Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Sudah beberapa hari Kinanti tinggal di rumah orang tuanya dan selama itu juga Yoga ikut tinggal bersamanya. Yoga tidak menyerah, dia terus berjuang mendapatkan maaf dari Kinanti maupun mertuanya.
Yoga tidak peduli di bilang tak tahu diri, tapi selama masih bisa berjuang kenapa tidak. Yoga yakin suatu hari usahanya akan berhasil dan Kinanti akan kembali kepelukannya, dan menjalani kembali biduk rumah tangga dengan harmonis.
Pagi ini Yoga sudah rapi dengan stelan kerjanya. Hari ini Yoga sudah naik jabatan. Akhirnya usahanya untuk segera naik jabatan kini tercapai.
Yoga terus mengukir senyum di bibirnya. Hatinya tengah sangat bahagia karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang manager. Kerja kerasnya membuahkan hasil.
Kinanti masuk ke dalam kamar dan menatap heran wajah Yoga. Namun, Kinanti tidak mau tahu alasan mengapa Yoga senyam-senyum sendiri.
Paling juga suaminya itu mau ketemuan sama selingkuhannya. Begitu pikir Kinanti.
Yoga menghampiri Kinanti yang tengah berjalan menuju kamar mandi. Yoga tidak akan membiarkan Kinanti kesusahan berjalan ke kamar mandi, walaupun Kinanti jalan menggunakan tongkat.
"Ish ! Mau ngapain!" Sentak Kinanti kepada Yoga.
Akan tetapi Yoga tidak peduli dengan perkataan Kinanti. Yoga kekeh membopong tubuh Kinanti.
"Turunin!" Kinanti meronta-ronta.
"Aku tidak akan membiarkan kamu kesusahan jalan sendiri ke kamar mandi," jawabnya, sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Kinanti mencebikan bibirnya dan menatap kesal wajah Yoga. Padahal tanpa bantuannya, ia bisa jalan sendiri ke kamar mandi. Dasar saja Yoga lebay.
Yoga menurunkan Kinanti pelan-pelan dan Kinanti langsung duduk di atas kloset. Kinanti mengangkat satu alisnya, karena Yoga tidak kunjung keluar.
"Sana keluar! Ngapain masih berdiri di sini !" Usir Kinanti, namun Yoga tetap berdiri di sana dan tak menghiraukan perkataan Kinanti.
Kinanti mendengus melihat Yoga tetap berdiri didepannya, dan terpaksa ia buang air kecil ditemani oleh Yoga.
"Sudah," tanya Yoga.
"Hmm ...," jawab Kinanti malas. Lalu Yoga membopong lagi tubuh Kinanti keluar kamar mandi.
Yoga mendudukkan Kinanti di atas ranjang, lalu Yoga berlutut di depannya.
"Sayang, hari ini aku sudah naik jabatan. Doakan aku agar pekerjaan ku hari ini di beri kelancaran," ucap Yoga.
Kinanti hanya mengangguk saja, tidak menjawabnya. Kemudian Yoga bangkit dan mencium kening Kinanti. Namun, Kinanti menahan bibirnya Yoga.
Seketika Yoga menghembuskan napasnya pelan. Yoga kecewa mendapati penolakan dari Kinanti, tapi tidak apa, pelan-pelan ia meraih lagi hatinya Kinanti.
"Aku berangkat dulu," pamit Yoga.
"Hmm ...," jawab Kinanti malas.
Yoga segera berangkat kerja. Ia harus tiba di kantor sebelah jam makan siang. Sebelumnya Yoga sudah izin kepada atasannya kalau ia datangnya siang.
Melihat Yoga sudah berangkat, Kinanti keluar dari kamar dan mencari ayahnya.
"Pa ...," panggil Kinanti.
Pak Suryadarma yang tengah berolahraga di belakang rumah, langsung berhenti melihat Kinanti memanggilnya.
"Ada apa?" sahutnya.
"Hari ini bapak bisa kan temani aku pergi ke pengadilan agama," ujar Kinanti.
"Tentu saja bisa," jawabnya, seraya menghampiri Kinanti. "Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu?"
"Sudah, Pa," jawab Kinanti yakin.
Pak Suryadarma manggut-manggut dengan keputusan Kinanti. "Kalau gitu bapak siap-siap dulu."
"Iya, aku tunggu di depan ya, Pa." Yang langsung di jawab dengan anggukan kepala.
Tidak berselang lama, Pak Suryadarma sudah siap menemani Kinanti pergi ke kantor pengadilan agama.
