Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.
"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.
"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"
"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.
Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Amarah dan siasat licik
...Chapter 13...
...----------------...
Nola membanting seluruh perabotan di dalam kamarnya, Tak lupa ia juga menutup seluruh tirai di dalam kamarnya, Agar tak ada yang tahu bahwa gadis itu kini sedang dalam amarah besar.
"Clarissa, Beraninya kau merebut perhatian kakak-ku!" gumamnya dengan wajah berantakan, Melihat beberapa lukisan yang sedang ramai dalam perbincangan itu, Membuatnya sangat marah.
"Itu pasti kakak yang buat untuk-mu kan?! Beraninya gadis sombong sepertimu mendapatkannya, Aku sungguh membenci-mu!" Kesal Nola.
Tok! Tok! tok!
"Non, Nona Claudia datang." Ucap salah satu pelayan rumahnya, Nola pun menoleh dan menenangkan nafasnya yang tak beraturan. Ia menatap cermin dan mulai merapikan kembali penampilannya.
"Claudia, Kau datang?" Nola tersenyum manis menatap kedatangan Claudia di rumahnya. Ia sudah berteman cukup lama dengan gadis itu, Karna kedudukan keluarganya yang hampir setara.
"Huh...kau lupa, Kan kau yang bilang pulang sekolah akan menjenguk ibunya Nadia, Tetapi di parkiran tadi kau seolah tak mendengarkan-ku, Jadi aku menyusul mu sampai rumah." Ucap Claudia cemberut.
"Oke...baiklah. Maafkan aku, Ayo kita jenguk ibunya nadia." Ucap Nola tersenyum,
"Gara-gara kau make up ku hampir luntur, Aku menaiki mobil dengan kecepatan penuh mengejar mobil sopir-mu. Aku ingin ke kamar-mu meminjam sisir dan bedak." Ucap Claudia hendak menaiki tangga, Tetapi Nola segera menghentikannya.
"Tidak, Kau terlihat sangat lelah. Biar aku saja yang mengambilnya, Kau tunggu sini. Biar bibi membuatkan-mu minum." Ucap Nola, ia mendorong Claudia menuju sofa di ruang tamu, Ia meng-kode pembantunya untuk membawakan segelas minuman. Setelah itu ia naik menuju kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Tumben sekali kau begitu pengertian." Gumam Claudia kecil.
...--------------------------------...
Nadia menatap Robert yang datang dengan wajah datar, Tak seperti biasanya. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Robert sambil tersenyum manja.
"Kau datang, Kemana saja kau kemarin. Robert?" Tanya Nadia dengan sedih.
"Maafkan aku, Aku sibuk kemarin. Jadi aku baru bisa menemui mu sekarang. Bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Robert, Ia tak mengetahui bahwa Ayunda terkena racun.
"Ibuku baik-baik saja, Di pesta kemarin. Aku gagal mengambil kalung hadiah milik nona Clarissa, Karna penyakit ibu-ku kambuh tiba-tiba." Ucap Nadia memelas.
"Memangnya siapa yang menyuruhmu melakukan hal bahaya begitu, Aku sangat khawatir pada-mu." Ucap Robert memeluk Nadia, Hatinya sedang bimbang sekarang.
"Robert?!" Kaget Claudia, Sedangkan Nola hanya terlihat biasa saja.
"Kau di sini, Ternyata kalian sungguh memiliki hubungan spesial?!" Tanya Claudia menyelidik.
"Mereka memang memiliki hubungan spesial, Tetapi karna Clarissa, Robert tak berani mendekati Nadia dengan leluasa." Ucap Nola tersenyum sinis.
"Ada apa? Apa Clarissa juga mendekati Robert?! Padahal aku lumayan kagum padanya kemarin." Ucap Claudia menghela nafas kesal.
"Itu karna Robert teman masa kecilnya, Ia jadi tak rela bila Robert dekat dengan Nadia. Ia juga selalu ingin Robert berada di dekatnya." Ucap Nola mengada-ada.
"Huh...padahal tunangannya itu tuan muda Axion, Sepertinya dia memang berniat mengincar Nadia, Buktinya dia mendekati dua pria yang dekat dengan Nadia." Ucap Claudia dengan sinis.
"Sudahlah, Nona Clarissa mana bisa di bandingkan dengan-ku, Dia cantik dan populer, Berbeda denganku yang sederhana dan bodoh." Ucap Nadia menunduk.
"Hey...kau lebih baik darinya, Dia itu hanya mengandalkan wajah dan keluarganya saja. Jangan pernah berpikir untuk tunduk padanya." Ucap Claudia memegang kedua tangan Nadia. Nadia tersenyum dan memeluk Claudia.
