NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Putri Konglomerat

Surya mengira setelah kunjungan ke rumah Lim, Meilu akan memberinya waktu bernapas.

Ia salah.

Dua malam kemudian, Meilu datang ke apartemen Tebet membawa satu kotak jas.

"Pakai ini besok."

Surya membuka kotak itu. Jas hitam, kemeja putih, dasi gelap, sepatu kulit. Semuanya sederhana dalam warna. Namun, potongannya terlalu pas untuk disebut kebetulan.

"Ini mahal."

"Ini perlu."

"Untuk apa?"

"Malam amal Lintang Foundation."

Surya menatapnya. "Kamu baru saja membuat ayahmu belum yakin kepadaku, sekarang kamu mau membawaku ke acara keluarga?"

"Justru karena Papa belum yakin, kamu harus berdiri di tempat yang membuat semua orang melihat kamu tidak bersembunyi."

"Kamu selalu memberi tugas seperti penyidik."

"Dan kamu selalu protes sambil tetap mengerjakan."

Keesokan malam, Lamborghini merah berhenti di depan gedung hotel ballroom di kawasan Sudirman. Meilu keluar lebih dulu. Ia memakai gaun malam biru gelap, rambutnya diangkat, lehernya tanpa perhiasan besar. Justru karena tidak berlebihan, seluruh tubuhnya tampak seperti orang yang sejak kecil diajari bahwa kemewahan tidak perlu berteriak.

Surya turun dari sisi penumpang.

Untuk sesaat, kamera media kecil di pintu berhenti mencari orang lain.

"Mbak Meilu, ke sini sebentar!"

"AKP Lim, siapa pendampingnya?"

Meilu tidak menjawab. Ia hanya menyelipkan tangannya di lengan Surya.

"Jalan."

Di dalam ballroom, Surya memahami ukuran asli dunia Meilu. Pengusaha properti, direktur bank, produser film, pejabat yayasan, dokter rumah sakit swasta, rektor, dan beberapa figur publik berdiri di bawah lampu kristal. Logo Lintang Foundation terpampang di layar besar bersama tema beasiswa dan layanan kesehatan daerah.

Bisikan menyebar saat Meilu masuk.

"Itu putri Pak Lim."

"Yang polisi?"

"Iya, AKP Lim Mei Lu."

"Pria di sebelahnya siapa?"

Surya mendengar semuanya.

Dulu, orang berbisik karena ia menantu miskin keluarga Kusuma.

Malam ini, mereka berbisik karena ia menggandeng perempuan yang membuat seluruh ruangan menyesuaikan posisi.

Weichen menghampiri mereka lebih dulu. "Jasnya cocok."

"Pilihan adikmu," kata Surya.

"Tentu. Kalau pilihanmu sendiri, Papa mungkin langsung menyuruh keamanan menyediakan blazer cadangan."

Meilu menatap kakaknya. "Ko Chen."

Weichen tertawa, lalu menepuk bahu Surya. "Santai. Di sini semua orang terlihat lebih percaya diri daripada kenyataannya."

Sebelum acara utama dimulai, panitia membawa beberapa anak penerima beasiswa ke panggung kecil. Salah satu anak laki-laki gugup membaca ucapan terima kasih, lalu lupa baris terakhir. Ruangan tertawa lembut. Meilu menggenggam lengan Surya, dan Surya melihat matanya berubah hangat.

"Ini alasan Papa sulit berhenti bekerja," katanya.

"Karena angka di laporan berubah menjadi wajah."

Meilu menatapnya sebentar. "Kamu mulai mengerti keluarga saya."

"Baru halaman pertama."

"Halaman pertama saja tidak semua orang mau baca sampai selesai dengan sabar dan mata benar-benar terbuka."

Lampu panggung berubah.

Pembawa acara menyebut nama Lim Tjahyadi.

Seluruh ballroom berdiri.

Surya ikut berdiri. Namun, matanya bergerak ke panggung. Pak Lim berjalan naik dengan tenang. Tidak ada gaya flamboyan. Tidak ada lambaian tangan besar. Namun ratusan orang berdiri karena nama Lintang berarti gaji, proyek, beasiswa, rumah sakit, dan peluang.

Di layar, profil singkat keluarga Lim muncul: Lintang Group, Lintang Pictures, Lintang Financial, Lintang Property, dan Lintang Foundation. Meilu disebut putri komisaris utama sekaligus perwira Dittipideksus Polda Metro Jaya yang memilih karier pelayanan publik di luar bisnis keluarga.

