NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Para Tikus BerSIAGA

Investigasi yang Rinci

Jumat siang.

Pelabuhan Tanjung Priok sudah berubah jadi markas investigasi darurat. Matahari membakar aspal seperti api neraka, membuat udara lembab dan lengket seperti sauna. Bau garam laut bercampur oli mesin dan keringat ribuan buruh menusuk hidung. Shadiq berdiri di tengah-tengah area kontainer biru “Bandung” yang kosong, badan lemas dari tidur nyenyak kemarin. Baron berjalan di depan seperti anjing pemburu, pistol emas di pinggang seperti aksesori kematian. Farhank di belakang, tablet di tangan, mata merah karena kurang tidur dua hari. Empat pria besar anak buah Agung ikut, tatap tajam seperti elang mengintai mangsa.

Baron berhenti tiba-tiba di depan spot kontainer hilang, tatap Shadiq dingin seperti es. “Kalau kontainer hilang karena ulahmu, bersiaplah. Kau benar-benar nggak di pelabuhan padahal janji Jumat pukul lima?”

Shadiq angkat bahu, suara tenang tapi tegas seperti orang tak bersalah. “Aku ketiduran. Kontainer ku bantu cari. Berhentilah menuduhku.”

Baron ketawa sinis, suara menggema di antara tumpukan besi. “Kau telat dua jam. Farhank, lo percaya tukang galon ini?”

Farhank tatap Shadiq tajam seperti mata pisau. “Untuk sekarang, ya. Tapi kalau kontainer nggak ketemu, lo mati duluan. Kita mulai dari nol. Cek semuanya.”

Mereka pindah ke kontainer kecil bekas kantor—ruang darurat dengan meja kayu reyot, laptop tua, dan modem seluler seadanya. Farhank buka laptop, koneksi internet lambat seperti siput. Shadiq ikut duduk, pura-pura bantu, padahal hati lega. Kontainer hilang berarti peti di bawah kasur aman untuk sementara. Tapi ia tahu, kalau ketahuan, lehernya putus.

Farhank mulai dengan video call enkripsi ke pemasok senjata di Amerika. Layar laptop menyala, wajah pria kulit putih, berjanggut tebal, muncul—Jack, pemasok dari Charleston, South Carolina. Latar belakangnya gudang gelap penuh peti kayu, waktu sana masih malam.

“Jack, kontainer BBC Everest. Dari Charleston. Kau pastiin kontainer biru ‘Bandung’ sudah di atas kapal?” tanya Farhank, suara tegas.

Jack angguk, suara berat dengan aksen Selatan Amerika. “Ya, Far. Saya pantau sendiri. Kontainer sealed di Port of Charleston. Isinya sesuai: 20 peti senjata custom, AK modif emas-perak, magazen, peluru. No leak. Saya bayar stevedore ekstra biar nggak ada masalah.”

Farhank catat di notes tabletnya. “Bukti?”

Jack share screen—foto kontainer di dock Charleston, seal merah utuh, tulisan “Bandung” jelas. Timestamp 2025-12-01. “Ini bukti. Kontainer naik BBC Everest tepat waktu. Rute standar: Charleston ke Panama Canal.”

Call mati. Farhank tatap tim. “Amerika clean. Lanjut penyelundup di Charleston.”

Ia hubungi lagi—pria lain, suara bisik, aksen Amerika Latin. Penyelundup bayaran di port.

“Kontainer aman saat loading. Saya awasi. Tidak ada orang luar. Seal nggak rusak.”

Farhank angguk. “Oke. Panama berikutnya.”

Hari pertama berlalu lambat seperti siksaan. Mereka cek log kapal BBC Everest melalui database maritim ilegal—hack sederhana lewat rekan Farhank di dark web. Kapal general cargo IMO 9508407, berangkat dari Port of Charleston, USA. Titik singgah pertama: Panama Canal.

Farhank call rekan di Panama—pria namanya Carlos, suara berisik latar belakang kapal hilir mudik.

“Kontainer lewat canal aman. Saya pantau saat transit. No touch. Seal masih utuh. Tidak ada inspeksi mendadak.”

Bukti dikirim: foto kontainer di deck kapal saat lewat Panama, timestamp 2025-12-05. Kontainer terkubur di bawah tumpukan lain, tapi tulisan “Bandung” samar terlihat.

Shadiq duduk diam, mikir dalam. *Kalau hilang di tengah jalan, bukan gue. Tapi siapa? Musuh besar?*

Farhank tutup call hari pertama. “Nihil. Besok lanjut Busan dan Singapore. Lo semua istirahat, tapi ponsel nyala 24 jam.”

Shadiq pulang ke rumah kosong jam 18:00. Makan mie instan sendirian, tatap foto Arva dan Irva di ponsel. Dada sesak. Peti di bawah kasur seperti hantu. Ia gosok wajah, mikir rencana kembalikan peti diam-diam.

Sabtu pagi.

Kembali ke pelabuhan jam 07:00. Farhank lebih tegang, mata hitam karena kurang tidur. Mereka lanjut pengecekan hari kedua. Farhank buka log PSA Singapore—port terakhir sebelum Tanjung Priok.

Getes Arnold, operator pantau di kapal, call video lagi. Wajahnya lelah, latar belakang pelabuhan Busan.

“Boss, di Busan kontainer pindah kapal sebentar untuk maintenance. Saya pantau, masih sealed. Tapi di Singapore…”

Farhank mata menyipit. “Apa?”

Getes ragu. “Di PSA Singapore, ada perpindahan lagi. Kontainer biru ‘Bandung’ turun. Saya pikir normal, tapi tracking hilang setelah itu.”

Farhank ketuk meja keras. “Cek detail! Hack database PSA;"

Re ہوسک rekan hacker Farhank kerja cepat. Data muncul di laptop: kontainer biru ‘Bandung’ terhenti di Port of Singapore, dikirim ke CBD, bukan Tanjung Priok.

Farhank zoom data. “Ini kontainer kita?”

Shadiq ikut lihat, pura-pura kaget. Data isi: bukan senjata, tapi **1 perangkat Nvidia GeForce RTX 4070** untuk perusahaan MBS (Marina Bay Sands).

Farhank bangkit, wajah merah seperti api. “Kontainer dikosongkan di Busan! Diisi Nvidia, dikirim Singapore! Musuh bukan tikus, tapi singa dalam bayangan!”

Baron tatap Shadiq. “Mustahil lo lakuin ini sendirian.”

Farhank angguk. “Ya. Ini operasi besar. Harman dan Taplo mungkin dalang. Tapi mereka di Amerika.”

Shadiq lega dalam hati. *Peti gue aman. Tuduhan hilang.*

Farhank tutup laptop. “Kita balas. Cari kontainer asli. Dan bunuh dalangnya.”

Shadiq tatap mereka.

*Ini baru mulai. Dan sekarang, gue tahu musuh lebih besar.*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!