"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Proyek Rahasia dan Napas yang Tersendat
Satu hari sebelum jadwal perjalanan ke Rawa Hitam.
Suara hantaman parang membelah kesunyian pagi di pekarangan belakang rumah Gani. Trak! Trak! Krak!
Bilah baja yang tajam itu menghujam tepat di bagian tengah ruas bambu petung, membelahnya menjadi dua bagian yang simetris dengan suara retakan kayu yang memuaskan. Keringat membasahi kaus oblong putih Gani hingga mencetak siluet punggungnya yang tegap. Matahari baru saja terbit, namun pria itu sudah bekerja keras sejak azan Subuh berkumandang.
Di sekelilingnya, terhampar puluhan batang bambu petung berukuran besar. Gani tidak membelinya. Kemarin sore, setelah mengusir Paman Lukman, ia mendatangi rumah Kang Ujang, sang tukang kayu desa. Alih-alih meminta bambu itu secara cuma-cuma, Gani menawarkan sebuah sistem barter: ia membuatkan cetak biru (desain arsitektur) untuk rencana perluasan bengkel mebel Kang Ujang yang selama ini bermasalah dengan tata letak, dan sebagai bayarannya, Kang Ujang mengirimkan tumpukan bambu petung kualitas terbaik ke rumah Gani.
Kang Ujang, yang masih sangat mengagumi kemampuan Gani saat memperbaiki Balai Desa, menyetujui barter itu dengan penuh antusias. Bahkan, pria paruh baya itu meminjamkan sekotak penuh peralatan pertukangan: gergaji potong, parang, meteran, hingga palu karet.
Gani menyeka keringat di dahinya dengan lengan bawahnya yang kotor. Ia menatap tumpukan bambu yang sudah ia belah. Pekerjaan fisik ini sangat menguras tenaga, membuat otot-ototnya yang belum sepenuhnya terbiasa menjerit ngilu. Namun, di saat yang sama, rasa sakit ini adalah terapi yang paling efektif untuk membungkam suara-suara berisik di kepalanya.
Ia berjalan menuju lincak bambu tempat ia meletakkan gulungan kertas kalender bekasnya. Ia membuka gulungan itu, menindih ujung-ujungnya dengan batu agar tidak tertiup angin, lalu menatap sketsa desain Taman Bacaan Akar Pelangi yang ia buat dua malam lalu.
"Dua puluh pilar utama," gumam Gani, mencocokkan jumlah bambu di halamannya dengan perhitungan di atas kertas. "Sistem interlocking (saling mengunci) tanpa paku besi agar bambunya tidak mudah pecah. Semuanya butuh presisi."
Gani kembali bekerja. Ia mengukur setiap batang bambu dengan ketelitian tingkat milimeter. Ia memotong, meraut, dan membuat takikan-takikan khusus di ujung bambu yang nantinya akan saling mengunci seperti kepingan puzzle raksasa.
Ia sengaja melakukan semua pekerjaan ini di bagian paling belakang pekarangannya, tersembunyi di balik semak-semak ilalang yang tinggi dan sisa-sisa reruntuhan gudang tua peninggalan ayahnya. Ia tidak ingin Kirana atau Bibi Ratna melihatnya. Ini adalah proyek rahasia. Sebuah kejutan yang sedang ia persiapkan untuk membalas budi gadis tiran kecil yang telah merenggut tali gantung dirinya.
Sekitar pukul sebelas siang, Gani menghentikan pekerjaannya. Ia membersihkan diri di sumur, lalu bersiap untuk pergi ke Balai Desa.
Ada satu hal penting yang harus ia selesaikan sebelum malam perjalanannya besok. Ia mengambil ponsel cerdasnya yang mati total dari dalam laci. Jika Kirana menginginkan 'bukti bahwa kegelapan sekalipun bisa menghasilkan cahaya yang indah' melalui foto kunang-kunang di Rawa Hitam, maka Gani harus memastikan kameranya berfungsi.
