NovelToon NovelToon
Between Love And Lies

Between Love And Lies

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:35.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."

Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.

Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.

Ia hamil.

Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Keputusan tiba-tiba

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bibi?" suara Shopia pecah, nyaris tenggelam dalam isak tangis yang tertahan.

Bibi Almira tidak menjawab. Sejak tadi, ia terlihat mondar-mandir di kamar dengan langkah yang tak tenang. Otaknya terus bekerja untuk memikirkan solusi dari masalah ini.

Langit yang kelabu, mulai terlihat terang. Matahari pagi tampak mengintip dari balik awan, menyebarkan semburat emas yang mencoba menelusup masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka.

"Ini baru satu bulan... dan sekarang aku mengacaukannya?" gumam Shopia pelan. Ia meremas ujung rambutnya yang tampak berantakan, membiarkan rasa bersalah mencengkram dadanya hingga sesak.

"Tenanglah, Nona! Menyalahkan diri tidak akan menyelesaikan masalah." sahut Bibi Almira, menghentikan langkahnya.

Ia mendekat dan menghampiri Shopia, menggenggam tangannya yang gemetar agar berhenti meremas rambutnya.

"Satu bulan memang waktu yang singkat, tapi bukan berarti segalanya berakhir di sini." lanjutnya dengan nada yang lebih tegas, berusaha untuk memberinya ketenangan. "Hapus air matamu, Nona. Kita tidak butuh kepanikan, kita butuh sebuah rencana. Jika kita panik, itu malah semakin membuat Tuan Gavin curiga pada kita."

Shopia mengangguk cepat, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bibi Almira padanya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menenangkan kepanikannya sendiri.

Apa yang dikatakannya benar, kepanikan tidak akan menyelamatkan situasi.

Bibi Almira merapikan rambutnya dengan jemarinya, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pipinya yang basah.

Tok...tok...tok...

Sebuah ketukan di pintu memecah kesunyian, membuatnya keduanya tersentak bersamaan. Bibi Almira lalu berdiri, merapikan pakaiannya dengan gerakan cepat, lalu melangkah perlahan menuju pintu kamar untuk membukanya.

Di ambang pintu itu, kepala pelayan berdiri dengan raut wajahnya yang tegas yang sulit dibaca. Matanya yang tajam berhenti tepat di mata Bibi Almira, seolah sedang mencoba untuk menggali informasi melalui tatapannya yang mengintimidasi.

"Tuan berpesan, jika Nyonya sudah bangun... beliau menunggunya untuk sarapan bersama di ruang makan." ucapnya dengan suara bariton yang tegas, tanpa menyisakan ruang untuk penolakan.

"Iya. Nyonya baru saja bangun, beliau membutuhkan waktu untuk mandi dan bersiap-siap." Bibi Almira berbicara dengan nada yang tidak kalah tegas dari pria paruh baya dihadapannya itu.

"Baiklah. Saya akan meminta pelayan untuk membawa pakaian ganti untuk Nyonya." ucapnya dingin, sebelum membungkuk hormat dan mengundurkan diri.

Bibi Almira kembali menutup pintu itu. Lututnya yang semula terlihat kokoh mendadak lemas, tak sanggup lagi menopang beban ketakutannya. Ia bersandar pada daun pintu yang dingin, nafasnya tersengal seolah nyawanya baru saja di tarik paksa dari raganya.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Ruang makan yang luas itu tampak sunyi, hanya menyisakan suara gesekan halus pisau dan garpu di atas piring porselen yang tertata rapi di atas meja. Kesunyian itu terasa menekan, seolah dinding-dinding ruangan pun ikut menahan nafas.

Gavin duduk di ujung meja, tampak tenang menikmati santapan paginya seolah masalah kemarin malam tidak berpengaruh apapun padanya. Sorot matanya datar, tidak menunjukkan marah sedikit pun, membuat ketenangannya terasa ebih mengerikan daripada kemarahan yang meledak-ledak.

Shopia yang duduk di ujung meja satunya, berusaha keras untuk mempertahankannya sisa-sisa keberaniannya. Ia pura-pura menikmati santapan di hadapannya, meski setiap kunyahannya terasa hambar dan sulit di telan. Hatinya mencelos sejak kali pertama ia melintasi ambang pintu dan di paksa beradu pandang dengan Gavin.

