Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Respect
Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur, memancarkan cahaya hangat yang menembus jendela kamar Acha. Gadis itu baru saja selesai merapikan diri setelah bangun tidur, ketika ponsel di atas nakas berdering nyaring menampilkan panggilan video dari Nathan.
Acha segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. Begitu layar terhubung, wajah Nathan langsung menyapa dengan senyuman cerah, meskipun ada sedikit peluh di dahi pria itu.
"Pagi, Sayang! Wah, udah bangun ya? Gimana badannya hari ini? Udah agak enakan kan?" sapa Nathan bertubi-tubi dengan nada penuh semangat, khas pria yang sedang dilanda kasmaran.
Acha tersenyum simpul, merasa gemas sekaligus senang melihat energi pagi kekasihnya itu.
"Pagi juga, A. Iya, badan aku udah jauh lebih enak kok, nggak terlalu lemas kayak kemarin. Aa sendiri udah mulai sibuk ya?"
"Udah dong! Harus gercep cari cuan biar bisa cepet halalin kamu," jawab Nathan diiringi tawa renyah.
Kamera ponsel Nathan kemudian bergeser, memperlihatkan suasana di dalam ruangan kerja terbuka di rumahnya.
Di sana, tampak dua orang karyawan Nathan sedang sibuk merapikan hasil cetakan sablon tatak sandal di atas meja panjang.
Aroma cat sablon khas dan suara alat cetak yang ditekan berirama terdengar bersahut-sahutan di latar belakang.
"Nih, lihat, aku lagi nemenin anak-anak kerja sekalian ikut turun tangan nyablon pesanan hari ini," cerita Nathan sambil mengarahkan kameranya ke arah tumpukan tatak sandal karet yang beraneka warna.
"Biar kerjanya cepat selesai, jadi nanti siang atau sorean aku bisa langsung tancap gas main ke rumah kamu lagi."
Melihat keseriusan dan kerja keras Nathan di pagi hari ini, hati Acha menghangat.
Bayangan mimpi semalam tentang almarhumah ibunda Nathan kembali berkelebat di benaknya, membuat Acha menatap layar ponsel itu dengan binar mata yang sarat akan kekaguman dan rasa sayang yang semakin dalam.
Melihat keseriusan Nathan bekerja di seberang layar, hati Acha perlahan diselimuti rasa haru.
Bayangan mimpi semalam yang masih membekas di kepalanya membuat dia terdiam sejenak, meresapi setiap detik kebersamaan virtual mereka pagi ini.
Nathan yang menyadari Acha tiba-tiba terdiam langsung menghentikan aktivitasnya sebentar. Dia mendekatkan wajahnya ke layar ponsel dengan ekspresi khawatir.
"Lho, Acha? Kok malah melamun? Ada yang masih sakit, Sayang? Badan kamu masih lemas ya?" tanya Nathan beruntun, nada suaranya berubah cemas.
Acha tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng pelan sambil mencoba tersenyum, meski sorot matanya menyiratkan kebingungan sekaligus rasa emosional yang mendalam.
"Eh, nggak... nggak apa-apa kok, A. Aku cuma lagi mikirin sesuatu," jawab Acha dengan suara agak bergetar.
"Mikirin apa? Cerita sama aku, dong. Jangan bikin aku panik dari jauh begini," bujuk Nathan lembut, menghentikan total pekerjaannya dan fokus sepenuhnya menatap layar ponsel.
Acha menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Nathan lekat-lekat melalui layar. "Aa... semalam aku sempat tidur pulas banget karena efek obat. Tapi, aku... aku mimpi aneh sekaligus mengharukan banget."
Nathan mengangkat sebelah alisnya, menyimak dengan penuh perhatian. "Mimpi apa, Cha?"
"Aku mimpi ketemu sama seorang ibu paruh baya... Beliau pakai baju serba putih, wajahnya teduh banget," cerita Acha dengan nada hati-hati.
"Di dalam mimpi itu, beliau bilang kalau beliau adalah... bundanya aa. Almarhumah Tante Siska."
Seketika itu juga, tangan Nathan yang tadinya memegang ponsel tampak menegang. Suasana di ruang kerja sablonnya mendadak terasa senyap bagi Nathan.
