NovelToon NovelToon
Sayangi Aku

Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Putri asli/palsu / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Chicklit / Cintapertama / Tamat
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunFlower

Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...


INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

Happy Reading...

.

.

.

Ini hari ke dua Rora tanpa Dika. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Sungguh ia tidak pernah sampai merasa setakut ini.

"Sayang." Panggil Elina sambil memasuki kamarnya. "Kekasihmu ingin berbicara dengan kamu." Goda Elina sambil menyerahkan ponselnya pada Rora. "Ini sudah malam. jadi jangan lama- lama, anak kesayanganku juga butuh istirahat." Ucapnya lagi lalu berjalan pergi meninggalkan Rora.

"Halo."

"Halo sayang."

"Kapan kamu pulangnya?" Tanya Rora langsung dengan nada merajuk. "Jadi besok sore kan?"

Dika menghela nafasnya. "Maafkan aku... Sepertinya..."

"Kamu mengatakan tidak lebih dari tiga hari." Potong Rora.

"Kamu pasti rindu sekali dengan ku ya." Goda Dika. "Maafkan aku ya.. Aku usahakan lusa sudah pulang.." Ucap Dika lagi. Sungguh saat ini ia merasa bersalah kepada kekasihnya itu. Dika sendiri tidak menyangka bahwa proyek ini akan menahannya lebih dari tiga hari.

"Sayang.." Panggil Dika saat tidak mendengar lagi suara Rora. "Rora..maafkan aku.. Aku janji lusa selesai tidak selesai aku akan pulang."

"Jangan janji.. Aku tidak suka.. Aku tidak mau kamu berjanji tapi tidak bisa memastikannya." Ucap Rora.

"Sayang..  mau vidio call tidak?" Tawar Dika.

"Tidak."

"Ra.. Aku mohon. Sebentar saja." Pinta Dika.

"Aku lelah. Aku ingin istirahat." Ucap Rora. "Kamu juga beristirahatlah." Ucap Rora sebelum memutuskan panggilannya.

Dika menghela nafasnya lalu menatap layar ponselnya. Ia memandangi foto Rora yang menjadi wallpaper di ponselnya. Ia tahu kekasihnya itu sekarang sedang marah. Dika juga tahu jika ia salah. Tapi yang Dika tidak mengerti apa yang membuat Rora sampai marah. ini juga bukan kemauan dirinya. Tapi ia bisa apa? Ia melakukan ini semua juga untuk Rora. Ia melakukan ini supaya saat nanti mereka sudah resmi menikah, calon istrinya itu bisa hidup berkecukupan. Jika bisa memilihpun, Dika lebih memilih untuk pulang dan menemui kekasihnya sekarang.

Jika Dika sedang termenung sambil memandangi foto Rora maka berbanding terbalik dengan Rora. Setelah memutuskan panggilannya Rora menangis sambil meremat ponselnya. Entah kenapa selain rasa rindu ia juga merasa takut. Entah apa yang membuatnya merasa sangat takut sekarang.

Setelah mendapatkan pesan dari Dika pada ponsel suaminya, Elina bergegas berjalan menuju kamar Rora. Ia membuka pintu kamar Rora perlahan, Elina bisa mendangar isakan Rora. Benar tebakan Dika jika kesayangannya itu pasti sedang menangis.

Elina berjalan mendekat. "Sayang." Panggilnya pelan.

Rora menghapus air matanya lalu membalikkan tubuhnya. "Tante. Tante mau mengambil ponselnya ya." Tanya Rora lalu mengulurkan ponselnya pada Elina.

Elina tersenyum lalu mendekat. "Tante hanya ingin melihat kamu." Elina mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur Rora. Ia mengusap pipi Rora yang masih ada sedikit sisa- sisa air matanya. "Kenapa? Apa Dika belum bisa pulang?" Tanya Elina.

Rora menganggukkan kepalanya. "Lalu kenapa kamu menangis? Kamu pasti sangat merindukannya ya? Apa kamu mau tante memarahinya? Tanya Elina lagi.

"Rora tidak tahu tante,  Perasaan Rora tidak enak. Rora merasa takut. Tapi tidak tahu apa yang membuat Rora takut." Terang Rora sambil menatap sendu.

"Mungkin kamu hanya sedang merindukan Dika saja sayang. Apalagi sebentar lagi hari penikahan kamu." Ucap Elina sambil mengusap rambut Rora.

Rora menggelengkan kepalanya. "Rora tidak pernah setakut ini."

"Sudah lebih baik kamu istirahat saja. Atau kamu mau tante temani malam ini." Tawar Elina lalu tanpa menunggu jawaban dari Rora ia membaringkan tubuhnya disisi kesayangannya itu. "Percaya pada tante, Dika akan baik- baik saja. Ah tidak. Dika pasti baik- baik saja."

.

.

.

"Sayang. ikut tante ya." Ajak Elina sambil menarik paksa tangan Rora. Nada Khawatir yang keluar dari mulut Elina membuat perasaan Rora kembali terasa tidak nyaman. Rora masih terdiam mencerna semua yang terjadi, ia tidak mengerti mulai dari dirinya yang di paksa bangaun dan langsung menariknya untuk keluar.

