Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A DAY TO CHERISH
Semalam Karel ceroboh, tidak seharusnya ia menjawab pertanyaan atau sapaan itu. Andai saja bisa di ulang, kayaknya dia gak bakalan kena masalah. Untung pas itu Luz dateng dengan muka bantal, ia sangat berterima kasih karna bisa selamat.
Pagi itu, Bali menyambut dengan cahaya keemasan yang perlahan menari di atas permukaan laut.
Karel duduk di balkon hotel mereka, menikmati secangkir teh hangat yang menghangatkan tubuhnya setelah udara pagi yang masih sejuk. Matanya terpejam sebentar, meresapi ketenangan pagi yang hanya bisa ditemukan di tempat seperti ini.
Suasana Bali yang damai, suara ombak yang berdebur pelan di kejauhan, seolah mengajak Karel untuk tenggelam dalam kedamaian yang jarang ia rasakan di rutinitas sehari-hari.
Sementara itu, di pantai yang tidak jauh dari penginapan, Luz sudah memulai harinya.
Meski langit masih gelap, dia telah meminta di bangunkan untuk menikmati saat-saat menjelang fajar.
Dengan langkah ringan, dia berjalan menuju pesisir, merasakan pasir halus di bawah kakinya dan angin laut yang menyapu wajahnya.
Luz suka sekali dengan pantai. Entah apa yang membuatnya merasa begitu bebas, begitu hidup. Mungkin karena pantai selalu menawarkan ruang untuk menjadi diri sendiri, jauh dari kebisingan dan kerumunan. Ia terlihat mengeluarkan ponselnya, mulai memotret sunrise yang mulai muncul, menambah koleksi foto aesthetic buat ngasih makan akun instagram-nya.
Satu gambar lagi, dan satu lagi, seolah setiap momen harus tertangkap dengan sempurna.
Sementara itu, Karel yang masih terbaring di kursi panjang balkon, hanya mengamati dari kejauhan. Ia tertawa pelan, membayangkan betapa cermatnya Luz dalam setiap gerakannya.
Jika saja ia bisa merasakan apa yang dirasakan Luz, mungkin hidup ini akan lebih ceria. Namun, itu tidak ada dalam dirinya.
Karel bukan tipe orang yang mudah tergoda, meski tampaknya Luz punya daya tarik tersendiri.
Karel pun rebahan di kursi panjang, jika saja dirinya adalah orang normal yang punya nafsu ke perempuan, akan di pastikan Luz pagi ini sudah menangis meminta ampun. Ia tertawa membayangkannya, cewek seliar dia meminta ampun, pasti lucu.
Kadang Karel juga takut sih di pegang-pegang kayak gitu. Kayak apaan sih, cowok mahal di gituin. Karel jadi ketawa sendiri memikirkannya.
Karel berpikir sejenak. Di sini, di Bali, semua terasa lebih sederhana, lebih tenang.
Mungkin, inilah yang dibutuhkan setiap orang waktu untuk merenung, untuk hanya ada di saat ini, tanpa beban pikiran yang berat.
Dan mungkin, hari ini adalah kesempatan mereka untuk menikmati kebersamaan, sejenak melupakan apa yang terjadi di luar sana.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Karel berdiri dan melangkah menuju pantai, bergabung dengan Luz yang sudah menunggu.
Hari itu, mereka akan melakukan hal sederhana tapi berarti. Mengikuti kelas yoga bersama, menyelaraskan tubuh dan pikiran di tengah kedamaian. Terlihat Luz berlari kecil ia melambaikan tangan dan berteriak. “Nanti temenin yoga ya!”
Karel mengacungkan jempolnya. “Aman.”
Luz melihat langit, ia merasakan perutnya bergerak. Kakinya menendang sampai terlihat jelas. Itu tandanya dia beneran ada hidup dan kakinya sudah terbentuk dengan baik.
“Mungkin mama gak bisa kasih dunia yang sempurna, tapi kamu pasti bahagia.”
--✿✿✿--
Kini mereka duduk di atas rumput, mengikuti arahan senam yoga. Luz mengatur nafasnya, hingga keringat kebugaran bercucuran.
Selesai yoga, Luz berjalan memeluk botol minum. Kerap kali ia mengganggu langkah Karel, seperti menyenggol tangannya.
“Kenapa sih bengong mulu, apa yang di pikirin? Mau balik pasti, kangen ayang hahaha.”
“Woi sembarangan!”
Luz tertawa terbahak-bahak. Ia mendorong pintu kamar dan bertanya siapa yang mau mandi duluan. “Lo aja deh, gue mandinya lama. Abis ini jalan-jalan ke Pura ya?”