Di Karangbanyu, satu-satunya tempat yang memiliki generator cadangan atau aliran listrik yang paling stabil untuk menumpang mengisi daya ponsel adalah Balai Desa.
Sesampainya di sana, Gani disambut dengan senyuman hangat oleh perangkat desa. Pak Kades bahkan menyuruh stafnya membuatkan kopi hitam untuk Gani saat pria itu menumpang mencolokkan charger ponselnya di salah satu stopkontak ruang tunggu. Sambil menunggu baterainya terisi, Gani duduk di teras pendopo, menatap atap lorong yang ia perbaiki beberapa hari lalu. Strukturnya kokoh, gentengnya tersusun rapi. Ada rasa kebanggaan kecil yang diam-diam menyelinap di sudut hatinya.
"Mas Gani," sapa Pak Kades, ikut duduk di sebelah Gani sambil mengipasi dirinya dengan map karton. "Dengar-dengar dari warga, Mas Gani sekarang sering kumpul sama Kirana, ya?"
Gani menoleh. Ia cukup waspada dengan arah pembicaraan ini. Di desa, obrolan seperti ini biasanya berujung pada gosip perjodohan atau rumor yang tidak sedap. "Hanya kebetulan, Pak. Kirana membantu saya mengenali lingkungan desa lagi setelah sekian lama."
Pak Kades mengangguk-angguk pelan. Wajahnya yang biasanya tegas, kini terlihat sedikit sendu. "Kirana itu anak baik, Mas. Sangat baik. Seluruh desa ini sayang sama dia. Sayangnya... nasibnya kurang baik."
Gani terdiam, membiarkan pria paruh baya itu melanjutkan.
"Bapaknya kabur karena tidak sanggup membiayai pengobatan jantungnya waktu dia masih SMA. Ibunya kerja jadi TKW, awalnya rutin kirim uang untuk berobat, tapi dua tahun terakhir ini putus kontak sama sekali," cerita Pak Kades, matanya menerawang ke arah jalanan desa. "Saya sudah coba ajukan bantuan dana kesehatan ke provinsi, tapi ya tahu sendiri birokrasi kita. Pasien dengan kondisi gagal jantung kronis seperti Kirana butuh mukjizat, bukan sekadar antrean kertas."
Pernyataan Pak Kades mengonfirmasi dan melengkapi cerita Bibi Ratna. Rasa sakit di dada Gani kembali terasa, lebih tajam dari sebelumnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Kirana, seorang gadis muda yang ditinggalkan oleh orang tuanya karena dianggap sebagai 'beban finansial', masih bisa tersenyum dan memberikan sisa hidupnya untuk mengajar anak-anak desa.
Jika itu terjadi pada Gani, ia pasti sudah memaki Tuhan dan menghancurkan semua hal di sekitarnya.
"Dia anak yang kuat, Pak," balas Gani pelan. Pandangannya lurus ke depan. "Mungkin... lebih kuat dari kita semua."
"Ya, sangat kuat," Pak Kades menepuk lutut Gani, lalu berdiri. "Tolong jaga dia ya, Mas. Buat dia senang. Anak muda butuh teman seumuran untuk ngobrol, bukan cuma orang-orang tua seperti kami."
Gani mengangguk mantap. Sebuah janji tidak tertulis baru saja disepakati antara seorang mantan CEO yang hancur dan seorang Kepala Desa yang peduli.
Keesokan harinya. Hari yang disepakati untuk pergi ke Rawa Hitam.
Sejak pagi, langit Karangbanyu tampak kurang bersahabat. Awan abu-abu berarak lambat, menutupi terik matahari yang biasanya memanggang desa. Udara terasa lebih lembap dan berat. Cuaca seperti ini biasanya menjadi pertanda turunnya hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang.
Gani menghabiskan pagi dan siangnya kembali di pekarangan belakang, merampungkan pemotongan ruas-ruas bambu untuk pilar utama Taman Bacaannya. Pekerjaannya berjalan lancar, pikirannya sangat fokus. Sesekali, ia melirik ke arah langit yang semakin kelabu, berharap hujan tidak turun malam ini. Rawa Hitam akan menjadi tempat yang sangat licin dan berbahaya jika hujan turun, dan Gani tidak ingin mengecewakan Kirana yang sudah sangat menantikan perjalanan ini.
