persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMULAAN KEDUA
Tidak semua orang beruntung dalam hidupnya. Baik dalam hal pekerjaan, pertemanan, hubungan asmara, penghasilan,kecerdasan, maupun dalam hal yang lainnya.
Hal yang sama pun berlaku pada Tobia. Pekerjaan yang ia impikan sejak masih kecil, mampu ia wujudkan.
Ia pun beruntung, karena lahir di keluarga yang harmonis minim pertengkaran. Sedikit berbeda pendapat itu hal yang biasa. Namun tidak pernah menjadi perkelahian yang berarti.
Namun, kehidupan asmara Tobia terbilang sangat tidak beruntung. Semenjak terakhir ia diputuskan kekasihnya saat mereka duduk dibangku SMA, Tobia tidak memiliki kekasih lagi.
Tobia terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan Mada, sampai tidak ingat bagaimana cara memikat wanita cantik sebayanya.
Siang itu Tobia tampak agak bersantai bercengkerama dengan kawan sejawatnya.
Tobia berdiri bersandar meja resepsionis berhadapan dengan seorang perawat perempuan.
Dan ada 3 orang yang berpakaian rapi duduk dibalik meja resepsionis. Yang tentunya mereka adalah staf rumah sakit. Bukan perawat seperti Tobia.
Obrolan random tercipta di antara mereka.
"Pagi tadi, ada pasien ganteng overdosis." Kata perawat cantik yang berdiri berhadapan dengan Tobia.
"Kamu ajak kenalan?" Sahut Tobia.
"Ih, iya lah… kesempatan tidak datang dua kali sob." Jawab si perawat lagi.
Tobia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak percaya dengan kelakuan rekan kerjanya itu.
"Orangnya juga mau kenalan?" Sambung salah satu pegawai resepsionis sambil tetap fokus mengerjakan sesuatu di mejanya.
"Iya. Tapi lucunya itu, dia kan ganteng keren nih secara penampilan. Tapi otaknya kosong." Kata si perawat cantik lagi.
"Loh!!!! Kok gitu??" Tobia spontan bertanya karena terkejut dengan kalimat rekan kerjanya itu.
"Masa dia minum obat sakit kepala yang dibeli ecer di warung kaki lima, eh,, nenggaknya pakai minuman soda."
Seketika Tobia dan 3 pegawai resepsionis pun terbahak tak percaya dengan apa yang merekaa dengar barusan.
"Agak laen orangnya… mungkin mau uji coba." Komentar pegawai resepsionis lainnya.
Henpon Tobia di sakunya bergetar. Tobia merogohnya dan melihat ada pesan dari sang adik.
Namun baru saja ia akan membaca pesan dari Lais, ada panggilan masuk dari atasannya.
Pak Juan, manager pelayanan medis, ayah dari Tanisha.
Tobia menerima panggilan dari pak Juan. Ia menjauh dari rekan-rekannya sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan undur diri.
"Halo, Pak?"
"Tob, kamu ke ruanganku sekarang ya. Aku tunggu." Kalimat singkat dari pak juan tak terbantahkan oleh Tobia.
Bahkan menjawab saja tak sempat. Si manager langsung mengakhiri panggilan nya.
Tobia berjalan mantap menuju kantor pak Juan. Sampai melupakan pesan dari Lais.
"Tok… tok.. tok…" Tobia mengetuk pintu kantor sang manager.
"Masuk!" Jawaban singkat dari dalam membuat Tobia berani membuka pintu.
"Duduk Tob." Pak Juan menyambut Tobia dengan baik. Tobia hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
"Ada apa ya pak?" Tobia memberanikan diri bertanya.
"Datanglah ke sana sesuai undangan ini." Kata pak Juan sambil menyerahkan selembar undangan unik pada Tobia.
Tobia menerimanya dengan tangan kanan yang ditopang tangan kirinya. Tanpa banyak bertanya, segera membaca isi undangannya.
"Kamu akan menjadi bintang dan tamu istimewa di sana. Perhatikan dresscode nya. Tanisha nanti meradang kalau ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya." Kata pak Juan.
