Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sadarkan diri.
Setelah puas menangis aku pun segera keluar dari persembunyian ku karena jam istirahat sebentar lagi selesai. Namun saat aku berjalan ke luar aku merasa kepala ku pusing tapi aku berusaha terus bejalan, namun aku dikagetkan dengan keberadaan Yudistira yang berdiri bersandar didinding tak jauh dari tempat aku sembunyi. Yudistira pun melihat ke arah ku dan dia sepertinya terkejut karena aku mengetahui jika dia diam-diam berdiri di sana. Aku pun melanjutkan langkah ku sampai melewatinya.
"Gue bisa jelasin Ri, " ucapnya sambil memegang tangan ku dan aku pun meliriknya namun pandangan ku langsung buram dan tubuhku terasa lemas, entah apa lagi yang terjadi aku hanya ingat Yudistira memanggil namaku.
Aku membuka mata dan yang pertama aku lihat aku berada di ruang kesehatan dan saat melirik kesamping aku melihat Yudistira duduk di samping ku sambil bermain ponsel.
"Yud, " panggil ku dan Yudistira langsung menyimpan ponselnya dan mendekat ke arah ku.
"Gue kenapa? " tanya ku.
"Dokter bilang lo cuman kelelahan, " jawab nya.
Karena aku sekolah di sekolah elit jadi di sekolah ini ada dokternya, kalau ada murid sakit gak perlu di bawa ke rumah sakit cukup di rawat disini kecuali kalau parah baru di bawa ke rumah sakit. Aku pun hendak bangun dan Yudistira langsung membantu ku, namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan bang Indra masuk.
"Briana, kamu pulang saja istirahat di rumah, " ucapnya.
"Gak perlu bang, aku bisa kok lanjut belajar, " tolak ku.
"Gak ada penolakan, kamu harus tetap pulang tapi abang gak bisa antar kamu karena sebentar lagi abang ada rapat, " ujarnya tidak menerima penolakan ku.
"Kalau boleh biar saya yang antar pulang pak, " Yudistira mengajukan diri untuk mengantarku pulang.
"Ya sudah kalau gitu saya titip Briana dan saya akan buatkan surat izin kamu meninggalkan sekolah dan gak perlu kembali lagi ke sekolah langsung pulang saja, " ucap bang Indra dan Yudistira mengangguk.
"Abang pergi dulu, kamu istirahat setelah sampai rumah nanti malam kita bicara, " ucap nya lalu pergi keluar dari raungan ini.
"Gue ambil tas lo dan tas gue dulu, lo tunggu disini, " ucap Yudistira dan aku hanya mengangguk, Yudistira pun langsung pergi dan aku mengangkat ujung bibir ku menertawakan nasib ku yang hanya jadi bahan gunjingan murid lain.
Yudistira kembali dan aku pun langsung keluar dari ruangan itu dengan di bantu Yudistira. Sepanjang jalan pulang aku hanya diam saja dan aku tau jika Yudistira terus melirik ku dan sepertinya dia khawatir pada ku.
"Kalau lo ingin nangis, nangis aja jangan di pendem tar sakit, " ucap Yudistira yang sepertinya mengerti dengan perasaan ku.
"Gue tau masalah ini berawal dari gue, gue dulu gak terlalu pengecut buat jujur sama lo dan karena gue takut kehilangan lo jadi gue berpikir dengan dekat dengan lo itu sudah cukup namun ternyata itu salah dan gue jauhi lo lalu gue dekati para cewek dan saat mereka tanya kenapa gue gak dekat lagi sama lo gue jawab kalau kita udah putus karena lo sering jalan sama cowok lain dan dari sana lah awal muka mereka anggap lo cewek gampangan, "ucap Yudistira jujur pada ku padahal aku sudah tau dari awal hanya saja aku ingin dengar dari mulutnya.
" Terus sekarang lo menyesal gitu? "tanya ku dengan sedikit marah.
" Iya gue menyesal karena gue masih suka sama lo, "jawab nya.
"Tapi gue gak suka sama lo, gue anggap lo seperti Rio, Dwi dan yang lain, bahakan gue anggap lo sahabat gue namun sekarang gue kecewa sama lo setelah kejadian itu, " balas ku dengan sedikit bentakan.
"Gue tau, gue minta maaf, " ujar nya.
Aku pun tak membalas ucapannya lagi aku diam saja dan melihat ke samping sampai akhirnya tiba di rumah dan mama sudah menunggu di depan. Aku pun turun namun entah kenapa tubuh ku masih terasa lemas.
"Hati-hati dek, " ucap mama khawatir.
Yudistira dia langsung berlari dan mendekat ke arah ku bahkan tanpa aba-aba dia langsung gendong aku membuat aku atau pun mama kaget.
"Turunin gue gak! " pinta ku.
"Tubuh lo masih lemas, emang lo kuat jalan sampai kamar lo? " tanya Yudistira dan aku pun langsung terdiam.
"Bawa langsung ke kamar aja nak, " titah mama dan aku pun hanya bisa pasrah.
Tibanya di kamar aku di turunkan dan aku langsung mengambil selimut dan membelakangi Yudistira dan mama.
"Makasih ya, " ucap mama pada Yudistira.
"Iya tante sama-sama, kalau begitu aku langsung pamit tante, " balas Yudistira.
"Oh iya, mari tante antar, " ucap mama lalu keluar mengantarkan Yudistira.
Setelah Yudistira pergi aku pun bangun dan melepaskan sepatu ku. Namun tiba-tiba Zahra istrinya bang Brian datang dengan membawa teh manis.
"Minum dulu, " titah nya.
Aku pun menerimanya dan dia duduk di samping ku membuat aku bingung.
"Kamu banyak pikiran ya? " tanya nya membuat aku kaget karena sepertinya dia tau.
"Kamu keluarkan semua kekesalan mu jangan kamu pendam nanti kamu sakit, " lanjutnya.
Namun belum sempat aku membalas ucapannya tiba-tiba mama masuk dan langsung duduk di samping ku.
"Yang anterin kamu kenapa bukan Dwi? " tanya mama membuat aku kaget.
"Memang kalau dia kenapa? " tanya ku bingung.
"Dwi kan pacar kamu nanti dia cemburu, " jawab mama membuat aku kaget dan langsung menyemburkan teh manis yang aku minum dan mengenai Zahra istrinya bang Brian.
"Pelan-pelan dong, " ucap mama gak tau aja kalau aku kaget.
"Kak maaf, " ucap ku pada Zahra.
"Ma, Dwi bukan pacar aku dia pacarnya April dan aku gak suka sama Dwi, " beritahu ku agar mama gak salah paham.
"Yah padahal mama berharap Dwi pacar kamu, " ujar mama.
"Ma, mama keluar deh jangan tambah aku sakit deh, " usir ku pada mama karena mama bukannya obati aku malah tambah aku sakit.
Mama dan kak Zahra keluar dan aku berbaring karena kepalaku masih pusing, aku putuskan untuk tidur. Entah berapa lama aku tidur karena saat bangun aku melihat ada makanan di samping tempat tidur ku. Aku pun bangun dan mengambil makanan itu dan memakannya namun baru berapa suap tiba-tiba perut ku sakit dan mual membuat aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.
"Ri, kamu kenapa? " tanya bang Brian yang melihat aku muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Jangan bilang kalau kamu.., " ucapku terhenti dan aku tau kemana arah ucapannya.
"Gue gak punya pacar, " jawab ku kesal lalu keluar kamar namun lagi dan lagi pandangan ku buram dan tubuh ku lemas dan tak ingat apa-apa.