Cerita ini adalah lanjutan dari novel ~MIRA~
_____
Enam tahun telah berlalu di mana kejadian aksi bunuh diri Mira belum bisa dilupakan oleh Raka Alendra. Pria muda tampan yang memiliki kelebihan dapat mendengar isi pikiran orang lain.
Dengan kemampuannya itu ia dapat membangun perusahaan terbesar serta perusahaan lainnya. Seorang Presdir termuda di Perusahaan Welfin di kota Byusan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Sovia indriani, wanita yang baru tiba dari luar negri sekaligus seorang single mom yang memiliki rupa yang sama dengan Mira dan memiliki seoarang Putra yang bernama Deva. Sovia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Welfin.
Tiba-tiba saja seorang wanita lain hadir dan memiliki wajah yang juga mirip dengan Mira. Wanita itu mencoba untuk mengambil perhatiaan Raka. Namun karena gadis kecil yang bernama Dean, Putri kecil dari Raka mencoba untuk menyingkirkan wanita tersebut, karena tak ingin Ayahnya terjebak akan rencana jahatnya.
Begitupun dengan bocah yang bernama Deva, ia mencoba membantu Dean untuk mempersatukan Ibunya dengan Ayah Dean. Dan ternyata kedua bocah itu adalah saudara kembar yang artinya Sovia dan Raka adalah orangtua kandung mereka.
Lalu bagaimana semua itu terungkap?
Yuk kita baca sampai selesai:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ada Yang Aneh (2)
...{Beri like dan komen}...
Terlihat mobil putih berhenti tepat di depan rumah sederhana. Deva turun dari mobil diikuti bersama Pria itu. Mereka berjalan menuju ke arah pintu.
Pria itu mengetuk pintu rumah dan seseorang dari dalam segera membuka pintu untuk mereka. Vani kini terkejut melihat Deva berada diluar bersama Pria asing.
"Bibi."
"Astaga, kamu dari mana saja dari tadi!"
Vani langsung memeluknya membuat Deva hampir tak bisa menghirup udara akibat dipeluk terlalu erat. Pria yang di depannya hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Bi-bibi ... dadaku terasa sesak ...."
"Ah! Maaf sayang."
Vani segera melepas pelukannya, terlihat Deva sedang mengatur nafasnya. Untung saja ia segera berbicara. Vani yang melihatnya hanya tertawa kecil, kini tatapannya tertuju pada Pria di hadapannya.
"Maaf sudah merepotkan anda." ucap Vani tersenyum.
"Ah! Tidak perlu seperti itu padaku!" Pria itu terkejut melihat Vani membungkuk di hadapannya membuat ia merasa malu.
"Anda sungguh orang yang baik telah mengantarnya kembali, kami begitu cemas mencarinya. Terima kasih, Tuan." ucap Vani tersenyum. Pria itu pun membalas dengan senyumannya.
"Sama-sama Nona."
Deva mulai jenuh merasa diabaikan. Ia bagaikan nyamuk diantara mereka. Saat Pria itu ingin melangkah pergi, Vani segera memanggilnya kembali.
"Tunggu, bisakah anda memberitahuku siapa namamu?"
"Aku Roy Anggara, aku baru tiba di sini dan datang kemari karena pesta perayaan yang akan diselenggarakan oleh perusahaan Grop Welfin dan tak sengaja bertemu dengannya." jelas Pria itu melihat Deva, ia bernama Roy Anggara. Teman lamanya Raka Alendra sekaligus pria yang juga menyukai Mira.
"Aku Vani, Bibinya Deva." ucap Vani sedikit gugup. Roy cuma tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu, terima kasih atas keramahan Nona Vani." Roy tersenyum lalu berbalik berjalan menuju ke mobilnya.
"Hm, anak tadi itu terlihat mirip dengan Dean, ais ... pasti aku sudah salah lihat." gumam Roy menggelengkan kepala masuk ke dalam mobil lalu pergi entah kemana.
"Jadi dia orang yang baru tiba di sini, lumayan juga." Vani tersenyum memikirkan Roy.
Sedangkan Deva, ia mulai jenuh dan segera masuk ke dalam meninggalkan Bibinya yang terdiam di pintu, ia pun mencari keberadaan Neneknya.
"Nenek pasti dari tadi mencariku, hm ... dan juga ada yang ingin aku tanyakan padanya."
Deva berjalan ke belakang, ternyata benar dugaannya jika neneknya sekarang cemas mencarinya. Ia berlari memeluk wanita tua yang membelakanginya.
"Nenek."
"Deva, syukurlah ternyata kamu di sini." ucap Bu Risma berbalik melihat cucunya yang sudah ada di belakangnya. Ia menggendong Deva sambil masuk ke dalam.
"Cucuku dari mana saja, Nenek sungguh kuatir mencarimu." ucap Bu Risma duduk di samping Deva.
"Deva keluar bermain dan tidak sengaja tersesat, Deva kesepian Nek." jawab Deva mencari alasan.
"Nenek tidak boleh tau jika aku keluar mencari Mami." batin Deva melihat Neneknya.
Vani berjalan dari dapur, ia pun duduk bersama mereka dengan susu coklat ditangannya.
"Nih minumlah, seharusnya kamu tak keluar rumah, kan Bibi bisa menemanimu bermain, jika Ibumu tau entah bagaimana reaksinya mendengar jika kamu hilang di luar sana."
Vani dengan nada agak marah langsung menegur Deva. Deva cuma menunduk mendengarnya.