"Kita mau kemana tante?" Tanya Rora akhirnya saat Elina menuntunnya untuk memasuki mobil.

"Kita akan ke rumah sakit." Jawab Elina.

Tunggu, Rumah sakit. Siapa yang sakit? Apa mungkin Dika? Tapi tidak mungkin, bukankah Dika masih berada di Bali? Atau mungkin Bara? batin Rora saat menyadari tidak ada Bara di dalam mobil.

Rora tidak mengerti, ada apa ini? Bahkan Elina tidak mengatakan apa- apa lagi, yang Rora dengar isakan lirih dari Elina. Rora diam dengan perasaan resahnya, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini. Tapi ia memilih untuk menahan semuanya karena ia sadar saat ini bukanlah saat yang tepat untuk membuka kembali suaranya.

Suara ambulan yang terdengar sangat nyaring membuyarkan lamunan Rora. Elina turun terlebih dahulu lalu bera;lih untuk membuka pintu mobil untuk Rora. Dengan jantung yang berdegub kencang Rora mengikuti langkah kaki Elina yang kembali menarik tangannya. Lagi- lagi Rora memilih untuk diam dan berusaha untuk menyamakan langkah kakinya agar tidak sampai terjatuh.

Elina melepaskan genggaman tangannya lalu bergegas maju meninggalkan Rora. Ia mendengar samar suara Devano dan Rendra yang sedang berbicara dengan seseorang. Rora bingung harus berjalan kemana?

"Citra! Rendra! Dika dimana? Bagaimana dengan keadaannya? Dia baik- baik saja kan? Cucuku tidak apa- apa kan? Dimana Dika sekarang berada?" Rentetan pertanyaan dari Ratna, nenek Bara dan Dika. Beberapa orang berjalan dengan tergesa- gesa melewati Rora. Lebih tepatnya mereka mengabaikan Rora.

Rora terdiam terpaku. Segala pertanyaan yang bersarang di kepalanya kini sudah ia ketahui jawabannya. Rora memutuskan untuk melangkahkan ke dua kakinya dengan langkah gemetaran.

"Ibu.. Dika bu....." Citra menangis sambil mengadu kepada ibunya.

Ratna memeluk Citra sambil mengusap punggungnya. "Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Ratna dengan nada khawatirnya.

"Aku tidak tahu bu.. Seharusnya Dika masih berada di bali.. Seharusnya Dika.."

"Keluarga dari saudara Dika."  Rora terkejut. Sangat terkejut saat nama Dika disebut.

"Saya ibunya Dok." Saut citra sambil berjalan mendekat ke arah Dokter yang baru saja muncul di ikuti dengan yang lainnya.

Rora memberanikan dirinya untuk berjalan mendekat meskipun semua orang lagi- lagi tidak menghiraukan keberadaannya.

"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Citra.

"Cucu saya dok.. Bagaimana keadaan cucu saya? Dia baik- baik saja kan dok?" Kali ini Ratna yang bertanya.

"Kami masih berusaha, untuk keluarga pasien kami mohon perbanyak berdo'a. Kondisi pasien saat ini masih kritis karena cedera otak yang di alaminya akibat benturan. Pasien juga kehilangan banyak darah, dan kami memerlukan golongan darah AB secepatnya."

Rora terdiam saat mendengarkan penjelasan dari dokter. Jantungnya kini berdetak semakin kencang.Dadanya terasa sakit, saking sakitnya sampai membuat Rora merasa sulit untuk bernafas. Ia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa semua ini bukan sekedar mimpinya saja. Bahwa semua ini benar- benar nyata.

"Tante." Teriak Bara.  Ia menggendong Citra lalu membawanya ke salah satu ruangan dengan di temani seorang perawat.

Seluruh keluarga Dika ikut masuk ke dalam menyusul Bara. Sedangkan Rora, ia menahan tubuhnya yang sudah hampir lemas dengan memegang dinding. Tapi ternyata itu tidak membantu karena pada akhirnya ia terduduk sambil menangis sendirian tanda ada seorangpun di sisinya.

.

.

.

Jangan lupa tinggalkan jejak...

1
falea sezi
buat buta lagi aja ne cwek bloon🤣 di kasih mata ttep aja buta
mimief
nice ending
beautiful story
mimief
😍😍😍😍🫰
mimief
aku juga jadi rora takut si memulai
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
Thor udah ngapa si...
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
mimief
kayaknya ini orang ada masalah apa yaa.. sebenarnya
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
mimief
aku bales biar puas aja si
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
mimief
pengen deh sekali kali begitu....
seru kali yaaa
mimief
lu ..kalau beneran mau Balik ke rora
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
mimief
othor kyknya suka banget ya..sama kota ini
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
mimief
dahlan...si rora fix minta pisah lah🥹🥹🥹
mimief
hamil kah Ra?
mimief
ya jangan salahin Luna juga si bar
lu nya aja plin plan
heran aku mah
mimief
Dika nya sedih
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
mimief
trus Aluna mau lu kemanain bar?
wah rame lagi ini ntar
mimief
tuh kaaan...
perasaan ku udah ga enak 😭😭
mimief
tuh kan

Dika kah yg meninggal 😭😭
mimief
oh... Alhamdulillah
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
mimief
apa dika yg jadi donor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!