"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014 - Deklarasi di Depan Kelas
Tiga hari setelah unggahan itu viral, Kirana belum kembali ke kampus.
Setiap pagi ia mandi, memakai pakaian rapi, lalu duduk di tepi ranjang sampai jadwal kelas lewat. Setelah itu ia melepas hijab, masuk selimut, dan diam.
Arya tidak memaksanya.
Hari pertama, ia biarkan Kirana menangis.
Hari kedua, ia menghapus komentar dari ponsel Kirana dan meminta Sari memegang semua media sosialnya.
Hari ketiga, ia duduk di depannya dengan jadwal kuliah terbuka di meja.
"Ran, hari ini kelas Manajemen Strategis."
Kirana menatap lantai.
"Aku tidak kuat."
"Aku tahu."
"Mereka akan melihat perutku."
"Mereka sudah melihat foto. Bedanya, hari ini aku berdiri di sampingmu."
Kirana menggeleng cepat. "Aku takut ada yang bisik-bisik."
"Pasti ada."
Jawaban jujur itu membuat mata Kirana basah.
Arya menggenggam tangannya.
"Kalau kita terus bersembunyi, mereka akan menulis cerita sendiri. Hari ini aku ambil alih ceritanya."
"Bagaimana?"
"Aku bicara di depan kelas."
Kirana langsung mengangkat wajah. "Jangan."
"Harus."
"Nanti mereka makin ramai."
"Ramai sekarang sudah terjadi. Bedanya, setelah aku bicara, mereka tahu siapa yang mereka hadapi."
Sari yang duduk di sofa melipat tangan. "Aku setuju."
Kirana menoleh. "Sar..."
"Aku capek lihat kamu kalah sama akun anonim."
Arya berdiri. "Kamu tetap boleh bilang tidak. Kalau kamu belum sanggup, aku pergi sendiri."
Kirana menatapnya lama.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil hijab dari pangkuan.
"Aku ikut. Tapi kalau aku gemetar..."
"Aku pegang tanganmu."
Universitas Surya Laut terasa berbeda siang itu.
GR Supra Arya masuk gerbang kampus. Beberapa mahasiswa langsung menoleh. Ada yang berbisik, ada yang merekam, ada yang pura-pura tidak melihat.
Kirana duduk tegak di kursi penumpang. Jemarinya meremas tas.
Arya memarkir mobil dekat gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Dimas, Rizky, dan Bayu sudah menunggu di depan tangga.
Dimas melepas jaketnya. "Mau aku jalan di depan sambil pasang muka preman?"
Kirana hampir tertawa.
Bayu menepuk lengan Dimas. "Cukup diam."
Rizky menunjukkan ponsel kepada Arya. "Profesor Sudarso sudah balas. Kamu diberi dua menit sebelum kuliah mulai."
"Cukup."
Mereka berjalan masuk.
Bisik-bisik mengikuti seperti asap.
"Itu Kirana."
"Yang viral itu?"
"Arya juga datang."
"Katanya sudah nikah."
Kirana makin menunduk.
Arya meraih tangannya.
Tidak keras. Hanya cukup agar ia tahu ada pegangan.
Ruang kuliah besar sudah penuh. Hampir dua ratus mahasiswa duduk bertingkat. Beberapa kepala langsung berputar saat Arya dan Kirana masuk.
Denny Hartono duduk di sisi kiri tengah. Kemejanya putih, jam tangannya mengilap, wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Arya melihatnya sebentar.
Denny mengangkat alis, seolah menyambut pertunjukan.
Profesor Sudarso berdiri di depan papan. Pria itu sudah tua, berkacamata tipis, dan terkenal tidak suka keributan.
Ia menatap Arya. "Dua menit, Saudara Arya."
"Terima kasih, Prof."
Arya naik ke depan.
Ruang kuliah yang tadi ramai mulai pelan-pelan hening.
Kirana duduk di bangku belakang bersama Sari. Dimas berdiri di dekat pintu. Rizky duduk dengan laptop terbuka. Bayu merekam dari sudut yang rapi sebagai bukti.
Arya meletakkan kedua tangan di tepi podium.
Ia melihat wajah-wajah di depannya.
Sebagian penasaran.
Sebagian mengejek.
Sebagian kasihan.
Denny tersenyum kecil.
Arya mulai bicara.
"Saya tahu tiga hari ini kalian membicarakan Kirana."
Tidak ada suara.
"Saya juga tahu ada foto yang disebarkan akun anonim. Foto dari klinik, dari apartemen, dari pusat belanja."
Beberapa mahasiswa menunduk ke ponsel.
Profesor Sudarso diam.
"Hari ini saya datang untuk menjawab langsung."
Arya menarik napas.
"Ya, Kirana sedang hamil."
Ruangan seperti ditarik napasnya sekaligus.
"Anak itu anak saya."
Bisik-bisik meledak, lalu berhenti saat suara Arya naik sedikit.
"Dan Kirana adalah istri saya secara agama. Kami sedang mengurus langkah resmi berikutnya bersama keluarga."
Denny tidak tersenyum lagi.
