" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Nara membolak-balik setiap buku yang ia baca. Setelah menyelesaikan semua tugas bersama dengan Meta dan Vino dan menyelesaikan mata kuliah yang hanya satu mata pelajaran hari ini, Nara memutuskan untuk menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan. Terlihat beberapa buku diatas mejanya menunggu untuk dieksekusi.
Ia melihat jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul 3 sore. Tidak ada waktu lagi untuk membaca buku sisanya. Untuk membawanya pulang terkadang juga sia-sia karena waktunya habis untuk Deril dan Nev. Nara pun memutuskan untuk meletakkan kembali buku itu ditempat semula dan berharap esok harinya ia bisa membacanya kembali.
Ia keluar dari perpustakaan dan bergegas untuk pulang. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Vino yang sedang duduk mendengarkan musik. Ia pun menghampirinya sembari pamit padanya.
" Mau pulang?", tanya Vino. Nara mengangguk. " Aku antar?".
" Tidak usah".
" Ya sudah".
" Meta mana? kenapa kamu sendiri?".
" Biasalah".
" Bertemu dengan kakakmu?".
" Ya".
" Lagipula kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu suka padanya".
" Apa?? yang benar saja".
" Kenapa?".
" Lebih baik seperti ini daripada merusak persahabatan nantinya. Aku tidak suka kalau nanti kami canggung satu sama lain. Kalau dia bahagia dengan caranya seperti ini, aku juga harus bahagia untuknya juga".
" Kamu pria yang baik. Kelak Meta harus sadar kalau yang terbaik sebenarnya ada didekatnya".
" Lalu Kakakku tidak baik??".
" Aku tidak bilang begitu". Vino tertawa melihat respon Nara yang jadi serba tidak enak padanya.
" Aku hanya bercanda".
" Aku pikir kamu betul-betul marah".
" Tentu saja tidak", ujar Vino menenangkannya. " Oh iya, suamimu itu agak aneh ya".
" Apa???". Tiba-tiba nada suara Nara meninggi.
" Hei, bukan maksudku untuk menjelekkan suamimu. Aku cuma mau bilang aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan suamimu itu waktu kami menjemputmu. Tatapan matanya seperti mengintimidasi. Lebih tepatnya seperti melihat musuh".
" Apa iya?".
" Ya dan dia melihatku seperti ingin merebut istrinya ini". Nara tertawa geli mendengar semua ucapannya. Ia seperti tidak percaya dengan anggapan Vino terhadap Nev. " Kamu pasti tidak percaya padakukan".
" Ya".
" Kalau begitu terima kasih untuk tidak percaya padaku".
" Sama-sama".
" Baik sekali".
" Sudah ya, aku harus pulang", ujar Nara melihat jam tangannya lagi.
" Oke".
Nara melambaikan tangannya lalu bergegas pulang. Ia mengambil ponselnya untuk memesan transportasi online. Tanpa sadar ia menyenggol seseorang karena terlalu fokus dengan ponselnya. Ia pun meminta maaf, tapi siapa sangka orang yang disenggolnya itu adalah....
" Dokter Rindi".
" Hai", ujarnya. " Tidak disangka kita berjumpa disini".
" Ya, aku kuliah disini".
" Oh ya, kebetulan sekali ya".
" Dokter sedang apa disini?".
" Apa dokter Nev tidak memberitahumu".
" Apa??".
" Ckk, kalau dilihat dari ekspresimu ini, pasti dia tidak memberitahumu ya. Padahal kamu kuliah disini, bagaimana bisa dia seperti itu padamu. Kamu juga istrinya kan. Aku tidak habis pikir kenapa dia memperlakukanmu seperti itu".
" Dokter Rindi bicara apa??". Nara sedikit terganggu dengan ocehannya itu. " Jangan bicara seenaknya".
" Ahh...jangan marah Nara. Aku dan dokter Nev ada seminar disini, tepatnya besok. Jadi kami berdua sedang melihat bagaimana persiapannya".
" Berdua??".
" Tentu saja berdua, hanya kami yang kompeten untuk melakukan tugas ini. Dulu kami dijuluki pasangan serasi saat kami masih kuliah dulu".
" Oh ya!! tapi sekarang sama sekali tidak seperti itu".
" Ha!!!".
" Ya sudah ya dokter, aku permisi pulang. Anakku sudah menunggu dan aku harus menyiapkan makanan untuk suamiku nanti. Semoga hari Dokter menyenangkan", ujar Nara meninggalkannya.
" Kamu!". Rindi begitu kesal padanya. Rencananya untuk membuat Nara marah malah berbalik padanya.
-----
Malam harinya Nara mempersiapkan makan malam dibantu oleh Sarah, sedangkan Deril bermain sendiri sembari diawasi mereka berdua.