Nama sang bunda yang sangat dia rindukan tiba-tiba disebut oleh Acha—seseorang yang bahkan belum pernah melihat atau mengenal almarhumah semasa hidupnya.
"Bu... Bunda?" gumam Nathan pelan, suara pria itu mendadak tercekat di tenggorokan.
Acha mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Iya, a... Beliau datang ke aku di dalam mimpi. Dan aa tahu apa pesan beliau?"
Nathan menelan ludahnya susah payah, menatap Acha dengan debaran jantung yang tiba-tiba bergemuruh kencang.
"Apa, Cha? Apa kata Beliau?"
"Beliau nitipin aa sama aku, a," lirih Acha dengan air mata yang hampir tumpah.
"Beliau minta tolong supaya aku jaga aa dengan baik, sayangi aa, dan temani aa... karena kata almarhumah, selama ini aa sering merasa kesepian sendirian di dalam menjalani hidup aa."
Mendengar kalimat terakhir dari Acha, pertahanan diri Nathan seketika runtuh. Pria yang dikenal tangguh, mandiri, dan selalu bekerja keras itu langsung terdiam kaku.
Air mata hangat tanpa sadar menetes lolos dari sudut matanya, membasahi pipinya yang terkena peluh kerja.
Pesan itu begitu tepat, begitu menghunjam relung hatinya yang paling dalam—mengingat betapa selama ini dia memang kerap merasa sepi dan berjuang seorang diri sepeninggal kedua orang tuanya.
Di seberang layar, Acha dan Nathan sama-sama terdiam dalam haru yang teramat sangat, merasakan ikatan batin yang tak kasat mata namun begitu nyata menghubungkan mereka bertiga Acha, Nathan, dan almarhumah Siska.
Air mata yang menetes di pipi Nathan perlahan berubah menjadi sebuah senyuman—senyuman tulus yang begitu hangat, sarat akan kelegaan dan rasa haru yang teramat dalam.
Pria itu menarik napas panjang, berusaha meredakan getaran di dadanya akibat cerita Acha yang begitu menghunjam relung hatinya.
Bagi Nathan, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur biasa. Itu adalah pertanda besar, sebuah restu tak kasat mata dari sosok yang paling ia cintai dan rindukan di dunia ini: almarhumah bundanya.
"Cha..." suara Nathan terdengar serak, namun penuh kehangatan saat dia kembali menatap layar ponselnya lekat-lekat.
"Iya, a?" jawab Acha dengan suara lembut, air matanya kini ikut menetes, tersentuh melihat reaksi kekasihnya.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan, sementara binar kebahagiaan tampak jelas terpancar di kedua matanya.
"Aku terharu banget dengar cerita kamu... Sumpah, aku merinding."
Nathan mengusap sudut matanya yang basah dengan punggung tangan, lalu melanjutkan dengan senyuman lebar yang tulus.
"Kamu tahu, Cha? Kalau sampai almarhumah Bunda datang ke mimpi kamu dan nitipin aku... itu artinya, Bunda di sana sangat menyetujui kamu. Bunda tahu kalau kamu adalah wanita yang tepat buat aku, wanita tulus yang dikirim Tuhan buat nemenin sisa hidup aku."
Mendengar pengakuan penuh cinta itu, pipi Acha merona hangat di balik sisa air matanya.
"Selama ini," lanjut Nathan dengan suara bergetar penuh keyakinan,
"aku sering merasa sendirian, berjuang sendirian di rumah ini buat nata masa depan. Tapi sekarang, aku sadar Tuhan udah ngirim kamu sebagai jawaban atas doa-doa aku. Mimpi itu bikin aku semakin yakin... semakin semangat buat memperjuangkan kamu, ngehalalin kamu, dan bangun masa depan bersama kamu, Acha."
Kata-kata Nathan meluncur begitu tulus, menghapus segala keraguan yang mungkin sempat tersisa di benak keduanya.
Ikatan di antara mereka kini terasa semakin kuat, disaksikan oleh restu orang tua di dunia—Yanto dan Ranti—serta restu penuh cinta dari almarhumah ibunda Nathan dari tempat yang jauh.
