NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Nama yang Terlalu Lembut

Pagi datang perlahan setelah hujan panjang semalam. Cahaya matahari masuk lembut dari jendela besar kamar Arkana Mahendra. Suara rintik sisa hujan masih terdengar samar dari luar mansion. Dan begitu membuka mata, Kemuning langsung mengingat pelukan semalam. Tubuhnya langsung menegang malu di bawah selimut.

Kalimat Arkana terus terngiang jelas di kepalanya. “Kalau takut... panggil aku.” Jantung Kemuning kembali berdetak terlalu cepat. Ia memeluk selimut erat sambil menutup wajahnya sendiri. Kenapa Arkana harus berkata selembut itu padanya? Kemuning mulai takut pada pikirannya sendiri. Karena perhatian kecil pria itu perlahan terasa terlalu berarti.

Kemuning sadar dirinya tidak boleh berharap lebih. Arkana Mahendra berasal dari dunia yang bahkan tidak berani ia bayangkan sebelumnya. Sedangkan dirinya hanyalah gadis desa yang datang membawa masalah. Semakin dekat dengan Arkana hanya akan melukai dirinya sendiri nanti. Pelan-pelan, Kemuning menoleh ke arah sofa panjang dekat jendela.

Arkana masih tertidur di sana dengan satu tangan di atas dahinya. Rambut hitam pria itu sedikit berantakan dan wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Aura dingin dan tajamnya seolah menghilang saat sedang tidur. Untuk beberapa detik, Kemuning hanya memandanginya diam-diam.

Ia belum pernah melihat Arkana setenang ini sebelumnya. Garis rahangnya terlihat tegas bahkan saat tidur. Dan entah kenapa, pria itu terlihat terlalu tampan di pagi yang sunyi itu. Kemuning terlalu lama memperhatikan tanpa sadar. Sampai tiba-tiba Arkana membuka mata perlahan. Tatapan gelap pria itu langsung bertemu dengan miliknya.

Kemuning membeku seketika. “A-aku cuma...” Kemuning langsung panik dan buru-buru memalingkan wajah. Pipinya memanas luar biasa karena ketahuan sedang menatap Arkana. Tangannya sampai salah menarik selimut sendiri.

Arkana menatap Kemuning beberapa detik sebelum duduk perlahan di sofa. Lalu sudut bibirnya bergerak tipis nyaris seperti senyum kecil. “Kalau terus menatapku seperti itu. Aku bisa salah paham.”

Kemuning langsung membelalak malu. “Ti-tidak! Aku tidak seperti itu!” Jawabannya terlalu cepat sampai terdengar lucu.

Arkana menahan napas pendek seperti menahan tawa. Pria itu tidak menyangkal bahwa dirinya mulai menikmati reaksi malu Kemuning. Gadis itu terlalu polos dan terlalu mudah dibaca. Dan itu diam-diam mengganggu ketenangan Arkana.

Kemuning buru-buru turun dari ranjang sambil menunduk dalam. Ia bahkan hampir tersandung selimut sendiri karena gugup. Sedangkan Arkana memperhatikannya tanpa sadar terlalu lama lagi. Sampai pria itu mengerutkan dahi kesal pada dirinya sendiri.

Suasana pagi di meja makan mansion Mahendra terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Mahardika membaca koran sambil menikmati kopi paginya. Ratih Maharani duduk elegan di ujung meja tanpa banyak bicara. Sedangkan Kemuning terus duduk kaku seperti murid yang takut dihukum.

“Arkana.” Mahardika akhirnya bicara sambil menurunkan korannya sedikit. “Kau harus ke kantor utama hari ini.”

Arkana hanya mengangguk tipis tanpa ekspresi.

“Bawa Kemuning ikut.”

Kalimat itu langsung membuat Kemuning tersedak kecil pada minumannya sendiri. Ia menatap Mahardika dengan mata membesar panik. “Ke... kantor?”

“Dia tidak mungkin terus tinggal di mansion bersama Ratih.” Nada Mahardika tenang tetapi jelas tidak bisa dibantah.

Ratih langsung memasang ekspresi tipis tidak senang. Sedangkan Arkana menghela napas pendek malas.

“Aku bukan babysitter.” Jawaban Arkana terdengar datar seperti biasa.

Namun Mahardika hanya menatap putranya sebentar. Dan itu cukup membuat Arkana akhirnya menyerah diam-diam. Kemuning justru makin gugup setelah mendengar keputusan itu. Ia belum pernah masuk gedung perusahaan besar seumur hidupnya. Membayangkan berdiri di dunia Arkana saja sudah membuat lututnya lemas. Apalagi harus ikut pria itu seharian.

Satu jam kemudian, Arkana sudah berdiri rapi di depan mobil sport hitamnya. Setelan formal mahal berwarna gelap membuat tubuh tinggi pria itu terlihat semakin sempurna. Rambutnya tertata rapi dan aroma parfum maskulinnya langsung memenuhi udara sekitar. Kemuning sampai terpaku beberapa detik saat melihatnya.

Kemuning memakai dress lembut warna dusty pink dari butik kemarin. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai sederhana. Ia terlihat cantik secara alami tanpa banyak riasan. Namun justru itu yang membuat Arkana sulit mengalihkan pandangan.

Kemuning buru-buru masuk ke mobil sambil menunduk malu. Ia terlalu sadar pada perbedaan dunia mereka sekarang. Arkana terlihat seperti pria yang keluar dari majalah mahal. Sedangkan dirinya masih merasa seperti gadis desa yang tersesat.

