NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Bianca menyandarkan punggungnya pada dinding kayu yang terasa dingin, mencoba mengusir rasa lelah yang menggelayut di pundaknya. Setengah hari ini, energinya terkuras habis hanya untuk melayani segala keperluan Arlan. Pria itu menjadi jauh lebih menuntut menjelang keberangkatannya ke Jakarta lusa—bukan menuntut dalam hal pekerjaan kasar, melainkan tuntutan akan kehadirannya yang harus selalu berada dalam jarak pandang pria itu.

Di tengah kesunyian kamar, Bianca meraih ponsel sederhana miliknya. Jemarinya ragu sejenak di atas layar sebelum akhirnya menekan sebuah nama yang sudah sepuluh tahun ini ia hindari dengan rasa sesak: Ayah.

Nada sambung itu terdengar seperti detak jantung yang berpacu. Saat panggilan video terhubung, wajah seorang pria tua dengan rambut yang memutih sempurna muncul di layar. Haris Adytama. Pria yang dulu begitu gagah memimpin imperium bisnis Adytama, kini tampak lebih bersahaja dengan latar belakang perkebunan apel miliknya di Malang.

"Ayah..." suara Bianca bergetar, nyaris hilang di tenggorokan.

Haris terdiam. Mata tuanya membelalak, lalu dalam hitungan detik, genangan air mata memenuhi pelupuk matanya.

"Bianca? Ini benar kamu, Putri Kecil Ayah?"

Bianca mengangguk pelan, mata berkaca-kaca menahan tangis yang siap meledak. Selama sepuluh tahun di balik jeruji besi, ia membangun dinding yang begitu tinggi. Ia menolak kunjungan, menolak surat, dan memutus semua komunikasi dengan ayahnya. Bukan karena benci, melainkan karena rasa bersalah yang terlalu berat untuk dipikul.

"Maafkan Bianca, Yah... Maaf baru menghubungi sekarang," isaknya lirih.

Ia teringat malam terkutuk sepuluh tahun lalu. Keangkuhannya sebagai nona muda yang merasa posisinya terancam oleh Kirana membuatnya melakukan hal gila. Ia merencanakan kecelakaan untuk kakaknya sendiri, namun takdir bermain kejam. Justru ayahnya, pria yang paling mencintainya, dan hampir kehilangan nyawa. Koma yang dialami Haris kala itu adalah luka permanen di hati Bianca yang jauh lebih perih daripada hukuman penjara mana pun.

"Ayah tidak pernah marah padamu, Nak. Tidak satu detik pun," suara Haris serak, jemarinya menyentuh layar ponsel seolah sedang mengusap pipi putrinya. "Ayah hanya rindu. Sangat rindu. Datanglah ke Malang, Bianca. Perkebunan apel kita sedang berbuah. Ayah ingin memetikkan yang paling manis untukmu, seperti dulu."

Bianca tersenyum di balik tangisnya. "Iya, Yah. Nanti, kalau ada libur panjang, Bianca janji akan ke Malang. Tunggu Bianca ya, Yah."

Haris mengangguk, namun wajahnya berubah sedikit prihatin saat melihat latar belakang kamar Bianca yang sangat sederhana.

"Kirana bilang kamu bekerja di sebuah desa... jadi pelayan? Kenapa, Bianca? Kamu punya saham, kamu punya rumah, kamu bisa hidup mewah tanpa harus bekerja kasar seperti itu. Dewan direksi bisa Ayah tangani."

Bianca menggeleng pelan, ada ketegasan di matanya yang kini tampak lebih dewasa. "Bukan soal uang, Yah. Di sini, orang-orang mengenal Bianca sebagai Gita. Mereka tahu Gita seorang mantan narapidana, tapi mereka tetap menghargai Gita sebagai manusia. Mereka tidak memandang rendah atau menaruh curiga. Di Surabaya, Bianca Adytama hanya akan selalu menjadi 'si jahat'. Di sini, Bianca menemukan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan saham apa pun."