Barulah beberapa orang menatap Surya dengan lebih serius.

Pria di samping Meilu bukan sekadar pacar seorang polisi.

Ia berdiri di sisi putri salah satu keluarga bisnis terbesar Jakarta.

Di sisi lain ruangan, Nadia memegang gelas sampai jarinya memutih.

Ia datang sebagai pendamping Kevin, memakai gaun perak pinjaman dari butik rekanan. Setelah Permata Kreasi hancur, ia seharusnya tidak berada di acara seperti ini. Tetapi Kevin membutuhkan wajah normal di depan beberapa relasi, dan Nadia masih bersedia menjadi pajangan jika itu membuatnya merasa belum sepenuhnya jatuh.

Lalu ia melihat Surya.

Surya, laki-laki yang dulu ia suruh mencuci piring.

Surya, laki-laki yang pernah ia sebut pembawa sial.

Surya, kini berdiri di samping Meilu, disalami Weichen, dilirik tamu-tamu besar, dan tidak tampak tersesat.

"Itu tidak mungkin," bisik Nadia.

Kevin mengikuti arah matanya. Wajahnya menegang.

"Jangan membuat adegan."

"Kamu tahu siapa perempuan itu?"

"Semua orang tahu siapa dia."

"Kenapa kamu tidak pernah bilang?"

Kevin menatapnya dingin. "Karena kamu selalu terlalu sibuk membenci Surya untuk membaca dunia di sekitarmu."

Kalimat itu menusuk. Namun, Nadia hampir tidak merasakannya. Ia melihat Pak Lim turun dari panggung. Orang-orang memberi jalan. Meilu membawa Surya mendekat. Pak Lim menatap Surya sejenak, lalu memperkenalkannya kepada seorang direktur rumah sakit sebagai "Surya Prasetyo, calon advokat di Sentana."

Bukan menantu.

Bukan keluarga.

Tetapi cukup.

Cukup untuk membuat ruangan tahu bahwa Surya tidak ditolak di depan umum.

Direktur rumah sakit itu menjabat tangan Surya. "Sentana sedang menangani beberapa kerja sama yayasan kami. Saya dengar analisis kontrak Anda rapi."

Surya tidak mencari Meilu untuk meminta bantuan menjawab. Ia menatap orang itu langsung.

"Saya masih belajar di bawah Bu Diana, Pak. Tapi kalau pekerjaan itu menyangkut layanan kesehatan daerah, klausul pengadaan dan tanggung jawab sosial harus dibuat jelas sejak awal. Yayasan tidak boleh terlihat seperti kedok promosi bisnis."

Direktur itu tersenyum, kali ini bukan senyum sopan. "Menarik. Kita bicara lagi nanti."

Pak Lim tidak memuji.

Ia juga tidak memotong.

Dan di dunia seperti ini, dibiarkan bicara sampai selesai adalah bentuk pengakuan pertama.

Nadia merasa udara di dadanya habis.

Di matanya, Surya sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada mantan suami miskin: pria yang mungkin naik tanpa membutuhkan kehancurannya. Semua kebencian Nadia tiba-tiba terlihat kecil di samping langkah itu.

Maya muncul di samping Surya dengan setelan hitam dan senyum yang tampak siap membuat orang lain tidak nyaman. Irene berdiri di belakangnya, anggun dan sunyi.

Tiga perempuan.

Meilu, Maya, Irene.

Semua berdiri di sekitar Surya seolah tempat itu memang wajar.

Nadia tidak tahan lagi.

Ia pergi ke toilet wanita dengan langkah cepat. Di dalam bilik, ia menutup mulut agar tidak berteriak. Cermin besar di luar memantulkan wajahnya yang pucat, riasan yang mulai retak, dan mata yang penuh iri.

Ia mengambil ponsel.

Nomor yang ia hubungi tidak diberi nama lengkap. Hanya satu huruf.

R.

Panggilan tersambung pada dering ketiga.

"Aku butuh bantuanmu," kata Nadia, suaranya pecah tetapi penuh racun. "Apa pun caranya, hancurkan dia."

Di luar ballroom, tepuk tangan kembali terdengar.

Surya berdiri di antara cahaya, sementara di balik pintu toilet, Nadia memilih jalan yang lebih gelap.

Malam itu menjadi batas baru bagi iri hati Nadia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!