Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Pagi merayap turun dalam keheningan. Sisa hujan masih lekat menghantarkan aroma khas tanah dan dahan basah. Embun menggantung tebal, membaur bersama kabut pekat menutupi rimbun hijau pegunungan.
Anggota keluarga Bai cabang kedua yang berjumlah lima orang baru saja membuka mata, sebab setelah Bai Anshu bangun semalam, mereka mengobrol banyak hal hingga dini hari.
"Kapan kelinci dan burung pegarnya dijual..?" tanya Bai Anshu, melihat kandang yang telah kosong.
"Kemarin, dititipkan ke kakak sepupumu." balas Chen Muwan.
Bai Anshu menghampiri sumur, mengalirkan air suci kedalamnya.
Setelah itu gantian gentong penampungan didapur, serta kendi minum.
Beruntungnya, meski keluarga Bai sangat miskin, mereka bisa membangun sumur sendiri. Berbeda dengan para penduduk yang mengandalkan sumur ditengah desa hasil sokongan bersama.
Bai Muwan membantu menyalakan api ditungku, sebelum pamit untuk berolah raga mengelilingi rumah.
"Waktu yang baik untuk menyerap energi alam." suara Xingxing terdengar.
"Baik...!"
Bai Anshu mencari lokasi tersembunyi, merentangkan kedua tengan, memusatkan pikiran pada satu titik seraya memejamkan mata.
Dengan kekuatan batinnya, Bai Anshu menarik energi spiritual yang dihempaskan oleh alam disekitar guna memperkokoh kekuatan kayunya.
Perlahan, lingkaran tenaga dalam terbentuk di telaga merdian Bai Anshu. Meski masih setipis tisu, tapi itu merupakan perkembangan yang bagus.
Setelah tiga puluh menit bersemedi, Bai Anshu menyudahi kegiatannya.
"Huh...!"
Bai Anshu menghentakkan nafas, asap putih menguar, membaur dengan udara lalu terbang memudar hilang.
"Sedikit lagi lingkaran pertama akan terbuka." ucap Xingxing.
Ada seratus lingkaran energi spiritual dan tenaga dalam yang wajib Bai Anshu bebaskan dari segelnya, agar pondasi kekuatannya sempurna.
"Xingxing, bisakah kau menebak cuaca hari ini..?"
"Kenapa memangnya..?"
"Ternyata dihutan banyak sekali tanaman yang bisa dimakan juga herbal berharga, aku ingin memanennya."
"Sampai satu minggu kedepan tidak ada turun hujan, matahari akan bersinar sangat terik."
Bai Anshu melompat kegirangan, ia bisa bebas bergerilya menjelajahi hutan.
Bai Anshu pulang, sembari mengamati setiap tanaman yang ia jumpai dengan terus membedah seluruh ingatannya.
Sesampainya dihalaman belakang rumah, terlihat Hanzi dan Jinyu sedang merawat tanaman yang terkoyak hujan semalam.
Sang ayah tengah menimba air mengisi bak pemandian.
"Kakak pertama dari mana..?" tanya cadel Bai Jinyu.
"Berolahraga, sekalian mencari sesuatu yang bisa dimakan."
Bai Anshu menuju kesumur "ayah, biar aku saja."
Bai Dashan menggeleng "sedikit lagi penuh. Lebih baik kau beristirahat, tubuhmu belum pulih."
"Aku sudah tidak apa-apa, ayah tak perlu cemas."
Bai Anshu mengambil keranjang baju kotor, merendam dalam ember dengan abu tanaman dan bekas cucian gandum hijau.
Biasanya, jika ada air cucian beras, garam, rakyat jelata akan menggunakan itu untuk mencuci pakaian.
Tapi karena kemiskinan, mana sanggup mereka membeli biji beras yang harganya lima belas sen per kati.
Sembari menggilas baju, Bai Anshu memikirkan cara untuk memulai bisnis yang tanpa harus mengeluarkan modal terlebih dulu.
Setelah membolak-balikkan ingatan, Bai Anshu terpekik riang dalam hati kala alarm notifikasi berbunyi diotaknya.
"Ah, sabun..!"
Pada masa ini, cuma orang-orang kaya yang membersihkan badan atau mencuci pakaian dengan menggunakan ramuan herbal, belustru dan biji akasia madu.
Ada pula yang memakai bubuk kacang dengan campuran herbal seperti cengkeh, gaharu, atau beragam bunga beraroma tajam.
Beres urusan mencuci pakaian, Bai Ansu sarapan bersama keluarga. Kali ini menunya sedikit lebih mewah, bubur gandum hijau dengan toping telur rebus.
"Ayah, ibu, setelah ini aku izin pergi kehutan ya..?"
