Leira Anggara sang pemimpin dunia gelap bawah tanah terpaksa harus menjadi pengantin pengganti adik kembarnya demi menuntut balas pada kekasih pria yang di jodohkan dengannya. Ia terus mengumpulkan bukti kejahatan Flomy yang telah membayar orang untuk memperkosa adik kembarnya yang bernama Leika hingga Leika memilih untuk bunuh diri. Sampai ia mendapatkan bukti, ia menghukum Flomy dan mengirimnya ke penjara.
Namun dalam mencari bukti tersebut, Leira mengalami banyak kesulitan karena Bima Putra sang suami sangat mencintai dan mempercayai Flomy. Apapun yang ia lakukan selalu di tentang oleh suaminya sendiri. Hingga pada akhirnya Leira harus menjauhkan keduanya dengan membuat Bima jatuh cinta padanya.
Bagaimana kehidupan Leira dan Bima setelah itu? Apakah Leira memilih pergi dan melanjutkan kehidupan yang sebenarnya atau ia memilih melanjutkan hidup bersama Bima?
Yuk dukung kisahnya mau sad ending atau happy ending tergantung suport dari readers ya. Terima kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASALAH BERTUBI TUBI
Di dalam ruangan bernuansa putih, pagi ini Leira duduk di kursi samping ranjang. Semalam kondisi Bima sempat kritis lagi, dengan berbagai usaha para dokter akhirnya kondisi Bima stabil kembali. Namun sampai saat ini Bima belum sadar juga. Hal ini membuat Leira nampak cemas.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, Leira menoleh. Rupanya Felix yang datang menghampirinya.
" Apa sudah ada kabar tentang Gio?" Tanya Leira kembali menatap Bima yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat alat media yang menempel di tubuhnya.
" Gio di rawat di rumah sakit xx, dia mengalami patah tulang pada kaki kanannya. Selain itu semua kondisinya normal." Sahut Felix yang baru saja menyelidiki lokasi Gio.
" Ada dua kabar buruk, apa elo mau dengar?" Tanya Felix.
Leira mendongak menatap Felix. " Katakan!"
" Yang pertama tentang perusahaan. Arya bilang ada seseorang yang membocorkan data rahasia perusahaan. Perusahaan mulai di serang. Harga saham langsung anjlok hari ini, dewan direksi meminta elo untuk segera menangani hal ini, kalau tidak mereka meminta elo untuk mundur." Ucap Felix.
" Kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini? Sebelumnya perusahaan kita baik baik saja. Perusahaan itu di bangun daddy dengan susah payah, tidak boleh sampai koleps dan tidak ada yang boleh mengakuisisinya. Jika memang hal terburuknya nanti perusahaan bangkrut, segera akusisi dengan perusahaan gue. Dengan begitu, mereka yang sengaja mengincar perusahaan daddy tidak akan bisa berkutik." Ujar Leira.
" Oke, gue pantau dulu perkembangannya. Kalau memang harus di akuisisi pasti langsung gue akuisisi biar nggak jatuh ke tangan orang lain." Sahut Felix.
" Apa elo mencurigai seseorang?" Tanya Leira.
" Kalau menurut Arya, sepertinya pelaku itu Jovan."
" Jovan?" Leira mengerutkan keningnya. " Maksud elo om Jovan, adik angkatnya daddy?" Tanya Leira memastikan.
" Iya. Sepertinya dia tidak rela kalau perusahaan tuan Rosse jatuh ke tangan elo." Sahut Felix.
" Tapi dulu sebelum daddy berikan perusahaan itu sama gue, daddy udah tawarin ke om Jovan kok. Masa' iya kali ini dia berbuat licik seperti ini. Kalau dia mau, gue bisa berikan secara cuma cuma." Ucap Leira.
" Kita tidak tahu apa motif sebenarnya. Elo tenang aja! Gue bisa tangani masalah ini." Sahut Felix.
" Terus apa berita buruk kedua?" Tanya Leira.
" Sidang tuntutan hukuman seumur hidup pada Flomy di kabulkan oleh hakim. Namun saat perjalanan dari pengadilan ke kantor polisi, Flomy berhasil kabur."
" Apa????" Pekik Leira tak percaya." Ya Tuhan apa lagi ini? Satu masalah belum selesai, timbul masalah baru. Dan kini, ada lagi masalahnya." Keluh Leira.
" Kenapa dia bisa kabur? Apa penjagaan untuknya tidak ada?" Selidik Leira.
" Penjagaan memang cukup ketat, tapi gue tidak tahu kenapa dia bisa kabur. Sepertinya ada yang membantunya kabur." Ujar Felix.
" Jangan jangan orangnya Gio." Tebak Leira.
" Bisa jadi." Sahut Felix.
" Gue yakin mereka pasti merencakan sesuatu buat nyerang gue lagi. Mana kondisi Bima lagi seperti ini. Gue nggak bisa kemana mana Fel, kalau gue maksa pergi mama dan nenek pasti bakal marah sama gue." Keluh Leira.
" Nggak apa apa, lo tenang aja. Masih ada gue sama Bondan yang akan beresin semuanya. Gue juga bakal tempatin beberapa anak buah kita buat jaga elo dan Bima di sini."
" Makasih ya Fel. Elo emang paling ngertiin gue." Ujar Leira.
" Makanya nikah sama gue, gue pasti bakal selalu lindungi elo Lei." Ucap Felix.
" Ngomong ngomong masalah pernikahan, gue udah pertimbangin keinginan mereka Fel."
Deg...
Felix langsung menatap Leira. " Apa keputusanmu Lei? Apa elo bakal memilih Bima dan ninggalin gue? Terus anak anak gimana kalau nggak ada elo, Lei? Coba pikirin lagi kalau memang itu keputusan elo!" Ucap Felix.