Di seberang layar, Acha mengangguk mantap sambil tersenyum manis, membiarkan rasa cinta dan keyakinan itu meresap ke dalam hati mereka berdua.
Melihat Nathan yang masih terdiam dengan mata berkaca-kaca namun dipenuhi senyuman tulus, hati Acha tergerak untuk menguatkan pria yang paling dia sayangi itu.
Rasa lemas di tubuhnya seolah menguap begitu saja, berganti dengan energi hangat yang siap menyalurkan ketenangan.
Acha mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, menatap Nathan lekat-lekat dengan binar mata yang penuh keyakinan dan cinta.
"Hey... jangan sedih lagi ya, a," ucap Acha dengan suara lembut namun tegas, penuh penekanan kasih sayang.
Nathan mengerjap pelan, menatap Acha di seberang layar dengan penuh perhatian.
Acha tersenyum manis, lalu melanjutkan kalimatnya dengan tulus, "Mulai sekarang, hapus semua rasa sepi aa. Aa nggak sendirian lagi di dunia ini. Mulai hari ini, besok, dan seterusnya... akan ada aku di sini, yang selalu setia nemenin aa dalam keadaan susah maupun senang, dalam suka maupun duka."
Kata-kata itu meluncur begitu natural, namun memiliki kekuatan luar biasa yang menghujam tepat di lubuk hati Nathan paling dalam.
Acha menarik napas sebentar sebelum memberikan kalimat penutup yang menyentuh, "Jadi, aa harus tetap semangat kerjanya, ya. Jangan pernah merasa sendiri lagi, karena sekarang separuh dari beban dan kebahagiaan aa adalah tanggung jawab aku juga."
Mendengar janji tulus dan penegasan cinta dari Acha, dada Nathan bergemuruh hebat. Senyuman paling bahagia terkembang lebar di wajahnya.
Rasa haru yang tadinya menyesakkan kini berubah menjadi gelombang kelegaan dan semangat membara yang luar biasa.
Pria itu tahu, dia telah memilih wanita yang tepat untuk menjadi pelabuhan terakhir dalam hidupnya.
Siang hari menjelang, suasana di rumah Acha terasa lebih segar. Mengingat jadwal kontrol kesehatan pasca pingsan beberapa hari lalu, Ranti dan Yanto sepakat untuk mengantar Acha memeriksakan kondisinya langsung ke dokter langganan keluarga.
Meski kondisi Acha sudah jauh membaik dan dia sudah bisa berjalan sendiri, tubuhnya tentu belum diizinkan untuk mengendarai motor seorang diri.
Tanpa pikir panjang, Yanto langsung mengeluarkan motor karisma kesayangannya dari dalam rumahnya, sementara Ranti bersiap mendampingi di belakang.
Uniknya, perjalan kali ini dilakukan dengan cara bonceng tiga di atas satu motor—pemandangan yang cukup langka, namun sarat akan kehangatan keluarga.
Yanto duduk di posisi paling depan sebagai pengendara yang siap menyetir dengan hati-hati.
Di tengah duduklah sang istri tercinta, Ranti, yang bertugas menjaga keseimbangan sekaligus memastikan tas obat Acha aman.
Sementara Acha sendiri duduk di posisi paling belakang, memeluk erat pinggang mamahnya dengan kedua tangan guna menjaga tubuhnya agar tidak mudah lemas di atas motor.
"Udah pada siap semuanya? Pegangan yang bener ya, kita jalan pelan-pelan aja," ujar Yanto menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan kedua wanita kesayangannya itu sudah duduk dengan nyaman.
"Udah siap, Pah! Pelan-pelan aja ya bawa motornya, jangan ngebut," jawab Ranti sambil merapikan jilbabnya.
Acha di posisi paling belakang hanya bisa tersenyum kecil di balik punggung sang mamah. Di tengah hempasan angin siang itu, dia merasa begitu terlindungi dan disayang oleh kedua orang tuanya.
Perjalanan singkat menuju klinik dokter langganan pun dimulai, ditemani rasa syukur yang tak terhingga di dalam hati Acha.
Setibanya di klinik, antrean tidak terlalu panjang sehingga Acha bisa langsung masuk ke ruang praktik dokter didampingi oleh Ranti dan Yanto.
