NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEJA MAKAN DAN BENANG TERURAI

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke kaca mobil Arlan terasa berbeda hari itu.

Perjalanan kembali dari kampung menuju Jakarta tidak lagi terasa melelahkan meskipun Arlan hanya tidur beberapa jam di rumah Ibu Lastri. Di sampingnya, tumpukan oleh-oleh khas desa—mulai dari emping melinjo hingga sambal goreng buatan tangan—menjadi simbol kemenangan kecil yang ia bawa pulang.

​Begitu memasuki area Jakarta, Arlan langsung menuju apartemen Kira. Ia menemukan wanita itu sudah menunggu di lobi dengan wajah yang jauh lebih cerah, meski masih ada sisa-sisa kecemasan di matanya.

​"Lan!" Kira menghambur saat Arlan keluar dari mobil. Ia tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekitar lobi. "Kamu beneran sehat, kan? Nggak ngantuk nyetir sejauh itu?"

​Arlan menangkap bahu Kira, menatapnya dengan senyum lelah namun bahagia. "Sehat, Ra. Ibu Lastri kasih aku energi lewat pisang goreng dan restunya. Kita berhasil satu tahap."

​Kira menghela napas lega, namun raut wajahnya kembali menegang saat mengingat pesan terakhir Arlan soal ibunya. "Tante Rahmi... beneran minta kita datang malam ini?"

​"Iya. Dan dia minta kamu datang sebagai tamu kehormatan, bukan sekadar 'sahabat Arlan'. Ayo, kita harus bersiap. Ini akan jadi malam yang panjang," ucap Arlan sambil menggenggam tangan Kira erat.

​Malam itu, rumah besar keluarga Arlan tampak lebih tenang. Tidak ada kerumunan kerabat atau tamu dari luar kota. Hanya ada lampu kristal yang berpendar hangat di ruang makan.

Bu Rahmi duduk di kursi utama, menata piring-piring porselen dengan gerakan yang sangat pelan, seolah setiap detiknya ia gunakan untuk menata hatinya sendiri.

​Pintu depan terbuka. Langkah kaki Arlan dan Kira terdengar berirama mendekati ruang makan. Begitu mereka masuk, Bu Rahmi berdiri. Suasana mendadak menjadi sangat kaku.

​"Malam, Bu," sapa Arlan. Suaranya datar namun tidak lagi dingin.

​"Malam, Tante," sambung Kira dengan suara yang sedikit bergetar. Ia membawa sebuah kantong berisi oleh-oleh dari ibunya di kampung. "Ini... ada titipan dari Ibu di kampung. Sambal goreng dan emping kesukaan Tante."

​Bu Rahmi menatap kantong itu, lalu menatap Kira. Ada jeda panjang yang membuat Kira hampir ingin berbalik lari. Namun, secara tak terduga, Bu Rahmi melangkah mendekat dan menerima kantong itu.

​"Terima kasih, Kira. Sampaikan salam Tante untuk Ibu Lastri. Tante... Tante minta maaf sudah bicara yang tidak pantas padanya lewat telepon," ucap Bu Rahmi dengan nada rendah.

Matanya tidak lagi tajam, melainkan tampak berkaca-kaca.

​Kira terpaku. Ia menoleh pada Arlan yang hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar ia menjawab.

​"Sudah dimaafkan, Tante. Ibu juga titip salam, katanya kapan-kapan Tante harus main ke sana lagi," jawab Kira tulus.

​"Duduklah. Mari kita makan dulu. Dingin-dingin begini enaknya makan sup hangat," ajak Bu Rahmi, mencoba mencairkan suasana.

​Makan malam dimulai dalam keheningan yang sedikit canggung. Hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar. Arlan sesekali melirik ibunya, lalu melirik Kira, memastikan keduanya baik-baik saja.

​"Jadi," Bu Rahmi memecah keheningan setelah mereka menghabiskan separuh hidangan. "Arlan bilang dia keluar dari rumah ini karena merasa pilihannya tidak dihormati."

​Arlan meletakkan sendoknya. "Arlan hanya ingin Ibu paham bahwa kebahagiaan Arlan bukan pada apa yang orang lain lihat, tapi pada apa yang Arlan rasakan setiap hari di samping Kira."

​Bu Rahmi menghela napas, menatap piringnya dengan tatapan nanar. "Ibu ini sudah tua, Lan. Ibu takut kalau kalian yang sudah terlalu dekat ini malah jadi bosan kalau berumah tangga. Ibu takut kalian tidak punya kejutan lagi karena sudah tahu semua borok masing-masing. Itu kenapa Ibu ingin kamu dengan orang baru."

​Kira memberanikan diri untuk bicara. "Tante, justru karena kami sudah tahu 'borok' masing-masing, kami tidak perlu saling menipu.

