Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Raden dan Gista duduk berdampingan di atas rumah pohon, suasana hening tapi nyaman. Mereka berdua masih canggung dengan hubungan baru mereka, tapi perlahan mulai terbuka. Gista memainkan ujung rambutnya, Raden sesekali menatapnya, lalu kembali melihat ke kejauhan. Keduanya berbagi cerita kecil, diiringi gelagat tawa.
"Raden boleh tanya gak?" Gista terlihat sangat serius menatap Raden, entah apa yang ingin dia tanyakan pada kekasihnya.
"Tanya apa?"
"Apa cuma gue perempuan yang pernah lo ajak naik ke atas rumah pohon ini?"
Raden mengangguk tanpa ragu. "Iya, kamu satu-satunya perempuan yang aku bawa kesini, gak akan ada lagi cewek yang bakal aku bawa kesini selain kamu sayang."
Blush.
Wajah Gista seketika menimbulkan rona kemerahan kala untuk pertama kalinya ia mendengar kata 'sayang' yang Raden ucapkan
"Kamu happy gak hari ini" Raden kembali bersuara, dia bersandar di pundak Gista.
"Happy banget, terima kasih ya? Aku hari ini bahagiaaaa banget den, aku belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kamu memberi kebahagiaan yang lebih dari yang pernah aku impikan, tanpa kamu ketahui kamu telah mewujudkan impian aku, memiliki rumah pohon.."
"Oh ya?"
"Iya, sekali lagi makasih ya Raden."
"Enggak."
Dahi Gista mengerut. "Enggak?"
"Iya enggak, gak mau kalo cuma bilang makasih doang."
"Terus gimana? Aku gak ada uang kalo kamu minta uang."
Raden terkekeh. "Siapa yang mau minta uang? Aku mau kamu bilang 'Makasih sayang, gitu."
Mendengar ucapan Raden membuat Gista tersipu malu, kata sayang nyaris tak pernah terucap di bibirnya namun hari ini ia di haruskan mengucapkannya.
"Makasih S-sayang." ucap Gista dengan gugup, ia semakin di buat gugup saat Raden menggenggam tangannya.
Disisi lain, Adara tenga dibuat cemas dengan nasib Gista ketika pulang nanti pasalnya saat ini sudah pukul setenga lima namun Gista belum juga pulang. Bahkan sudah beberapa kali ia menelpon Gista namun sama sekali tak ada jawaban.
"Lo kemana aja sih sta.."
Ceklek.
Gista menoleh kebelakang saat mendengar suara decitan pintu kamarnya yang di buka.
"N-nenek.."
"Boleh nenek masuk?"
Adara mengangguk. "Iya nek masuk aja."
Adara menarik napas dalam-dalam. "K-kenapa ya nek?"
Nek Rita, orang tua dari Mama Adara, masuk ke dalam kamar Adara dengan wajah tegas. Ia dikenal sebagai sosok yang keras dan tidak suka dengan Gista, bahkan lebih kejam daripada Arabella.
"Nenek mau tanya sama kamu."
"Tanya soal apa nek?"
"Apa benar kamu sering membantah apa kata mamamu demi melindungi gadis sialan itu?" tanya wanita tua tersebut yang bernama Rita
Deg.
Adara semakin dibuat cemas pada nasib Gista saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan neneknya, ia sudah tau neneknya ini seperti apa kejamnya.
"E-enggak nek." jawab Adara dengan bibir bergetas, ia benar-benar takut kepada neneknya ini padahal neneknya tak pernah bermain tangan kepadanya namun bayang-bayang masa lalu dimana Gista kecil yang pernah dihukum menginjak bara api membuatnya menyerdik ngeri.
Flashback on:
"Ampun nek, Gista gak akan ngulangi itu lagi. Gista janji gak akan pergi tanpa seizin nenek sama mama lagi ..." Gista kecil menangis histeris, meminta ampun pada neneknya.
Gista yang berusia sembilan tahun pada waktu itu harus menanggung hukum menginjak bara api karena pergi tanpa izin. Sebetulnya Gista sudah meminta izin untuk pergi menyusul Adara yang tenga bermain bersama di acara ulang tahun temannya, ia juga ingin bermain seperti anak-anak yang lainnya namun ia tak mendapatkan izin dari mamanya membuatnya nekat pergi diam-diam.
