NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:167.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 33 - Bisa Elus Kepalaku?

Sambil meringkuk di lantai, Kilin merangkak pergi dengan cara yang sama sekali tidak bermartabat. Ia melolong pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sander.

Tubuhnya penuh luka. Dengan langkah sempoyongan, ia bangkit, lalu kembali merangkak seperti binatang yang terluka, menjauh sejauh mungkin. Ia tidak berani melontarkan ancaman apa pun—ia tahu betul, jika ia berlama-lama sedikit saja, Sander mungkin benar-benar akan membunuhnya.

Lebih baik hidup dengan harga diri hancur, daripada mati saat ini.

“Sander… kamu tampan.”

Mata Fasha berbinar penuh kekaguman. Dalam pandangannya, Sander terlihat begitu tenang dan kalem—tidak banyak bicara, tetapi selalu bertindak tepat saat dibutuhkan.

Ia memang harus meluruskan semua omong kosong yang dilontarkan brengsek itu. Berani-beraninya Kilin menggodanya, tanpa tahu dengan siapa ia berurusan.

“Kakak,” suara Fasha melembut, “tanganmu berdarah.”

Pandangan Sander tampak menggelap sesaat. Tangannya yang tergantung di sisi tubuh bergetar tanpa sadar.

Ia meliriknya sekilas, lalu berkata dengan suara serak, seolah tak berarti apa-apa,

“Tidak apa-apa. Ayo kembali ke kamar.”

“Tidak,” Fasha menggeleng tegas. “Itu perlu dirawat.”

Ia menghalangi langkah Sander. Ada perasaan aneh di dadanya—Sander tampak kesepian, begitu jauh, dan entah kenapa ia ingin memeluknya.

Namun ia tak berani.

Ucapan-ucapan kasar yang tadi dilontarkan Kilin menancap dalam hati Sander seperti luka lama yang telah bernanah. Luka yang akan berdarah hanya dengan sedikit sentuhan.

Fasha bisa merasakannya.

Dan ia tidak sanggup menyentuhnya terlalu dalam.

“A-aku… tadi menamparnya. Juga memukul perutnya,” kata Fasha tiba-tiba, sedikit bangga. “Aku lihat di TV, katanya itu sakit.”

Ekspresinya jelas meminta pujian.

Sander mengangguk. “Masih sakit?”

“Di sini,” Fasha menunjuk dadanya. “Sakit banget.”

Sebagian karena takut. Sebagian lagi karena marah—ia berharap tadi bisa memukul Kilin lebih keras.

Pandangan Sander jatuh pada tangan Fasha yang memerah, memar-memar kecil terlihat jelas. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya membiarkan Fasha mengikutinya kembali ke kamar tidur.

Luka di pergelangan tangan Sander disebabkan oleh jam tangan yang menghantam kulitnya. Darah mengotori permukaan jam, merembes masuk ke sela-sela, membuat angka-angkanya tampak buram.

Ujung jari Sander terdiam lama sebelum akhirnya ia melepas arloji itu.

Fasha bergegas membongkar lemari mencari kotak P3K. Namun saat ia berbalik, Sander sudah tidak ada di kamar.

Suara tetesan air terdengar.

Fasha berlari ke kamar mandi.

Air menetes dari pergelangan tangan Sander, membasahi bagian depan jam. Retakannya tak berubah, noda darah masih jelas—menyakitkan untuk dilihat.

Mata Fasha terasa perih.

Dalam hati, ia menguatkan tekadnya: suatu hari nanti, ia akan menghasilkan uang dan membelikan Sander jam tangan yang benar-benar miliknya. Bukan simbol keluarga. Bukan warisan siapa pun.

Sander menyeka telapak tangannya perlahan, hati-hati menghindari luka, lalu memasang kembali arlojinya.

Bekas tekanan di kulit sekilas terlihat sebelum tertutup kembali. Fasha tidak memperhatikannya dengan jelas—ia mengira itu hanya goresan biasa.

“Kakak, biar aku bantu.”

Fasha mendekat dengan kotak P3K di tangannya, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” ujar Sander. “Kamu tidak tahu caranya.”

Fasha menatapnya keras kepala. Ia mengambil kapas, mencelupkannya ke cairan antiseptik.

“Aku tahu. Aku sering mengobati lukaku sendiri.”

Sander terdiam. Ia lupa—Fasha memang sudah terbiasa merawat dirinya sendiri. Ia tidak pernah membicarakan penyiksaan itu, tapi diam-diam bangga karena bisa bertahan.

Ia belum pernah bertemu seseorang seperti Fasha.

Pergelangan tangan Sander yang dingin digenggam oleh Fasha. Saat antiseptik dioleskan, tubuh Sander tanpa sadar bergetar.

“Shh…”

“Kakak, nggak sakit. Aku pelan-pelan.”

Setelah mengoleskan obat, Fasha refleks meniup luka itu. Jarak mereka begitu dekat—sedikit saja bergerak, bibir Fasha bisa menyentuh kulitnya.