Pukul lima sore, Gani membersihkan diri. Ia mengeluarkan jaket parka abu-abunya yang tebal—jaket yang sama yang ia kenakan saat pertama kali tiba di desa ini dengan niat bunuh diri. Malam di rawa pasti sangat dingin, dan ia berniat meminjamkan jaket ini untuk Kirana jika gadis itu merasa kedinginan nanti.
Ponselnya sudah terisi penuh seratus persen. Ia memasukkannya ke dalam saku parka. Setelah mengunci pintu rumah, Gani berjalan menuju rumah Kirana. Langkahnya terasa ringan, diiringi perasaan antisipasi yang aneh. Menangkap cahaya kunang-kunang di tengah kegelapan rawa. Sebuah misi konyol yang puitis.
Namun, saat Gani berbelok di pertigaan dan melihat rumah Kirana dari jarak tiga puluh meter, langkahnya seketika terhenti. Darahnya berdesir dingin.
Ada yang tidak beres.
Pintu depan rumah Kirana terbuka lebar. Di teras rumahnya, Bibi Ratna mondar-mandir dengan wajah panik, tangannya memegang sebuah ponsel tua. Di sebelah pagar, terparkir sebuah sepeda motor bebek tua yang dilengkapi dengan boks besi di bagian belakangnya—sepeda motor milik Pak Mantri, satu-satunya tenaga medis yang menjaga puskesmas pembantu di desa ini.
Insting Gani menjeritkan tanda bahaya. Tanpa berpikir panjang, ia berlari. Sepatu ketsnya menghantam jalanan tanah dengan kasar.
"Bi Ratna! Ada apa?!" seru Gani saat ia melompati pagar tanaman dan langsung naik ke teras.
Bibi Ratna menoleh. Wajah wanita yang biasanya selalu ceria dan penuh gosip itu kini basah oleh air mata. Ia mencengkeram lengan Gani dengan tangan gemetar.
"Gusti Allah, Mas Gani... Kirana, Mas..." isak Bibi Ratna, suaranya pecah karena panik. "Tadi sore Bibi bawakan sayur lodeh ke sini... Bibi panggil-panggil dari luar ndak ada jawaban. Pas Bibi masuk... anak itu sudah pingsan di lantai dapur... wajahnya biru semua..."
Dada Gani serasa dihantam palu godam. Udara di sekitarnya mendadak hilang. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Gani melepaskan pegangan Bibi Ratna dan menerobos masuk ke dalam rumah.
Ia langsung menuju kamar tidur Kirana yang pintunya sedikit terbuka.
Pemandangan di dalam kamar itu membuat waktu terasa berhenti bagi Gani.
Kirana terbaring di atas ranjangnya. Gadis itu tidak sedang mengenakan gaun ceria atau tersenyum nakal. Tubuhnya tampak sangat kecil dan tak berdaya di bawah selimut. Wajahnya seputih kapas, dan bibirnya berwarna ungu pucat. Yang paling menghancurkan hati Gani adalah sebuah tabung oksigen portabel berukuran kecil yang diletakkan di samping ranjang, selang plastiknya terhubung pada sebuah masker bening yang menutupi hidung dan mulut Kirana.
Pak Mantri, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, sedang sibuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Kirana sambil melihat jam tangannya dengan ekspresi sangat tegang.
"Pak Mantri," panggil Gani. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—bergetar, serak, dan penuh ketakutan murni. "Apa... apa yang terjadi padanya?"
Pak Mantri menoleh. Ia mengenali Gani, pahlawan baru di desa ini. Pria medis itu menghela napas berat, meletakkan kembali tangan Kirana ke atas ranjang dengan sangat hati-hati, lalu berdiri menghadapi Gani.