Keduanya segera berangkat menggunakan taksi online, sebab Pak Suryadarma belum bisa mengendarai mobil lagi, karena Pak Suryadarma belum berani membawa mobilnya sehabis sakit.
***
Sore harinya, selepas bekerja. Yoga memilih pulang ke rumahnya dulu untuk mengambil beberapa pakaiannya. Baru saja akan masuk ke dalam rumahnya, ponselnya berdering.
Yoga mendengus saat tahu siapa gerangan yang menelponnya. Siapa lagi kalau bukan Frida. Yoga memilih mengabaikan telponnya dan langsung memblokir nomornya.
"Dasar pengganggu," gerutu Yoga. Lalu Yoga segera masuk ke dalam rumahnya.
Di tempat yang berbeda, Frida tengah mengamuk karena Yoga tidak bisa dihubungi lagi. Frida menendang meja didepannya.
"Sialan !" Umpat Frida kesal. "Awas kamu mas! Aku nggak akan membiarkan kamu hidup bahagia sama keluarga mu!" Ucapnya penuh amarah.
Frida tidak terima kalau dirinya dicampakkan oleh Yoga begitu saja. Frida tidak ingin Yoga kembali bersama anak dan istrinya. Ia sudah terlanjur cinta sama Yoga dan ingin memiliki seutuhnya.
Tak ingin Yoga semakin menjauh darinya, Frida memilih pergi mencari Yoga di rumahnya. Frida tidak peduli jika nanti harus bertemu dengan istrinya, malahan itu sangat bagus jika nanti ia bertemu dengan istrinya Yoga. Ia akan meminta kepada istrinya untuk meninggalkan Yoga.
Sekitar tiga puluh menit, Frida tiba di rumah Yoga. Senyumnya tersungging ketika melihat mobil Yoga terparkir di depan rumahnya.
Frida segera mengetuk pintunya dan tidak lama terdengar suara kunci di buka.
"Frida ...." Yoga terkejut melihat Frida ada di rumahnya.
"Mas," ucap Frida berbinar senang. Frida langsung memeluk tubuh Yoga. Ia sangat merindukan pemilik tubuh yang tengah ia peluk.
"Aku kangen banget," ucapnya manja.
Yoga melepaskan pelukan Frida secara paksa, dan sedikit mendorong tubuh Frida.
"Ngapain kamu ke sini !" Bentak Yoga.
"Aku kan kangen sama kamu," sahutnya manja.
Yoga mendengus mendengar perkataan Frida.
"Dengar ya ... Kita itu sudah tidak ada hubungan lagi. Jadi stop! Jangan ganggu aku lagi. Mending kamu cari mangsa lain saja. Aku tuh sudah muak sama kamu," ujar Yoga kesal.
"Aku nggak mau kita putus. Aku tuh cinta sama kamu. Bukannya kamu juga cinta sama aku."
"Aku tuh tidak pernah cinta sama kamu. Kamu nya saja yang baperan. Aku kan sudah pernah bilang sama kamu, kalau aku akan selalu memilih keluarga ku daripada kamu."
Seketika Frida langsung geram dengan ucapan Yoga. Frida tidak mau Yoga memilih keluarganya daripada dirinya.
"Sana pergi ! Ganggu saja !" Usir Yoga, seraya menutup pintunya.
Frida mengeraskan rahangnya. Hatinya sakit dengan perubahan sikap Yoga. Lelaki yang sudah mengisi hari-harinya sudah tidak menginginkannya lagi.
"Baiklah mas, jika aku tidak bisa memiliki mu, maka istrimu juga tidak boleh memiliki mu juga." Ucapnya kepada dirinya sendiri.
Setelah itu, Frida pergi dari sana dan Yoga bernapas lega melihat Frida pergi meninggalkan rumahnya.
"Lebih baik aku segera pergi ke rumah mertuaku," gumam Yoga.
Yoga tiba di rumah mertuanya hampir tengah malam. Ia melangkah masuk sambil membawa sebuket bunga mawar untuk Kinanti. Yoga sudah berdiri di depan pintu kamar. Dipandanginya bunga tersebut, sambil tersenyum lebar.
"Kinan pasti senang kalau aku bawa bunga mawar."
Kemudian Yoga membuka pintunya. Senyum yang tadi tersungging, seketika lenyap. Kinanti tidak ada di kamarnya.
"Kinan tidur dimana?" tanyanya kepada dirinya sendiri.