Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Aresha menghampiri Arkan yang masih berada di depan gerbang rumah nya, ia tidak tau maksud dan kedatangan pria itu ke rumah nya karena seingat Aresha dia sama sekali tidak memiliki urusan dengan Arkan.
"Ngapain lo berhenti di depan rumah gue?" tanya Aresha tanpa basa basi.
Arkan tersenyum menatap Aresha, turun dari motor nya dan berjalan beberapa langkah mendekati Aresha.
"Mau main ke rumah lo, nggak boleh?"
"Nggak! Karena rumah gue bukan untuk cowok seperti lo," jawaban sinis dari Aresha membuat Arkan terkekeh.
"Mending lo pulang deh, sebelum gue panggilin satpam buat usir lo." usir Aresha mulai merasa risih dengan kehadiran Arkan.
"Gue gak akan pulang sebelum lo ikut gue." Arkan menarik paksa tangan Aresha, namun Aresha berusaha memberontak dari cekalan tangan Arkan yang sangat kuat.
"Arkan lepasin tangan gue!"
"Ikut gue Aresha!"
"Arkan lepasin gue," dengan kekuatan penuh Aresha menghentakan tangan nya hingga terlepas dari cekalan Arkan.
"Lo pikir lo siapa bisa maksa gue seenak nya huh," desis Aresha seraya mengusap usap tangan nya yang memerah.
Suara motor terdengar mendekati mereka berdua. Saat Aresha dan Arkan menoleh, sosok Arsen datang dengan motor sport nya.
"Wish, ada Arsen di sini." ucap Arkan begitu Arsen telah berdiri di tengah tengah mereka.
Arsen melirik ke arah Aresha, melihat Aresha mengusap pergelangan tangan nya yang memerah membuat amarah Arsen seketika memuncak.
Bugh...
"Arsen," pekik Aresha melihat Arsen menjatuhkan pukulan talak pada Arkan.
"Apa yang sudah lo lalukan huh," teriak Arsen marah. Tak ada jawaban dari Arkan semakin membuat Arsen emosi, Arsen kembali memukul wajah Arkan hingga Arkan tersungkur di bawah dengan darah yang mengalir dari lubang hidung nya.
Arkan tak tinggal diam, Arkan berdiri dan langsung membalas pukulan Arsen.
Bugh..Bugh..Bugh...
Mereka saling memukul dengan brutal, Aresha yang menyaksikan itu hanya bisa berteriak mencoba melerai pertengkaran itu.
"ARSEN, ARKAN HENTIKAN ITU." teriakan Aresha sama sekali tidak berarti bagi mereka, mereka terus saja saling memukul tanpa ada yang mau mengalah.
Hingga akhirnya Arkan terkapar tak berdaya di bawah kukungan Arsen yang semakin terlihat emosi.
"Lo pikir lo siapa bisa menyentuh Aresha, huh."
Arkan diam tak menjawab, tubuhnya melemah karena pukulan keras dari Arsen.
"Asal lo tahu, gue nggak akan pernah biarin orang yang sudah berani menyentuh apalagi menyakiti Aresha selamat, termasuk lo brengsek." desis Arsen berisik di telinga Arkan.
Bugh...
Arsen kembali memukul Arkan sebelum beranjak dari atas tubuh Arkan.
"Hei, ada apa ini? Non Aresha ada apa? Non Aresha tidak apa apa kan?" Pak Masrur, nama satpam di rumah Aresha datang dan menghampiri Aresha dengan wajah khawatir.
"Kalian berdua ngapain, kenapa berantem di sini huh?" teriak pak Masrur marah. Arsen berjalan mendekati Pak Masrur dan Aresha dengan wajah dingin.
"Maaf sudah buat keributan, Bapak urus saja dia dan bawa dia ke rumah sakit. Bilang dia adalah putra pertama Aril Davidson, biar nanti pihak rumah sakit yang menghubungi keluarga nya."ucap Arsen pada Pak Masrur, namun mata nya terus saja menatap Aresha yang membisu karena syok.