"Gagal jantung kongestif akut, Mas Gani," jelas Pak Mantri dengan nada klinis yang suram, mencoba mengecilkan suaranya. "Jantungnya tidak mampu memompa darah dengan efisien. Akibatnya, cairan menumpuk di paru-parunya. Itu yang membuatnya sesak napas hebat sampai kolaps tadi. Kita beruntung Bu Ratna menemukannya tepat waktu dan cadangan oksigen di puskesmas masih ada."
"Lalu kenapa dia tidak dibawa ke rumah sakit kota?!" Gani tanpa sadar setengah membentak, insting kontrolnya kembali mengambil alih saat ia merasa terancam. "Panggil ambulans! Bawa dia ke dokter spesialis sekarang juga!"
"Mas Gani, tenang dulu," Pak Mantri mengangkat tangannya. "Rumah sakit kabupaten jaraknya dua jam dari sini melewati jalan berlubang. Dengan kondisi cairan di paru-paru dan tekanan darahnya yang sangat tidak stabil saat ini, memindahkannya di ambulans darurat puskesmas yang minim fasilitas justru berisiko fatal di tengah jalan. Kita harus menstabilkannya dulu dengan oksigen dan diuretik sampai cairannya berkurang, baru kita rujuk besok pagi."
Gani memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak kusen pintu. Kakinya terasa lemas.
Ia adalah seorang perancang bangunan. Jika ada struktur beton yang retak, ia tahu cara menghitung beban tekannya dan menambalnya dengan resin epoksi. Jika ada baja yang bengkok, ia tahu cara menggantinya. Tapi tubuh manusia? Organ kecil bernama jantung yang berdetak lemah di balik tulang rusuk gadis itu? Gani sama sekali buta. Uangnya yang hilang tidak bisa menebusnya, kemarahan dan kecerdasannya tidak berguna di sini.
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Gani dihadapkan pada ketidakberdayaan yang absolut.
"Apakah dia... akan bertahan malam ini?" tanya Gani, sangat takut mendengar jawabannya sendiri.
Pak Mantri membetulkan letak kacamatanya, menatap Kirana dengan pandangan iba. "Oksigennya sudah mulai masuk. Denyut nadinya lambat laun mulai teratur, meskipun masih sangat lemah. Dia gadis yang kuat. Malam ini adalah masa kritisnya. Kalau dia bisa melewati malam ini tanpa serangan sesak napas kedua, besok pagi kita bisa membawanya ke rumah sakit."
Gani mengangguk kaku. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot pelipisnya menonjol. Ia menatap wajah Kirana dari balik masker oksigen yang berembun di setiap embusan napas lemah gadis itu.
Jadwal perjalanan ke Rawa Hitam malam ini batal secara tragis. Rencana untuk melihat kunang-kunang dan menangkap cahaya musnah digantikan oleh suara desisan oksigen buatan dan bayang-bayang kematian yang mengintai di sudut kamar.
"Biar saya yang menjaganya malam ini," ucap Gani tiba-tiba. Suaranya tidak lagi bergetar. Keputusan itu diucapkan dengan ketegasan seorang pria yang telah menemukan satu-satunya tujuan hidup yang tersisa.
Pak Mantri menatap Gani sejenak, melihat determinasi yang tak tergoyahkan di mata pemuda itu, lalu mengangguk pelan. "Baik. Saya akan kembali ke puskesmas untuk mengambil cadangan oksigen tambahan untuk berjaga-jaga. Bu Ratna juga akan saya suruh pulang dulu untuk istirahat. Tolong pastikan selang maskernya tidak terlipat, Mas Gani."
Setelah Pak Mantri memberikan beberapa instruksi medis singkat dan pergi, meninggalkan Bibi Ratna yang akhirnya bersedia pulang dengan berat hati setelah Gani meyakinkannya, rumah itu kembali hening.
Di luar, gerimis mulai turun. Rintik hujan pertama menabrak kaca jendela kamar Kirana, menciptakan suara ketukan pelan yang melankolis.
Gani menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di sisi ranjang. Ia menanggalkan jaket parkanya yang tebal, lalu dengan sangat hati-hati, menyelimutkannya di atas tubuh Kirana yang menggigil pelan di balik selimut tipisnya.
Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu belajar kecil di atas meja nakas. Gani mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas kasur. Ia menatap wajah pucat itu tanpa berkedip.
Udara malam yang dingin menyusup masuk melalui celah jendela, namun fokus Gani tidak beralih. Tiba-tiba, ia melihat pergerakan kecil. Jari-jari Kirana yang berada di luar selimut sedikit berkedut. Perlahan, kelopak mata gadis itu terbuka, memperlihatkan sepasang mata sabit yang kini kehilangan sinarnya, tampak lelah dan sayu.
Mata Kirana bergerak lambat, mencari fokus, hingga akhirnya menemukan wajah Gani yang berada tak jauh darinya.
Dari balik masker oksigennya, ujung bibir Kirana sedikit terangkat. Sebuah usaha senyum yang menghancurkan hati Gani berkeping-keping.
"Hai..." suara Kirana terdengar sangat teredam dan parau dari balik plastik masker.
"Jangan bicara dulu," bisik Gani cepat, meraih tangan Kirana dan menggenggam jari-jari yang luar biasa dingin itu dengan kedua tangannya yang besar dan kasar, mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya. "Simpan tenagamu. Tarik napas pelan-pelan."
Kirana menatap tangan Gani yang menggenggam erat tangannya. Lalu, pandangannya beralih pada jaket parka abu-abu milik Gani yang kini menutupi tubuhnya. Matanya kembali menatap Gani.
"Gani..." panggil Kirana lagi, napasnya terdengar berat. "Maaf."
Dahi Gani berkerut. "Maaf untuk apa? Berhentilah meminta maaf. Kau sedang sakit."
"Maaf... karena ingkar janji," bisik Kirana, sebutir air mata lolos dari sudut matanya, mengalir turun membasahi tali masker oksigen di pipinya. "Rawa Hitam... kunang-kunangnya... aku tidak bisa... menunjukkannya padamu malam ini."
Gani merasakan tenggorokannya tercekat hebat. Gadis ini baru saja selamat dari gagal jantung yang nyaris merenggut nyawanya beberapa jam lalu, napasnya masih ditopang oleh tabung logam, tapi yang ia pikirkan adalah ia telah mengecewakan Gani karena membatalkan sebuah 'permintaan'.
Gani menundukkan kepalanya, menempelkan punggung tangan Kirana ke keningnya sendiri. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan laju air matanya yang memaksa keluar. Ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh terlihat hancur di depan gadis yang sedang berjuang menahan sakit ini.
"Dengar aku, Tiran Kecil," ucap Gani parau, mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya membara, penuh dengan keprotektifan absolut. "Rawa Hitam itu tidak akan pindah ke mana-mana. Kunang-kunang itu akan tetap ada di sana."
Gani mengeratkan genggamannya pada tangan Kirana.
"Kita akan pergi ke sana," lanjut Gani, mengukir janji itu ke udara malam. "Mungkin bukan malam ini. Mungkin bukan besok. Tapi aku berjanji, saat kau sudah cukup kuat untuk berjalan keluar dari kamar ini, aku sendiri yang akan menggendongmu ke rawa itu jika perlu. Jadi, sebagai gantinya..."
Gani menelan ludah, suaranya sedikit bergetar.
"...Kumohon, jangan pergi meninggalkanku dulu malam ini. Bernapaslah. Tolong, teruslah bernapas untukku."
Kirana menatap mata Gani. Di sana, di tengah keputusasaan dan ketakutan itu, ia melihat sebuah cinta yang telanjang dan tidak menuntut apa-apa selain eksistensinya. Air mata Kirana kembali mengalir, namun kali ini ia mengangguk pelan dari balik maskernya.
Ia akan berjuang. Demi kunang-kunang di Rawa Hitam. Demi taman bacaannya. Dan demi pria arogan dari ibu kota yang kini menggenggam tangannya erat-erat, seolah tangan kecilnya adalah jangkar kehidupan bagi mereka berdua.