NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

BAB 9: PESAN YANG TIDAK TERKIRIM

"Kata-kata yang tak pernah sampai ke tujuan, sering kali menyimpan kebenaran yang paling utuh dan paling berbahaya."

Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 pagi. Suasana apartemen sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jarum jam yang seolah berpacu dengan detak jantung Arka yang tak karuan. Ia masih bersandar di dinding ruang tengah, dingin yang menjalar dari lantai keramik tak lagi ia rasakan. Di dalam saku celananya, ponsel hitam itu terasa membakar kulit, berat seperti memikul dosa orang lain.

Setelah pertemuan singkat dan penuh ancaman dengan Elena tadi, Arka tahu ia tidak punya banyak waktu. Wanita itu pasti akan kembali memeriksa benda-bendanya saat fajar menyingsing, memastikan tidak ada yang berubah satu milimeter pun. Ia harus memanfaatkan sisa waktu ini sebaik-baiknya, menggali sisa-sisa rahasia yang tersimpan di benda mati itu sebelum ia dikembalikan ke tempat persembunyiannya.

Dengan gerakan secepat kilat namun tetap hati-hati, Arka kembali mengeluarkan ponsel hitam itu. Tangannya masih sedikit gemetar, bukan lagi karena takut, tapi karena rasa marah yang perlahan mendidih dan rasa sakit yang mengoyak dada. Ia kembali menyalakan layar biru pudar itu, jari-jarinya bergerak gesit menelusuri menu.

Ia sudah membaca pesan-pesan yang masuk dan terkirim. Tapi ada satu folder yang belum ia sentuh, bagian yang sering kali menjadi jejak terakhir seseorang yang berusaha menutupi jejaknya sendiri: KOTAK KELUAR – PESAN GAGAL TERKIRIM.

Arka menahan napas saat membuka folder itu. Di sana, terdaftar belasan pesan dengan ikon tanda seru berwarna merah kecil di sampingnya. Pesan-pesan yang ditulis, diketik dengan penuh emosi, namun entah karena sinyal hilang, atau karena pengirimnya berubah pikiran, pesan-pesan ini tidak pernah sampai ke tangan penerima. Tidak pernah sampai ke tangan Adrian.

Dan di sinilah letak kebenaran aslinya. Karena pesan yang terkirim bisa disusun, dipoles, dan didesain untuk menipu. Tapi pesan yang tidak terkirim... adalah suara hati yang sejati, yang disembunyikan bahkan dari orang yang paling dekat dengannya.

Arka started membaca, matanya menyusuri tulisan-tulisan kecil yang membuat darahnya berdesir hebat.

"Aku capek, Adrian. Aku nggak kuat lagi berpura-pura. Arka orang baik, dia polos, dia sayang banget sama aku. Rasanya dosa besar kalau aku terusin sandiwara ini. Aku mau berhenti. Aku mau jadi Elena beneran, bukan Claire yang disuruh-suruh ini."

Waktu: 4 bulan lalu.

Dada Arka sesak. Empat bulan lalu. Saat itu hubungan mereka masih terasa manis, masih hangat, sebelum perubahan-perubahan itu mulai terlihat jelas. Elena pernah ingin berhenti. Elena pernah ingin jujur. Dan kenapa pesan ini tidak terkirim? Apakah karena ia sadar Adrian tidak akan membiarkannya? Atau ia sadar bahwa sudah terlalu jauh untuk mundur?

Arka menggulir ke bawah. Pesan berikutnya.

"Mereka ancam akan kirim Sarah ke luar negeri kalau aku nggak ikutin rencana ke Bandung. Kak, aku takut. Sarah nggak tahu apa-apa, dia cuma anak kecil. Aku harus lindungi dia, tapi caranya bikin aku hancur pelan-pelan. Kalau Arka tahu, dia pasti benci aku. Dia pasti pergi ninggalin aku."

Waktu: 2 bulan lalu.

Sarah. Nama itu baru sekali Arka dengar, samar-samar disebut sebagai adik jauh yang jarang bertemu. Ternyata Sarah adalah kuncinya. Ternyata ada nyawa orang lain yang dijadikan sandera di balik pernikahan ini. Keluarga Wijaya? Apakah keluarga yang dibanggakan Elena itu sebenarnya penjara yang menyiksa?