Tak lama Nev pun pulang, Deril langsung berlari menghampirinya. Ia bermain sebentar dengan anaknya itu. Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan itu.
Sarah menyenggol Nara memberi kode agar Nara menemani Deril karena Nev harus membersihkan dirinya. Nara pun menghampiri Deril dan menyuruh Nev untuk segera mandi.
Makan malam pun siap dan mereka pun makan dengan lahapnya.
" Kak Nev, Nara, terima kasih sudah menjagaku selama aku ada disini. Besok aku akan pulang".
" Kak Sarah yakin sudah bisa pulang?".
" Yakin", ujarnya. " Lagipula tidak enak mengganggu kalian terus, mau berduaan jadi susah kan".
Nara hampir tersedak, diambilnya gelas berisi air diatas meja lalu meminumnya. Perkataan Sarah membuatnya terkejut. Justru malah karena Ia ada disini, mereka harus berduaan terus. Apalagi saat tidur, Nara harus tidur bersama Nev dikamarnya.
Tiba-tiba Nara teringat dengan ucapan Rindi tadi sore. Mengapa Nev tidak memberitahukan padanya kalau ia punya pekerjaan ditempatnya kuliah. Padahal Ia bisa membantunya jika diperlukan.
Nara membuka pintu kamar Nev. Terlihat Nev sedang sibuk dengan laptopnya. Ia pasti sibuk untuk mempersiapkan seminarnya besok. Nara meletakkan segelas kopi permintaan Nev diatas meja.
" Terima kasih", ujar Nev lalu kembali fokus dengan laptopnya.
Nara mengambil buku didalam tasnya. Ia membolak balik buku itu sembari melirik Nev yang sedang sibuk disana. Walaupun buku itu ada dihadapannya tapi Ia tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun.
" Kamu kenapa?", tanya Nev.
" Ha??". Nara sedikit terkejut dengan pertanyaan Nev yang tiba-tiba. " Tidak ada kak", jawab Nara.
" Kalau tidak ada, berhenti memandangiku seperti itu".
Apa??? bagaimana kak Nev bisa tahu aku terus memandanginya. Padahal dia terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya. Dia ini benar-benar aneh.
Nev menghela nafasnya. " Benar tidak ada? ".
" Sebenarnya tidak juga".
" Lalu?".
" Aku tidak tahu apa ini penting atau tidak untuk ditanyakan sih".
" Jangan mutar-mutar kalau bicara Nara. Kalau kamu ingin bertanya, ya katakan".
" Itu.... kakak... , kenapa tidak bilang kalau kakak ada seminar dikampus Nara".
" Ohh, hanya itu".
" Hanya itu", ujarnya kesal. " Lebih baik aku tidak bicara saja tadi kalau jawabannya hanya seperti itu. Bikin kesal saja", gerutunya sembari menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
Nev menaruh kacamata yang dipakainya tadi diatas meja. Respon yang diberi Nara padanya sungguh membuatnya bingung. Kenapa hal seperti itu malah membuat Nara jadi kesal sendiri padanya.
" Apa kamu marah padaku".
" Tidak".
" Lalu kenapa kamu seperti itu".
" Aku hanya mengantuk".
" Nara, darimana kamu tahu kalau aku ada pekerjaan dikampusmu?".
" Dokter Rindi".
" Pantas saja". Nev berjalan menghampirinya ditempat tidur. Ia pun duduk diatas tempat tidur itu. Nev menarik selimut Nara tapi Nara menolaknya. Tapi tenaga mereka yang berbeda membuat Nara kalah. " Kamu tadi bertanya atau cemburu".
" Apa??". Nara terkejut dengan kata cemburu itu, bagaimana Nev bisa mengucapkan kata itu dihadapannya. " Kenapa aku harus cemburu".
" Lalu kenapa kamu langsung panas saat Rindi memberitahukanmu tentang hal ini".
" Itu karena....aku hanya heran dan bingung saja. Kenapa kakak tidak memberitahuku hal kecil seperti ini. Kenapa aku harus tahu dari dokter Rindi. Aku sebagai istri kan seperti tidak dihargai, aku malu saat dokter Rindi mengejekku seperti itu".
Tiba-tiba Nev menjentikkan jarinya ke dahi Nara. Nara memegangi dahinya yang sakit.
" Kakak!!".
" Dasar bodoh".
" Apa!".
" Aku bukan tidak ingin memberitahumu. Banyak kejadian yang terjadi dan itu sudah membuatku pusing untuk memikirkannya. Maafkan aku Nara jika itu membuatmu tidak nyaman". Nara menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. " Nara....".
" Maafkan aku kak. Aku malah egois padamu".
" Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali aku akan memberitahumu". Nara mengangguk. " Tidurlah".
" Pekerjaan kakak belum selesai?".
" Belum".
" Aku akan menemani kakak".
" Tidak usah tidurlah".
" Baiklah kak".
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