"Mulai hari ini, hingga kontrak pernikahan kita berakhir, kau akan tinggal di sini." suara bariton Gavin, memecah kesunyian, datar namun memiliki penekanan yang tak bisa dibantah. Tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya, ia melanjutkan perkataannya, "Aku sudah meminta kepala pelayan untuk menyiapkan kamar untukmu."

Shopia tersentak, gerakannya terhenti di udara. Ia menatap Gavin yang tetap tenang menikmati santapannya. "Kenapa tiba-tiba seperti itu. Bukankah di dalam perjanjian—"

"Tidak ada pertanyaan, tidak ada bantahan." potong Gavin cepat. Ia meletakkan garpunya dengan denting halus yang terdengar seperti vonis di tengah kesunyian. Matanya kini terangkat, mengunci tatapan Shopia dengan dingin. "Itu adalah keputusan final."

Tanpa memberi Shopia kesempatan untuk membantah, Gavin beranjak dari kursinya, melangkah dengan langkah angkuh, meninggalkan ruang makan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Kepergian Gavin menyisakan kehampaan yang mencekik, meninggalkan Shopia yang masih terpaku di kursi meja makan. "Ini... tidak masuk akal." bisik Shopia lirih, nyaris tak terdengar.

Tangannya yang sejak tadi berubah tenang, kini mulai gemetar hebat. Ia menatap kursi kosong di ujung meja sana dengan pandangan kosong. "Apa dia... mulai curiga padaku."

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Sementara itu di kota yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk yang menyesakkan, terdapat sebuah pulau terpencil yang terlupakan oleh waktu. Di sana, diantara debur ombak yang tak henti menatap karang, nafas sebagian besar penduduknya bergantung dari laut.

Di sebuah ruang kayu yang letaknya agak menyendiri dari bangunan rumah-rumah panggung lainnya, Evelyn tampak menyibukkan dirinya pagi ini dengan menyiram tanaman di halaman kecil rumah itu.

Tanpa terasa, sudah satu bulan lamanya ia tinggal di rumah ini. Terkadang ia menghabiskan waktu dengan menyiram tanaman, atau sekedar jalan-jalan di tepi pantai bersama Bibi Diana. Ia juga mulai belajar merajut untuk mengisi waktu luangnya yang sedikit membosankan.

Kehamilannya sudah memasuki usia tiga belas minggu. Ia telah berhasil melalui trimester pertama yang menyesakkan. Mual dan muntahnya di pagi hari juga sudah jauh berkurang. Ia kini mulai bisa mengkonsumsi makanan yang direbus atau dikukus tanpa minyak.

Tidak ada lagi minuman beralkohol atau bersoda, hanya ada minuman sehat seperti jus buah segar dan air kelapa alami.

Kehamilan ini sedikit banyak telah merubah kebiasaan dan juga prilakunya. Ia memiliki sisi lain dari kehidupannya yang kelam, sisi keibuan yang secara alami memaksanya untuk lebih memperhatikan perkembangan janin di kandungannya.

Bibi Diana tampak sabar merawatnya, sama halnya ketika ia merawat Shopia. Walaupun sesekali, Evelyn merasakan kesedihan dan kecemasan yang terlukis di wajahnya yang tampak menua.

"Tanaman itu bisa layu jika kau mandikan dia seperti itu, Nona manis." suara khas Martin mengejutkannya, membuyarkan lamunan Evelyn.

Evelyn mengehentikan gerakannya, meletakkan penyiram bunga kembali di tempatnya, menghampiri Martin yang datang dengan sekantung belanjaan pesanannya.

"Kenapa lama sekali? Aku sudah bosan hampir bosan menunggumu di sini." ia sedikit menekuk wajahnya, menatap Martin dengan sorot mata yang menuntut penjelasan.

"Kapalnya sedikit terlambat pagi ini karena rusak. Jadi, aku terpaksa menunggu satu jam hingga kapal berikutnya tiba di dermaga." jelasnya, ia lalu tersenyum dan melanjutkan perkataannya, "jangan cemberut. Aku juga membawakan es kelapa muda yang baru saja di petik dari pohon, khusus untukmu."