"Aku pergi!" pamit Arsen pada Aresha, sebelum Arsen benar benar pergi, Aresha mencekal pergelangan tangan Arsen hingga Arsen menghentikan langkah nya.
"Bibit lo terluka, biar gue yang mengobati nya." tanpa menunggu persetujuan dari Arsen, Aresha langsung menarik tangan nya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Pak Masrur yang tampak binggung bagaimana caranya membawa Arkan yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tunggu sebentar, gue ambil kotak obatnya dulu." Arsen hanya diam tidak menjawab. Namun badan nya terlanjur duduk di sofa besar ruang tamu, menunggu Aresha yang sedang mengambil kotak obat nya.
Arsen menyentuh bibir nya yang berdarah, terasa perih namun Arsen sudah biasa menerimanya, karena berantem sudah menjadi hobi nya sejak papanya meninggalkan dirinya.
"Maaf lama." Aresha datang dengan sekotak obat di tangan nya, duduk di samping Arsen dan mulai menuangkan cairan alkohol untuk membersihkan luka di wajah Arsen sebelum memberinya obat.
"Tahan sedikit karena ini akan terasa perih." ucap Aresha mengarahkan kapas ke sudut bibir Arsen, namun belum sampai kapas itu menyentuh luka nya, Arsen lebih dulu mencegah nya.
"Kenapa?" heran Aresha
"Kamu juga terluka, sebelum kamu mengobatiku, aku akan mengobatimu terlebih dahulu." Arsen mengambil kapas di tangan Aresha dan mengarahkan nya di pergelangan tangan Aresha yang sedikit terluka. Arsen mengusapnya dengan halus, seakan dia takut jika membuat Aresha kesakitan.
Aresha yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam dan mematung, bukan hanya perlakuan Arsen, tetapi gaya bicara Arsen juga sedikit menarik perhatian Aresha.
'Aku, Kamu' Mendengar panggilan itu membuat Aresha sedikit tak percaya jika Arsen bisa selembut itu mengucapkanya. Walau nadanya masih tetap sama, datar dan dingin.
Aresha tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia sedikit merasa tersentuh dengan sikap Arsen, Aresha baper. Bawa perasaan dengan sikap Arsen tak tak biasa.
📝
Sebagai ganti gagal nya ke Dufan, Arsen mengajak Aresha untuk pergi ke suatu tempat yang begitu indah. Tempat di mana Arsen sering menghabiskan waktu nya di saat sendiri.
Aresha menatap pemandangan di depan nya yang begitu indah, gemerlap lampu kota benar benar membuat Aresha merasa tenang di malam hari seperti ini.
"Arsen, tau dari mana lo tempat seindah ini?" tanya Aresha tanpa mengalihkan pandangan dari arah depan.
Arsen bergerak menghampiri Aresha, berdiri di sebelah Aresha dengan pandangan lurus ke depan.
"Tempat ini benar benar indah, gue memang sering naik ke rooftop kantor Papa, tapi tempat ini benar benar beda, jauh lebih baik dari tempat yang sering gue kunjungin." Aresha tersenyum sambil memejamkan mata nya, menikmati embusan angin malam yang menerpa wajah nya.
Aresha benar benar lupa segala nya, bahkan masalah nya dengan Arjuna pun dia lupakan saat ini.
"Lo beneran suka?" Arsen beralih menatap Aresha, memperhatikan gadis cantik yang menjadi pujaan di SMA nya. Arsen sedikit tidak menyangka jika Aresha yang membenci nya bisa menjadi teman nya.
"Iya gue suka, tempat ini begitu menenangkan." jawab Aresha menunjukan senyum nya, senyum yang tidak pernah Arsen lihat sebelum nya.
"Aresha,"
Aresha menoleh menatap Arsen.
"Iya?"
"Kita teman!" ucap Arsen tiba tiba. Aresha terdiam tak mengerti dengan apa yang Arsen bicarakan.
"Kita sekarang teman." ulang nya menatap Aresha lekat lekat.