Arka mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Rasa bencinya terhadap Elena perlahan bercampur dengan rasa bingung yang mendalam. Wanita ini bukan sekadar penipu. Wanita ini terjebak. Terjebak di antara kewajiban, ancaman, dan perasaan yang tumbuh tanpa rencana—perasaan cinta padanya.

Namun pesan selanjutnya menghancurkan sedikit rasa iba yang mulai tumbuh di hati Arka.

"Arka mulai cari tahu soal Surabaya. Dia tanya soal rumah lama. Adrian, aku harus apain dia? Dia mulai ganggu rencana kita. Kalau dia terus gali, semuanya bakal terbongkar. Dokumen palsu, identitas baru, kasus lima tahun lalu... semua bakal hancur. Bilang sama bos, aku rela lakukan apa aja asal aman, termasuk... menyingkirkan dia kalau perlu."

Waktu: 1 minggu lalu.

Kalimat terakhir itu berdenyut tajam di kepala Arka.

"...termasuk menyingkirkan dia kalau perlu."

Jantungnya seakan berhenti berdetak. Jadi di titik itu, seminggu yang lalu, saat Arka hanya bertanya santai tentang masa kecilnya di Surabaya, Elena sudah menganggapnya ancaman yang harus dilenyapkan. Di balik senyum manisnya, di balik pelukan hangatnya, wanita itu pernah mengetik kalimat yang berisi perintah kematian baginya.

Namun lagi-lagi, pesan itu gagal terkirim.

Di bawah pesan itu, ada pesan balasan yang sepertinya ditulis dan dihapus berulang kali. Tulisan di sana berantakan, ada kata yang diketik ulang, seolah Elena sedang bertempur batin yang hebat saat menuliskannya.

"Tapi... nggak. Aku nggak bisa. Dia suamiku. Dia satu-satunya orang yang nggak pernah lihat aku sebagai Claire si pembawa sial. Dia lihat aku sebagai Elena. Dia sayang sama aku tanpa syarat. Adrian, aku rasa aku salah pilih jalan. Aku rasa aku jatuh cinta sama boneka yang kita buat sendiri."

Arka terkulai lemas bersandar di dinding. Kepalanya terasa berat sekali. Semuanya kacau. Kebencian, rasa kasihan, rasa takut, dan cinta yang masih tersisa bercampur aduk menjadi satu kekacauan besar di dalam dadanya.

Elena membencinya, tapi juga mencintainya. Elena ingin menyingkirkannya, tapi juga ingin dilindunginya. Elena adalah penjahat, tapi juga korban terbesar dari kisah ini.

Dan pesan yang paling bawah, yang paling baru, diketik kemarin sore, tepat setelah Arka menuduhnya soal bekas cengkeraman di tangan, pesan yang disimpan di sini dan tidak dikirimkan ke siapa-siapa... membuat napas Arka tercekat.

"Mas Arka lihat bekas di tanganku tadi. Dia curiga banget. Dia pandai, lebih pandai dari yang kita duga. Dia mulai cari bukti. Kalau dia tahu semuanya... kalau dia tahu bahwa Elena Wijaya ini sebenarnya hanyalah mayat yang kami bangkitkan lagi dari masa lalu... dia pasti akan pergi. Dan anehnya, aku lebih takut kehilangan dia daripada takut mati."

"Maafin aku, Mas. Maafin aku udah bawa kamu masuk ke neraka ini."

Titik. Tidak ada lagi pesan.

Layar ponsel itu perlahan meredup dan mati, menyisakan pantulan wajah Arka yang pucat dan hancur di permukaan kaca hitamnya.

Jadi begini kebenarannya.

Wanita yang tidur di kamar sana, wanita yang akan berangkat ke Bandung besok pagi... bukan sekadar istri yang berselingkuh. Dia adalah seseorang yang hidup di bawah tekanan luar biasa, dikendalikan oleh orang-orang bernama Adrian dan 'Bos', terikat oleh masa lalu kelam di Surabaya, dan terperangkap dalam identitas yang bukan miliknya.

Dan Arka? Arka hanyalah bagian dari panggung sandiwara ini. Suami yang dipilih untuk melegitimasi keberadaan palsu Elena Wijaya. Tapi di tengah permainan kotor itu, benih-benih perasaan asli tumbuh, membuat segalanya menjadi rumit, berbahaya, dan mematikan.

Suara pintu kamar bergeser lagi. Sangat pelan.