Pergerakan tangan Dashan, Muwan, dan kedua putranya terhenti. Netra mereka kompak terhunus pada Bai Anshu.
"Tidak akan turun hujan, lagi pula aku sudah baik-baik saja." jelas Bai Anshu cepat, memamerkan otot di lengan kurusnya.
Mereka terkekeh bersama.
Satu alis Bai Dashan menukik tajam "bagaimana kau bisa tahu kalau tidak akan turun hujan..?"
Bai Anshu menyengir kuda "dari aroma angin serta matahari yang terbit tanpa membawa awan setitik pun."
Kini bukan hanya mata Dashan yang memicing. Muwan, Hanzi dan Jinyu juga menautkan kedua alis mereka dengan kasar.
Bai Anshu menggaruk konyol kepalanya, menyengir kikuk karena mendapat tatapan aneh penuh selidik itu.
"Em, setelah aku tersambar petir kemarin, aku bermimpi bertemu Dewa pengetahuan. Dia memberi semua ilmunya sekaligus mengajariku cara mempraktekkannya langsung."
"Shu'er, jangan bercanda...!" tegur Chen Muwan.
"Aku tidak bercanda ibu, aku bahkan sekarang bisa membaca dan menulis. Aku tahu banyak karakter, aku juga bisa sastra."
Empat pasang mata membola sempurna, dengan mulut menganga lebar sampai bisa dijejali telur buaya.
Bai Anshu mencelupkan tangannya pada mangkuk air, lalu menulis beberapa aksara diatas meja.
"Ini namaku...!"
Setelah air mengering lalu menghilang, Anshu kembali menuliskan karakter lain.
"Ini nama ayah...!"
Bai Anshu lanjut menulis nama ibu serta kedua adik lelakinya.
"Shu'er...!"
"Kakak...!"
"Kakak kedua...!"
Seru terperangah orangtua, Hanzi dan Jinyu, bebarengan.
Bai Anshu tersenyum ranum, ia menjabarkan semua yang dialaminya pada saat koma kemarin.
"Apa, tiga tahun...?"
Bai Anshu mengangguk "Dewa pengetahuan mengatakan kalau aku sudah selama itu belajar dengannya, tapi disini aku cuma tertidur tiga hari."
Empat anggota keluarga menelan ludah dengan susah payah. Dada mereka bertalu-talu, dahi mulai berembun dengan hawa dingin yang menyergap perlahan.
"Jadi, kakak pertama bisa beladiri sekarang..?" tanya antusias Bai Jinyu.
Bai Anshu mengiyakan.
"Aku mau berlatih beladiri juga. Kakak pertama, tolong ajari aku..!"
Bai Anshu terkekeh, menunjuk kedua adik lelakinya bergantian "kita akan belajar bersama, bukan hanya beladiri saja, tapi juga membaca dan menulis."
Hanzi dan Jinyu berseru senang, lalu bertos ria sebelum mengucapkan terimakasih.
Bai Anshu juga berjanji, ia akan mengajari ilmu kedokteran, serta akutansi dan bisnis.
"Ayah, ibu, dihutan banyak sekali yang bisa kita jadikan makanan, tanaman herbal pun melimpah. Ternyata semua yang selama ini dianggap beracun sebab membuat sakit itu karena cara pengolahannya tidak tepat."
Bai Dashan dan Chen Muwan saling melirik, mereka kemudian teringat dengan perkataan dokter Yong.
"Ketika bangun nanti Anshu akan menjadi orang berbeda, entah itu bodoh atau sebaliknya"
"Ya Dewa, ini sungguh berkah tak terkira darimu, terimaksih..!" ucap Muwan meneteskan airmata, bersimpuh ditanah sampai dahi menyentuh tanah ke arah matahari terbit.
Dashan pun melakukan hal yang sama.
Sebagai orangtua mereka amat bersyukur karena putrinya kembali bangun tanpa mengalami kecacatan. Tapi ternyata keajaiban itu sungguh ada, anak sulungnya diberkahi banyak ilmu pengetahuan.
"Aku juga masih harus melatih keterampilanku, jadi nanti aku akan lebih sering pergi kehutan."
"Baiklah..! tapi kau harus ingat untuk tetap berhati-hati." pesan sang ayah.
Bai Anshu mengangguk patuh.
Sarapan selesai, Bai Anshu dan Hanzi bersiap pergi ke hutan pegunungan.
Kakak beradik itu mengumpulkan cacing dan serangga terlebih dulu, sebelum berangkat melalui jalan yang jarang dilalui oleh penduduk desa.
Untuk urusan merawat kebun dibelakang rumah, menjadi tugas Chen Muwan dan Bai Jinyu.
Bai Dashan yang belum bisa menekuk serta menapakkan kaki kirinya ketanah, mengerjakan tugas yang ringan-ringan.