"Nona Claudia, Aku bersyukur punya teman seperti-mu." Gumam Nadia, Ia tersenyum licik sambil menatap Nola yang berada di depannya.
"Aku juga senang berteman dengan-mu, Ayo berikan ini pada ibumu." Ucap Claudia menyerahkan sebuket buah mahal.
"Kau masuk dan berikan saja pada nyonya Ayunda, Aku dan Nadia ada urusan penting yang harus di bahas." Ucap Nola, Claudia terlihat ingin marah, Tetapi Robert segera mendorongnya untuk masuk.
Nadia mengajak Nola untuk sedikit menjauh dari ruang rawat ibunya, Ia pikir mungkin Nola hanya ingin menanyakan tentang uang biaya rumah sakit ibunya.
"Ada apa nona Nola, Anda sepertinya ingin membahas hal yang sangat penting?" Tanya Nadia, Nola pun tersenyum manis.
"Nadia, Kau tau uang yang ku berikan padamu kemarin itu adalah tabungan-ku, Aku tak punya uang lebih banyak lagi."Ucap Nola dengan wajah sedih.
"Aku akan menggantinya, Tapi...beri aku waktu ya." Ucap Nadia mencoba meyakinkan Nola, Nola pun tersenyum dan memegang kedua pundak Nadia.
"Nadia sebagai teman aku tidak bisa menyuruhmu mengganti uang yang telah aku berikan, Aku tulus membantumu." Ucap Nola, Nadia tersenyum...
"Jadi...apa yang bisa aku lakukan untuk anda, Aku akan melakukan apapun untuk-mu." Ucap Nadia, Itulah ucapan yang Nola tunggu-tunggu.
"Kakak-ku menyuruhku menemani kliennya di bar besok, Apa kau tak keberatan menggantikan-ku? Aku sangat berharap kau bisa membantu-ku. Apalagi teman kakak-ku itu sangat kaya raya. Tetapi aku tidak menyukainya." Ucap Nola memelas.
Mendengar kata kaya raya, Kedua mata Nadia berbinar, Mungkin saja ia bisa menambahkan sekutu dalam rencananya menghancurkan keluarga bellen dan William.
"Tentu saja, Aku akan membantu anda." Ucap Nadia dengan cepat. Nola tersenyum dan memeluk Nadia.
"Kau memang selalu bisa di andalkan." Ucapnya tersenyum miring.
...--------------------------------...
Tora baru saja pulang, Ia tersenyum sepanjang perjalanan. Semua pembantu di dalam rumahnya merasa heran.
"Tuan muda, Anda terlihat sangat senang?" Tanya bi Hanum, Pembantu senior di rumah itu.
"Aku tidak apa-apa, Oh ya...apa Nola sudah pulang?" Tanya Tora, Bi Hanum terlihat ragu menjawab.
"Itu tuan, Nona Nola terlihat marah tapi setelah nona Claudia datang, Dia tidak marah lagi." Ucap bi Hanum, Tora pun mengangguk dan segera menaiki tangga menuju kamar sang adik.
Tora menatap kamar adik tirinya itu dengan senyuman senangnya, Ia selalu senang bila berhasil mengacaukan pikiran dan hati adik tirinya itu. Keluarga yang terlihat harmonis itu, Nyatanya hanya penuh dengan pengorbanan dirinya. Memangnya siapa yang bisa menerima seorang pembunuh ibunya untuk bersatu menjadi sebuah keluarga?
"Adik tiriku yang manis, Aku senang sekali mempermainkan-mu. Tetapi apa yang membuat amarah-mu sampai sebesar itu?" Gumam Tora menatap barang-barang berserakan di kamar sang adik.
Tora kembali ke kamarnya sendiri, Ia tersenyum manis menatap layar handphonenya yang kini terisi sesuatu yang ia anggap sangat penting.
"Clarissa, Kau cantik sekali." Ucapnya menatap layar handphonenya yang menangkap foto Clarissa yang diam-diam ia ambil saat mengajar tadi. Tetapi notif baru yang belum ia lihat itu membuat senyumnya memudar...
"Apa ini?" Pemuda itu bangkit dengan wajah kaget, Lukisan populer yang sedang ramai menjadi pusat perhatian itu, Buatan siapa?
Mengapa menggunakan wajah cantik Clarissa?
"Ku harap yang membuat ini hanyalah seorang gadis penggemar Clarissa, Jika aku tahu yang membuatnya adalah laki-laki, Maka...." Tora mengepalkan kedua tangannya kuat sambil meremas ujung seprei miliknya.
"Aku akan membunuhnya." Lanjutnya.
TBC
like dan komen