Saat Kemuning hendak memasang seatbelt, Arkana tiba-tiba menahan tangannya.

“Diam.” Suara rendah pria itu langsung membuat napas Kemuning tercekat. Arkana membungkuk mendekat ke arahnya. Ternyata ujung rambut Kemuning sedikit terkena noda lipstik samar. Arkana mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya tanpa sadar. Sentuhan kecil itu terasa terlalu intim bagi Kemuning. Tubuhnya langsung menegang gugup.

“Sudah.” Arkana kembali duduk normal seperti tidak terjadi apa-apa. Namun Kemuning masih membeku sambil memegang ujung dressnya erat. Jantungnya nyaris tidak bisa tenang lagi.

Mahendra Group menjulang megah di tengah pusat kota. Gedung tinggi dengan dominasi kaca hitam itu terlihat sangat mewah dan berwibawa. Begitu mobil Arkana berhenti di depan lobby utama, beberapa pegawai langsung membungkuk hormat. Dan itu membuat Kemuning semakin tidak percaya diri.

“Selamat pagi, Pak Arkana.” Sapaan terdengar dari berbagai arah saat mereka berjalan masuk. Semua orang terlihat menghormati Arkana dengan sangat formal. Sedangkan tatapan penasaran langsung tertuju pada Kemuning.

Kemuning refleks berjalan sedikit di belakang Arkana. Ia merasa semua orang sedang menilai dirinya diam-diam. Dress sederhana yang dipakainya mendadak terasa terlalu biasa untuk tempat semewah ini. Kemuning jadi semakin ingin menghilang saja.

Pintu lift khusus terbuka begitu mereka tiba di lantai utama direksi. Seorang wanita cantik berdiri di sana sambil memegang tablet kerja. Tatapan matanya langsung berhenti pada Kemuning. Dan senyumnya berubah sangat tipis.

Selvina Adriani terlihat sangat elegan dengan setelan kerja mahal. Rambutnya tertata sempurna dan makeup-nya terlihat flawless. Aura percaya dirinya begitu kuat dan cocok berada di sisi Arkana. Kemuning langsung merasa makin kecil dibanding wanita itu.

“Pagi, Pak Arkana.” Suara Selvina lembut dan profesional. Namun matanya jelas menilai Kemuning dari atas sampai bawah. Tatapan yang membuat Kemuning tidak nyaman seketika.

“Pak Arkana sekarang membawa tamu pribadi ke kantor?” Nada suara Selvina terdengar ringan tetapi penuh arti.

Kemuning langsung menunduk gugup mendengar pertanyaan itu. Ia merasa dirinya memang tidak pantas berada di sini.

“Dia ikut denganku.” Jawaban Arkana singkat dan datar tanpa penjelasan lebih jauh.

Namun justru itu membuat ekspresi Selvina berubah tipis. Ada sesuatu yang mengganggu wanita itu sekarang. Sepanjang pagi, Selvina mulai memperhatikan hal-hal kecil yang aneh.

Arkana beberapa kali melirik Kemuning tanpa sadar saat gadis itu terlihat bingung. Bahkan pria itu menarik kursi lebih dulu agar Kemuning bisa duduk nyaman. Hal sederhana yang tidak pernah Arkana lakukan pada siapa pun. Dan itu membuat dada Selvina terasa panas.

Selama bertahun-tahun bekerja bersama Arkana, pria itu selalu dingin pada semua perempuan. Namun sekarang tatapan Arkana pada gadis desa itu terasa berbeda. Meski pria itu sendiri mungkin belum menyadarinya.

Beberapa jam kemudian, Kemuning pamit mencari toilet sendirian. Namun gedung Mahendra Group terlalu besar dan membingungkan baginya. Ia malah tersesat sampai ke area pantry kantor. Dan tanpa sengaja mendengar beberapa pegawai wanita sedang bergosip.

“Katanya perempuan baru itu tinggal serumah sama Pak Arkana.”

“Cantik sih, tapi kelihatannya cuma gadis kampung biasa.”

“Mungkin perempuan simpanan baru.” Tawa kecil langsung terdengar setelahnya.

Kemuning langsung membeku di balik pintu pantry. Dadanya terasa sesak dan panas sekaligus malu. Ia menunduk sambil menggenggam ujung dressnya erat. Ternyata semua orang memang berpikir seperti itu tentang dirinya.

Perlahan mata Kemuning mulai memerah. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di tempat asing itu. Mungkin benar dirinya memang tidak cocok berada di dunia Arkana Mahendra. Semakin dekat dengan pria itu hanya akan membuat semuanya makin buruk.

Kemuning buru-buru masuk ke pantry kosong di sudut ruangan. Ia berdiri diam sambil membelakangi pintu dan mengusap matanya pelan. Namun semakin ditahan, rasa sesak di dadanya justru semakin menyakitkan. Dan air mata pertama akhirnya jatuh juga.

Beberapa menit kemudian, pintu pantry terbuka mendadak. Kemuning langsung tersentak dan buru-buru menghapus air matanya. Namun Arkana sudah berdiri di sana dengan wajah dingin seperti badai. Tatapan matanya langsung tertuju pada mata merah Kemuning.

Suasana mendadak terasa sangat sunyi. Arkana menatap Kemuning beberapa detik tanpa bicara. Namun rahangnya terlihat menegang keras sekarang. Ada kemarahan nyata di mata pria itu. “Siapa yang membuatmu menangis lagi?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!