Martin menunjukkan bungkusan berisi air kelapa muda dingin, ke arah Evelyn. Ia juga membelikan rujak buah segar untuknya, salah satu makanan favoritnya setelah menetap di pulau ini.

Wajahnya seketika tampak berbinar dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Evelyn dengan cepat menyambar bungkusan plastik itu dari tangan Martin. Martin tampak tertawa melihat ekspresi wajah Evelyn yang terlihat senang dengan pemberiannya.

"Terima kasih, Martin. Kau memang paling bisa di andalkan." lanjutnya membuka bungkusan itu, sambil menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.

Rona wajah Martin seketika berubah, menatap Evelyn dengan tatapan iba yang mengiris hatinya. Hidupnya tidak kalah menyedihkan dari Shopia. Berada di tempat terpencil seperti ini, sendirian membawa perutnya yang semakin hari semakin membuncit.

Bukankah seharusnya di saat seperti ini, suaminya ada untuk mendampinginya. Martin tidak berani untuk bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadinya karena janjinya pada Shopia.

"Apa Shopia menghubungimu?" tanya Evelyn tiba-tiba pada Martin.

"Belum. Dia belum menghubungiku? Aku jadi kepikiran dengannya." ucap Martin.

"Jika dia tidak menghubungimu, itu pertanda bagus. Artinya tidak ada masalah dan dia baik-baik saja." ucap Evelyn tampak menenangkan Martin yang terlihat mulai gelisah.

"Iya. Semoga itu benar." sahut Martin singkat.

Namun, entah kenapa justru Evelyn yang tiba-tiba merasa gelisah. Seakan-akan Shopia tidak sedang baik-baik saja saat ini.

Seharusnya kemarin malam ia menghadiri acara makan malam itu, apa ia berhasil melakukannya? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini. batin Shopia merasa gundah.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Halo semua!

Jangan lupa mampir dan mendukung karyaku ini ya. Tinggalkan like dan komentar kamu di akhir bab untuk terus memberikan dukungan.

Jangan lupa juga untuk subscribe ❤️, biar nggak ketinggalan update terbarunya.

Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Tetap semangat dan jangan menyerah. 💪🏿😄

Terima kasih buat semua orang yang telah memberikan dukungannya.

Salam sayang dariku. 🌸

1
yrputri
yang biasanya tampak kuat, tapi wanita tetap seorang wanita ya, ada sisi lemahnya juga...
yrputri
tatapan maut ya /Hey/
yrputri: tapi kalau ada yang menggangu ego spertinya tidak apa apa kalau harus menatap maut hehe
total 1 replies
Filan
wajar sih kalau nggak pede. Cewek ingin kelihatan cantik di mata orang yang dia cinta
Filan
akhirnya nikah juga mereka
Filan
dikasih jodoh ya, Martin 🤣
-Thiea-: kasihan jomblo sendirian 😁
total 1 replies
Filan
belom tamat di sini kan
Filan
asrama.. kubaca ulang emang asrama 😆
-Thiea-: typo 😁 asmara maksudnya
total 1 replies
Filan
oh, salah Gavin toh
Filan
masih bayi padahal... mainan aja kali shopia
Filan
udah cerai sama Gavin belum sih? nikah sama Alex?
-Thiea-: udah loh, di bab 86.
total 1 replies
Filan
kamu bahkan tidak berani tinggal di penjara malah bundir.
Filan
benarlah ya. Ga ada tanggung jawabnya itu sih. harusnya, biar hendry diproses hukum. dirinya juga biar hidup menyelesaikan semua tanggung jawab. malah bundir.
Filan
kasihan sekali Evelyn dan Sophia ortunya meninggalnya tragis
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh, nunggu upnya kembali.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
selamat thor semangat untuk berkarya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Congrats 🎉🎉
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
wah twins gaes
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih bener loh, kenapa masakan laki² itu ngerasa paling teristimewa dan enak banget, aku pernah di bikinin makanan sama sodara laki aku sama bapak tiriku itu makan bersama beh enak banget 🤤🤤.
-Thiea-: enak walau bentuk gak karuan..😁
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
good keluarga serbah guna
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tenang shopia si Gavin bakal jadi bapak yg baik kok, klw kamu harus 24/7 maka juga dia harus bantu bukan cuma dapet senengnya doang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!