“Lo aja dulu.”
Akhirnya mereka saling dorong dan finish nya Karel duluan yang mandi. Beneran canggung, mana Luz malah duduk sambil cengar-cengir liatin.
“Jangan ngintip awas ya!” Karel memeluk tubuhnya yang dingin.
Luz ketawa. “Gue kagak ngintip ye, gue emang liat. Mandi mah mandi aja, santai, bakalan gue video paling.”
Mata Karel melotot ia gak jadi nyalain shower. “Benar-benar ya lo!” Saking keselnya, ia keluar, nyari tali buat ngiket tangan Luz. Sekalian matanya di tutupin.
“Woi gamau gue! Gue mau di apain ini Karel sing eling!” Luz memberontak. Ia berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan di atas. “Oke gue gak akan macam-macam mau nyetel TV aja. Gih sana.”
“Bener ya? Kalo engga, gue mending mandi di kamar lain.” Karel menunjuk Luz sambil berjalan mundur.
Luz mengangguk, wajahnya keliatan serius padahal boong. Ia awalnya emang fokus ke televisi, lama-lama mulai liatin Karel mandi.
Gak tau kenapa suka aja isengin dia. Mulailah dirinya nyalain kamera, taro di tempat yang dia gak liat. Ya buat koleksi buat nakut-nakutin dia aja, bercanda dikit. Tapi aman, gak bakalan di sebar paling di simpen sebagai tanda bukti dirinya emang bininya.
“Speechless sih, punya dia gede banget,” gumam Luz yang terus melihat ke titik itu.
Karel lagi gosok rambutnya pake shampo.
Kadang ia berandai-andai kalau Karel normal, ia bisa di ajak berhubungan badan mulu kali.
Luz menutup wajahnya malu. Ia menggedor kepalanya juga saking sebleng nya. “Lo mikir apa sih hah? Dasar otak anjir.”
Masih penasaran, Luz noleh lagi dimana Karel sedang membersihkan alat vitalnya. Ludah Luz kerasa hambar, ia tidak kicep beberapa saat. Rasanya gatal ingin melakukan hal yang sama ke dia. “Gak mungkin kan gue s*nge sama dia sekarang?”
Luz mengerjakan matanya. Tangannya udah di jepit di antara kedua kaki. Jantungnya makin berdebar kencang. Berusaha menepis pikiran kotornya, tapi yang ada lib*do nya makin naik sampai terasa basah.
Gobloknya Luz malah spontan gerakin telunjuknya sampe hasratnya menggebu secara mendadak. Tangannya mencari handphone, membuka file video. “Cuman ini yang bisa gue lakuin, nonton bok*p.”
Nafasnya makin tersengal-sengal tangannya mulai bergetar tak karuan. Luz memencet salah satu file dan video terputar. Ia melirik Karel yang masih mandi. “Please oh my God!”
Luz mast*rbasi di kasur, karna tak tahan. Karel dateng awalnya kaget, tapi bodo amat.
Luz juga fokus sekali menonton film sambil melebarkan kedua kakinya. Dan itu kali pertama, Karel melihat secara jelas.
Karel juga terlihat tak peduli dan biasa saja ngeringin rambut sambil nyari baju. “Lain kali kalo mau c*lm*k di WC, gue gak nyaman liatnya. Kerjaan lo gitu mulu ya pas sendiri?”
“Iya.”
“Berapa kali?”
“Tiap hari, otak gue mesum mulu tiap liat lo sialan.”
Karel menggelengkan kepala. Ngeri liatnya. Apalagi saat jari Luz keluar masuk dengan cepat di sertai lenguhan. “Hadeh.”
“Merem woi merem. Jangan di liat.”
“Gue punya mata lagian kasian banget lu main sama jari.” Karel berjongkok mengambil pakaian.
“Iya njir abisnya titit lo gak berfungsi.”
Luz bukan selera Karel. Awalnya juga Luz tidak suka, tapi tubuh dia idaman Luz. Meskipun dia big boy tapi belok.
Luz pernah mikir kalo dia sange gimana, kan dia gak bisa berdiri? Ternyata sekarang beneran dia sendiri yang ke siksa.
“Enak aja, gue bisa berdiri.” Karel menyentak kesal, mengingat ia pernah di kissing bahkan hampir di p*rkosa sama bininya karna ga tahan gak di belai.
“Coba sini pinjem.”
Karel menoleh sambil memakai kaos. “Paan?”
“K***ol lo, atau liatin doang gapapa. Gue gak tahan bantuin!”