Aresha tersenyum singkat, pandangan nya kembali menatap ke depan.
"Lo mau jadi teman gue? Atau maksa gue buat jadi teman lo?"
Arsen menghembuskan napas nya, berjalan satu langkah agar lebih dekat dengan Aresha.
"Gue nggak becanda Aresha, kita sekarang teman kan?"
Rasanya Aresha ingin tertawa melihat ekspresi Arsen yang tak biasa, bayangkan saja Arsen yang biasanya datar dan dingin kini berubah menjadi Arsen yang seperti anak kecil ketika merajuk.
"Segitu ingin nya lo buat jadi teman gue," goda Aresha.
Arsen mendengus, membuang pandangan nya tak mau menatap Aresha.
"Lo nggak perlu minta gue buat jadi teman lo. Karena gue udah nganggep lo teman saat lo bantu gue kabur dari sekolah." jawab Aresha tersenyum membayangkan Arsen yang menggenggam tangan nya untuk berlari saat Pak Bimo mengejar nya yang berusaha kabur dari sekolah.
Arsen kembali menatap Aresha, melihat Aresha tersenyum, Arsen merasakan ketenangan tersendiri dalam hati nya.
Drett Drett Drettt.
Suara handphone di saku Arsen terdengar. Arsen mengambil handphone nya dan melihat siapa yang menelepon nya.
Decakan keluar dari bibir Arsen saat mengetahui jika mamanya lah yang menelepon.
"Siapa?" tanya Aresha.
"Bukan siapa siapa." jawab Arsen mematikan handphone nya dan kembali memasukan nya ke dalam saku.
Namun tak lama setelah itu ada pesan masuk, mau tak mau Arsen harus melihat isi pesan nya.
Mama: Di mana kamu sekarang? Apa tidak ada tanggung jawab sama sekali sudah membuat Kakak kamu masuk rumah sakit. Arkan terluka karena kamu, cepetan ke rumah sakit dan minta maaf atau Mama akan blokir semua kartu keuangan kamu.
Arsen membaca pesan dari mama nya dengan tatapan yang sulit di artikan, Aresha yang menyadari raut wajah Arsen langsung merebut handphone nya untuk melihat apa penyebab perubahan wajah Arsen.
Aresha menutup mulut nya tak percaya setelah membaca pesan pesan dari mama nya Arsen.
"Lo udah tahu sendiri kan, kalau Mama gue lebih peduli dia dari gue, bahkan mama lebih khawatir sama dia yang terluka tanpa mau tau gue juga terluka karena nya." ucap Arsen dengan pelan, matanya menyorot tajam dengan tangan yang terkepal.
"Dan sekarang, setelah lo lihat sendiri, apa lo masih akan maksa gue buat pulang?" Arsen menatap Aresha, menatap nya dengan tatapan bertanya.
Aresha menghela napas nya, dia binggung harus menjawab apa, namun jika melihat isi pesan itu Aresha menyadari jika Arsen benar benar terluka, dan akan semakin terluka jika Aresha tetap akan memaksa Arsen pulang ke rumah.
Tangan Aresha bergerak menyentuh tangan Arsen, menggenggam nya untuk menguatkan Arsen yang sedang butuh kekuatan.
"Gue gak akan maksa lo lagi Sen, gue sekarang teman lo, gue akan dukung apapun yang bisa bikin lo tenang." Aresha tersenyum menatap Arsen.
Arsen tidak bisa mengambarkan bagaimana perasaan nya saat ini, dengan sedikit keberanian Arsen menarik Aresha ke dalam pelukan nya.
"Makasih udah mau dukung gue,"
Aresha diam membeku di tempat nya, tubuhnya terasa aneh di dalam pelukan Arsen. Namun detik berikutnya Aresha membalas pelukan nya.
Jadilah mereka berpelukan dan saling menguatkan dalam hening nya malam, menjadikan bintang di atas sebagai saksi bisu atas pertemanan mereka yang baru saja terjalin sempurna.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu