NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Ari

Pintu kamar Radit digedor dengan keras. Radit membuka matanya yang berat, menatap jam di atas nakas, masih dini hari. Ia pun berencana akan tidur lagi. Suara gedoran terdengar lagi bahkan lebih keras dari sebelumnya. Mau tidak mau, ia bangkit dengan malas.

"Mama? Ada apa sih, Ma?" tanyanya ketika sudah membuka pintu.

"Kakak kenapa sih, kok tumben pake ngunci pintu segala. Biasanya juga gak!" ucap Mama kesal.

"Sekarang kan udah ada calon istri si Ari, Ma. Jadi ya, jaga-jaga aja." ucap Radit malas.

Menahan dirinya untuk tidak mengatakan bahwa gadis itu sudah melihat keadaannya yang aduhai kemarin. Padahal ingin sekali ia mengancam gadis itu kemarin. Tapi sekali lagi, perasaan Ari lebih ia hargai.

"Apaan sih, kamu, Kak. Jaga-jaga, memang si Kiran maling apa?! Udah ah, Mama cuma mau tanya, Kakak tahu kemana Ari pergi?" Mama Ariana bertanya pada Radit yang masih tampak malas membuka mata. Wajah wanita paruh baya itu tampak panik.

"Nggak tahu, Ma. Memangnya kenapa, Ma?" kini tubuh Pria itu menyender ke daun pintu dengan mata mulai terpejam. Mama Ariana menyeretnya masuk ke dalam kamar.

"Apaan sih, Ma?!"

"Ari belum pulang, Kak. Mama khawatir. Perasaan Mama tiba-tiba aja gak enak. Tolong lah Kak, cari dia. Mama gak mau sampai Papa tahu. Kakak tahu lah, Papa tu cepet emosi kalo udah menyangkut Ari." cecar Mama panjang lebar.

Kesadaran Radit terkumpul dengan segera mendengar suara Mama yang terdengar begitu khawatir. "Sebelumnya dia ada izin sama Mama, mau pergi kemana?"

"Dia cuma bilang mau ngundang kawannya untuk datang acara akad nikah dia. Gitu aja, sih, Kak. Tapi kok sampai sekarang belum pulang?" Mama Ariana menggenggam tangannya yang tampak mulai berkeringat. Perasaannya benar-benar tidak enak.

"Mama udah coba telpon Ari?" tanya Radit.

"Udah, Kak. Tapi nggak aktif." wajah Mama Ariana tambah cemas.

"Bentar ya, Ma. Coba Radit telpon dulu si Agung. Dia kan teman akrab Ari." ucap Radit mengambil ponselnya dari atas nakas.

"Lebih baik Mama sekarang kembali ke kamar. Takutnya nanti Papa bangun, nggak ada Mama, malah bisa curiga Papa." ucap Radit kemudian.

"Pokoknya segera kabari Mama ya, Kak." ucap Mama Ariana sebelum keluar dari kamar. Radit mengangguk, menatap Mama Ariana dengan penuh kesungguhan.

Radit menekan tombol panggil ke nomor Agung. Ia memang memiliki beberapa nomor ponsel teman Ari yang ia anggap akrab dengan adiknya itu.

"Assalamualaikum." Radit bernafas lega. Akhirnya terdengar jawaban dari seberang.

"Wa'alaikumussalam. Ini Kak Radit, Gung. Mohon maaf Kakak sudah mengganggu istirahat kamu."

"Ada apa, Kak?"

"Hari ini kamu ada jumpa Ari, Gung?"

"Ada, Kak. Tadi Kami jumpa. Kenapa Kak?"

"Sampai sekarang dia belum pulang juga, Gung. Mama Kakak khawatir banget. Kira-kira Agung tahu nggak di mana dia? Mana tau dia ada bilang janji mau nginep di mana gitu?"

Hening beberapa saat.

"Kami nggak ada janji mau nginep, Kak. Kayaknya Ari juga nggak ada bilang sih, Kak. Tapi tadi Agung lihat, Ari serius banget ngomong sama Bowo. Setelah itu Ari kayaknya langsung buru-buru pergi."

"Kamu ada nomornya Bowo, Gung? Bisa Kakak minta nomornya?"

"Nanti Agung kirim, Kak."

"Makasih ya, Gung. Assalamualaikum." ucap Radit menutup sambungan telepon.

Setelahnya masuk sms dari Agung. Radit segera menghubungi nomor yang diberikan Agung. Nomornya tak aktif.

Kemudian Radit melakukan panggilan pada nomor Bara. "Bara, minta orang kita untuk cek posisi Ari." perintah Radit tanpa basa-basi.

Radit mengambil posisi duduk di sofa. Menunggu dengan tidak sabar. Tidak berapa lama ponselnya kemudian berbunyi.

