NovelToon NovelToon
CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: intan_fa

Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyalahkan Mahen

Dengan marah Ilham menarik kerah baju Mahen lalu memukulnya sampai tersungkur ke lantai. Tentu itu membuat Suci terkejut dan menghentikan Ilham yang hendak memukul Mahen lagi.

"Papa ... Hentikan. Jangan pukul lagi!"

Mahen bangkit seraya memegangi pipinya yang memerah. Ia sadar akan kesalahannya dan pantas mendapatkan itu.

"Kau ... Bagaimana Naya bisa sampai seperti ini? Ternyata kau tidak sebaik yang terlihat, kau bawa pengaruh buruk untuk Naya sampai dia seperti ini!" cerca Ilham menggebu.

"Pa, tenang dulu jangan emosi ..." Suci menenangkannya.

"Maaf, om ... Bukan seperti itu." Mahen mencoba membela diri.

"Kau membawa pengaruh buruk pada Naya!"

"Bukan begitu om."

"Lalu bagaimana? Baru kali ini Naya pulang dalam keadaan seperti ini. Setelah kenal dan dekat denganmu! Mau mengelak apa lagi?" sentak Ilham semakin menggebu.

Akan percuma jika Mahen menjelaskan yang sebenarnya dan itu hanya akan menambah masalah untuk Naya setelah sadar nanti.

"Dari awal Naya mengenalkanmu, saya sudah tidak setuju apalagi kau dan Naya sangat berbeda di tambah dengan kelakuanmu yang membawa Naya pada hal yang tidak benar. Saya harap setelah ini kalian putus saja dan jangan pernah temui Naya lagi!" tutur Ilham.

"Papa ... Jangan ambil keputusan sendiri. Pikirkan perasaan Naya ..." bujuk Suci.

Sementara Mahen bingung harus bicara apa. Mengatakan siapa dirinya sebenarnya pun tidak akan ada gunanya!

Ilham menatap Suci dan Mahen bergantian. "Ini sudah keputusan yang paling baik, Ma."

Suci tidak bisa mengganggu gugat keputusan suaminya itu.

"Aghhhh kenapa ribut-ribut sih, aku ngantuukkkk ..." Naya mengigau.

"Ma, pindahkan Naya ke kamarnya. Papa akan bicara dulu dengan Mahen," titah Ilham.

Suci menurut dan membawa Naya ke kamarnya. Sementara Mahen hanya menatap kepergian Naya seraya berpikir bagaimana kali ini menyelamatkan diri, apa yang harus ia katakan?

"Mahen, tanpa mengurangi rasa hormat, saya tegaskan sekali lagi padamu. Tolong jauhi Naya dan kalian berdua putus! Dari segi apapun saya tidak setuju jika Naya berpacaran denganmu apalagi sampai menikah. Kalau kau mau yang terbaik untuk Naya, maka turutilah kata-kata saya," pinta Ilham tegas.

Untuk sementara, Mahen berpikir untuk mengiyakan keinginan Ilham itu. Untuk setelah malam ini, bisa di bicarakan besok dengan Naya.

"Apa yang kau mau untuk meninggalkan Naya?"

Mahen menatap Ilham dengan lekat seraya menggelengkan kepalanya pelan.

"Bukannya salah satu tujuanmu memacari Naya untuk uang, kan? Untuk menaikkan derajatmu? di lihat usiamu masih di bawah Naya. Katakan mau berapa?" Ilham menawari.

"Tidak om. Saya tidak ada tujuan menginginkan uang Naya. Sama sekali tidak, om salah menilai saya. Om tidak perlu repot mengeluarkan uang, saya akan menjauhi Naya ..." jawab Mahen asal supaya bisa segera lepas dari cercaannya.

"Baiklah ... Silakan pergi, saya mau istirahat!" usir Ilham tegas.

Mahen pamit dengan sopan. Meninggalkan rumah Naya dengan rasa bersalahnya, pasti setelah ini Naya akan mendapatkan masalah.

"Kenapa juga aku malah membawanya pulang ke rumah dalam keadaan seperti itu? Pasti dia sama temannya, kenapa gak kepikiran untuk mencari temannya? Bodoh sekali diriku ini!" Mahen merutuki dirinya sendiri.