Gista juga anak normal yang ingin bermain-main apalagi diacara ulang tahun itu banyak permainan dan makanan membuatnya tergiur. Namun nasib sial selalu menyertai Gista, belum juga ia keluar rumah namun tanganya sudah ditarik masuk oleh sang nenek.
"Mulai berani ya kamu sekarang membantah perintah dari anak saya, berani kamu hah?" suara wanita tua itu sangat nyaring di telinga
"Maaf nek, Gista pengen pergi kesana juga."
"Emangnya kamu di undang hah? Siapa yang mau mengundang anak aneh sepertimu ini, diam disini jangan coba-coba kabur kamu kalo gak mau mati!"
Gista menggeleng cepat, ia meremas ujung gaun lusuhnya namun terbaik baginya. Gaun lusuh itulah yang satu-satunya Gista miliki, itupun gaun bekas Adara. Ia menundukkan kepalanya dengan diiringi turunnya butiran-butiran bening dari pelopak matanya, ia menangis tanpa suara. Benar-benar sakit bukan?
Gista di bawa ke halaman belakang, wanita tua itu sibuk menyiapkan bara api yang akan Gista injak sebagai hukuman.
"Lepaskan alas kakimu sekarang, pijak bara api itu." pinta Rita, suara benar-benar tegas.
Gista menggeleng cepat, ia tak mau melalukan apa yang di perintahkan neneknya. "Enggak nek, itu panas nanti kaki Gista terluka."
"Saya tidak perduli, sekali hukuman tetap hukuman. Cepat lakukan, sekarang!"
Lagi-lagi gadis kecil itu menggelengkan kepalanya namun kali ini tangannya ditarik paksa mendekat bara api itu yang tenga menyala-nyala.
"AGHH, Panas nek ..." Gista berteriak histeris saat wanita tua itu menempelkan bara api ke kakinya
"Ini hukuman buat kaki yang selalu melangka pergi tanpa izin."
"AGHHHHHH, N-nenek cukup nanti kaki Gista terbakar."
Teriakkan Gista terdengar jelas diluar rumahnya, membuat Adara yang baru saja kembali dari pesta ulang tahun temannya seketika berlari cepat menghampiri sumber suara.
"NENEK!"
Adara kecil dengan cepat mendorong tubuh neneknya itu walaupun tak ada pergerakan dari neneknya karna tubuh kecil itu tak mampu menandingi tubuh neneknya.
"Hiks.... Dara s-sakit, kaki Gista sakit."
"Nenek kenapa jahat sama Gista, Gista anak baik kenapa nenek hukum kayak gini? Nenek moster jahat, nenek bukan nenek Adara lagi "
"ADARA!" Tegur arabella.
"Mama lihat ma, nenek jahat sama Gista. Dia sakiti Gista ma, kaki Gista di bakar oleh moster tua itu." ucap Adara yang sudah menangis terisak
"Dengarkan mama, nenek kamu itu orang tua jangan pernah kamu meninggikan nada bicaramu kepadanya. Sekarang minta maaf sama nenek."
"Enggak, nenek jahat ma."
"Adara!"
"Mama kok belain nenek, jelas-jelas nenek sudah jahati Gista."
"Dia pantas mendapatkan siksaan itu."
Flashback off
"Adara!"
lamunan Adara buyar saat mendengar suara neneknya
"Eh, kenapa nek?" Adara di gelagapan
"Nenek ngomong panjang lebar loh tadi ternyata kamu gak denger."
Adara menyengir. "Hehe maaf nek."
"Yasudah nenek mau kebawa, mau masak, kamu mau minta masakin apa?"
"Apa aja nek, masakan nenek kan selalu enak!"
Mendapatkan pujian dari sang cucu tersayang membuat Rita tersenyum bahagia.
"Cucu nenek ini gak ada duanya, pinter banget bikin neneknya ini bahagia!"
Maaf gue ga bisa ngasih bintang ga ada koin 😭😭