NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Tawaran Politik

Kafe modern di tengah kota siang itu, tidak terlalu ramai. Namun, suasananya cukup tenang untuk percakapan yang sedang berlangsung.

Arvin duduk dengan bahu tegak, kedua tangannya bertaut di atas meja.

Di depannya, dua orang pria berjas formal warna abu-abu tersenyum dengan ramah, tapi tampak penuh perhitungan, seperti orang yang sudah memikirkan pertemuan ini jauh-jauh hari.

Arvin sudah mengenal mereka sebelumnya, karena pernah beberapa kali bertemu pemangku jabatan partai politik itu di beberapa acara.

Pertemuan kali ini bukan hanya pertemuan biasa, melainkan ada agenda lain: menindaklanjuti tawaran sebelumnya.

Dan Arvin merasa ini waktu yang tepat untuk menyatakan sikapnya.

"Kami sangat berterima kasih, Pak Arvin akhirnya bersedia bertemu kami secara langsung," ucap Pak Ridwan, pria berkacamata yang lebih tua.

Pemilik jabatan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah partai itu menegakkan bahu, kemudian berdeham pelan.

"Begini, Pak. Kami sudah mengikuti kiprah Anda cukup lama. Bukan hanya sebagai akademisi terkemuka, tapi juga sebagai figur publik yang sedang banyak menarik perhatian orang-orang." katanya, suaranya terdengar licin dan persuasif.

Arvin menanggapi dengan senyum tipis.

"Saya hanya dosen biasa, Pak," ujarnya rendah hati.

Pria satunya, Pak Tomo yang merupakan Wakil Ketua Bidang Kaderisasi partai, tertawa kecil.

"Jangan terlalu merendah, Pak Arvin. Semua orang tahu kredibilitas Anda," katanya ringan.

"Anda adalah sosok yang disukai banyak orang. Reputasi bersih, prestasi akademik Anda konsisten, audiens Anda loyal, dan sekarang... netizen memuji Anda sebagai figur moral yang menjadi panutan."

Pria bertubuh gempal itu menahan kalimatnya sebentar, lalu melanjutkan.

"Kami akan sangat terbuka kalau figur seperti Anda, bersedia bergabung dengan kami."

Ridwan ikut menimpali. "Latar belakang dan hasil riset Anda di bidang psikologi... adalah aset besar, Pak Arvin. Anda memahami manusia, paham dinamika sosial dan cara berpikir masyarakat."

Ia tersenyum penuh arti.

"Bayangkan kalau ilmu Anda itu, bisa dipakai membantu merumuskan kebijakan sosial yang lebih manusiawi. Pendidikan karakter. Program yang berkaitan dengan isu kesehatan mental. Perlindungan anak, dan lainnya."

Arvin menghela napas pelan. "Saya mengabdi melalui pendidikan, Pak. Bukan lewat politik," katanya hati-hati.

Ia merapatkan kedua tangannya, menatap kedua orang itu bergantian.

"Saya menghormati politik sebagai salah satu bagian yang penting dari negara kita, tapi tujuan hidup saya memang bukan ke arah sana," tambah Arvin, suaranya tetap tenang dan stabil.

"Politik juga bisa jadi alat perubahan, Pak Arvin," jawab Ridwan cepat.

Arvin mengangguk. "Saya setuju, tapi tidak semua orang harus, dan mahir memegang alat yang sama."

Keduanya mengangkat alis.

Hingga Tomo mencondongkan tubuh sedikit, menatap tajam, tapi tetap tersenyum.

"Kami menawarkan bukan sesuatu yang kecil, Pak... figur seperti Anda sangat potensial untuk pemimpin kota selanjutnya... dan kami siap memfasilitasi semuanya."

"Saya menghargai keseriusan Bapak-bapak, dan saya berterima kasih menganggap saya layak diperhitungkan," ucap Arvin.

Ia tersenyum tipis, sopan tapi tegas. "Tapi saya datang ke pertemuan ini, untuk menyampaikan keputusan final."

Kedua pria di hadapanya saling pandang sebentar.

"Saya tidak bisa," kata Arvin lugas. Tidak keras, juga tidak emosional.

Tomo mencoba membujuk halus. "Pak Arvin, ini kesempatan langka. Orang seperti Anda adalah figur yang terlalu berharga untuk dilewatkan."

Ridwan turut menambahkan, terus mencoba melancarkan aksi pendekatan.