"Ah…. baik,Pak." Tobia hanya menjawab singkat.
"Itu saja. Lanjutkan pekerjaanmu." Kata pak Juan kemudian.
Tobia pun bangkit, dan meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan.
Banyak hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan. Namun entah kenapa tak satupun kalimat mampu ia ciptakan dari mulutnya.
Hp Nya kembali bergetar. Tanda ada pesan yang masuk.
"Oh, iya… sampai lupa blm buka pesan Lais."
Gumam Tobia sambil membuka pesan adiknya itu.
"Hmmm..🤔 foto siapa ini?" Tobia berusaha mengingat sambil membaca pesan dari Lais.
"Oh!!!! Benar. Anak ini..... dokter sialan itu." Gumam Tobia sambil meremas rambut lepeknya.
"Waaah.......!!!!!"😱😱reflek mata terbelalak dan tangan kiri menutup mulutnya yang menganga terkejut dengan hal yang dia lihat.
Tobia tampak benar-benar syok setelah melihat pesan dari Lais. Langkahnya terhenti. Rasa lemas mulai merambati kakinya yang kokoh. Lalu Tobia duduk di bangku tak jauh dari tempatnya tadi.
Rasanya masih tak percaya dengan fakta yang ditemukan adiknya. berulang kali Tobia menatap foto yang dikirimkan Lais. Dia zoom in, lalu zoom out. Zoom in lagi, zoom out lagi. (macam lagu... 🤔🤔...
rapper jassy.😁😁✌️✌️)
"Pantas saja sejak awal aku merasa tak asing dengan wajahnya. Tapi aku tak ingat siapa."
Tobia menghela nafas sangaaaat dalam. Mencoba berpikir logis dan objektif. Namun rasa penasaran, lega bercampur kecewa,terus menyerangnya.
"Jika benar memang dia, kenapa tidak pernah mau datang menyapa? Dia sengaja atau pura-pura lupa. Selama ini dia ternyata terus saja datang. Tapi kenapa hanya menghampiri mada??"
Perasaan geram, penuh tanya dan rasa kecewa semakin menguasai emosi Tobia.
"Bagaimana mungkin dia tidak mengingatku? kenapa malah datang untuk Mada? Apa dia memang sengaja? Tapi kenapa?"
Tobia berpikir semakin keras mencoba mengingat dan mencari alasan.....
"Dasar bocah ayam sialan!!!" tobia terus mengutuk sosok dari pesan singkat adiknya.
...........
Kita kembali ke masa lalu, saat Tobia bertemu dengan bocah ayam.
Pyiiiik…pyiiik…pyiiik…pyiiik…pyiik…" suara anak ayam terdengar samar.
Tobia 9 tahun yang siang itu jalan kaki sepulang dari sekolah, celingukan mencari sumber suara.
Jiwa suka menolong sudah tertanam dalam darah Tobia sejak kecil.
Tobia mendengarkan dengan seksama dari arah mana sumber suara anak ayam itu.
Setelah mencari beberapa saat, Tobia menemukan seekor anak ayam tersangkut gumpalan sampah di selokan.
"Uuuh… lucu nya… kamu tersangkut ya." Kata Tobia kecil tanpa ragu masuk ke selokan untuk menolong si anak ayam.
Tobia membawa anak ayam yang berwarna 9ungu itu dalam dekapan tangan mungilnya. Ia bersihkan kotoran kecil yang menempel di bulu lembut anak ayam itu. Lalu dielusnya dengan lembut sehingga si anak ayam tenang dalam pelukan Tobia kecil.
Bukan hanya manusia, anak ayam pun merasakan nyaman ketika pelukan hangat menyelamatkannya dari ketakutan luar biasa yang tadi dirasakannya.
Dan pelukan hangat Tobia membuatnya segera tenang, mengubah teriakan ketakutan menjadi rintihan bahagia dipenuhi rasa syukur.
"Kenapa tidak ada yang mencarimu?apa kamu sengaja dibuang?" Tobia kecil penyayang bergumam pada si ayam sambil tetap berjalan menuju rumahnya yang tak jauh lagi.
