NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - TRANSFORMASI INTI BULAN SEJATI

Suara detak jantung Kaelan berhenti sejenak, digantikan oleh dengungan energi yang frekuensinya sanggup meretakkan dinding batu penjara. Kristal Inti Bulan Sejati mencair di dalam perutnya, mengirimkan aliran Qi yang begitu murni hingga pembuluh darah di seluruh tubuh Kaelan berpendar biru terang di balik kulit pucatnya.

Rambut putih susunya kini tidak lagi hanya panjang, melainkan melayang seolah-olah berada di bawah air, memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Pupil merahnya berubah menjadi putih kebiruan, dingin dan tanpa emosi manusia sedikit pun.

"Bunuh dia!" raung pemimpin sipir.

Lima cambuk api melesat secara bersamaan, membelah udara dengan suara ledakan panas. Namun, sebelum ujung cambuk itu menyentuh jubah Kaelan, api tersebut membeku di udara. Bukan hanya membeku, api itu berubah menjadi kristal es hitam yang pecah berkeping-keping saat menyentuh lantai.

Kaelan bergerak. Bukan lagi meluncur atau melompat, ia seolah-olah berpindah tempat dalam kedipan mata—sebuah teknik pergerakan ruang baru: Langkah Bayang Rembulan.

Zrak!

Kaelan muncul di belakang sipir pertama. Ia tidak menggunakan belati. Ia hanya menyentuh zirah pelat berat pria itu dengan satu jari. Seketika, zirah setebal tiga inci itu mengerut dan hancur, diikuti oleh tubuh di dalamnya yang menguap menjadi kabut es. Tidak ada darah, tidak ada teriakan. Hanya kesunyian yang mengerikan.

"Apa... monster macam apa ini?!" sipir lainnya mundur dengan kaki gemetar.

Kaelan mengangkat tangan kanannya ke udara. Uap air yang merembes dari dinding penjara yang lembap mulai berkumpul, membentuk ribuan helai benang yang jauh lebih tipis dan tajam dari Sutra Rembulan sebelumnya.

Teknik Puncak: Jaring Galaksi Beku.

Seluruh lorong penjara seketika dipenuhi oleh jutaan benang perak yang bergetar. Para sipir yang mencoba lari mendapati tubuh mereka teriris menjadi potongan-potongan kecil bahkan sebelum mereka menyadari telah melewati benang tersebut. Penjara Sumur Langit yang tadinya merupakan tempat penyiksaan, kini berubah menjadi ruang pameran kematian yang artistik dan dingin.

Pemimpin sipir, yang memiliki tingkat kultivasi paling tinggi, mencoba melepaskan ledakan Qi api dari seluruh tubuhnya sebagai upaya terakhir. Namun, Kaelan hanya menatapnya. Tatapan itu seolah-olah membekukan jiwa pria itu.

"Api kecilmu tidak akan bisa menghangatkan neraka yang akan kubangun," bisik Kaelan.

Kaelan mengepalkan tangannya. Seluruh benang di lorong itu tertarik ke satu pusat—tubuh pemimpin sipir tersebut. Dalam satu detik, pria itu terbungkus dalam kepompong es hitam yang kemudian meledak menjadi debu.

Penatua Agung Wu, yang masih terpaku di dinding, menatap Kaelan dengan campuran rasa bangga dan ngeri. "Kau... kau telah melampaui teknik aslinya. Kau telah mencapai tingkat 'Nirwana Es'. Tapi waspadalah, Kaelan... semakin besar kekuatan ini, semakin sedikit kemanusiaan yang tersisa di hatimu."

Kaelan menoleh ke arah Wu. Cahaya di matanya perlahan meredup kembali menjadi merah, namun hawa dingin di sekelilingnya tetap terasa menekan. Ia mendekati Wu dan mencengkeram pedang besar yang menyegel bahu pria tua itu.

Dengan satu sentakan yang dialiri energi Inti Bulan, pedang itu retak dan hancur menjadi debu logam. Wu jatuh ke pelukan Kaelan, tubuhnya yang ringkih hampir tidak memiliki berat.

"Bawa aku keluar dari sini, Nak," bisik Wu lemah. "Masih ada satu rahasia lagi tentang ibumu yang tersimpan di dalam Istana Rembulan Abadi. Aliansi tidak menculikmu secara kebetulan... mereka mencarimu karena darahnya."

Kaelan tertegun. Kata "ibu" adalah sesuatu yang sudah ia hapus dari ingatannya selama tujuh tahun di lubang gelap. Mendengar itu, api kemarahan yang dingin kembali membakar dadanya.

Kaelan menggendong Wu di punggungnya dan menggunakan Langkah Bayang Rembulan untuk melesat naik menembus plafon penjara, menghancurkan lapisan batu setebal lima meter seolah-olah itu hanya tumpukan salju.

Di permukaan, Kota Takhta Langit mulai gempar. Getaran dari bawah tanah telah membangunkan para penjaga istana. Kaelan berdiri di atap sebuah menara tinggi, menatap langsung ke arah Istana Rembulan Abadi yang kini mulai menyalakan lampu-lampu peringatan.

"Ayo kita selesaikan ini," ucap Kaelan pada dunia yang mulai mengepungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!