"Kami tidak ingin mengubah Anda, Pak Arvin. Tapi kami ingin memperluas dampak Anda," suaranya terdengar sangat meyakinkan.

Arvin mengangguk paham. "Saya tahu."

Mereka terdiam.

Sudut bibir Arvin terangkat samar.

"Tapi saya tidak mau terikat partai. Saya tidak mau berada di kubu manapun. Saya juga tidak mau terlibat politik praktis dalam bentuk apapun," suaranya tidak ragu, juga tidak gugup.

Ia diam beberapa detik, wajahnya tetap tenang.

"Bapak-bapak sebaiknya merekrut orang lain. Masih banyak tokoh muda yang memang berminat masuk politik, yang tidak harus berpindah jalur hidup," ujarnya menyarankan.

"Bapak bisa mencari orang yang memang punya ambisi sejalan dengan tujuan partai," tambahnya.

Ridwan tersenyum penuh arti, mencoba peluang pendekatan terakhir.

"Jarang sekali ada orang yang menolak tawaran seperti ini. Sangat disayangkan, padahal Anda berpotensi besar."

Tomo menatapnya sekali lagi. "Baiklah... kami tidak akan memaksa, tapi pintu kami selalu terbuka untuk Pak Arvin," ujarnya.

"Terima kasih atas tawarannya," ucap Arvin menatap keduanya satu per satu. " ...dan terima kasih karena telah menghormati keputusan saya."

Pertemuan hari itu berakhir begitu Arvin berdiri, dan berpamitan terlebih dahulu.

Hanya satu perasaan yang tersisa di dadanya setelah meninggalkan tempat itu: lega.

Di tengah sorotan, peluang, dan rayuan dunia, ia masih berdiri di jalur hidup yang ia yakini.

...

Malam itu, Arvin Langsung membicarakan hal itu bersama Tamara di rumah saat keduanya duduk bersantai di balkon.

Tamara tersedak teh hangat miliknya, setelah mendengar penuturan dari Arvin mengenai pertemuan tadi siang.

Ia buru-buru meletakkan cangkir di atas meja, lalu menatap suaminya tak percaya.

"Partai politik?" tanyanya dengan alis terangkat tinggi. Ia cukup mengenal nama besar partai itu.

Arvin mengangguk.

"Mereka nawarin gabung, dan maju di pemilihan kepala daerah mendatang. Wali kota," jawabnya.

Tamara mengerjap, lalu menatap dengan sorot mata melebar. "HAH?! Wali kota? Kamu?"

Arvin terkekeh kecil. "Itu juga reaksiku di dalam kepala, waktu mereka ngomong gitu."

Tamara langsung heboh. "Oh my God! Serius? Ini prank sosial atau apa?"

Ia melotot tak percaya. Bukan reaksi gembira, tapi kaget ekstrim.

Arvin menatapnya. "Serius... mereka bilang figur sepertiku disukai banyak orang dan sangat potensial."

Lalu menjelaskan dengan pelan. "Katanya, latar belakangku di bidang psikologi, cocok buat kebijakan sosial."

Tamara ingin tertawa.

Bukan meremehkan kredibilitas suaminya, tapi karena tak percaya suaminya diincar para pencari panggung.

Ia tampak berpikir sebentar. "Terus? Kamu jawab apa?"

"Aku menolak," jawab Arvin tanpa keraguan.

Tamara mencondongkan tubuh, nyaris menyentuh lengannya. "Serius, kamu tolak?"

Arvin mengangguk. "Iya."

"Kamu nggak tergoda sama kekuasaan? Popularitas? Dan... uang politik?" tanya Tamara, dengan suara dibuat dramatis.

Arvin menggeleng.

"Aku masih tergoda sama hidup yang tenang. Sama buku dan jurnal... "

Ia terkekeh pelan, singkat.

"...terus, masih betah sama mahasiswa yang masih suka ngeluh, kalau dikasih tugas analisis lapangan."

Tamara memandangnya lama. Lalu tiba-tiba, tawa kecilnya muncul memecah sunyi.

"Cerdas... " katanya.

Arvin sedikit kaget. "Kamu... nggak marah?"

Tamara tergelak. "Kenapa harus marah? Justru aku senang, karena kamu tetap di jalur hidup kamu, padahal dunia membuka peluang buat ngasih kamu panggung popularitas."

"Aku kira kamu akan mikir, kalau ini peluang besar," kata Arvin.

Tamara menyandarkan punggung, tangan terlipat santai di dada.

