulan asap hitam dari sirkuit langit-langit yang meledak.
"Sekarang! Dorong pemancarnya!" teriak Viona.
Dua prajurit Suku Kuno mengerahkan seluruh tenaga mereka, mendorong wadah The Core Uplink melintasi jembatan baja dengan kecepatan penuh.
Namun, sistem pertahanan menara tidak selemah itu.
Begitu dinding laser mati, protokol sekunder langsung aktif. Puluhan senapan mesin otomatis di dinding koridor langsung melepaskan rentetan tembakan brutal.
TATATATATATATATATA!!!
Hujan peluru kaliber besar melesat membelah jembatan. Dua prajurit Suku Kuno terjerembab di tanah saat perisai energi portabel mereka pecah berkeping-keping akibat tekanan peluru yang terlalu masif.
Satu peluru menggores bahu Viona, membuatnya terlempar ke samping, tas kulitnya terlepas dan menggelinding ke arah tepi jurang jembatan yang tak berpagar.
"Plat Sovereign-ku!" Viona menjerit panik.
Jika plat sirkuit itu jatuh ke dalam jurang, maka pembajakan menara akan gagal total dan dunia akan meleleh dalam waktu sepuluh hari.
Viona merangkak dengan putus asa, mengulurkan tangannya yang terluka demi meraih tali tas tersebut.
Namun, sebuah peluru senapan otomatis menghantam lantai besi tepat di depan jemarinya, menciptakan cipratan logam panas yang memaksanya menarik kembali tangannya.
Tas itu bergoyang di ujung tepi jembatan, bersiap jatuh bebas.
Di detik kritis itu, sebuah bayangan perak melesat naik dari kegelapan jurang.
SHIIIING!
Kian muncul, melompat setinggi lima meter dari bawah jembatan menggunakan dorongan hidrolik kaki kirinya.
Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan mikro, menyambar tali tas kulit Viona tepat satu milidetik sebelum objek itu terjatuh, sementara tangan kanannya mengayunkan tombak silikon-titanium untuk menciptakan dinding getaran yang menepis seluruh rentetan peluru senapan otomatis.
SPARK! SPARK! SPARK!
Semua peluru yang mengarah ke Viona hancur menjadi serpihan debu logam saat menyentuh medan resonansi ultrasonik dari tombak Kian.
Kian mendarat dengan lutut kirinya bertumpu pada lantai jembatan.
Penampilannya kini menyerupai malaikat maut mekanis yang hancur; setengah wajah kirinya terkelupas memperlihatkan rangka logam pelindung lensa yang berkilat perak, dan lengan kirinya sepenuhnya telanjang tanpa kulit sintetis, menyisakan jalinan kabel dan serat karbon putih yang memercikkan listrik statis.
Dia meletakkan tas kulit itu di depan Viona.
Mata kirinya yang biru pekat berputar lambat, mengunci sensor senapan otomatis di dinding.
«[Analisis Ancaman: Senapan Otomatis Divisi 4 (Sisa: 12 Unit).]
[Tindakan: Eliminasi Mutlak.]»
Kian berdiri, mengacungkan tombaknya lurus ke depan.
Jalur sirkuit di seluruh tubuhnya berdenyut dalam ritme yang selaras dengan frekuensi pemancar energi Menara Pusat yang baru saja dia bajak di bawah.
"Resonansi Keenam: Badai Frekuensi!"
Kian menusukkan tombaknya ke udara kosong di depannya.
Sebuah gelombang kejut berbentuk lingkaran biru raksasa melesat maju, menyapu seluruh koridor jembatan lantai 85.
Puluhan senapan mesin otomatis di dinding langsung meledak bersamaan dari dalam sistem sirkuit mereka sendiri, hancur menjadi puing-puing besi mati yang tak lagi berfungsi.
Keheningan kembali menguasai lantai 85, hanya diselingi oleh suara napas Viona yang memburu dan desis listrik dari lengan Kian.
Kian berbalik, menatap Viona dengan mata kirinya yang rusak sebagian.
"Jalur menuju ruang kendali utama di Lantai 100 kini bersih dari hambatan otomatis. Berdiri, Viona. Waktu kita tersisa sepuluh hari."
Viona bangkit perlahan, memeluk tas kulitnya kembali.
Dia melihat ke arah lengan kiri Kian yang hancur, lalu menatap sisa wajah organik kanan Kian yang tampak lelah.
Meskipun Kian berbicara seperti mesin yang dingin, tindakan instingnya yang melompat dari jurang demi menyelamatkan plat Sovereign milik Viona membuktikan satu hal: di balik tumpukan sirkuit dan logika kalkulasi itu, ada bagian dari jiwa Kian yang masih menolak untuk membiarkan Viona mati.
"Terima kasih... Kian," bisik Viona pelan.
Kian tidak membalas dengan kata-kata.
Dia membalikkan tubuhnya, memimpin jalan menembus pintu koridor yang kini telah terbuka menuju ruang kendali tertinggi Menara Pusat.
Di atas sana, di balik awan Sektor Inti, sisa-sisa Dewan Oligarki dan takdir akhir dari sembilan menara telah menunggu mereka dalam hitungan mundur yang kian mencekam.