NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 29

Atas saran dari editor aku sudah revisi 20 bab tolong baca ulang ya…heheh… beberapa hari ini aku sibuk melakukan revisi

Nanda menundukkan kepala. Bibir kecilnya ditekuk ke bawah. Wajah ceria yang tadi bersinar setelah bermain di Time Zone hilang seketika, seolah seluruh kebahagiaan itu dirampas dalam satu tarikan napas.

Raka menatap putrinya dengan dada sesak. Ia tak tega melihat Nanda seperti itu. Tangannya segera meraih tubuh kecil anak itu, lalu menggendongnya dengan hati-hati.

“Papah, Bunda pulang, kan?” bisik Nanda lirih sambil memeluk leher Raka.

“Iya, Sayang,” jawab Raka pelan.

Nyeri menjalar di dada laki-laki itu. Baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa berartinya Nadia bagi Nanda. Selama ini ia menganggap semua yang dilakukan Nadia adalah hal biasa. Menemani tidur, membacakan dongeng, menyiapkan pakaian, memastikan Nanda makan, bahkan sekadar memeluk anak itu ketika sedih.

Namun, ketika Nadia tidak ada, rumah mereka seperti kehilangan jiwa.

Sementara itu, Ratna yang duduk di kursi depan mengeraskan rahangnya.

“Anak ini tidak bisa terus-menerus bergantung pada Nadia. Aku harus membuat dia membenci Nadia. Kalau nanti Nadia dibenci oleh anak yang paling dia sayangi, dia pasti menderita,” pikir Ratna dingin.

Mobil melaju membelah malam.

Nanda duduk diam di kursi belakang. Yuni terus memeluk cucunya itu. Namun, Nanda tidak bicara sepatah kata pun.

Diamnya anak kecil itu justru membuat hati Yuni semakin resah.

Nanda seperti kehilangan sebagian jiwanya.

Namun, bagaimanapun juga, hubungan darah harus diperjuangkan. Dalam hati Yuni, Ratna tetap lebih berhak merawat Nanda dibanding Nadia.

Tepat pukul sepuluh malam mereka sampai di rumah.

Begitu pintu mobil terbuka, Nanda langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah.

Langsung ke kamar papahnya mencari sosok Nadia

Pintu dibuka cepat.

Kosong.

Nanda segera berlari ke kamar mandi.

“Bunda?”

Tidak ada jawaban.

Anak itu kembali berlari ke halaman belakang. Matanya sibuk mencari ke segala arah, berharap menemukan sosok yang sangat dirindukannya.

Namun, tetap tidak ada.

Wajahnya merengut sedih.

“Papah, kok Bunda enggak ada?” tanyanya dengan suara bergetar.

Raka menghela napas panjang.

Anehya, Nanda tidak menangis keras. Hanya air mata yang jatuh perlahan dari matanya, seolah anak itu tidak ingin merepotkan orang lain dengan kesedihannya.

“Nanti Papah bilang sama Bunda supaya cepat pulang,” ucap Raka sambil berjongkok di depan putrinya.

Mata Nanda langsung berbinar penuh harap.

“Papah janji, kan?”

“Iya, Sayang. Papah janji.”

Nanda segera menyeka air matanya dengan punggung tangan. Setelah itu, ia berlari kecil menuju kamarnya.

Raka mengikuti dari belakang.

Anak itu membuka lemari sendiri, mengambil baju tidur, lalu mengganti pakaiannya dengan gerakan pelan. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi.

Tidak ada rengekan.

Tidak ada tangisan.

Semua dilakukan sendiri.

Namun, justru karena itu hati Raka semakin sakit.

Setelah selesai, Nanda naik ke atas kasur dan menarik selimut sampai dada.

Raka mendekat lalu mengusap kepala putrinya lembut.

“Selamat bobo, Sayang,” ucapnya lirih.

Nanda tersenyum kecil.

Namun, kedua matanya merah.

Raka mematikan lampu kamar, lalu menutup pintu perlahan.

Ia berjalan menuju kamarnya sendiri.

Di sana, Ratna tampak duduk santai di atas kasur sambil memainkan ponselnya.

“Kamu harus belajar menggantikan peran Nadia, Ratna,” ucap Raka pelan.

Ratna mendecih kecil.

“Nanda jangan terlalu dimanja, Mas. Nanti dia jadi anak lemah.”

“Selama ini Nanda mandiri, Ratna,” balas Raka. “Hanya saja, Nadia selalu memastikan Nanda tidur dengan baik setiap malam. Dia mendongengkan Nanda sebelum tidur.”

“Sekarang sudah ada ponsel. Tinggal putar YouTube, nanti juga tidur sendiri.”

“Kamu jangan menggantikan peran orang tua dengan YouTube.”

Ratna langsung meletakkan ponselnya dengan kesal.

“Sudahlah, Mas. Kamu cerewet banget. Tidur saja sana.”

Raka menatap Ratna dengan getir.

“Kalau Ratna seperti ini, bagaimana masa depan Nanda?” pikirnya.

Ia melepas pakaian kerjanya perlahan.

“Ambilkan aku handuk, Ratna.”

“Kamu punya kaki, kan? Ambil sendiri. Jangan manja.”

Ucapan itu membuat Raka terdiam.

Selama tujuh tahun terakhir, Nadia selalu menyiapkan semuanya untuknya. Handuk, pakaian tidur, kopi pagi, bahkan dasi kerja.

Tidak pernah sekali pun Nadia mengeluh.

Karena terlalu terbiasa dilayani, kini ucapan Ratna terasa begitu menusuk.

Namun, Raka terlalu lelah untuk bertengkar.