“Fasha.”

“Ya?”

“Oleskan obatmu sendiri.”

Sander sudah memperhatikan tangan Fasha lebih dulu.

'Hehe… ternyata dia peduli.'

Fasha berniat merengek agar Sander yang mengobati lukanya. Namun sebelum sempat bicara, ponsel Sander berdering.

'Sial. Waktunya selalu salah.'

“Halo, Tuan Sander. Semuanya sudah ditangani. Direktur utama yang menghasut mogok kerja sudah diamankan. Setelah Anda pergi sempat ada kerusuhan kecil, tapi Wakil Presiden berhasil mengendalikannya.”

“Hm. Tangani sesuai peraturan perusahaan.”

Setelah menutup telepon, Fasha menatap Sander dengan raut ragu.

“Apa aku salah?” tanyanya lirih. “Kamu sibuk… seharusnya aku tidak menghubungimu.”

Ia tahu Sander meninggalkan rapat penting demi kembali. Padahal Kilin bisa ditangani kapan saja.

“Kamu tidak salah,” jawab Sander tegas. “Kalau ada bahaya, hubungi aku. Jauhi Kilin. Dia rabies.”

Fasha menahan tawa. Kata rabies yang diucapkan Sander dengan wajah serius terlalu mengena. Ia membenamkan wajah ke bantal sofa, bahunya bergetar menahan tawa.

Sander salah paham.

Ia mengira Fasha menangis karena takut.

Dengan cepat, ia mengusap kepala Fasha.

“Jangan menangis.”

Fasha tersenyum lebar.

Sentuhan itu membuat tangannya tak lagi sakit, punggungnya terasa ringan, dan hatinya hangat.

“Baik. Aku nggak menangis,” katanya lembut.

“Denganmu di sini, aku nggak takut.”

Fasha tahu—Sander selalu akan kembali.

“Sander… bisa elus kepalaku lagi?”

Tubuh Sander menegang saat Fasha nyaris menyandarkan kepala ke dadanya. Separuh tubuhnya bertumpu di atas lutut Sander, kehangatan itu terasa jelas.

Sander memejamkan mata, menahan sesuatu yang tak ia mengerti. Jakunnya bergerak. Ujung jarinya mendorong dahi Fasha menjauh.

“Tidak.”

Emosi di mata Sander tak bisa dibaca.

Fasha mengeluarkan suara kecewa kecil.

“Oh…”

Ia menepuk kepalanya sendiri beberapa kali.

“Kamu aneh kalau disentuh,” gumamnya.

“Pergi bermain,” potong Sander tiba-tiba.

Topik berubah begitu saja.

'Ck. Menyebalkan.'

Fasha menggerutu dalam hati, mengambil salep, dan berlari keluar.

Sejujurnya, ia juga tidak terlalu bersemangat.

1
Erna Masliana
tamat??? masalah kan belum beres, proyek belum diluncurkan.. masalah tanah juga belum.. identitas Fasha asli belum terbongkar secara gamblang di depan Sander.. Sander dan Fasha belum bersatu sebagai keluarga yang bahagia
Erna Masliana
rasakan
Erna Masliana
bunuh aja s George bakar 😡
Erna Masliana
dia nyari gratisan
Erna Masliana
kurang harusnya selain di penjara digebukin juga terutama anaknya tuh.. malah lolos kabur lagi
Erna Masliana
kesayangan mu tolol masih kekeuh mau jadiin dia pemimpin perusahaan?? yang ada hancur perusahaan.. bangkrut
Erna Masliana
sengaja..lagi 💪
Nunung Elasari
Mudah2an ada karakter laki2 lain, saingan sanders🤣
Andriyati
kalian yg gak sadar diri,, di mata sander dan orang lain kalian lebih menjengkelkan,, seenak nya aja
Puch🍒❄
jujur kecewa sih knp endnya harus gini banget ini salah 1 cerita yg aku tunggu2 updet nya loohhhh tp endingnya mengecewakan banget🥺😭 ini sih bukan ending tp ngegantung ceritanya gk ada kejelasan sama sekali ih gk like deh aku😭👊
@Biru791
maksa bgttt udahan nyaa ihhhh
Ari Peny
wah kok end 😭😭😭
Lynn_: Maaf ya kak, memang dipaksakan end karna retensi dari awal kecil.. Terimakasih sudah membaca🙏☺️
total 1 replies
Fahreziy
👣👣👣👣
sya
masa cuma 10cm cuma bisa liat rahang. gw aja 152 beda 20cm lebih bisa nyampe telinga cowok gw yang 170an lebih
@Biru791
ihhhh ayo dongsss uppp
Nur Hayati
kak kapan up.. sayang sudah mulai terbuka misterinya jangan ke putus... selesaikan kak
@Biru791
ihh kapan up jngan di lupain dongsss kgn fashaa
SYBHSSMN
kok udh gk pernah uptade thorrr🤔
@Biru791
thour ayo dong up yg ini jangan d lupain
@Biru791
kapan lah up lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!