Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki tidak akan sembarangan berlutut
...Bab 24...
"Kau sialan. Apa artinya hanya menatap dengan tatapan sialan seperti itu? Di dunia ini tatapan tidak bisa membunuh. Kekuatan nyata lah yang bisa membunuh. Jika kau berani bertindak liar dihadapan tuan muda ini, maka aku memiliki seribu cara untuk menyingkirkan dan bahkan membuat mu menghilang untuk selamanya. Apakah kau percaya pada ku?" Freddy menguatkan tekadnya lalu memarahi Jhon dengan ancaman. Siapa dirinya? Tidak banyak orang yang bisa membuatnya merasa terintimidasi. Terlebih lagi oleh seorang mahasiswa miskin yang entah darimana asal usulnya. Di kota kecil seperti Canyon City ini, dia adalah antara tuan muda yang paling berkuasa dan hanya berada di bawah beberapa orang.
"Jhon. Segera minta maaf kepada tuan muda Freddy Birmingham," seperti titah sang ratu yang tidak bisa dibantah, Tiffany memerintahkan kepada Jhon untuk segera meminta maaf kepada Freddy.
"Apa lagi yang kau tunggu? Segera meminta maaf. Apa kau tidak mendengar perkataan nona Tiffany?" Flo yang sudah sedikit lebih tenang mengembalikan sikap sok keras nya kepada Jhon.
Jhon hanya menatap Flo dengan tatapan menyepelekan seolah-olah Flo hanyalah badut yang melompat-lompat dihadapannya.
Namun, sekuat apapun Tiffany memberi perintah, Jhon masih tetap tak bergeming. Ini membuat Tiffany merasa kesal. Baginya, Jhon hanya boleh menurut tanpa memiliki kesempatan untuk membantah. Kalau Jhon membantah perkataannya, dia akan merasakan kehilangan wajah. Sedangkan Freddy dengan angkuh memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dalam hatinya dia sudah membuat rencana. Jika Jhon ingin mendapatkan kata maaf darinya, maka Jhon harus berlutut. Dihadapan umum, jika dia mendapatkan perlakuan seperti itu, maka popularitas nya akan melonjak. Akan tetapi harapan hanyalah harapan. Karena Jhon sama sekali tidak bergerak. Ini membuat Freddy harus kembali memberikan kata-kata ancaman.
"Meminta maaf saja tidak cukup. Tuan muda ini tidak terbiasa menerima permintaan maaf. Namun untuk menghormati nona Tiffany, tidak mustahil tuan muda ini bisa berkompromi. Tergantung pada ketulusan Jhon untuk meminta maaf,"
"Apa kau mendengar itu, Jhon. Mengapa kau hanya diam saja?" Tiffany mulai tak sabaran. Dia juga ingin menunjukkan otoritas nya.
"Tuan muda Freddy, anda mengatakan akan memaafkan Jhon. Tidak tau apa persyaratan yang anda inginkan agar sudi memaafkan Jhon ini?" Tanya Flo. Senyumnya sangat licik. Dia tau bahwa persyaratan dari Freddy tidak akan mudah. Dia ingin melihat Jhon dipermalukan. Dengan begini, dia akan merasa sangat senang. Bahagia diatas penderitaan orang lain.
"Hehehe..," Freddy terkekeh. Kemudian dia melanjutkan. "Akan mudah. Demi nona Tiffany aku akan berkompromi. Itupun tergantung pada ketulusan Jhon. Jika orang ini berlutut dihadapan ku sambil meminta maaf, maka aku akan dengan berat hati memaafkan nya. Namun jika dia menolak, maka hanya ada satu," Freddy menunjukkan gestur menggorok leher.
Bukankah ini sangat berlebihan? Bahkan Tiffany Bellamy pun mengernyit mendengar permintaan tak masuk akal dari Freddy. Bagaimanapun, Freddy lah yang datang kepada mereka. Tadinya mereka baik-baik saja berbelanja dan akan pulang ke asrama. Namun ketika Freddy datang, kegaduhan mulai tercipta. Tapi bagaimana untuk melewati masalah ini. Keluarga Birmingham jelas lebih kaya dan lebih kuat dibandingkan dengan keluarga Bellamy miliknya. Yang ada dalam pikiran Tiffany saat ini hanya satu, memaksa Jhon untuk berlutut dan meminta maaf dari Freddy.
"Jhon," Tiffany memberi isyarat kepada Jhon agar segera berlutut. Namun Jhon semakin suram. Jelas terdengar suara bergeretak dari jari-jarinya yang terkepal erat.
"Apa lagi yang kau tunggu? Segera berlutut dihadapan tuan muda Freddy!"
"Diaaam!" Seperti suara halilintar, Jhon membentak membuat Flo mundur terhuyung-huyung sebanyak lima langkah.