Dokter paruh baya yang mengenakan jas putih tersenyum ramah menyambut kedatangan keluarga kecil itu.
Setelah meminta Acha berbaring sejenak untuk diperiksa tekanan darahnya dan mendengarkan detak jantungnya menggunakan stetoskop, sang dokter kemudian merapikan alat-alatnya dan kembali duduk di kursi praktiknya.
"Bagaimana, Dok? Kondisi anak saya gimana?" tanya Yanto cemas, sementara Ranti berdiri di samping Acha sambil mengusap pundak putrinya dengan lembut.
Dokter tersebut tersenyum menenangkan. "Alhamdulillah, kondisinya sudah jauh lebih membaik dibandingkan saat pertama kali dibawa ke sini beberapa hari lalu. Tekanan darahnya sudah normal, dan detak jantungnya juga stabil."
Mendengar penjelasan itu, Acha, Ranti, dan Yanto langsung bernapas lega secara bersamaan. Senyuman terukir di wajah mereka.
"Tapi..." lanjut sang dokter dengan nada mengingatkan, membuat ketiganya kembali menyimak dengan serius.
"...meskipun sudah membaik, tubuh Acha masih dalam proses pemulihan total. Kelelahan ekstrem kemarin itu benar-benar menguras tenaganya. Jadi, dalam beberapa hari ke depan, Acha tetap harus istirahat yang cukup."
Dokter pun memberikan beberapa pesan penting "Jangan dulu beraktivitas terlalu lelah, hindari stres pikiran, dan jangan dulu melakukan pekerjaan yang berat-berat. Biarkan tubuhnya benar-benar beradaptasi dan mengembalikan staminanya seperti semula."
"Baik, Dok. Kami bakal pastikan dia nurut buat istirahat total di rumah," jawab Ranti mantap.
Setelah menebus vitamin dan sedikit obat penguat stamina, Acha bersama kedua orang tuanya keluar dari ruang praktiknya dengan hati yang jauh lebih tenang.
Dukungan penuh dari keluarga membuat Acha semakin bersemangat untuk menjaga kesehatannya demi menatap masa depan yang sudah ia nantikan bersama Nathan.
Setelah urusan di klinik selesai, Yanto kembali mengeluarkan motor matiknya dan memposisikan keluarganya dengan formasi bonceng tiga seperti sebelumnya.
Yanto di depan, Ranti di tengah, dan Acha di belakang dengan tangan yang kembali memeluk erat pinggang sang mamah.
Di tengah perjalanan pulang, aroma gurih dari sebuah gerobak gorengan pinggir jalan tiba-tiba menusuk indra penciuman Acha. Seketika itu juga, keinginan kuat untuk makan sesuatu yang gurih dan renyah muncul di benaknya.
"Pah... Mah... sebentar, deh," panggil Acha pelan sambil menepuk pundak Ranti.
Yanto pun mengurangi laju motornya dan menepi di dekat gerobak gorengan tersebut. "Kenapa, Cha? Ada yang sakit atau mau dibeliin sesuatu?" tanya Yanto khawatir sambil mematikan mesin motor.
Acha tersenyum malu-malu. "Enggak sakit kok, Pah. Cuma... tiba-tiba aku pengen banget makan gorengan. Boleh ya, Mah?" tanya Acha penuh harap, menatap Ranti dan Yanto bergantian.
Ranti tertawa kecil mendengar permintaan putrinya itu. "Dih, lagi sakit aja seleranya tetap gorengan ya. Iya deh, sebentar Mamah beliin yang banyak buat di rumah."
Yanto dan Ranti pun turun sejenak. Ranti langsung memilih berbagai macam gorengan hangat yang baru diangkat dari wajan—mulai dari bakwan, tahu isi, hingga pisang goreng kesukaan Acha—sementara Yanto membayarnya.
Tidak butuh waktu lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat. Sesampainya di halaman rumah, Fitri sang adik yang sudah menunggu sejak tadi langsung menyambut kepulangan mereka di teras.
"Wah, bawa apa tuh harum banget?" tanya Fitri kepo sambil langsung mengambil kantong plastik berisi gorengan dari tangan Ranti.
