"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dinda berlari tanpa memedulikan rasa lelah hingga langkah kakinya kembali menapak di area rumah pohon. Dengan napas memburu dan gerakan terburu-buru, gadis itu menapaki satu-per-satu anak tangga kayu. Begitu berhasil mencapai ambang atas, ia bergegas masuk ke dalam Rumah, membanting daun pintu, lalu menutupnya rapat-rapat seolah ingin mengunci seluruh dunia di luar sana.
Ia bersandar di balik pintu yang tertutup. Jantungnya berdegup kencang, berkejaran dengan emosi yang membumbung di dadanya. "Duh... aku ini kenapa, sih?" ucapnya lirih pada kesunyian kamar.
Kilasan bayangan saat Lilis memeluk tubuh Wira dengan begitu santai dan penuh percaya diri kembali berputar otomatis di benak Dinda. Apakah sebelum aku datang, mereka berdua sebenarnya memang sudah memiliki hubungan khusus? tanya Dinda ragu dalam hati. Kesedihan perlahan menyelinap, menggantikan amarahnya yang menggebu.
"Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan terlalu dalam... Toh, aku ini cuma pendatang asing di desa ini," gumamnya pelan, mencoba menghibur diri sendiri walau hatinya tetap terasa mencelos.
Deg... deg... deg...
Atensi Dinda seketika dikejutkan oleh gema suara langkah kaki yang tegas dan berat tengah menaiki anak tangga rumah pohon dengan tergesa. Tak lama setelahnya, ketukan keras bertubi-tubi mendarat di permukaan pintu di balik punggungnya.
"Dinda? Bukalah pintunya,... Dinda, kau sudah salah paham!" seru Wirandu cepat dari balik pintu, suaranya sarat akan nada panik yang jarang ia tunjukkan.
Dinda tetap bergeming di posisinya, menahan napas dalam-diam.
"Percayalah padaku, Dinda. Aku dan wanita itu sama sekali tidak ada hubungan apa-apa... Kau dan akulah yang memiliki hubungan. Sejak awal, aku hanya menyukaimu... hanya kamu," lanjut Wira lagi, mengalirkan untaian kalimat yang seketika memberikan ketenangan magis di dada Dinda.
Debaran jantung Dinda yang semula bertalu hebat akibat cemburu kini berangsur-angsur melunak dan menghangat. Namun, seolah tidak ingin menurunkan harga dirinya dan enggan menunjukkan bahwa dirinya tengah terbakar cemburu buta, gadis kota itu mengatur raut wajahnya sedatar mungkin sebelum perlahan memutar grendel pintu.
Kreeet...
Pintu terbuka sedikit. Dinda memunculkan wajahnya, menatap Wira dengan pandangan yang diusahakan sebiasa mungkin. "Ada apa, Kanda?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
Wira tidak membalas dengan kata-kata. Begitu melihat pintu terbuka dan wanitanya berdiri di sana, sang pemburu langsung merangsek maju. Lengan kekarnya terulur kuat, menarik tubuh ramping Dinda ke dalam dekapan hangatnya, memeluk gadis itu dengan sangat erat seolah takut kehilangan.
"Percayalah padaku, Dinda... Aku hanya mencintaimu, tidak ada wanita lain," bisik Wira tulus, menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Dinda yang terurai wangi.
Mendengar pengakuan sejelas itu langsung di telinganya, pertahanan Dinda runtuh. Ia menyunggingkan senyum kecil di dalam dada bidang Wira. "Baiklah, aku percaya..." sahut Dinda pelan.
Ia kemudian mendongak, melepaskan diri dari dekapan hangat itu sembari berdeham canggung. "Ehm... sebenarnya, tadi itu aku mendadak lari karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil," cicit Dinda berbohong setengah mati, memutar otak mencari alasan paling aman agar gengsinya sebagai cewek modern tetap terjaga.
Wira melonggarkan pelukannya, lalu menatap lekat-lekat wajah Dinda untuk memastikan tidak ada binar amarah yang tersisa di sepasang netra cokelat itu. Mendengar alasan tak terduga dari wanitanya, embusan napas lega yang berat terdengar keluar dari bibir Wira.
"Oh, syukurlah... Kupikir kau benar-benar marah dan akan mendiamkanku," kata Wira dengan gurat wajah yang kini sepenuhnya kembali tenang dan lega.
Dinda menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum simpul. "Tidak kok."
"Baiklah kalau begitu, mari kita masuk ke dalam," ajak Wira lembut, merangkul pinggang Dinda posesif.
Dinda mengangguk patuh, dan keduanya melangkah bersama masuk ke dalam kehangatan rumah pohon, menutup pintu untuk melanjutkan obrolan mereka berdua.
Namun, di balik rimbunnya semak belukar yang tak jauh dari kaki pohon besar itu, kedua insan tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati interaksi manis mereka dengan tatapan yang dipenuhi luka mendalam.
