Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 ketegaran nadia
Suasana di ruang keluarga masih dipenuhi ketegangan setelah pembagian warisan diumumkan. Nadia yang sejak awal merasa tidak nyaman dengan pembahasan tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi. Tujuannya datang hari itu hanyalah untuk menjenguk mantan ayah mertuanya dan berpamitan sebelum kembali ke Surabaya, bukan untuk menjadi bagian dari pertengkaran keluarga yang semakin memanas.
Dengan sopan Nadia menghampiri mantan ayah mertuanya terlebih dahulu.
"Ayah, saya harus pulang."
ucapnya pelan.
"Terima kasih karena sudah mau menemui saya."
Pria tua itu menggenggam tangan Nadia cukup lama.
Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Hati-hati di jalan."
katanya.
"Dan jangan lupa kalau rumah ini akan selalu terbuka untukmu."
Kalimat itu kembali membuat suasana menjadi hening.
Nadia hanya mengangguk kecil sebelum berbalik menuju pintu.
Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Adrian tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Berhenti dulu."
Langkah Nadia terhenti.
Ia perlahan menoleh.
Wajah Adrian terlihat jauh berbeda dibanding biasanya.
Ada kemarahan yang selama ini ia tahan dan kini mulai muncul ke permukaan.
"Aku baru sadar."
ucap Adrian sambil tertawa pahit.
"Hebat juga caramu."
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Anna bahkan mengernyit karena tidak menyukai nada bicara kakaknya.
Nadia memandang Adrian tanpa mengerti.
"Maksudmu?"
Adrian melangkah mendekat.
Tatapannya tajam.
"Tidak perlu pura-pura tidak tahu."
ucapnya.
"Kehamilanmu muncul tepat setelah perceraian."
"Dan sekarang anakmu mendapat bagian terbesar dari warisan Ayah."
Mata Nadia langsung membesar.
Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu sedang menuduhku apa?"
tanyanya pelan.
Namun Adrian yang sedang dikuasai emosi justru semakin kehilangan kendali.
"Jangan bilang semua ini kebetulan."
ucapnya.
"Selama ini kamu memang dekat dengan Ayah."
"Kamu tahu Ayah selalu membelamu."
"Dan sekarang hasilnya seperti ini."
Wajah Nadia perlahan memucat.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena marah.
Sangat marah.
"Aku tidak pernah meminta satu rupiah pun dari keluarga ini."
ucapnya tegas.
Namun Adrian seolah tidak mendengarnya.
"Atau mungkin memang itu tujuanmu sejak awal."
lanjutnya.
"Memastikan anakmu mendapatkan bagian terbesar."
Tepat saat kalimat itu keluar, suara tamparan keras menggema di seluruh ruangan.
Plak!
Semua orang membeku.
Nadia berdiri dengan napas memburu.
Tangannya masih sedikit bergetar setelah tamparan itu.
Untuk pertama kalinya sejak perceraian, ia tidak lagi menahan dirinya.
Adrian sendiri terlihat terkejut.
Pipi kirinya memerah.
Ia bahkan tidak sempat bereaksi.
Air mata mulai menggenang di mata Nadia.
Namun suaranya tetap tegas.
"Pikir baik-baik sebelum bicara."
ucapnya.
Dadanya naik turun menahan emosi yang selama ini ia pendam.
"Aku kehilangan pernikahanku karena pengkhianatanmu."
"Aku kehilangan rumah tanggaku karena pilihanmu."
"Aku kehilangan harga diriku karena gosip yang kamu dan selingkuhanmu ciptakan."
Setiap kalimat yang keluar terasa seperti luka yang selama ini tertahan akhirnya pecah.
"Dan sekarang kamu berani menuduhku mengandung anak ini demi warisan?"
Suara Nadia mulai bergetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena kecewa.
"Anak ini adalah anak yang selama bertahun-tahun aku tunggu."
Air matanya akhirnya jatuh.
"Anak yang seharusnya hadir saat aku masih menjadi istrimu."
"Anak yang seharusnya tumbuh dalam keluarga yang utuh."
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada yang berani menyela.
Bahkan Bianca yang sejak tadi duduk diam mulai menundukkan kepala karena merasa malu mendengar semua itu.
Nadia menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi luka.
"Kalau aku menginginkan harta, aku tidak akan meninggalkan firma."
"Aku tidak akan pergi dari kota ini."
"Aku tidak akan menolak semua yang bisa aku dapatkan."
Ia menghapus air matanya kasar.
"Lagipula warisan itu bukan milikku."
"Itu keputusan Ayah."