Karel bergidik ngeri. “Najis.”
“Punya gue bersih kok, udah di cukur. Gak lebat kayak hutan rimba.”
“Gak ada, gak akan pernah.”
Luz merem melek menahannya. “Kalo bisa gesek doang gapapa please help me. Karel....” Ia terus merengek dan Karel gak peduliin.
“Kagak.”
“Ah lemah.”
“Gue bisa berdiri tapi sama lo gak nafsu.”
“Iyakan lo suka yang panjang juga. Tapi berenti dong belok, cobain deh jeruk. Masa timun makan timun terus.”
Karel melotot kaget. “Shit, semalem lo gak genjot gue kan?”
Luz menggeleng, menggigit bibir bawahnya. Meremas dadanya sendiri dengan kuat. Pakaiannya juga sudah acak-acakan. Ia memainkan fantasinya yang liar tentang Karel.
Usai meletakkan barang dan meletakkan handuk. Karel menoleh dan auto mengumpat. “Anjing lo squirt depan gue, gak malu?!!”
“Sorry, tapi gue gak tahan.” Luz mencekram sprei dan wajahnya membuat Karel merinding.
Karel gak kepikiran, kalau cewek yang dia nikahin itu cewek hyper. Pas beneran gak tahan dia udah segila itu di depannya.
Kayaknya nanti, lebih baik tidur pisah ranjang kalo bisa pisah rumah. Ngeri kalo sampe dia beneran maksa. “Bersihin tuh lantai, lu sih.”
Lutut Luz lemas, ia memejamkan matanya merasa lega.
--✿✿✿--
Mereka sekarang memutuskan untuk mengunjungi sebuah Pura. Mengenakan pakaian adat Bali, dengan Luz mengenakan kebaya putih yang sederhana namun anggun. Kebaya tersebut terbuat dari kain brokat yang ringan, dengan bordir halus di bagian lengan dan pinggang. Di bawah kebaya, ia mengenakan kain songket Bali yang berwarna cerah, dengan motif khas Bali yang menambah kesan elegan namun tetap nyaman. Rambutnya yang terikat rapi dengan bunga melati di sisi telinga menambah kesan feminin yang sederhana namun cantik.
Karel juga mengenakan pakaian adat Bali, dengan kain sarung yang terikat rapi di pinggang dan udeng yang melingkar di kepalanya. Meskipun tidak seanggun kebaya, penampilannya tetap menunjukkan rasa hormat terhadap budaya Bali yang sangat kental.
Mereka berdua berjalan dengan langkah hati-hati, menikmati setiap detik yang penuh makna. Suasana sekitar sangat tenang, dikelilingi oleh pepohonan hijau dan udara segar yang mengalir dari laut. Saat tiba di Pura, mereka disambut dengan suasana sakral, di mana wangi dupa yang harum memenuhi udara menyatu dengan suara ombak yang menghantam batu karang.
Meskipun mereka datang bukan untuk beribadah, mereka tetap menunjukkan rasa hormat yang tinggi dengan mengikuti langkah-langkah sederhana yang ada di pura. Luz dan Karel mengangkat tangan mereka, mengikuti ritual sembahyang, seakan berhubungan langsung dengan kedamaian yang ada di sekitar mereka.
Seusai itu mereka hanya duduk di salah satu sisi pura, mengamati orang-orang yang sedang berdoa, sementara angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Ada sesuatu yang menenangkan tentang toleransi—mereka tidak perlu percaya atau mengikuti segala hal yang ada, tapi cukup untuk memberi ruang bagi perbedaan, menghargai kepercayaan orang lain.
Luz dan Karel berbicara sedikit tentang berbagai hal selama mereka duduk, namun lebih banyak menghabiskan waktu dalam keheningan.
Mereka tahu bahwa tidak ada yang harus dipaksakan, hanya ada kedamaian dalam kebersamaan, apapun bentuk dan keyakinan yang mereka pegang.
Setelah melihat Luz mast*rbasi tadi, Karel cukup menjaga jarak.
Sehingga Luz berpikir dia memang beneran tidak tertarik malah balik takut. “Kenapa sih?”
Karel menjauh. “Gapapa.”
“Lupain yang tadi, gue minta maaf. Karna itu bikin lo risih. Tapi gue harap lo juga ngerti.”
Karel menoleh. “Sendiri aja, gausah libatin gue gamau.”
“Gak janji.”
Disana mereka juga melakukan foto maternity, untuk kenang-kenangan nanti. Setelah dari Pura, akan makan siang di rumah makan tradisional.
...--To Be Continued--
...