Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacau Di Rumah
Devina mendengar suara kaca pecah di lantai bawah. Ia berdiri, menggenggam pisau koki yang selalu ia simpan di balik bantalnya. Ia mencoba menghubungi Gavin, namun sinyal di rumah itu sudah diputus total.
"Gavin... tolong..." bisik Devina, meski ia tahu Gavin tidak akan datang tepat waktu.
Ia menoleh ke arah Bu Imroh yang masih tenang dalam zikirnya. Wanita tua itu membuka matanya, menatap Devina dengan ketenangan yang tidak masuk akal.
"Jangan takut, Nak. Allah tidak tidur," ucap Bu Imroh lembut.
Di luar pintu kamar, langkah kaki yang berat dan mantap mulai terdengar menaiki tangga kayu. Setiap dentuman langkah itu seolah-olah adalah detak jantung maut yang datang menjemput. Aris Wicaksana telah tiba, dan kali ini, tidak ada lagi jeruji besi atau tim taktis yang menghalanginya.
****
Lantai kayu di koridor atas rumah aman itu berderit, sebuah suara tajam yang membelah keheningan zikir Bu Imroh. Langkah kaki itu berat, penuh percaya diri, dan membawa aroma kematian yang pekat. Aris Wicaksana berdiri di ambang pintu kamar utama, bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu darurat yang remang. Di tangannya, sebilah belati berkilat, mencerminkan kegilaan yang sudah meluap dari kelopak matanya yang menghitam.
"Selamat malam, keluargaku tersayang," desis Aris. Suaranya serak, bergetar oleh kepuasan yang sakit. "Gavin sedang sibuk bermain di pelabuhan, jadi kurasa kita bisa menyelesaikan jamuan makan malam ini tanpa gangguan si pahlawan kesiangan itu."
Namun, Aris tidak menemukan pemandangan domba yang pasrah untuk disembelih. Di tengah ruangan, Devina Maharani berdiri tegak. Di sampingnya, Pak Pamuji menggenggam sebuah tongkat besi pemukul kasti dengan tangan yang gemetar namun kokoh, sementara Bu Ines berdiri di belakangnya dengan botol semprotan pembersih kaca berisi cairan cabai yang pekat.
"Jangan melangkah satu senti pun, Aris!" teriak Pak Pamuji, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Cukup kamu merusak hidup kami!"
Aris tertawa melengking, sebuah suara yang lebih mirip gonggongan binatang buas. "Tua bangka! Kamu pikir mainan itu bisa menghentikanku?"
****
Saat Aris menerjang maju dengan belatinya, Devina melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak lari. Ia justru menghambur ke arah meja dapur terbuka di sudut ruangan. Dengan gerakan secepat kilat, ia meraih dua kantong besar tepung terigu yang memang sudah ia siapkan di atas meja.
PYARR!
Devina merobek kantong itu dan menyiramkan isinya tepat ke arah wajah Aris yang sedang berlari. Seketika, ruangan itu dipenuhi kabut putih yang menyesakkan. Aris terbatuk-batuk, matanya perih tertutup serbuk putih. Di saat yang sama, Bu Ines menyemprotkan cairan cabai tepat ke arah mata Aris yang sedang menyipit.
"AAAAAGH! MATAKU!" raung Aris.
Kekacauan pecah. Pak Pamuji mengayunkan tongkat besinya, mengenai bahu Aris hingga pria itu terjerembab ke lantai yang kini licin oleh tepung. Devina tidak berhenti di situ. Ia meraih balok-balok mentega dingin dari wadah es dan melemparkannya ke arah kaki Aris.
Lantai marmer itu kini berubah menjadi medan tempur yang mustahil untuk dipijak. Aris mencoba bangkit, namun ia terpeleset, jatuh menghantam meja makan dengan keras. BRAK! Piring-piring pecah, dan tepung yang beterbangan membuat suasana nampak seperti mimpi buruk yang artistik namun mematikan.
"Ini untuk Salsa!" Devina berteriak, suaranya pecah oleh emosi. Ia melempar sebuah wajan berat yang mendarat tepat di punggung Aris.
"Dan ini untuk semua ketakutan yang kamu berikan pada ibuku!"