"Kalau kamu tidak terima, jangan salahkan aku."
Di kursi utama, mantan ayah mertua Nadia terlihat sangat marah.
Untuk pertama kalinya sejak sakit, suaranya terdengar keras.
"Cukup, Adrian!"
Pria tua itu berdiri dengan susah payah.
Tatapannya penuh kekecewaan.
"Aku yang membuat keputusan itu."
"Jangan pernah menyalahkan Nadia."
Adrian membeku.
"Dan jika kamu masih tidak mengerti kenapa aku mengambil keputusan seperti itu..."
Suara ayahnya bergetar.
"Itu karena Nadia selalu memikirkan keluarga ini bahkan setelah kamu menghancurkannya."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan yang baru saja diterimanya.
Karena untuk pertama kalinya Adrian benar-benar melihat betapa rendah dirinya di mata orang yang paling ia hormati.
Sementara Nadia berdiri diam dengan air mata yang masih membasahi wajahnya, menyadari bahwa luka yang ditinggalkan Adrian ternyata jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia akui kepada dirinya sendiri.
Ruangan masih dipenuhi keheningan yang menyesakkan setelah kemarahan Nadia dan teguran keras dari mantan ayah mertuanya. Tidak ada yang berbicara. Bahkan Adrian yang biasanya selalu memiliki jawaban kini hanya berdiri membeku dengan wajah pucat.
Tamparan di pipinya perlahan memudar.
Namun kata-kata Nadia dan ayahnya jauh lebih membekas dibanding rasa sakit fisik tersebut.
Di tengah suasana itu, Bianca yang sejak tadi duduk diam akhirnya perlahan berdiri dari kursinya.
Tangannya gemetar.
Matanya memerah.
Selama ini ia selalu memilih diam ketika Nadia disalahkan.
Diam ketika gosip menyebar.
Diam ketika orang-orang memandangnya dengan tatapan tidak suka.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sanggup lagi melihat semuanya.
"Sudah cukup."
Suara Bianca terdengar pelan.
Namun karena seluruh ruangan begitu sunyi, semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Bianca menundukkan kepala beberapa saat sebelum mengangkat wajahnya kembali.
Air mata sudah memenuhi matanya.
"Aku yang salah."
ucapnya.
Kalimat sederhana itu membuat semua orang terdiam.
Termasuk Nadia.
Bianca menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki.
"Nadia tidak pernah merebut apa pun dariku."
lanjutnya.
"Justru aku yang mengambil sesuatu yang bukan milikku."
Adrian langsung menoleh.
Wajahnya berubah.
"Bianca..."
Namun wanita itu menggeleng.
Untuk pertama kalinya ia menghentikan Adrian sebelum pria itu berbicara.
"Tidak."
ucapnya pelan.
"Biarkan aku menyelesaikannya."
Tatapannya perlahan beralih kepada Nadia.
Dan saat itu, tidak ada lagi sikap percaya diri yang selama ini ia tunjukkan.
Yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang begitu besar.
"Aku iri padamu."
ucap Bianca jujur.
"Aku iri karena semua orang menghormatimu."
"Aku iri karena kamu pintar."
"Aku iri karena kamu berhasil mendapatkan semua yang selama ini aku inginkan."
Air matanya jatuh satu per satu.
"Awalnya aku hanya bersimpati pada Adrian."
lanjutnya.
"Aku melihatnya selalu berada di bawah bayang-bayangmu."
"Aku melihatnya merasa gagal."
"Aku mendengarkan semua keluhannya."
Nadia hanya diam.
Mendengarkan.
"Lalu aku mulai berpikir bahwa mungkin aku bisa membuatnya lebih bahagia."
Suara Bianca mulai bergetar.
"Mungkin aku bisa menjadi seseorang yang lebih dia butuhkan."
Anna yang mendengar itu langsung memalingkan wajah karena kesal.
Namun Bianca tetap melanjutkan.
"Tapi semakin lama aku semakin sadar."
ucapnya.
"Kebahagiaan yang dibangun dari penderitaan orang lain tidak pernah benar-benar menjadi kebahagiaan."
Tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya.
Gerakan kecil yang membuat suasana kembali menjadi sunyi.
"Aku mendapatkan Adrian."
Air matanya semakin deras.
"Tapi aku kehilangan rasa hormat dari keluarganya."
"Aku kehilangan ketenangan."
"Dan setiap hari aku hidup dengan rasa bersalah."
Mata Bianca kemudian bertemu dengan mata Nadia.
"Ketika mendengar kamu hamil..."
suaranya pecah.
"Aku bahkan tidak berani merasa bahagia dengan kehamilanku sendiri."