"Bagaimana?" tanyanya setelah menjawab panggilan telepon tersebut.

"Apa?! Segera kerahkan anak buah kita. Sisir jalanan itu segera!" perintahnya lagi setelah mendengar Bara memberitahu dirinya tentang posisi terakhir adiknya itu.

Azan subuh berkumandang. Menghela nafas, Radit beranjak mengambil wudhu'. Saat ini ia ingin memohon kepada Allah agar tidak salah dalam mengambil langkah menghadapi adiknya yang satu itu.

❇❇❇❇

Kediaman keluarga Makarim tampak sibuk. Akad nikah yang Kiran kira akan diselenggarakan secara sederhana, namun sederhana versi keluarga Makarim dengan sederhana versi Kiran ternyata jauh berbeda.

Akad nikah sudah menyerupai pesta saja.

Tadinya Kiran pikir, besok ia hanya melaksanakan akad nikah di dalam rumah. Karena sedari awal memang hanya ingin digelar secara rahasia. Dihadiri hanya orang-orang terdekat saja. Namun agaknya ia telah salah. Akad nikah itu akan digelar di halaman rupanya.

Dan semua di luar ekspektasinya. Kini tenda sudah terpasang dengan megah di halaman. Meja untuk makan hidang sudah diletakkan di dalamnya. Beberapa kursi dengan cover warna putih dilengkapi pita warna kuning dengan meja di tengahnya sudah tertata rapi. Bagaimana mungkin semua menjadi begitu heboh, pikir Kiran.

Kiran mengamati semua kesibukan di halaman dari atas balkon. Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Seorang pelayan beserta satu orang wanita yang tak Kiran kenal masuk setelah Kiran persilakan. Wanita tadi ternyata diikuti beberapa orang di belakangnya membawa beberapa baju.

"Nona, Nyonya meminta anda untuk mencoba gaun yang akan anda pakai besok." ucap pelayan itu. Kiran tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Seorang wanita yang masuk bersama pelayan tadi maju dan mengamati Kiran sembari menyentuh dagu dengan jemarinya. "Coba ambil yang itu. Sepertinya gaun itu cocok untuknya." perintahnya pada salah seorang yang membawa baju.

Wanita yang diperintah tadi menunjukkan satu gaun ke hadapan Kiran. "Mari saya bantu untuk mengganti baju, Nona." tuturnya menatap Kiran dengan penuh kesopanan.

Sebenarnya Kiran merasa malu jika membuka bajunya di depan orang lain. Namun demi kenyamanan bersama, ia akan melakukannya.

Kiran membuka bajunya dengan ragu-ragu, menatap satu-persatu orang yang ada di dalam kamar, meski semuanya adalah wanita. Menatap mereka dengan senyum terpaksa.

"Sepertinya dia malu. Ayo, balik badan kalian. Biar semua lebih mudah untuknya." perintah wanita tadi yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Mbak Intan, paham akan apa yang Kiran pikirkan.

Semua orang yang ada di dalam kamar pun berbalik, kecuali satu perempuan yang membawa baju tadi. Benar saja, secepat kilat Kiran dapat mengganti bajunya lalu menggantinya dengan salah satu gaun yang tadi ditunjuk.

Gaun itu berwarna peach dengan nuansa rose gold. Mengenakan aksen payet menjuntai pada bagian dada lengkap dengan cape di kedua sisi lengannya. Cutting simple namun tetap terlihat mewah.

Mbak Intan berdecak melihat penampilan Kiran. Ia meminta kepada pegawainya membawakan sebuah jilbab kemudian memakaikannya pada Kiran. Mata wanita itu berbinar.

"Kamu tampak cantik, Sayang. Benar-benar Cantik. Mbak Ariana pasti sangat bangga padaku, bisa membuat menantunya bagai bidadari." pujinya yang dianggap Kiran sangat berlebihan.

"Oke, pasangkan baju itu pada manekin." perintahnya kemudian.

Kiran membuka gaun itu kemudian, tentunya sesudah semua orang membalikkan badannya. Selanjutnya seseorang membawa manekin ke dalam kamar yang Kiran tempati, lalu memasangkan gaun itu di sana.

Semua orang yang memenuhi kamar itu pun akhirnya keluar setelah meminta izin pada Kiran. Pelayan yang membawa orang-orang tadi tetap tinggal.

"Nyonya meminta kami untuk membersihkan diri Anda. Jika Nona tidak keberatan, mari Nona ikuti saya." ujarnya membuat Kiran membulatkan matanya. Merasa bahwa pasti ada serangkaian perawatan yang akan dilaluinya. Semoga tidak ada yang aneh-aneh, doa Kiran dalam hati.

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!