Lilis berdiri mematung di balik batang pohon. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah balkon atas tempat Wira baru saja memeluk Dinda dengan begitu penuh cinta—pemandangan yang bahkan tidak pernah ia impikan bisa ia dapatkan dari sang pemburu dingin itu.
"Kangmas Wira..." cicit Lilis sangat lirih, suaranya bergetar menahan sesak yang teramat sangat di dada.
Sadar bahwa tidak ada lagi celah baginya di hati pria itu, Lilis lantas memutar tubuhnya dengan lemas dan berbalik pergi. Gadis itu melangkah gontai meninggalkan area rumah Wira, beriringan dengan air mata yang kini mengalir deras membasahi pipi Tirusnya.
Malam kembali datang menyergap desa dengan cepat, menyelimuti seisi hutan dengan kegelapan yang pekat.
Dari balik celah jendela kayu rumah pohon, Dinda berdiri memaku pandangan ke arah bawah. Di antara kerapatan pohon, ia dapat melihat lambaian cahaya kemerahan dari barisan warga desa yang berjalan berbondong-bondong membawa obor bambu, bergerak seirama menuju ke arah rumah Ketua Kampung untuk memulai persiapan hajatan.
"Kanda...!" panggil Dinda setengah berbisik, memecah kesunyian malam yang mulai merayap.
"Hmm?" sahut Wira pelan dari posisinya yang sedang bersila di ruang tengah.
"Apa Kanda tidak pergi ke sana juga?" tanya Dinda menoleh sekilas.
"Pergi ke mana?" Wira balik bertanya tanpa membuka mata, tampaknya sedang mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian bekerja keras.
"Ke rumah Ketua Kampung. Warga desa yang lain sepertinya sudah berkumpul di sana," ucap Dinda lagi.
"Ndak," jawab Wira singkat, padat, dan tenang.
"Kenapa?" tanya Dinda penasaran. Sebagai pemuda terkuat di desa, bukankah kehadiran Wira biasanya sangat dibutuhkan dalam acara-acara besar seperti ini?
"Sudahlah, tutuplah jendela itu sekarang... Biarlah mereka sibuk dengan urusan mereka di luar sana. Kau masuklah ke kamar dan istirahat," ucap Wira lembut namun sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Dinda mengangguk pasrah. Ia menarik daun jendela kayu hingga menutup rapat, mengunci sisa-sisa suara riuh warga dari kejauhan.
Gadis itu kemudian bangkit melangkah menuju area kamar tidur. Jujur saja, langkah kakinya terasa agak berat. Dadanya mendadak berdebar tidak karuan dan disergap rasa canggung yang teramat sangat. Bagaimana tidak? Malam ini, untuk pertama kalinya setelah riak-riak cemburu tadi siang, ia berada di dalam rumah terpencil ini hanya berdua saja dengan Wira.
Pikiran Dinda mendadak berkelana liar. Entah apa yang akan terjadi seterusnya malam ini... Apakah adegan intens tadi siang di rumah ini akan terulang kembali? batinnya bertanya-tanya dengan pipi yang mulai menghangat sendiri.
Namun, ketakutan sekaligus debaran manis Dinda tidak terbukti. Wira sama sekali tidak beranjak untuk menyusulnya ke dalam kamar. Pria itu tampaknya masih asyik terduduk tenang menjaga ruang depan, memberikan Dinda ruang untuk bernapas lega.
Dinda merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu, menatap langit-langit kamar yang temaram. Namun, baru beberapa saat ia memejamkan mata mencoba merilekskan pikiran, sebuah getaran kuat mendadak muncul dari balik tumpukan kain pakaian di dekat bantalnya.
Dreeettt! Dreeettt!
Dinda tersentak kaget di atas ranjangnya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dengan gerakan kilat dan waswas, ia merogoh dan mengeluarkan gawai modernnya.
Layar ponsel pintar itu menyala terang benderang di dalam kegelapan kamar panggung, menampilkan sebuah notifikasi pop-up berwarna merah menyala yang berkedip-kedip dari aplikasi Toko Online gaib miliknya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Dinda menyentuh layar dan membuka pesan sistem tersebut. Detik berikutnya, sederet kalimat dengan huruf kapital tebal muncul, menampar kesadarannya:
[PERINGATAN SISTEM]: MOHON TUAN RUMAH SEGERA MENYELESAIKAN TUGAS YANG TELAH DIBERIKAN, AGAR HADIAH UTAMA DAPAT SEGERA DITERIMA. PENYELESAIAN TUGAS LEBIH CEPAT, JAUH LEBIH BAIK. WAKTU ANDA TERUS BERJALAN.
Dinda meneguk ludahnya kesat. Dinginnya malam seketika terasa menusuk tulang. Peringatan itu seolah menjadi lonceng kematian yang mengingatkannya bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi untuk bersantai. Tugas dari Toko Onlinenya sudah menunggu, jadi harus segera dimulai besok pagi!
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