Nadia menatap wanita itu tanpa berkata apa-apa.
"Aku tahu maaf tidak akan mengubah apa pun."
lanjut Bianca.
"Aku tahu aku tidak berhak meminta pengampunan."
"Tapi aku benar-benar menyesal."
Nadia memandangi Bianca beberapa saat setelah pengakuan panjang itu selesai. Wajahnya tetap tenang, tetapi ketenangan tersebut justru membuat suasana menjadi semakin menekan. Setelah semua yang telah terjadi, Nadia sudah tidak memiliki tenaga untuk terlibat dalam perdebatan ataupun drama yang tidak akan mengubah masa lalu.
Baginya, air mata Bianca mungkin tulus.
Penyesalannya mungkin nyata.
Namun semua itu tidak akan mengembalikan rumah tangga yang telah hancur.
Tidak akan menghapus malam-malam yang ia lewati sendirian.
Dan tidak akan mengubah kenyataan bahwa Bianca tetap memilih menjalin hubungan dengan pria yang masih berstatus suaminya saat itu.
Nadia perlahan berdiri dari kursinya.
Tatapannya beralih kepada mantan ayah mertuanya.
"Ayah, terima kasih karena sudah mempercayai saya dan anak saya."
ucapnya dengan hormat.
"Awalnya saya memang tidak menginginkan apa pun dari keluarga ini, tetapi karena ini keputusan Ayah, saya akan menghormatinya."
Mantan ayah mertuanya mengangguk pelan.
Di matanya terlihat sedikit kelegaan.
Karena setidaknya Nadia tidak menolak ketulusan yang ingin ia berikan kepada cucunya.
Kemudian Nadia mengambil tasnya dan bersiap pergi.
Namun saat melewati Bianca, langkahnya perlahan berhenti.
Semua orang mengira Nadia akan mengabaikannya.
Tetapi wanita itu justru sedikit membungkukkan tubuh dan berbisik pelan tepat di dekat telinga Bianca.
Suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Kalau dulu kamu begitu ingin mengambil sesuatu yang menjadi milikku, silakan."
ucap Nadia tenang.
"Tapi untuk yang satu ini, aku akan menerimanya."
Bianca membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Nadia menatapnya lurus. Tidak ada kemarahan di matanya. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata.
Dan justru itulah yang membuat Bianca semakin tidak nyaman.
"Aku pastikan satu hal."
lanjut Nadia pelan.
"Selama Ayah tidak mengubah keputusannya, kamu tidak akan menerima sepeser pun dari warisan itu."
Wajah Bianca langsung memucat. Nadia tidak sedang mengancam.Tidak sedang meninggikan suara.
Ia hanya menyampaikan kenyataan yang baru saja ditetapkan oleh kepala keluarga Mahendra.
Namun kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Karena Bianca tahu Nadia benar.
Meskipun kelak ia menikah dengan Adrian, bagian yang ditetapkan ayah Adrian tetap diberikan kepada Adrian dan anak yang dikandungnya.
Bukan kepada dirinya secara pribadi.
Dan jika suatu hari hubungan mereka berubah, ia tidak memiliki jaminan apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, Bianca benar-benar merasakan ketakutan.
Bukan karena kehilangan harta.
Melainkan karena menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Nadia mungkin telah kehilangan status sebagai menantu keluarga Mahendra.
Namun rasa hormat, kepercayaan, dan kasih sayang keluarga itu masih tetap berada di pihak Nadia.
Sedangkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi istri Adrian ternyata masih berdiri sebagai orang luar di mata banyak orang. Air mata Bianca kembali jatuh. Namun kali ini Nadia tidak melihatnya lagi. Ia sudah berjalan menuju pintu keluar.
Tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Di belakangnya, suasana ruangan kembali sunyi.
Sementara Bianca hanya bisa menundukkan kepala dengan dada yang terasa semakin sesak.
Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa direbut hanya dengan memenangkan seseorang.
Dan rasa hormat adalah salah satunya.
Di luar rumah, Revano yang sejak tadi menunggu akhirnya melihat Nadia keluar. Meski wajah wanita itu terlihat tenang, matanya menunjukkan kelelahan yang sangat dalam.
Tanpa banyak bertanya, Revano segera membukakan pintu mobil untuknya.
Dan saat Nadia duduk di kursi penumpang, ia memejamkan mata perlahan.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena hari itu akhirnya ia menyadari bahwa ada beberapa hubungan yang memang sudah berakhir selamanya, dan tidak ada lagi alasan baginya untuk menoleh ke belakang.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah