NovelToon NovelToon
Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.5
Nama Author: Karlina Sulaiman

Gibran Satya Dinarta, putra tunggal dari pebisnis ternama Asia, Satya Dinarta dan Ranti Dinarta. Gibran merupakan seorang CEO muda di perusahaan GS Group milik keluarganya.

Berbeda dengan CEO yang lain, otak Gibran agak sedikit geser karena sikapnya yang koplak dan somplak.

Dia rapat menggunakan celana boxer, menghadiri pesta pernikahan dengan sandal jepit, dan masih banyak lagi jal konyol dalam dirinya.

Suatu hari dia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Jasmine yang terlihat somplak padahal sifat aslinya sangat dingin dan anggun.

Jasmine bersikap somplak hanya untuk menutupi rasa sakitnya yang berasal dari keluarganya.

Bagaimana jika Gibran jatuh cinta dengan Jasmine? Penasarankan silakan baca..

Alur cerita ini sedikit lambat, jadi jika tidak langsung ke inti, itu adalah faktor kesengajaan.

ig. Karlina_sulaiman

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSJC : Chapter 24

Mendengar jawaban ayahnya, tubuh Gibran seketika melemas, hatinya kacau saat mengetahui fakta bahwa adiknya masih berada di rumah sakit.

Maafin gue, Bay. Kalau aja kemarin gue nurut apa kata Bunda, pasti semua ini nggak akan terjadi. Air mata membendung dan sudah hampir jatuh mengalir.

"Apa kondisinya parah, Yah?" Gibran mengumpulkan suaranya untuk bertanya walau suaranya terdengar serak menahan tangis.

"Akan lebih baik jika kamu melihatnya sendiri, Sayang." Satya tahu jika saat ini perasaan Gibran pasti sangat terluka dan dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat orang terdekatnya sakit.

"Bunda, apa Bunda nggak mau bangun?" Gibran kini tengah berlutut di samping ayahnya dan memerhatikan wajah bundanya yang pucat dengan mata terpejam damai.

"Kamu sih, Nak. Muncul secara tiba-tiba jadi wajar kalau bunda kamu pingsan." Satya memukul bahu Gibran dengan pelan.

"Dih, Ayah, kok jadi nyalahin aku." Gibran menatap kesal ayahnya yang tersenyum memerlihatkan giginya.

"Senyum pepsodent, Yah?" Gibran melirik sinis pada ayahnya kemudian dia mengecup pipi bundanya cukup lama.

"Bun bangunlah!" rengek Gibran merasa sedih.

"Biarkan saja, nanti bunda pasti bangun. Lebih baik kamu ke rumah sakit untuk melihat kondisi adikmu." Satya menarik bagian belakang baju Gibran seperti kucing dan menjauhkan dari istrinya.

"Iya-iya ... Gibran ke rumah sakit dulu. Eh, Pak Kiai ke mana?" tanya Gibran saat tidak lagi melihat Pak Zainudin di sana.

"Pulang." Satya menjawab singkat dan duduk lalu memangku kepala Ranti di pahanya.

"Seperti hantu kangkung datang tidak di undang, pulang tidak di antar." Gibran merapikan kembali bajunya yang sedikit berantakan karena ulah ayahnya.

"Kamu habis meninggal, anehnya makin nggak ketulungan, ya, Nak." Satya menatap Gibran dengan miris.

"Biasa aja, Yah." Gibran mengelak karena tidak merasa jika dirinya aneh.

Dulu ayah buat kamu udah baca doa lho, Gib. Kok setan koplak masih merasuk di tubuhmu, ya? kata Satya dalam hati.

"Ini bukan karena setan, tapi karena, Ayah," ucap Gibran menyahuti suara hati Satya.

"Eh, kok kamu ta-"

"Gibran mau ke rumah sakit." Gibran menyela ucapan Satya dan meraih tangan Satya untuk diciumnya.

"Assalamualaikum." Gibran melangkahkan kakinya keluar dari rumah Satya.

"Waalaikumsalam."

 

\*

 

Gibran yang sudah sampai di luar rumah berhenti tiba-tiba. Gibran meraba saku celananya dan dia tersenyum saat melupakan sesuatu.

"Masuk lagi." Gibran berbalik badan dan kembali masuk ke dalam rumah. Gibran menahan tawanya saat mendengar suara ayahnya yang sedang bicara dengan Ranti.

"Bunda sayang, bangun dong! Kan ayah mau ajakin Bunda bikin adik buat Gibran, kalau Bunda nggak bangun gimana ayah bikinnya?" Satya mencubit hidung pesek istrinya dan mencium pipinya dengan gemas.

"Pakai sabun aja, Yah." Gibran menjawab dengan mengubah suaranya menjadi seperti suara Ranti.

"Bocah edan." Satya menatap tajam Gibran dan melempar Gibran dengan bantal sofa.

"Haha ...." Gibran tertawa lalu berlari naik tangga untuk pergi ke kamarnya.

Gibran mengambil kunci yang tergeletak di meja kerja di kamarnya lalu dia kembali turun dan membiarkan ayahnya terus mengoceh bersama Ranti yang masih pingsan.

"Aku rasa bunda tidak pingsan tapi tidur, Yah," ucap Gibran saat melewati mereka.

"Hm." Hanya jawaban singkat yang di dapat oleh Gibran.

***

Gibran melajukan motor sport miliknya dengan kecepatan sedang. Motor sport berwarna hitam yang dia juluki black lion itu adalah motor kesayangannya.

Saat Gibran sambi di tikungan jalan, dia di kagetkan saat sesosok wanita dengan gaun berwarna putih melintas begitu saja di depannya, membuat Gibran kaget dan hampir menabrak wanita itu.

Dengan hati yang kesal, Gibran menghentikan motornya lalu dia turun dan menghampiri wanita itu yang malah terlihat senyum padanya.

"Hei, apa kamu sudah gila? Ini jelas-jelas bukan tempat untuk menyeberang, kenapa kamu malah menyeberang di sini?" ucap Gibran pada wanita itu, Gibran menatap sinis pada wanita yang berdiri tidak jauh di depannya.

"Kamu yang gila, jelas-jelas ini jalan raya, kenapa kamu malah lewat sini?" Wanita itu berkacak pinggang dan malah menyalahkan Gibran.

"Astaga ... apa kamu pasien dari rumah sakit jiwa?" Gibran bergidik ngeri jika benar wanita itu adalah pasien rumah sakit jiwa yang kabur.

"Tidak, aku baru saja dari kuburan." Wanita itu tersenyum smirk dan menatap horor pada Gibran.

Gibran menatap wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian terdiam sesaat.

"Aku ingat, kau itu nenek lampir yang menggangguku beberapa hari yang lalu, kan?" Sekarang malah Gibran yang berkacak pinggang di depan wanita itu.

Wanita itu menatap Gibran dalam, dan ada rasa takut saat dia mengingat siapa laki-laki yang sekarang berdiri tepat di hadapannya itu.

Deg

Deg

Deg

Mati aku, kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi sih? Duh, kalau aku kabur nanti dia kira aku pengecut, kalau tidak kabur nanti aku kena masalah ... arrrggghhh, aku harus apa? Wanita itu menggigit jari tangannya untuk menghilangkan rasa gugup yang dia dera sekarang.

"Hehe ... ternyata Tuan masih ingat denganku." Wanita itu tersenyum manis sekali.

Gibran tersenyum sinis saat mendengar perkataan wanita itu dari dalam hati.

"Kenapa kamu tersenyum, apa kamu mengakui kalau kamu itu pengecut?" Gibran berjalan semakin mendekati wanita itu.

"Apa pisang Tuan baik-baik saja?" tanya wanita itu ambigu, sebelum dia merutuki ucapannya sendiri Gibran sudah terlebih dulu bicara.

"Kamu pikir saya monyet." Gibran menatap tajam pada wanita itu dan menautkan kedua alisnya, membuat nyali wanita itu sedikit menciut.

"Ah, ya. Anda kan memang monyet, Tuan." Wanita itu menjawab dengan jelas dan tegas lalu memukul mulutnya sendiri seperti baru saja mengucapkan kesalahan.

"Dasar gila!" Gibran menarik pinggang wanita itu sampai wanita itu berdempetan dengan dirinya.

Gibran menatap mata, hidung dan berakhir di bibir wanita itu yang berwarna merah jambu.

"Siapa nama kamu?" tanya Gibran dengan suara berat.

"Jasmine, Tuan. Namaku Jasmine." Kedua tangan Jasmine berusaha mendorong dada Gibran agar dia terlepas dari situasi ini.

"Oh jadi namamu Jasmine, cantik." Gibran mengusap rambut Jasmine dan menyingkirkan rambut Jasmine yang menutup pipinya sebagian.

"Terima kasih, Tuan." Wajah Jasmine merona mendengar pujian dari Gibran baru saja. Namun, itu tidak berlangsung lama karena ucapan Gibran yang dia dengar setelah itu membuatnya kesal.

"Bukan kamu, tapi namamu." Gibran memberikan penekanan pada kalimatnya, membuat bibir Jasmine mengerucut karena kesal.

"Jasmine," panggil Gibran lirih dengan suara serak yang terdengar seksi.

"Kenapa kamu menyebut namaku dengan mulut berbisamu itu, Tuan?" Jasmine menatap sinis Gibran. Jarak wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Gibran membuat jantung Jasmine rasanya ingin meledak.

Gibran menahan bagian belakang kepala Jasmine, lalu dengan perlahan Gibran memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Jasmine.

"Tuan, hmmmm-"

 

\*

 

Like, komen, kalau nggak Gibran sedih

1
Gina
🤣🤣🤣🤣 bos sama satpam peak
Alejandra
Mau ngasih saran boleh nggak Thor...?
Ceritanya jangan terlalu banyak nyelenehnya, lebih baik diselang seling biar dapat feelnya. Kalau diterima ya, kalau nggak juga nggak pa"...🤭🤭🤭
ngakak 🤣🤣🤣
Author_Ay: Permisi kak

Yuk baca juga dan masukkan ke dalam rak karya aku kak di jamin seru

NONA GALAK & TUAN POSESIF 😁😁

BERIKAN LIKE, VOTE DAN KOMEN
total 1 replies
baru nemu karya mu thor,, ettt dahh baru chapter 1,gigi ku kering karena tertawa terus thorrr🤣🤣🤣
Sulaiman Efendy
APA SI RANTI PNY FIRASAT, KLO GIBRAN AKN KNPA2...
Sulaiman Efendy
KDUA ORTUNYA SOMPLAK, PANTAS ANAKNYA JUGA SOMPLAK...😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
SIAPA TEMAN LAMA GIBRAN, APA MANTANNYA..
Aksal hasbi Ramadhan
ada yah CEO somplak kaya gibran,,, ga ada wibawa nya dong sebagai seorang CEO,, tpi aqu suka cerita nya tetap semangat ya kak 💪💪
Bunda silvia
Saya reader thor
Bunda silvia
Mimpi ya om 😂😂😂
Bunda silvia
Gimana gibran nggak somplak orang pabriknya juga somplak (bunda dn ayah satya)
Bunda silvia
Susu seruang eh maksud reader susus beruang thor 🤣🤣🤣
Bunda silvia
Hahaha bisa aja author
Bunda silvia
Asisten lucknut bos di tertawakan untung bos somplak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NO NAME
.
Aurellio Afta Surya Nasution
gokil ya mereka sekeluarga, .... hiburan di wkt senggang bisa ketawa sendiriann ... ( tp nggak gila kok ) .. lanjut Thor ...
Unyil_unyu
yg jd pertanyaan gw dr kmaren kok gk ada pemeran pembantu di rmh Gibran, masak CEO gk punya pembantu, sedang kan tetangga gw jualan bakso yg paling sehari laku 5 mangkok aja punya 2 pembantu, walaupun tiap bulan kalang kabut buat bayar pembantunya....😂😂
Unyil_unyu
wah rezeki tu
aisya_
keluarga somplak..
ayfa
🤣🤣🤣😭😭😭😭😭 thorrr gelud yuukkkk,,anjimmm bikin kram perut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!