Arya melanjutkan, "Kalau ada yang ingin bertanya, tanya saya. Kalau ada yang ingin menilai, lihat saya. Jangan serang perempuan hamil lewat komentar anonim."
Seorang mahasiswa di baris depan menelan ludah.
Arya mengangkat ponsel.
"Untuk akun yang menyebarkan foto, saya sudah punya bukti. IP awal, pola unggahan, akun pemantik, dan jejak email perusahaan. Pengacara saya sedang menyiapkan surat."
Rizky mengetik sesuatu. Layar laptopnya menyala.
Arya menatap sisi kiri tengah.
Matanya berhenti tepat pada Denny.
"Untuk orang yang merasa bisa bersembunyi di balik nama keluarga, dengarkan baik-baik. Kalau kamu menyentuh keluargaku lagi, aku bawa semuanya ke jalur hukum."
Denny menegang.
Mahasiswa di sekitarnya mulai melirik.
Arya tidak menyebut nama.
Ia tidak perlu.
"Saya tidak minta kalian menyukai saya. Saya juga tidak minta kalian menganggap hidup kami benar sejak awal. Saya hanya minta satu hal: berhenti menjadikan rahim perempuan sebagai bahan tontonan."
Kalimat itu membuat ruangan senyap.
Di belakang, Kirana menutup mulut.
Arya turun dari podium.
Ia berjalan melewati barisan kursi, menuju bangku belakang. Semua mata mengikuti.
Kirana berdiri.
Kakinya gemetar.
Arya mengulurkan tangan.
"Ayo duduk di depan."
"Aku?"
"Kamu mahasiswa di kelas ini. Kamu punya hak duduk di mana saja."
Kirana menatap ruang kuliah.
Lalu ia menggenggam tangan Arya.
Mereka berjalan ke baris tengah.
Satu tepuk tangan terdengar.
Pelan.
Dari seorang mahasiswi di baris kanan.
Lalu satu lagi.
Dimas ikut menepuk paling keras.
Bayu menyusul.
Dalam beberapa detik, tepuk tangan menyebar. Tidak semua ikut. Beberapa tetap diam. Denny duduk kaku dengan wajah gelap.
Profesor Sudarso berdeham.
"Cukup. Kita mulai kuliah."
Ia membuka buku.
"Bab tujuh. Strategi krisis reputasi."
Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Tegang di ruangan pecah sedikit.
Arya duduk di samping Kirana.
Kirana masih menangis, namun bahunya tidak lagi merosot.
Di depan mata Arya, panel sistem muncul.
【Terdeteksi: host mempertahankan martabat keluarga di ruang publik.】
【Hadiah: kemampuan komunikasi Lv.3.】
【Hadiah: kepemimpinan Lv.2.】
【Bonus: pengaruh sosial +50%.】
【Catatan: perlindungan terbaik kadang dilakukan dengan berdiri di tempat paling terang.】
Arya membaca cepat, lalu menutup panel.
Ia tidak merasa menang sepenuhnya.
Namun hari itu, Kirana kembali duduk di ruang kuliah.
Itu cukup untuk langkah pertama.
Kuliah berlangsung hampir sembilan puluh menit. Profesor Sudarso sengaja memberi pertanyaan kepada Arya tentang krisis reputasi. Arya menjawab singkat, tajam, dan teratur.
"Dalam krisis, diam terlalu lama memberi ruang pada narasi liar. Respons harus cepat, data harus rapi, dan tanggung jawab harus terlihat."
Profesor Sudarso menatapnya beberapa detik.
"Jawaban bagus."
Kelas kembali hening.
Denny keluar sebelum kuliah selesai.
Saat bel berbunyi, mahasiswa bergerak perlahan. Beberapa mahasiswi mendekati Kirana.
"Kirana, maaf ya. Aku sempat share."
"Aku juga. Semoga kamu sehat."
Kirana hanya mengangguk. Ia belum kuat bicara banyak.
Arya berdiri di sisinya, tidak mengambil alih permintaan maaf itu.
Di koridor, seorang perempuan berjas almamater menunggu.
Rambutnya diikat rapi. Di dadanya ada pin Badan Eksekutif Mahasiswa.
"Mas Arya?"
"Iya."
"Saya Nadia, ketua BEM fakultas."
Arya langsung waspada. "Ada apa?"
Nadia menatap Kirana, lalu kembali kepada Arya.
"Saya pribadi menghargai apa yang Mas lakukan tadi. Tapi ada laporan masuk ke pihak kampus."
Dimas yang berdiri di belakang langsung maju. "Laporan apa?"
Nadia menjawab pelan, "Ada yang melaporkan Mas Arya dan Mbak Kirana tinggal bersama di luar aturan mahasiswa. Komisi disiplin kampus minta kalian datang besok pagi."
Kirana memegang lengan Arya.
Arya menatap pintu keluar gedung.
Di luar, Denny Hartono sedang masuk ke Porsche Cayenne.
Sebelum pintu mobil tertutup, Denny menoleh.
Senyumnya kembali.
Arya menggenggam tangan Kirana lebih erat.
"Baik," katanya kepada Nadia. "Besok pagi kami datang."