Haris menarik napas panjang, menyadari bahwa putrinya bukan lagi gadis manja yang keras kepala, melainkan wanita yang sedang merajut kembali jiwanya yang koyak. "Baiklah, kalau itu pilihanmu. Ayah akan selalu mendukungmu. Tapi ingat satu hal, Bianca... sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap putri kecil Ayah. Jaga dirimu baik-baik di sana."

“Pasti, Yah.”

Setelah sambungan terputus, Bianca meletakkan ponselnya di atas pangkuan. Keheningan kamar itu mendadak terasa mencekik. Tangisnya pecah seketika, bahunya terguncang hebat. Kata maaf terus mengalir dari bibirnya yang gemetar, memenuhi ruang kosong di antara rasa penyesalan dan harapan.

**

Arlan melangkah membelah jalan setapak yang menghubungkan bangunan utama vila dengan paviliun belakang. Sepatu kulitnya yang mengilat sesekali menginjak ranting kering, menimbulkan bunyi keritik yang memecah kesunyian perkebunan.

Pikirannya sedang carut-marut. Masalah asetnya di Jakarta yang dibekukan Stella terus berputar di kepala, namun entah mengapa, langkah kakinya justru membawanya ke sini—ke tempat pelayan yang baru saja membuat jantungnya berdegup dengan cara yang tidak biasa.

Saat jaraknya hanya tinggal beberapa meter dari pintu kamar kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas itu, Arlan mendadak terpaku.

Sebuah suara menyusup ke telinganya. Bukan suara angin, bukan pula gesekan daun teh. Itu adalah suara tangisan. Suara yang begitu tipis, tertahan, namun mengandung kepiluan yang sangat dalam. Arlan menahan napas. Selama ini, "Gita" yang ia kenal adalah wanita baja. Dia tenang, dia tegar, dan dia memiliki aura martabat yang seolah tak bisa diruntuhkan oleh statusnya sebagai pelayan.

Namun hari ini, dinding itu retak. Arlan melangkah setapak demi setapak hingga ia berdiri tepat di depan pintu. Dari balik kayu itu, ia bisa mendengar isak yang menyayat hati, sebuah rintihan yang terdengar seperti seseorang yang sedang memohon ampunan pada dunia yang tidak pernah mendengarnya. Ada rasa sakit yang begitu purba dalam tangisan itu, jenis rasa sakit yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah hancur berkeping-keping.

Tangan Arlan terangkat, jemarinya menekuk, hendak mengetuk pintu itu. Ia ingin memastikan apa yang membuat wanita itu hancur. Ia ingin... entahlah, mungkin ia hanya ingin kehadirannya disadari. Namun, tepat sebelum kulit bukunya menyentuh kayu, sebuah keraguan besar menghantamnya.

Siapa kamu baginya, Arlan? Majikannya? Pria yang mencurigainya? Atau sekadar orang asing yang terobsesi pada rahasianya?

"Tuan Arlan?"

Suara cempreng itu membuat Arlan tersentak. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, mencoba mengembalikan raut wajah dinginnya yang biasa. Marni berdiri di sana, menjinjing keranjang cucian dengan tatapan penuh keheranan.

"Eh, Tuan mencari Gita? Apa perlu Marni panggilkan? Sepertinya dia sedang di dalam," tanya Marni ramah, meski matanya menyiratkan rasa penasaran yang besar melihat sang tuan muda berada di area kumuh para pelayan.

Arlan berdehem, merapikan letak jam tangan mewahnya yang sama sekali tidak bergeser.

"Tidak usah," jawabnya singkat, suaranya berat dan datar. "Nanti saja. Berikan dia waktu."

Marni mengernyit. "Oh, baik Tuan. Mungkin Gita sedang kurang enak badan. Tadi siang dia memang terlihat agak pucat."

Arlan hanya mengangguk kecil sebagai isyarat pamit. Ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan paviliun itu tanpa menoleh lagi. Tetapi, di dalam hatinya, suara tangisan Bianca seolah ikut menempel di bayangannya. Tangisan itu tidak terdengar seperti tangisan wanita manja yang kehilangan perhiasan; itu terdengar seperti tangisan seorang pendosa yang sedang mencoba menjahit kembali sukmanya.

***

1
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
Mukeseh
deg deg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!