Saya tahu Arlan kalau stres itu sukanya makan mi instan tengah malam, dan Arlan tahu saya kalau panik itu sering lupa menaruh kunci. Kami sudah melewati fase saling memuji yang palsu, Tante. Yang tersisa sekarang hanya keinginan untuk saling mendukung."

​Bu Rahmi terdiam. Ia menatap Kira lama, seolah sedang mencari kejujuran di mata gadis itu. "Kira, Tante akui... Tante salah. Tante terlalu fokus pada 'struktur' luar, seperti yang kamu bilang. Tante lupa kalau bangunan yang paling kuat adalah yang fondasinya dibangun paling lama. Dan sebelas tahun itu... memang fondasi yang sangat kuat."

​"Terima kasih, Bu," ucap Arlan pelan.

​"Tapi Arlan," Bu Rahmi menatap putranya dengan tatapan yang kembali serius, "Ibu punya satu permintaan. Dan ini tidak bisa dinegosiasikan."

​Jantung Kira kembali berdegup kencang. Syarat apa lagi ini?

​"Ibu tidak mau kalian hanya sekadar 'pacaran'. Kalau memang kalian merasa sebelas tahun itu sudah cukup untuk saling mengenal, Ibu minta kalian segera tentukan tanggal. Ibu tidak mau ada gosip lagi soal hubungan kalian yang menggantung. Bulan depan, kita lamaran secara resmi di kampung Kira. Setuju?"

​Kira hampir tersedak air yang baru saja ia minum. "Lamaran? Bulan depan, Tante?"

​Arlan tertawa lepas, sebuah tawa yang penuh dengan rasa kemenangan. "Ibu, Arlan bahkan sudah menyiapkan cincinnya di dalam laci meja sejak dua hari yang lalu. Kalau Ibu setuju, malam ini pun Arlan bisa melamar Kira."

​"Jangan bercanda, Arlan! Ini urusan sakral," Bu Rahmi ikut tersenyum tipis. "Kira, bagaimana? Kamu sanggup menghadapi Arlan yang kaku ini seumur hidupmu?"

​Kira menatap Arlan. Pria yang selama ini menjadi tempatnya mengadu, pria yang pernah ia tangisi karena takut kehilangannya, dan kini pria itu sedang menatapnya dengan penuh harap.

​"Saya rasa, saya tidak punya pilihan lain, Tante. Karena kalau bukan sama Arlan, sate padang di pinggir jalan rasanya jadi tidak enak lagi,"

jawab Kira disambut tawa kecil dari Bu Rahmi.

​Malam itu, suasana rumah yang tadinya dingin berubah menjadi sangat hangat. Bu Rahmi mulai bercerita tentang rencana pesta, tentang bagaimana ia ingin mengundang semua kerabat untuk menunjukkan bahwa "si ceroboh Kira" akhirnya benar-benar menjadi menantunya.

​Setelah makan malam selesai, Arlan dan Kira duduk di teras depan, menikmati angin malam Jakarta yang terasa lebih bersahabat.

​"Lan," panggil Kira.

​"Hm?"

​"Semuanya terasa seperti mimpi. Tiga hari yang lalu kita masih berantem hebat, Ibu-ibu kita juga perang dingin. Sekarang... kita bahas tanggal lamaran?"

​Arlan merangkul bahu Kira, menariknya ke dalam pelukannya. "Itulah indahnya kita, Ra. Kita punya sejarah yang cukup kuat buat bikin badai apa pun jadi cepat reda. Kita bukan cuma sepasang kekasih, kita itu tim. Tim yang sudah latihan selama sebelas tahun buat sampai ke titik ini."

​"Tapi Lan, kamu serius sudah beli cincin?" tanya Kira penasaran.

​Arlan merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang ternyata sudah ia bawa sejak dari kampung tadi. Di dalamnya, sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang sangat simpel namun elegan berkilau di bawah lampu teras.

​"Aku nggak pernah main-main, Ra. Sejak aku sabotase kencanmu di galeri itu, aku sudah tahu kalau aku nggak akan membiarkan ada laki-laki lain yang pasang cincin ini di jarimu."

​Arlan menarik tangan kanan Kira, menyematkan cincin itu di jari manisnya. Ukurannya pas.

Sangat pas.

​"Kiranara," ucap Arlan rendah, menatap mata Kira dengan intensitas yang membuat napas Kira tercekat. "Terima kasih sudah bertahan sebelas tahun jadi sahabatku yang paling cerewet.

Sekarang, tolong bertahan selamanya jadi satu-satunya wanita di hidupku."

​Kira tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia memeluk Arlan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. "Aku nggak akan kemana-mana, Lan. Karena rumahku memang di sini."

​Di dalam rumah, Bu Rahmi memperhatikan mereka dari balik gorden jendela. Beliau tersenyum sambil menyeka sudut matanya. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan: cinta sejati tidak butuh perkenalan baru, ia hanya butuh keberanian untuk mengakui apa yang sudah ada sejak lama.

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!