Saat sudah keluar dari gerbang rumah Naya, Mahen baru kepikiran akan kembali ke club itu bagaimana?

"Yaelah ... Sampe lupa kalau aku kemari pakai mobil Naya! Terpaksa aku harus pesan taksi online." mengeluarkan ponselnya dan mencari taksi online, akan tetapi ia kesulitan mendapatkannya sehingga terpaksa untuk berjalan sampai ke jalan besar.

Ia kembali ke club dan Rio masih menunggunya.

"Kau lama sekali!" sambut Rio.

"Ah itu tadi nganterin temen dulu," jawab Mahen.

"Aghhh itu pacarmu, ya?" goda Rio.

"Ya deket doang! Ada apa mengajakku bertemu tiba-tiba seperti ini?" tanya Mahen.

Rio memberikan sebuah kartu pada Mahen. "Di kartu itu ada uang dua miliar. Aku bayar hutang padamu," jelasnya.

"Wah udah sukses besar nih bisnisnya?"

"Ya lumayanlah. Semua berkat bantuanmu," ujar Rio.

"Sudah, simpan saja uang itu atau kamu bisa pakai untuk modal usahamu lagi." tolak Mahen.

"Ah aku jadi tidak enak. Baiklah kalau itu maumu, kalau kau butuh katakan saja padaku," ujar Rio.

Mereka bersulang dan menikmati malam yang semakin larut dan dingin itu sembari berbincang-bincang.

Tidak lama kemudian, Mahen melihat Lusia dan ia ingat kalau itu adalah teman Naya. Lalu bergegas menghampirinya.

"Hallo mbak ... Temennya Naya, ya?" tanyanya.

"Kau yang waktu itu, kan?" tebak Lusia.

Mahen mengangguk. "Mbak cari Naya? Itu, aku sudah mengantarkannya pulang, tapi ada masalah. Papanya marah besar ..." ungkap Mahen.

"Astagaaa ... Kenapa kamu mengantarkannya ke rumah dalam keadaan seperti itu? Ah elah ... Naya dalam masalah ini. Kenapa kau tidak mencariku? ..." ujar Lusia.

"Maaf aku lupa. Soalnya tadi dia sendirian, aku pikir memang sendiri makanya aku antarkan dia pulang," jelas Mahen.

Lusia tidak bisa menyalahkan Mahen, itu adalah kesalahannya karena meninggalkan Naya dalam keadaan mabuk sendirian.

"Hmmm baiklah ... Terima kasih banyak ya, biar aku temui Naya besok ...."

"Semoga semuanya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi!" Mahen berlalu pergi dan berpamitan pada Rio untuk pulang.

Keesokan harinya ....

Naya terbangun seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kemudian melihat sekitar dan ia sadar kalau sudah berada di kamarnya sendiri.

"Kenapa aku sudah ada di kamarku? Apa aku pulang dalam keadaan mabuk? Mampus! Habislah aku!" gerutu Naya.

Ia ingat kalau semalam bertemu dengan Mahen, tapi selebihnya ia tidak mengingat apa-apa lagi.

"Apa Mahen yang mengantarkanku pulang?" gumamnya.

Baru saja hendak beranjak dari tempat tidur, Suci menghampirinya. "Kau sudah bangun? Sana mandilah dan segera turun, sarapan sudah siap."

"Mmmm ... Aku semalam pulang bersama siapa?" tanya Naya ragu-ragu.

"Kamu ini sudah membuat papa marah besar sampai memukul Mahen. Kenapa kamu bisa sampai mabuk seperti itu?" ujar Suci.

"Mahen? Ya ampun Ma ... A–aku ke ulang tahun Lusia semalam dan—"

"Sudah sana mandi dulu. Papa menunggu di meja makan ..." titah Suci lalu keluar dari kamarnya.

"Mampus! Papa pasti ngamuk nih."

1
Kaira
sejauh ini sih seru
Kaira
Harus jodoh Naya sama Mahen dong
Aruna
Naya cocoklah sama Mahen
Intan Diamond: penasaran, kan???
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!