"Vani, yang penting dia sudah kembali, tidak perlu memanasi keadaan lagi." ucap Bu Risma. Vani hanya mengangguk paham lalu menuju kembali ke kamarnya.
Deva mulai ingat dia memiliki pertanyaan untuk Neneknya. Disaat ingin menanyakannya terdengar panggilan untuk Neneknya membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Nenek tinggal dulu, Deva masuk ke kamar tidur siang jangan keluar lagi ya." Bu Risma mencium keningnya, Deva menggangguk mengerti.
"Lebih baik tanyakan pada Mami, Nenek tampak sibuk hari ini. Aaaa! ini semua gara-gara hantu idiot itu, jika saja ia tak meninggalknku mungkin aku tak akan kena marah. Awas saja jika ia pulang, akan ku tendang jauh jauh. Hmph!" Deva mengumpat kesal berjalan ke kamar.
****
Putri masih berada di kantor dan masih saja mencari keberadaan Deva.
"Hachiii ...." Putri tiba-tiba bersin.
"Siapa yang memarahiku di siang ini."
"Bocah itu di mana sih, kalau hilang nanti yang ada malah tambah berdosa." gerutu Putri menyusuri setiap ruangan.
Disaat Ia tepat di ruangan Presdir, ia akhirnya melihat Sovia yang masih saja tertidur. Putri juga melihat Raka berada di dekat Sovia. Terlihat Raka memperhatikan Sovia yang masih saja tertidur.
"Pantas saja tidak ketemu ternyata ada di ruangan ini." Putri memperhatikannya lalu terkejut mendengar perkataan Pria di dalam ruangan bersama Sovia.
"Besok malam di acara perayaan bagaimana ekspresi mereka saat dirimu menjadi pasanganku." Raka perlahan mengelus rambut Sovia lalu berjalan menuju ke mejanya, seketika pandangannya menatap ke arah pintu. Tatapan Raka tadi sekilas melihat keberadaan Putri. Tapi ia tidak peduli lagi dengan hal itu.
Putri segera pergi dari ruangan itu, ia segera mencari keberadaan Deva, ia harus memberitahukan hal ini pada bocah itu. Disaat ia menyusuri lorong-lorong. Tiba-tiba saja ia merasakan hal aneh itu lagi.
"Akh! Kenapa terasa sakit." Putri terkejut terdiam membisu menahan sakit, ini tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti memiliki detak jantung.
Putri perlahan menghilang, entah kemana ia pergi sekarang.
Di tempat lain tepatnya di rumah sakit, Dokter Kevin yang sedang memeriksa pasien yang sudah lama tak sadar dari komanya. Pasien itu seperti gadis berumur 14 tahun dengan wajah pucat dimana matanya selalu saja terpejam lalu ada dua orang masuk keruangannya.
"Dok, bagaimana keadaan temanku?" Gadis itu bertanya pada Dokter kevin bersama gadis kecil yang berada di belakangnya.
"Erika! Akhirnya kamu datang juga, keadaannya masih sama saja, kamu sabar ya." jawab Kevin melihat Erika, dengan wajah rasa bersalah. Tatapan Kevin kini tertuju pada gadis kecil yang dibawa Erika.
"Gadis kecil ini terlihat mirip dengan seseorang tapi siapa ya." gumam Kevin dalam hati melihat Dean.
"Oh ya Erika, siapa gadis kecil yang kamu bawa?" Kevin melihat gadis itu tampak ketakutan.
"Dia keponakanku, Dok." jawab Erika.
Disaat Kevin mendekati gadis itu ingin memastikan lebih jelas, tiba tiba Dean berteriak histeris.
"Aaaa! Aku tidak mau disuntik, aku mau pulang, kakak kita pulang saja, Dean takut." Dean merengek ketakutan didekati oleh Dokter Kevin. Kevin hanya tertawa malihat tingkahnya yang lucu.
"Haha, jangan kuatir, paman tidak akan menyuntik orang." jelas Kevin yang masih tertawa geli.
"Baiklah, Erika aku keluar dulu, kamu masuklah melihat temanmu." Kevin keluar dari ruangan diiringi tatapan Dean yang masih ketakutan.
"Kakak, kenapa kita harus kesini? Bukannya kita langsung pulang saja." Dean yang bermodal memiliki wajah imut berusaha merayunya untuk pulang.
"Sebentar ya, kakak pergi lihat teman dulu, tetaplah di samping kakak." Erika yang tak mempan dengan rayuan Dean berjalan ke arah temannya itu. Ia duduk di samping temannya yang tak pernah sadar dari kejadian seminggu yang lalu.
Erika merasa kasihan melihat sahabatnya itu berusaha untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dean yang melihat Erika menangis, ia ikut menangis juga.
"Huaaa ... kakak jangan bersedih, Dean jadi ikut menangis, hikss ..." Dean memang gadis manja, jika melihat sesuatu yang menggerakkan hatinya seketika itupun ia akan ikut menangis pula. Erika hanya memeluk keponakannya itu.
Erika pun memegang tangan temannya berharap Ia segera siuman dari komanya.
Sudah begitu lama mereka di sana, akhirnya mereka keluar dari ruangan tersebut dan berpamitan pada Dokter Kevin untuk segera pulang segera kembali ke rumah.
...***...
...Wah, siapakah teman Erika ini?...
...Apa mungkin ada hubungannya dengan Putri?...
...Halo Readers...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...
...
Maaf aku blm bca season 1 soalnya . Mau bca tp males ah..kpngen lgsug bca yg ini aja🤭