NovelToon NovelToon
AKU TALAK SUAMI-MU!

AKU TALAK SUAMI-MU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Bepergian untuk menjadi kaya / Suami Tak Berguna
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Meidame

"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.

*

Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.

Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.

Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"

Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB

• Mengalah demi kebahagiaan Mama

Di dalam rumah sakit Linda terbangun dengan bagian dadanya yang sesak akibat asam lambungnya kumat. Matanya kunang-kunang menatap plafon berwarna putih di atasnya. Teringat akan suaminya yang tengah di tahan di kantor polisi. Hati Linda sesak mengingat alasan suaminya bisa berada di tempat yang buruk itu.

Rasa amarah Linda membuat lambungnya ikut mengamuk. Linda benci pada anak dari mantan suaminya itu.

"Eh ternyata Mamanya Mira sudah siuman ya, Alhamdulillah." Suara Yuni membuat Linda membuyarkan lamunannya. Dengan terpaksa Linda menyunggingkan seulas senyuman tipis dengan bibirnya yang pucat.

"Maaf ya Yuni, saya sepertinya udah merepotkan kamu."Linda mencoba untuk bangun dan menyadarkan punggungnya di bantal. Di bantu oleh Yuni yang sedari tadi tak hentinya menyunggingkan senyuman lebar.

Alis Linda bertaut tak paham dengan ekspresi wajah tetangganya itu. Bukankah Linda sedang sakit, rasanya tidak pantas untuk di berikan senyuman sumringah seperti itu. "Kamu ini kenapa sih Yun? Saya ini lagi sakit, harusnya kamu kasian sama saya. Bukan malah senyum-senyum gajelas begitu. Apa kamu seneng ya liat saya sakit?!"

"Haduh Mamanya Mira kok nge-gas gitu sih sama saya. Inget Mam, asam lambung itu bisa kumat juga karena gampang emosian dan banyak pikiran lhoo! Anak Mama Mira kan dua-duanya sudah gadis dan sebentar lagi bakalan punya menantu. Bagusnya Mama Mira kurang-kurangi deh emosinya." Ujar Yuni sambil tetap memasang ekspresi senang dan santai. Seolah teguran Linda hanya angin lewat tanpa arti. Lagian, di kamus Yuni, orang yang sudah tua itu terlalu merasa dirinya benar karena sudah hidup lebih lama dan lebih dahulu dari pada yang muda. Padahal kedewasaan dan kelapangan hidup itu bisa datang dari berbagai usia. Lagi pula jaman sekarang itu sudah modern dan seharusnya berpola pikir lebih luas dan bebas.

Berbeda dengan pikiran Yuni, Linda justru malah semakin mengomel di dalam benaknya. Jika bukan karena Yuni sudah menolongnya mungkin saat ini Linda akan melampiaskan seluruh amarahnya pada tetangganya ini.

"Kamu sudah menghubungi Mira buat ke sini Yun? Ohiya tagihan rumah sakitnya kamu kirim saja nomor rekening ke Mira ya. Nanti anakku yang ganti uangmu."

"Mira gabisa di hubungi Mam, terus juga suami Mam juga gabisa tuh aku hubungi. Jadi aku hubungi Adira aja. Dia juga udah ganti uang aku, tuh lagi kedepan sekalian beliin aku bakmie sama pacarnya." Ekspresi wajah Linda seketika berubah semakin masam kala mendengar nama anak keduanya di sebut. Apalagi saat Yuni bilang jika Adira sudah mengganti uangnya, secara tidak langsung harga diri Linda merasa tercoreng. Karena dia merasa semua ini terjadi karena ulah Adira. Untuk apa anak itu berlagak baik? Jika memang ingin menjadi baik, apa salahnya dia melepaskan Angga, dan tidak berbuat ulah yang memalukan ini. Rasanya bukan hanya asam lambung saja yang Linda derita, tapi juga kepalanya seperti akan meledak.

Sementara itu Yuni yang kurang peka atas perubahan raut wajah Linda terus melanjutkan ucapannya. "Calonnya Adira ganteng ya Mam. Kulitnya coklat tapi bersih, macho bangett, berisi dan berotot. Wahhh Adira pinter deh cari lelaki yang kuat. Dulu ya Mam, pas aku masih gadis, pernah pacaran sama lelaki yang seperti itu. Uhh kekuatannya di ranjang gabisa di lupain. Beda sama suami aku, ganteng sih putih, tapi letoy Mam."