"Pesenan Acha nih, pengen gorengan mendadak," jawab Ranti sambil membuka kunci pintu rumah.
Di ruang keluarga yang nyaman, mereka berempat—Yanto, Ranti, Acha, dan Fitri—langsung duduk berkumpul melingkar di atas karpet.
Sambil menikmati teh hangat yang diseduh Fitri, mereka menyantap gorengan renyah tersebut bersama-sama dengan penuh canda tawa.
Acha tampak sangat menikmati setiap gigitan gorengannya, merasa bersyukur dikelilingi oleh keluarga yang begitu menyayanginya, serta tubuhnya yang kini sudah jauh lebih sehat dan siap menyambut hari-hari baik ke depannya bersama Nathan.
Sore harinya, setelah kondisi tubuh Acha benar-benar terasa segar usai makan gorengan dan beristirahat cukup, sebuah keinginan baru mendadak muncul di benaknya.
Mengingat sudah beberapa hari dia mendekam di rumah akibat sakit, kejenuhan mulai melanda.
Acha lantas mendekati Ranti yang sedang membereskan sikat dan piring bekas cangkir teh di dekat meja makan. Dengan wajah memelas dan nada manja, Acha melancarkan jurus rayuannya.
"Mah... Boleh nggak, aku jalan-jalan sebentar keluar?" pinta Acha sambil bergelayut manja di lengan Ranti.
Ranti langsung menghentikan kegiatannya, menatap putri sulungnya itu dengan sebelah alis terangkat.
"Jalan-jalan ke mana, Cha? Badan kamu kan baru aja enakan, jangan aneh-aneh dulu deh."
"Ke mall sebentar aja, Mah. Mau main ke Timezone sebentar, pengen main game biar nggak bosan di rumah terus dari kemarin," bujuk Acha dengan mata berbinar-binar penuh harap.
Mendengar kata Timezone, Ranti kontan menggelengkan kepalanya tegas. "Duh, nggak dulu deh, Cha. Mamah masih khawatir. Kamu kan baru pulang dari klinik tadi siang, dokter juga bilang harus banyak istirahat. Kalau kamu kecapekan di mall gimana?"
Mendapat penolakan itu, bahu Acha langsung merosot ke bawah. Wajahnya berubah murung, menunjukkan kekecewaan yang sangat mendalam.
Dia menunduk sambil memainkan ujung bajunya, tampak begitu sedih karena permintaannya ditolak mentah-mentah.
Ranti, yang melihat perubahan ekspresi di wajah putrinya, seketika merasa tidak tega. Hati seorang ibu langsung melunak saat melihat anak gadisnya bersedih seperti itu.
Ranti menghela napas panjang, merasa serba salah di satu sisi khawatir akan kesehatannya, namun di sisi lain kasihan melihat Acha yang tampak begitu suntuk.
"Ya sudah... Tapi ada syaratnya," ucap Ranti akhirnya dengan nada mengalah, membuat kepala Acha langsung mendongak cepat.
"Syaratnya apa, Mah? Mau! Apa aja deh!" seru Acha antusias.
"Pertama, pulangnya nggak boleh larut sore. Kedua, kamu harus janji nggak boleh kecapekan dan langsung istirahat begitu sampai rumah lagi," pesan Ranti sambil mencubit hidung Acha pelan penuh kasih sayang.
"Mamah izinkan kamu ke Timezone, asal jangan main yang berat-berat ya."
"Yeee! Makasih banyak, Mamah tersayang!" teriak Acha girang sambil memeluk tubuh Ranti erat-erat, tidak sabar ingin segera mengabari Nathan lewat ponselnya kalau ia diizinkan pergi ke mall sore ini.
Mendengar Ranti langsung mengira dia ingin pergi hari ini, Acha buru-buru melambaikan tangan sambil tersenyum lebar meralat maksudnya.
"Eh, bukan hari ini, Mah! Maksud aku, perginya tuh nanti hari Minggu besok," ralat Acha cepat-cepat agar mamahnya tidak salah paham.
"Cuman... aku sengaja minta izin dari sekarang, soalnya Fitri tadi bilang lagi ada promo paket kartu Timezone khusus weekend ini, makanya aku mau mastiin dulu dibolehin apa enggak sama Mamah."