"Freddy kan? Asal kau tahu, lutut seorang lelaki itu dilapisi dengan emas. Tidak sembarang orang bisa menerima perlakuan berlutut dari ku. Aku hanya berlutut dihadapan Tuhan dan orang tua. Kau siapa? Atas dasar apa kau meminta ku untuk berlutut? Aku, Jhon, menunggu perlakuan seperti apa yang akan aku terima jika tidak mendapatkan kata maaf darimu!" Tantang Jhon. Saat ini temperamen nya sangat berubah. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu yang terlihat lemah dan bisa diinjak-injak oleh setiap orang. Jhon, yang kesabarannya sudah sampai di ubun-ubun sangat berbeda. Bahkan Tiffany pun dapat merasakan sesuatu yang lain. Antara jengkel dan perasaan bangga. Jengkel karena Jhon tidak menuruti perintah nya. Bangga karena seperti inilah seharusnya seorang lelaki. Lelaki tidak takut dengan luka. Tidak takut dengan kekalahan. Yang ditakutkan oleh seorang lelaki adalah, tidak memberikan perlawanan ketika harga dirinya dilecehkan. Masalah kalah atau menang itu urusan belakangan. Yang penting adalah memberikan perlawanan dan tidak lari ketika masalah datang. Intinya, jangan mencari gara-gara. Namun ketika masalah datang, dia akan menghadapinya dengan teguh.
Melihat keteguhan hati Jhon, Freddy Birmingham hanya bisa tertawa. Tidak tau apakah tawanya adalah tawa bahagia atau sengaja untuk menutupi rasa malu nya karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Jhon, tau kah kau kesalahan apa yang telah kau perbuat? Aku katakan bahwa kesalahan fatal yang telah kau buat ketika kau membuat murka tuan muda ini. Aku akan lihat seberapa lama kesombongan mu ini. Ketika tiba saatnya, kau akan merangkak meminta ampun kepadaku!"
"Jhon. Aku kecewa kepadamu. Jadi seseorang itu keras saja tidak cukup. Karena kalau hanya keras, kau akan mudah patah. Kau harus lentur karena hanya kelenturan lah yang bisa sesuai dengan setiap situasi. Tapi ya sudahlah. Aku tidak memiliki hubungan dengan mu. Kedepannya kau urus saja dirimu sendiri!" Kata Tiffany. Perkataannya ini seolah-olah Jhon sangat bergantung kepadanya. Sejak kapan Jhon pernah bergantung kepada Tiffany? Jhon sibuk dengan dirinya. Bahkan Tiffany lah yang datang mengganggu nya. Jika tidak karena gadis ini mungkin dirinya sudah bersenang-senang dengan keempat sahabatnya yang lain.
"Nona Tiffany yang terhormat. Perkataan seperti ini salah menurut ku. Kau kecewa, apakah kau merasa lega ketika aku berlutut? Sejak aku diusir dari rumah keluarga Bellamy, sejak kapan aku bergantung kepadamu? Perkataan mu seolah-olah aku berhutang banyak budi kepadamu. Kau hanya perlu tahu satu hal. Jangan merasa sok benar sendiri. Dunia ini tidak hanya berputar disekitar kalian saja. Bumi yang kau pijak ini juga adalah bumi yang dipijak oleh orang lain. Tidak masalah apakah dia orang kaya atau miskin, dunia kita masih sama. Udara yang dihirup juga udara yang sama. Darah mu merah dan begitu juga dengan aku. Dunia ini berputar dan akan seperti itu selamanya walaupun diisi dengan orang miskin ataupun kaya. Jangan bohongi nurani mu. Kesombongan seperti apa yang kau miliki? Kau lahir dan besar di Canyon City yang kecil ini. Keluar lah untuk melihat dunia. Di sana kau akan melihat bahwa apa yang kalian banggakan ini hanyalah sampah di mata orang yang benar-benar kuat. Katak di dasar sumur akan mengira bahwa dia adalah maharaja. Namun ketika dia meninggalkan dasar sumur, dia akan tau bahwa dunia ini sangat luas bahkan diluar pengetahuan dangkal mu. Ingat Nona Tiffany, aku tidak datang mengganggu ketenangan mu. Sebaliknya kau lah yang datang kepadaku lalu memerintahkan ini dan itu. Apakah aku pernah berhutang kepada mu? Apakah aku pernah menyusahkan keluarga mu. Aku hanya datang sebentar ke rumah mu menumpang duduk dan berteduh dari sengatan matahari. Tapi penghinaan darimu sungguh sangat mengerikan. Aku sudah menuruti perintah mu kecuali meminta maaf. Aku sudah kau jadikan keledai dan aku rasa itu sudah cukup untuk membayar hutang ku karena memasuki rumah mu. Mulai saat ini, kau adalah kau dan aku adalah aku. Jangan ganggu aku seperti aku tidak pernah mengganggu mu!"
Selesai berkata panjang lebar, Jhon melangkah meninggalkan kedua gadis itu dan Freddy yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
Jhon sengaja pergi karena dia merasakan tiba-tiba kepalanya sangat sakit dan ingin meledak. Dia harus cepat meninggalkan mereka dan mencari ketenangan. Setidaknya dia ingin cepat-cepat mencari tempat untuk duduk. Khawatir dirinya akan tiba-tiba pingsan makanya dia mempercepat langkahnya.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