"Aku dukung kamu buat nggak masuk politik, karena aku suka kamu tetap kayak gini."

"Lagian, mereka itu nggak ada hobi lain apa selain ngerekrut orang lurus buat dijadiin alat kampanye," celetuknya.

Arvin masih mendengarkan, sesekali terkekeh pelan.

Hingga Tamara mengingatkannya. "Kamu tuh sekarang lagi persiapan mau ke Oxford, bawa nama besar kampus. Jadi fokus aja ke sana. Nggak usah mikirin yang lain-lain dulu."

Nada suaranya ringan, tapi serius.

Arvin mengangguk patuh. "Makanya aku kasih penolakan final."

"Iya. Bagusnya memang begitu."

Tapi Tamara masih sedikit penasaran. "Terus, gimana tanggapan mereka?"

"Mereka menerima, tapi tetap membuka kesempatan," jawab Arvin.

"Terus, kamu masih mau memikirkan?"

Arvin menggeleng. "Aku akan menutup komunikasi dengan pihak mereka."

Tamara tersenyum puas, sekaligus lega. "Good! Kalau mereka datang lagi, bilang aja istri kamu galak, dan anti politik."

Arvin tertawa kecil, lepas sudah tegangnya.

Ia terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu dalam hening yang sedikit lama.

"Sebenarnya, malam ini aku mau bikin kamu syok dua kali... " ucapnya.

Tamara menoleh cepat. "Apa lagi?"

Arvin buru-buru menggeleng kecil. "Aku mau ke ruang kerja dulu, masih ada kerjaan," elaknya.

Tamara mendengus. "Kamu tuh ya..."

Matanya menatap tegas, tapi ujung-ujungnya hanya memberi anggukan singkat, tanda istri patuh.

Arvin mengangkat tangan dan mengusap kepalanya, lalu memberi kecupan di keningnya.

Cukup untuk membuat sorot mata sang istri kembali melembut.

Sebenarnya masih ada satu hal yang ingin ia katakan, sesuatu yang sama sekali belum diketahui oleh Tamara.

Di sisi lain, pikirannya juga masih dipenuhi oleh ide dan data-data untuk persiapan penugasannya nanti.

Ia memilih mengurungkan niatnya, karena merasa belum waktunya.

BERSAMBUNG...

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iyaa.. keterlaluan banget.. kalau Arvin itu cowok gak sabaran, udah dtinggalin kamu🙄
Lonafx: marahin aja kak😂😝
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
wahh keren nih dua sohibnya.. pandai menasihati meski dgn cara ngomel dan menghakimi wkwk tp biasnaya manjur, karna mereka orang terdekatnya
Lonafx: cuma mereka yg berani mengomeli ceo galak😂
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iya bener.. jangan sampai nyesel loh
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
ya ampunn.. Arvin jadi cowok sabar banget...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
dia terbiasa keras sama dirinya sendiri.. gak heran tumbuh jadi perempuan dominan yg suka mengontrol,
Lonafx: menempa wehh, typo😫
total 2 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
lahh, Papa sakit serius ternyata, pantes pengen banget putrinya cepet nikah
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
kira2 Arvin bakal ilfeel gak ya🤣
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
Tata lagi ngedrama, apa pasang skin menggatal/Sly/ tapi sama suami sendiri juga sih gapapa😄
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
definisi senggol di bales senggol/Facepalm//Facepalm/
Cahaya Tulip
penasaran bakal ada besok🤭

arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
Cahaya Tulip
kucing kali takut aer🤣
Cahaya Tulip
emang iya tata.. 🤣
Cahaya Tulip
kurang bahan nggak tuh? apanya yang ditutupin? 🤣
Cahaya Tulip
wah, ada apa besok? 😗
Cahaya Tulip
wah.. ada apa ini? 😗
Muna Junaidi
Sesuai dengan undangan mareee kita berhalu ria mumpung lagi sendirian🤣🤣🤣mas tolong anaknya dibawa dulu dolanan istri tercintamu mau main sama othor🤭🤭
Lonafx: wahhh siap kakak😝🥰 terima kasih 🙏
total 1 replies
Cahaya Tulip
🥺 kalimat yang diharapkan semua perempuan setelah menikah.. rasa aman tempat pulang perlindungan
. yg lagi mahal sekarang🥺
Cahaya Tulip
Papa Rudi.. sekrang jadi sendirian ya🥺
Cahaya Tulip
untung badai nya tata lagi mode off😂
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk fiturnya nambah habis kepalanya kebentur😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!