Ranti yang tadinya sempat bersiap menegur karena mengira putrinya nekat jalan-jalan saat baru sembuh, mendadak melunak dan tersenyum kecil. Dia mengusap kepala Acha penuh kelembutan.
"Oh, begitu... bilang dong dari tadi. Kalau rencananya hari Minggu dan badan kamu benar-benar sudah fit total, ya silakan saja," jawab Ranti bijak.
"Bagus juga sekalian refreshing biar nggak suntuk di rumah terus."
Mendapat lampu hijau resmi dari sang mamah, Acha langsung bersorak gembira dalam hati.
Tanpa buang waktu lagi, dia segera meraih ponselnya di atas meja untuk mengirim pesan singkat kepada Nathan, memberitahu kabar baik kalau dia sudah mengantongi restu untuk jalan-jalan ke mall akhir pekan ini.
Usai mendapat lampu hijau dari sang mamah terkait rencana akhir pekannya, Acha tak sabar untuk segera membagikan kabar gembira itu kepada seseorang yang paling dia rindukan.
Siang menjelang sore berganti dengan suasana yang lebih santai di rumah. Usai beristirahat cukup dan mengobrol lewat panggilan video call dengan Nathan, Acha merasa bosan jika hanya berdiam diri di kamar.
Dia lantas mengajak sang adik, Fitri, untuk pergi ke dapur mencoba membuat camilan favorit mereka telur gulung.
Dengan penuh antusias, Acha menyiapkan mangkuk, mengocok telur ayam dengan sedikit garam dan penyedap rasa, sementara Fitri bertugas menyiapkan kompor portabel dan wajan kecil berisi minyak goreng yang cukup banyak.
"Udah panas belum minyaknya, Fit?" tanya Acha sambil memegang mangkuk adonan.
"Udah, teh! Coba tumpahin, tapi pelan-pelan ya!" seru Fitri bersemangat.
Acha pun mulai menuangkan sesendok adonan telur ke dalam minyak panas. Harapannya, telur itu akan berserat cantik dan bisa digulung sempurna menggunakan tusuk sate seperti buatan abang-abang penjual di sekolah.
Namun, kenyataan tak seindah teori.
Begitu adonan menyentuh minyak, bukannya mengembang berserat, telur tersebut justru menggumpal menjadi satu gumpalan besar yang keras dan berminyak.
Ketika Fitri mencoba menggulungnya dengan tusuk sate, tusukan itu langsung patah karena telurnya terlalu padat dan gosong di pinggirannya.
"Eh, eh! Malah gosong, Mah—eh, Fit!" teriak Acha panik sambil tertawa geli.
Percobaan kedua dilakukan. Kali ini Acha menuangkan adonan dengan jarak agak tinggi, tetapi hasilnya justru terpencar ke mana-mana dan hancur berkeping-keping di dalam wajan.
Alih-alih mendapatkan jajanan telur gulung yang rapi dan menggugah selera, wajan mereka kini hanya berisi orak-arik telur yang bentuknya amburadul dan terlalu matang.
Melihat hasil masakan mereka yang gagal total, Acha dan Fitri justru kompak meledakkan tawa. Keduanya tertawa terbahak-bahak hingga memegang perut masing-masing di tengah dapur yang mengepulkan sedikit asap tipis.
"Duh, gagal total, teh! Ini mah namanya telur hancur berantakan, bukan telur gulung," ucap Fitri di sela tawanya, menatap wajan dengan ekspresi jenaka.
"Yah, yang penting rasanya kan tetap telur, Fit! Anggap aja ini kreasi kuliner baru," balas Acha sambil tersenyum lebar, sama sekali tidak merasa sedih.
Meski bentuknya jauh dari kata indah dan gagal total sebagai telur gulung, mereka berdua tetap memindahkan masakan itu ke atas piring.
Dengan mengambil tusuk sate dan mencocolnya ke saus sambal botolan, Acha dan Fitri menyantap hasil eksperimen dapur sore itu bersama-sama di ruang makan.
Sambil menikmati gurihnya telur walau bentuknya aneh, sore hari itu tetap terasa begitu hangat, menyenangkan, dan penuh tawa bagi kakak beradik tersebut.
Be to continued