" Keputusan yang bakal gue ambil bertolak belakang dengan keinginan hati gue Fel. Tapi mungkin ini yang terbaik buat kami semua. Kita lihat kondisi Bima dulu, kalau dia baik baik saja gue tetap pada pendirian gue." Ujar Leira.
" Oke itu terserah elo. Apapun keputusan elo nanti pasti gue hargai. Sekarang ada perintah apa buat gue?" Tanya Felix menatap Leira.
" Segera temukan Flomy! Gue nggak mau dia bikin masalah lagi." Titah Leira.
" Itu pasti, gue bakal temukan dia secepatnya. Elo jaga diri baik baik, gue ke markas dulu." Ucap Felix menepuk bahu Leira.
" Trims."
Felix meninggalkan ruangan Leira. Ruangan kembali sepi, Leira menatap tubuh lemah di depannya.
" Sadar lah Bim! Jangan biarkan mereka semua nyalahin gue. Bukan kah elo yang paling tahu gue salah atau enggak. Gue banyak urusan yang harus gue beresin, please buka mata elo buat gue."
Tanpa sadar tangan Leika menggenggam tangan Bima. Perasaan bersalah tiba tiba merasuk ke dalam hatinya.
" Kalau elo sampai tiada gara gara gue, Aka pasti bakal marah sama gue. Gue nggak mau buat Aka kecewa di atas sana. Setidaknya hiduplah demi gue." Monolog Leira.
Deg...
Jantung Leira berdetak sangat kencang begitu merasakan gerakan jari jemari Bima. Ia menatap wajah Bima, nampak matanya bergerak gerak.
" Bima, bangunlah!" Ucap Leira.
Dengan perlaha Bima membuka matanya. Wajah Leira nampak berbinar, ia sangat senang pada akhirnya Bima bisa sadar.
" Ka.. Kamu beneran sadar. Gue panggil dokter dulu."
Leira beranjak, ketika ia hendak melangkah tiba tiba Bima mencekal tangannya.
" Ja.. Jangan pergi!" Ucap Bima.
Leira menatap Bima. " Baiklah." Sahut Leira duduk kembali setelah menekan tombol nurse untuk memanggil perawat.
" Apa ada yang sakit?" Tanya Leira.
" Semua badanku rasanya sakit semua." Sahut Bima.
" Sorry. Karena mau bantu gue, elo jadi seperti ini." Ucap Leira.
" Bisakah hubungan kita lebih dekat lagi? Jangan pakai elo gue, rasanya sangat asing." Ucap Bima lirih.
" Baiklah." Sahut Leira.
Seorang dokter dan perawat masuk mendatangi mereka.
" Syukurlah anda sudah sadar tuan Bima. Saya periksa dulu ya." Ucap dokter.
" Silahkan dok!" Sahut Leira.
Beberapa bagian tubuh Bima di periksa oleh dokter. Semuanya nampak normal, tapi tiba tiba..
" Dok, kenapa kaki saya sulit di gerakkan? Bahkan sepertinya nggak ada rasa."
" Apa???" Pekik Leira khawatir. " Dokter cepat periksa bagian kakinya." Ucap Leira.
Dokter segera memeriksa kaki Bima.
" Bagaimana tuan Bima? Apa anda merasakan sentuhan?" Tanya dokter menekan nekan kaki Bima.
" Tidak terasa apa apa dok."
Deg...
Leira sangat khawatir akan hal ini. Ia takut Bima mengalami kelumpuhan.
" Sepertinya benturan demi benturan yang di alami oleh tuan Bima membuat syaraf kaki tuan Bima tidak bekerja nona. Dengan berat hati saya mengatakan, tuan Bima mengalami kelumpuhan."
" Tidak. Ini tidak boleh terjadi." Ucap Leira. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus mengurus Bima seumur hidupnya.
" Aku ingin tahu apakah kamu benar benar lumpuh atau hanya pura pura." Tiba tiba Leira mencubit paha Bima dengan keras, ia menatap Bima berharap Bima meringis kesakitan, namun rupanya tidak. Wajah Bima nampak biasa biasa saja.
Leira pindah ke bawah paha, ia mencubitnya lebih keras namun tidak ada reaksi apa apa dari Bima.
" Ya Tuhan, mengapa bisa begini?" Gumam Leira.
" Ada rekomendasi dokter syaraf terbaik di rumah sakit ini nona. Mungkin dengan beberapa kali therapi, kaki tuan Bima bisa segera pulih." Ucap dokter..
" Lakukan yang terbaik untuknya dok, jangan sampai kakinya tidak berfungsi terlalu lama." Ucap Leira.
" Baik, kami permisi dulu."
" Terima kasih."
Dokter dan perawat tadi meninggalkan ruangan Bima. Leira duduk dengan lesu.
" Kenapa? Kamu tidak suka dengan kondisiku saat ini?" Leira bungkam.
" Kalau kau tidak suka, kau bisa pergi sekarang juga. Aku yang normal saja tidak pantas untukmu apalagi aku yang cacat seperti ini. Sepertinya semua orang tidak akan menginginkan aku lagi."
Nyesss...
Ucapan Bima membuat hati Leira mencelos.
" Jangan katakan seperti itu!.. "
" Kenapa? Memang benar adanya bukan? Kau pasti semakin membenci aku dan semakin ingin pergi jauh dariku. Tidak apa apa, aku memang tidak punya kesempatan itu. Mungkin ini sudah takdir Leira, aku akan mengurus surat cerai kita secepatnya." Ucap Bima.
" Aku tidak mau."
TBC...