“Sepertinya aku juga harus belajar mandiri,” gumamnya pahit.

Ia melangkah menuju kamar mandi dengan kehampaan yang aneh.

Setelah selesai mandi, biasanya ia tinggal memakai pakaian yang sudah disiapkan Nadia di atas tempat tidur.

Namun malam ini tidak ada siapa pun yang menyiapkannya.

Padahal Ratna masih terjaga sambil bermain ponsel.

Raka akhirnya membuka lemari sendiri dan mengambil pakaiannya.

Malam ini ia hanya ingin tidur.

Terlalu banyak masalah datang bersamaan.

Ratna melirik suaminya sambil mendecih pelan.

“Aku enggak akan melayani kamu seperti Nadia. Jangan harap,” pikirnya dingin.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Nama “Tukang Paket” muncul di layar.

“Sialan, ganggu aja,” gerutunya pelan.

Ratna buru-buru keluar kamar lalu mengangkat telepon di ruang tamu. Ia duduk di sofa sambil menekan suara agar tidak terdengar.

“Ada apa lagi kamu menghubungi aku?” tanyanya kesal.

“Aku butuh uang,” terdengar suara laki-laki dari seberang telepon.

“Uang lagi, uang lagi. Baru dua hari lalu aku transfer.”

“Sudahlah, jangan bawel. Kamu sekarang sudah jadi istri sah Raka. Jadi pasti banyak uang.”

“Iya, tapi itu tetap uang dia. Kalau aku terlalu banyak minta, nanti dia curiga.”

“Aku enggak peduli. Aku butuh satu juta malam ini.”

“Enggak ada,” jawab Ratna tegas.

“Kalau begitu, besok aku datang ke kantor Raka dan ceritakan semuanya.”

Ratna langsung berdiri.

“Kurang ajar kamu!”

“Ayolah. Aku benar-benar butuh uang malam ini.”

Ratna mengepalkan tangan kuat-kuat.

“Iya, aku transfer.”

Sambungan telepon terputus.

Jari Ratna bergerak cepat di layar ponsel, lalu mentransfer uang kepada laki-laki itu.

Ratna mendesah kesal.

Ia berniat kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pintu rumah terbuka sedikit.

Perempuan itu berjalan mendekat untuk menutup pintu.

Namun, di teras rumah ia melihat Nanda.

Anak kecil itu duduk sambil memeluk boneka kesayangannya. Ia mengenakan baju tidur dengan rambut sedikit berantakan.

Tatapannya lurus ke arah gerbang.

Seolah sedang menunggu seseorang datang.

Ratna mendekat.

“Nanda sedang apa kamu?” tanyanya.

Nanda menoleh sekilas.

“Nanda lagi nunggu Bunda.”

Hati Ratna langsung mengeras.

Ia berjongkok hingga sejajar dengan Nanda.

“Sudah malam. Kamu harus tidur.”

“Aku mau nunggu Bunda pulang, Mah,” ucap Nanda lirih sambil menahan tangis.

“Nanda enggak mau lihat Mamah sedih, kan?”

Nanda langsung menggeleng cepat.

“Nanda enggak mau lihat orang sedih, Mah.”

“Kalau begitu kamu tidur, Nanda. Kalau kamu enggak tidur, Mamah nanti sedih dan sakit.”

Nanda menunduk.

“Tapi Bunda belum pulang, Mah.”

“Nanda!”

Kali ini suara Ratna mulai mengeras. Tatapannya tajam menusuk.

“Bunda enggak akan pulang, Nanda.”

Tubuh kecil Nanda menegang.

“Kenapa, Mah? Nanda nakal ya sampai Bunda enggak pulang?”

Ratna menatap anak itu dingin.

“Kamu enggak nakal. Tapi Bunda kamu sudah enggak sayang lagi sama kamu.”

Kalimat itu menghantam hati kecil Nanda begitu keras.

Air mata langsung memenuhi matanya.

Namun, anak itu berusaha mati-matian menahannya karena Ratna sedang melotot ke arahnya.

“Sekarang tidur. Kalau Nanda enggak mau lihat Mamah dan Papah sakit, kamu harus nurut.”

Nanda menundukkan kepala.

Ia berdiri perlahan sambil memeluk bonekanya erat-erat, lalu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa suara.

Ratna mendengus kasar.

“Merepotkan sekali berurusan dengan anak-anak,” gumamnya kesal.

Sementara itu, Nadia sudah tinggal di rumah barunya.

Rumah minimalis dengan luas tanah sekitar seratus lima puluh meter dan luas bangunan tujuh puluh meter.

Rumah dua lantai itu sederhana, tetapi nyaman.

Lantai bawah digunakan sebagai ruang tamu dan dapur. Sementara kamar berada di lantai atas.

Ada dua kamar di sana.

Salah satunya memiliki perpustakaan mini dan balkon kecil yang menghadap langit malam.

Nadia berdiri di balkon sambil memandang bulan.

Langit malam begitu bersih tanpa awan.

Angin berembus pelan memainkan rambut panjangnya.

Perceraian tidak terlalu menyakitkan baginya.

Yang masih membuat dadanya berat hanyalah Nanda.

Anak itu sudah dianggapnya seperti darah daging sendiri.

Nadia menggenggam pagar balkon pelan.

Tatapannya tetap datar seperti biasa, sulit ditebak apakah ia sedang sedih atau tidak.

Namun, malam ini hatinya terasa kosong.

“Nanda sayang, kamu lagi apa?” tanyanya lirih pada bulan.

Seolah berharap langit malam bisa menyampaikan rindunya pada anak kecil yang sedang menunggunya pulang.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!