HIATUS.
Mohon maaf, Author sedang berhibernasi sampai musim salju tiba.
***
Aku enggak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu. Saat terbangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran sempit yang disusun oleh besi-besi.
Di luar sana, tampak puntung rokok di atas meja mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga tergantung asal di tembok. Sementara puluhan keris berdiri sejajar di dalam lemari kaca.
"Tutupi tubuhmu, Nduk!"
Tiba-tiba, suara serak kakek tua mengejutkanku dari arah lain sambil melemparkan selembar jarik.
Aku baru sadar, kalau dari tadi tubuhku sudah tanpa sehelai benang.
Ke mana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP-ku?
Ya, Tuhan ...
Apa mereka benar-benar menyetubuhiku malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Merah
Setelah puas telapak tangannya memberikan penyuluhan kepada tubuhku, mulutnya beberapa kali menjanjikanku tempat tinggal yang bagus asal aku bersedia berpura-pura menjadi keponakannya agar istri dirumah tidak curiga.
Kini tibalah saatnya aku memegang kendali. Aku sengaja mengangguk dengan semangat di setiap tawarannya agar dia tidak banyak lagi mengoceh dan kucoba sedikit merayunya.
Berhasil dan kini kita berada tepat di belakang pintu yang terkunci. Dia berdiri tegak bersandar ke pintu dengan kepala mendongak ke atas merasakan kenikmatan di belalainya yang keras dan berkedut-kedut di dalam mulutku.
"Oohhh, sayang. Jadi, nanti aku bilang ke Puan, aku bakal mengadopsimu!" matanya masih tertutup, kedua tangannya di atas ubun-ubunku. "Kamu memang keponakan Om yang paling, uuhhhh."
Aku tak menghiraukan apa pun yang dia katakan, fokusku hanya satu sekarang. Terus mencoba berbagai kunci di pintu.
Kunci pertama gagal, sekarang aku berganti ke kunci ke dua, tapi tiba-tiba, "Sayang, sinih!"
Si Bobbi ini sedikit membungkuk dan meraba dadaku. Tangan kananku sigap menggenggam di belakang pahanya, menyembunyikan kunci-kunci ini agar dia tak curiga.
Sedangkan tangan kiriku sibuk memegangi belalainya yang sedikit melengkung sehingga setiap kali masuk, pipi kiriku tampak sedikit kembung.
"Besar banget, sih sayang!" lenguhnya dengan mata yang merem melek.
Dengan hati-hati kembali tangan kananku mencoba kunci yang kedua, sambil menahan sakit di dada akibat remasan kasar oleh tangan kekar itu.
Sial. Gagal.
Kuberalih ke kunci ketiga, dengan hati-hati menancapkannya kembali ke lubang kunci, tapi tiba-tiba dia mendorong belalainya mentok hingga ke tenggorokanku, dan aku pun mengeluarkan isi perutku.
Air mataku terjun bebas bersama sisa makanan tadi siang melalui mulutku. Dia hanya tertawa puas melihatku, "Bagaimana punya, Om? Panjangkan?"
Entah bagaimana aku harus mengangguk, tapi tangan kananku sudah terlepas dari kunci yang kugenggam. Dan itu membuatku sangat panik.
Seakan tahu isi pikiranku, si Bobbi langsung menoleh kebelakang tanpa membalikkan badan, sedangkan belalainya yang panjang masih mengacung keras di depan mataku.
"Ohh, jadi kamu mau kabur? Bagus, ya!" ucapnya hendak berbalik badan dan mengambil kunci itu.
"ARRRRRRMMMM!" Buru-buru aku mencaplok belalainya. Menggigitnya sekuat tenaga.
KREZZZZZH
"AAAAAAARRRRRH. BAJING ... AAAAAAN!"
Setengah belalainya masih di dalam mulutku.
Bobbi menggelinjang hebat memegangi belalainya, kejang-kejang sebelum tergeletak di samping meja dengan posisi mengangkang, sama seperti posisiku tadi dibuatnya.
Sekarang kita sama ... sama-sama tidak memiliki belalai.
Aku buru-buru membuka kunci ketiga yang masih menancap di pintu, tapi gagal.
Untungnya kunci ke empat sukses, dan sebelum Bobbi berhasil menarik rambutku ke arahnya, kupotong rambut panjangku yang dia genggam menggunakan guntingnya yang tergeletak di lantai. Aku buru-buru keluar lalu mengunci ruangan itu rapat-rapat.
Aku tak peduli dengan tubuhku saat ini, meski tanpa pakaian, aku berlari secepat kilat menuju pintu gerbang utama sebelah aula. Tapi sebelum sampai ke sana aku melihat wastafel bertuliskan "Cegah Covid 19 dengan 3 M".
Ada baiknya aku membersihkan mulutku yang penuh darah, dan jangan sampai cairan-cairan ini tertelan.Itu sama saja meningkatkan kemungkinan aku untuk tertular HIV jika si Bobbi positif mengidapnya.
Saat membersihkan mulut di wastafel, aku berpikir jika jarak kantor desa ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja dan untungnya toko tempatku bekerja buka selama 24 jam. Dan aku yakin, Faizal yang lagi jaga di sana, karena dia selalu dapat sift malam.
Apa lebih baik aku kesana saja?
Benar.
Aku harus ke sana secepat mungkin untuk meminta pertolongan. Lagi pula aku tak punya pilihan lain.
...ᯓᡣᯓᡣᯓᡣᯓᡣ...
Dingin.
Tubuhku mulai menggigil diterpa angin tengah malam. Tampak lampu lalu lintas hanya menyala warna kuningnya saja. Dan tidak ada satu pun kendaraan yang melintas di jalanan ini.
Hanya tampak pemuda-pemuda yang lagi mabuk-mabukan di pos kamling. Sebenarnya aku tak begitu khawatir dengan orang yang sudah mabuk, mudah saja bagiku untuk menghajarnya karena mereka sudah lemah dan tak sadarkan diri. Seperti bocah kecil yang ada di depanku sekarang ini.
"Setan sekarang kenapa seksi-seksi, sih!" katanya, berdiri sambil sempoyongan. "Sini, mampir dulu!"
Rekan-rekan sejawatnya hanya tertawa sambil tiduran, tampak tak lagi kuasa menahan beban di kepalanya.
BUGGGHHH
Tinjuku melayang ke wajahnya.
Maafkan aku bocah kecil. Aku harus buru-buru. Kubiarkan saja dia tergeletak memegangi hidungnya yang berdarah.
Dan ketika kakiku menginjak lantai toko yang lampunya paling terang ini, akhirnya aku selamat. Aku terbebas.
Hatiku terasa lega setelah melihat lelaki yang berada di balik meja kasir. Benar, Faizal yang sedang berjaga malam ini.
"Nurhalina? Kamu kenapa?" Ia terbirit-birit menghampiriku yang baru saja membuka pintu kaca.
Seakan tahu apa yang baru saja terjadi padaku, Faizal segera menuntunku ke ruang loker, tempat biasa kami beristirahat.
"Tunggu di sini, Nur. Biar aku ambilkan seragamku dulu. Kamu tenang, ya. Kamu sudah aman sekarang. Jangan nangis lagi, oke."
Ia kembali ke depan, sepertinya untuk mengambil seragam dari jok motornya.
Aku bersyukur, akhirnya bisa melarikan diri dari dukun dan penculik itu. Meski belum mampu mengeluarkan suara, tetapi perasaan lega menyelimuti diriku.
Aku bebas.
Aku hanya duduk di lantai, menangis sambil menutupi wajah dan dada dengan lutut. Meskipun kini lebih tenang, aku tetap merasa pilu atas semua yang kualami tiga hari terakhir.
"Nur, udah, jangan nangis lagi!" seru Faizal, mengejutkanku dari ambang pintu. Di balik bahunya, lampu toko tampak sudah padam. Hanya lampu etalase yang masih menyala temaram.
Tunggu. Kenapa dia menutup toko secepat ini? Padahal, jadwal jaga malamnya seharusnya sampai jam delapan pagi.
Dan tadi katanya mau meminjamkan seragamnya untukku. Tapi, kenapa yang dia bawa justru ... kotak merah bertuliskan "Sutra", yang biasanya baris di etalase kasir.
Dia mau apa?
...BERSAMBUNG...
dukung karya aku juga ya di alice celestia dalian, sama2 genre horror/misteri,, mohon ulasannya 🤗