Bu Imroh, yang tetap bersimpuh di atas sajadahnya, terus menggerakkan tasbihnya dengan kecepatan luar biasa. Mulutnya komat-kamit, memohon pada Sang Pemilik Nyawa agar kekuatan diberikan pada tangan-tangan yang sedang berjihad melawan kezaliman ini.
****
Di tengah kegaduhan itu, suara sirene polisi mulai terdengar mendekat, membelah kesunyian malam di luar gerbang villa. Cahaya biru dan merah mulai memantul di jendela-jendela tinggi. Aris, yang meski dalam keadaan babak belur dan tertutup tepung putih, menyadari bahwa waktunya sudah habis.
Dengan sisa tenaganya, ia berguling menuju jendela balkon. Ia menatap Devina dengan satu mata yang masih bisa terbuka, memancarkan kebencian yang sedalam samudera.
"Kalian pikir ini kemenangan?" Aris meludah, meninggalkan noda merah di atas lantai yang putih oleh tepung. "Kalian hanya memperpanjang penderitaan kalian sendiri!"
Tanpa ragu, Aris melompat dari balkon lantai dua ke arah rimbunnya pohon pinus di bawah. Suara dahan yang patah terdengar, disusul dengan langkah kaki yang menghilang di kegelapan hutan pegunungan tepat saat pasukan Brimob mendobrak pintu depan.
****
Dua jam kemudian, sebuah mobil SUV hitam masuk ke halaman villa dengan kecepatan tinggi. Gavin melompat keluar, napasnya memburu, wajahnya penuh dengan debu dan bekas luka akibat upayanya mendobrak keluar dari gudang pelabuhan yang terkunci.
Ia berlari menaiki tangga dan terpaku di ambang pintu. Ruang makan itu nampak seperti zona perang. Tepung putih menutupi segalanya, balok mentega yang hancur berserakan, dan aroma cabai yang menyengat masih menggantung di udara.
"Devina! Ibu! Bapak!" Gavin menghambur, memeluk Devina yang terduduk lemas di lantai, kemejanya putih penuh tepung dan air mata.
"Kami baik-baik saja, Gavin... kami melawannya," isak Devina, menyandarkan kepalanya di dada Gavin.
Gavin memandang Pak Pamuji yang masih memegang tongkatnya dengan napas tersengal, dan Bu Ines yang sedang ditenangkan oleh polwan. Ia lalu menoleh ke arah Bu Imroh yang baru saja selesai menutup doanya dengan usapan tangan ke wajah.
"Maafkan aku... aku terlambat," bisik Gavin, suaranya bergetar oleh rasa bersalah yang amat sangat.
Komisaris Pratama menghampiri Gavin, menggelengkan kepalanya pelan. "Dia lolos lagi ke dalam hutan, Pak Gavin. Kami sudah mengerahkan anjing pelacak, tapi kabut terlalu tebal. Dia terluka, tapi dia masih sangat licin."
Gavin mengeratkan pelukannya pada Devina. Ia merasa lega melihat kekasihnya selamat, namun di balik kelegaan itu, sebuah beban berat kembali menindih bahunya. Selama Aris masih bernapas, selama pria itu masih berkeliaran di luar sana sebagai hantu yang terluka, maka rumah ini, villa ini, bahkan seluruh kota ini tidak akan pernah benar-benar aman.
"Dia sudah terpojok, Dev," ucap Gavin pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. "Srigala yang terluka adalah yang paling berbahaya, tapi dia tidak akan punya tempat sembunyi lagi."
Devina menatap lantai yang berantakan itu. Ia menyadari satu hal: mereka telah memenangkan pertempuran kecil malam ini dengan keberanian mereka sendiri, namun perang besar melawan kegilaan Aris Wicaksana masih menyisakan satu babak terakhir yang mungkin akan menjadi yang paling mematikan.
Di kejauhan, di dalam hutan yang gelap dan dingin, Aris Wicaksana merayap di antara semak-semak, memegangi bahunya yang berdarah. Ia bersumpah dalam hati, bahwa kunjungan berikutnya tidak akan melibatkan tepung atau mentega, melainkan darah yang sesungguhnya.