Linda mencoba tertawa kecil menanggapi cerita Yuni yang terlalu over sharing. "Memangnya warna kulit pengaruh sama hal itu? Hidup ini butuhnya kenyamanan Yun."

"Mam janga salah, kepuasan di ranjang juga termasuk sebuah kenyamanan lhoo. Dilihat-lihat nih Mom pacar Adira itu cinta sama dia, betapa beruntungnya Adira di cintai, di nikahi, terus puas juga di ranjangkan." Entah kenapa Yuni terus saja mengoceh tentang masalah ranjang."Tadi aku ikutin mereka Mam kedepan tuh, gentle banget itu pacarnya Adira. Sigap banget. Beruntung deh dia."

Mendengar pujian itu membuat Linda mual. "Kulit begitu kamu puja-puji banget sih Yun. Enek saya dengernya. Lihat tuh Mira deketnya sama Rain. Ganteng, keturunan tionghoa sama kayak suami saya."

"Lho bukannya Pak Angga itu Indonesia asli ya Mam?" Setahu Yuni wajah Angga Indonesia tulen. Kulitnya pun tidak putih, matanya juga tidak sipit.

"Kakek suami saya itu tionghoa asli, lalu ibu mertua saya menikah sama orang Sumatra. Jadilah suami saya wajahnya mix." Linda seketika lupa dengan rasa perih di perutnya. Dia ingin membanggakan suaminya. "Makanya tuh selera Mira sama bagusnya seperti saya, elite. Bukan Adira yang suka sama lelaki yang macam kuli bangunan."

Yuni mengangguk canggung saat Linda mengatakan hal tersebut. "Hm.. Iya Mam, tapi itukan selera masing-masing ya."

"Selera sih wajar, tapi kalo di kasih berlian lebih pilih titanium namanya bodoh!"

Yuni meneguk salivanya berat. Matanya menatap ke arah depan hordeng. Disana berdiri Adira dan Yovan yang terdiam mendengar perkataan Linda. "I-iya Mam.."

"Yuni saya mau minta tolong, kalau anak yang kamu sebut tadi datang kemari suruh aja pergi ya. Saya udah putus hubungan sama dia. Biarin aja dia hidup sama lelaki kuli itu. Asal kamu tau ya Yun, anak itu sudah memfitnah suami saya. Dan masukin suami saya ke penjara! Anak gatau diri. Kalau bukan karena dulu suami saya nyuruh buat besarin dia, sudah pasti anak itu saya buang. Eh sekarang terbukti, dia gatau di untung! Menghancurkan kebahagiaan saya." Cerocos Linda tanpa ingin menjeda ucapannya. Dia ingin meluapkan semua kekesalannya. Tidak peduli jika nanti cerita ini akan di sebar luaskan oleh Yuni ke pada semua tetangga lain. Lagi pula Adira sudah bukan anaknya lagi.

Yuni ingin menyela, tetapi Linda sama sekali tak membiarkan hal itu terjadi. Sedangkan di balik hordeng itu Adira diam dan mengisyaratkan agar Yuni terus membiarkan Linda bicara.

"Dari saya masih muda, saya di paksa buat menikah sama Papa kandung anak itu karena dia menghamili saya dengan paksa. Kamu tau Yun? Saya di jebak oleh lelaki brengsek itu saat sedang kembali ke kampung halaman karena libur semester. Hingga akhirnya terpaksa menikah. Sampai akhirnya anak itu lahir. Saya sudah meminta cerai. Tapi dia terus saja bersikeras untuk tetap bersama. Padahal sejak awal dia tau saya sudah memiliki kekasih. Semua kebahagiaan saya di hancurkan oleh kehadiran anak itu. Tetapi dengan kasih sayang, Mas Angga meminta saya untuk memberikan kasih sayang terhadapnya. Dan terus menjadi ibu yang baik. Sekarang semuanya sia-sia, dia malah memfitnah suami saya dan menuntutnya. Membuat keluarga kami malu."

Air mata Adira jatuh tanpa aba-aba. Kebenaran ini begitu menyakitkan.

"Kalau begitu kenapa Papa kandung Adira pergi Mam?" tanya Yuni ragu tetapi dia terlalu ingin tahu.

"Dia akhirnya menalak saya lalu pergi entah kemana." Linda tersenyum getir, "Bahkan dia yang menjebak saya dengan menghadirkan anak itu, darah dagingnya pun pergi tanpa memikirkan nasibnya."

1
Ichigo Kurosaki
Kece abis!
Bé Chun
Nggak bisa berhenti.
Dálvaca
Wow, bikin terhanyut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!