"Cick…!!" Seorang anak laki-laki keluar dari pekarangan rumah tepat di samping rumah Tobia.
Tobia kaget dengan teriakan anak itu. Sepertinya anak itu pun kaget dengan keberadaan Tobia. Kedua anak yang tampak seumuran itu saling menatap selama beberapa saat.
"Kamu…. menemukan anak ayamku?" Tanya si bocah saat melihat Tobia memeluk anak ayam berwarna ungu.
"Oh, ini anak ayam milikmu?" Jawab Tobia sambil menunjukkan si ayam.
"Iya…aku tinggal makan. Tau-tau sudah ilang."
"Nih… tadi nyangkut di selokan." Tobia kecil yang baik hati pun menyerahkan kembali si anak ayam pada pemiliknya.
"Terima kasih ya. Namamu siapa?"
"Aku Tobia. Kamu?"
"Aku Harun."
Keduanya berjabat tangan dengan senyum polos terselip di wajah kedua anak itu.
"Aku tidak pernah melihatmu?" tanya Tobia.
"Oh, aku hanya sedang berkunjung ke rumah kakekku." Jawab Harun kecil.
"Oh… pantas. Rumahku yang itu."kata Tobia sambil menunjuk rumahnya.
"Waaah… asyiiik.. selama aku dirumah kakek, apa aku boleh main ke rumahmu?" Harun tampak senang memiliki teman baru.
"Boleh." Jawab Tobia kecil dengan senang pula.
"Sekarang boleh?"
"Ayok!"
"Tunggu. Aku pamit kakek sama nenek dulu." Harun kecil berlari ke dalam rumah sambil membawa anak ayam ungu.
Tobia yang senang memiliki kawan baru seusianya yang dekat dengan rumahnya pun sabar menunggu dengan bahagia.
Tak lama kemudian Harun keluar dari pekarangan rumah membawa anak ayam dengan warna kuning. Dan seorang kakek mengikutinya dibelakang.
"Loh.. warna anak ayammu berubah? Tanya Tobia.
"Aku punya 4 anak ayam. Beda semua warnanya. Ungu, kuning, hijau sama orange." Jawab Harun kecil.
"Oh… ini teman baru Harun… Tobia, ajak main Harun ya… beberapa minggu kedepan Harun akan tinggal di rumah kakek." Kata kakeknya Harun.
"Iya, kek." Tobia pun tampak senang. "Kakek sudah sehat?" Tanya balik Tobia kecil.
"Iya. Cuma kecelakaan kecil kok." Jawab sang kakek bijak.
Mereka tetangga dekat yang memang saling mengenal baik. Beberapa hari yang lalu, ayah Tobia menolong kakeknya Harun yang jatuh terserempet sepeda motor saat sedang jogging pagi.
Namun karena masing-masing sibuk bekerja, mereka jarang bertemu dan saling sapa.
"Udah. Ayok main ke rumahmu." Harun tak sabar mengajak Tobia bermain.
Tobia kecil berpamitan sopan dengan kakeknya Harun. Kedua bocah sebaya yang langsung tampak akrab itu berjalan beriringan menuju rumah Tobia yang hanya beberapa langkah lagi.
"Ibu…! Aku pulang."seru Tobia sambil membuka pintu gerbang.
Tak lama ibu Tobia muncul dari dalam rumah sambil menggendong bayi mungil adik Tobia.
"Oh, pulang sama temen?"tanya bu Vriana.
"Ini Harun bu, cucunya Kakek yang di sebelah rumah."
"Oh, hai Harun..… masuk yok." Sapa hangat dari bu Vriana dengan senyum ramah keibuannya.
" Terima kasih tante."jawab Harun kecil dengan sopan.
"Kamu bawa anak ayam?"tanya bu Vriana lagi saat melihat Harun membawa anak ayam dengan kandang kecil.
"Iya , bu." Tobia menceritakan awal mula tadi ia bertemu dengan Harun.
"Hm…. Begitu.. oke. Kalian main bareng ya… tante mau nyuap makan adik dulu." Bu Vriana meninggalkan dua bocah laki-laki yang tampak senang berteman.
........
To be continue....😁😁😁
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