Insting Arka langsung mengambil alih. Dengan gerakan cepat dan terlatih yang baru saja ia miliki belakangan ini, ia menyelipkan ponsel hitam itu kembali ke lapisan dalam koper, menutup kain penutupnya rapi, dan mendorong koper itu kembali ke posisi semula persis seperti tadi. Baru saja ia berdiri tegak dan bersandar santai di dinding, pintu kamar terbuka lebar.

Elena berdiri di sana. Cahaya remang dari lorong menerangi tubuhnya yang hanya berbalut daster tipis. Rambutnya terurai indah, wajahnya pucat, dan matanya... matanya merah, bengkak. Sepertinya dia menangis. Sepertinya dia tidak benar-benar tidur.

"Mas...?" panggilnya pelan, suaranya bergetar. Tatapannya lekat menatap wajah Arka, mencari jejak apa pun. "Mas belum tidur juga? Kenapa... kenapa wajah Mas pucat banget?"

Arka menelan ludah, berusaha mengatur suaranya agar stabil. Ia berjalan mendekat perlahan, menatap mata wanita itu lekat-lekat. Di sana, di balik kecemasan dan rasa takut, Arka melihat sesuatu yang nyata. Sesuatu yang tertulis jelas di pesan yang tidak terkirim itu: rasa bersalah.

"Piye ya, Le...," jawab Arka pelan, nadanya bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku cuma... mikir. Mikir kalau ada hal buruk yang menimpa kamu, atau ada hal yang kamu sembunyikan... aku pasti bakal sedih banget. Aku bakal nggak tahu harus gimana."

Mata Elena membelalak sedikit. Air mata tiba-tiba menggenang lagi di sana. Bibirnya bergetar hebat, sepertinya ia ingin bicara, ingin mengaku, ingin menjerit meminta tolong. Untuk sesaat, Arka berpikir wanita itu akan berlutut dan menceritakan segalanya malam ini juga.

Tapi kemudian, pertahanan dirinya bangkit kembali. Topeng itu terpasang lagi, meski sedikit retak. Elena menunduk, menyeka air mata yang jatuh, lalu berjalan mendekat dan memeluk pinggang Arka erat sekali, seolah takut suaminya akan lenyap jika dilepaskan.

"Nggak ada apa-apa, Mas. Nggak ada yang disembunyikan...," bisiknya parau di dada Arka. "Semua bakal aman. Asal... asal Mas percaya sama aku. Asal Mas nggak ikut campur urusanku. Semuanya bakal baik-baik aja."

Pelukan itu erat, tapi terasa putus asa.

Arka membalas pelukan itu perlahan, tangannya menepuk punggung istrinya yang dingin. Di dalam hatinya, ia sudah mengambil keputusan akhir. Ia tahu segalanya sekarang. Ia tahu Elena terjebak. Ia tahu Adrian adalah musuh. Ia tahu ada bahaya besar mengancam nyawa mereka berdua.

Perjalanan ke Bandung besok bukan lagi sekadar mengejar perselingkuhan.

Perjalanan ke Bandung adalah perjalanan untuk membongkar siapa 'Bos' itu, apa kasus di Surabaya lima tahun lalu, dan apakah Arka bisa menyelamatkan wanitanya... meskipun wanita itu bukanlah Elena Wijaya yang ia nikahi dulu.

"Ayo tidur, Mas. Besok pagi aku berangkat subuh-subuh," kata Elena, melepaskan pelukan dan menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, permohonan maaf, dan perpisahan. "Tunggu aku di sini ya. Jangan ke mana-mana."

"Ya, Le. Aku tunggu," jawab Arka lembut, sambil dalam hatinya berkata: Tapi bukan di sini. Aku akan menunggumu di sana. Di tempat di mana kamu berubah jadi Claire. Di tempat di mana semuanya dimulai dan mungkin berakhir.

Mereka berjalan beriringan masuk ke kamar tidur. Di balik punggung Elena, Arka menggenggam tangannya erat. Ia tahu pesan-pesan itu tidak terkirim ke Adrian, tapi pesan itu sudah sampai ke dia. Dan pesan itu mengubah segalanya.

Mulai detik ini, Arka bukan lagi suami yang curiga. Arka menjadi satu-satunya harapan bagi wanita yang terjebak kebohongan itu. Dan sekaligus, menjadi satu-satunya ancaman terbesar bagi mereka yang memanfaatkannya.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!