Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Assalamualaikum. Jihan!"
Jihan meluruskan pandangannya, ia tersentak melihat seorang lelaki muda tampan, bertubuh tinggi memakai koko bewarna putih polos dan celana panjang bahan kebiru-biruan yang mengatung.
"Wa'alaikumussalam!"
Jihan masih terpaku memandangi, samar-samar ia mengenali lelaki yang berpenampilan soleh itu.
"Jihan, masa kamu gak kenal sama aku? Ini aku Firdaus, sahabat pesantren kamu dulu!"
Jihan baru ingat lelaki muda itu adalah salah satu sahabat karibnya sewaktu Jihan masih sama-sama belajar di pesantren.
"Ya Allah. Daus?"
Jihan berjalan menghampiri Daus. Tapi tersentak perempuan bercadar itu sadar, bahwa dirinya sekarang sudah berstatus istri. Langkahnya terhenti dan berdiri tanpa membukakan pagar untuk sahabat lelakinya.
"Jihan, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Maaf ya Daus kita ngobrolnya berdiri aja yah, soalnya sekarang aku sudah bersuami!" Tutur Jihan.
Firdaus memahami dan mengerti betul karakter seorang Jihan, seorang perempuan muslimah yang selalu taat pada agama. Meskipun Daus menyimpan sedikit pilu dalam hatinya, ia tetap bersahaja. Daus memang telah lama menyukai Jihan, tapi rasa itu akhirnya tidak tersampaikan sampai sekarang. Sedari dulu Daus masih ragu untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Jihan karena Daus seorang pemuda yang pemalu.
"Iya gapapa kok Jihan. Aku ngerti!"
"Oh, iya. Maafin juga yah aku gak ngundang kamu waktu acara pernikahan aku sama Justin, karena kamu kan gak ada disini, waktu itu kamu kan lagi kuliah diluar kota, jadi aku gak tau alamat kost kamu!"
"Ya gapapa. Yang penting kamu bahagia udah menemukan jodoh kamu, aku juga ikut bahagia!" Sahut Daus.
"Gimana kuliah kamu? Dan sekarang kamu ngapain aja?" Tanya Jihan.
"Aku udah menyelesaikan kuliah sampai D3, sekarang aku mengajar di madrasah kampung kita!" Jawab Daus.
"Alhamdulillah, syukurlah. Kamu udah mau mengajar ilmu agama buat anak-anak di kampung kita ini. Semoga menjadi berkah juga buat kamu!" Ucap Jihan tersenyum dibalik cadar hitamnya.
"Aamiin. Makasih Jihan!"
"Ya sama-sama sahabatku!"
Lelaki muda berkulit putih, hidung mancung dan muka ala ketimur tengahan itu memandangi Jihan dengan haru.
"Suami kamu mana? Kamu sekarang tinggal disini yah?" Tanya Daus.
Jihan menunduk, ia hanya menjelaskan yang baik-baik tentang rumah tangganya bersama Justin.
"Suami aku lagi kerja. Aku dititipkan sama Justin dirumah abi dan umi ini karena aku sekarang lagi hamil. Justin khawatir kalau dirumah kami aku sering sendirian ditinggal dia kerja, kalau disini kan ada abi sama umi yang bantu jagain aku, Justin jadi lebih tenang," tutur kembali Jihan.
"Oh gitu. Syukurlah, suami kamu itu sangat perhatian ... dan dia juga beruntung banget punya istri seperti kamu!"
"Terima kasih, Daus."
Daus tersenyum lembut. Jihan pun lalu membatasi obrolannya dengan lelaki yang bukan makhromnya, meskipun lelaki itu adalah sahabat dekatnya.
"Ya sudah. Lanjutkan jalan kamu, semangat terus untuk mengamalkan ilmu agama yah sobat!" Ujar Jihan.
"Ya Jihan. Makasih. Kalau kamu ada waktu, kamu bisa kan bantuin aku mengajar anak-anak, karena kami kekurangan tenaga guru mengaji. Tapi aku juga gak maksa itu terserah sukarela kamu aja!"
"Aku sih mau aja, ini juga kan ibadah. Tapi aku harus minta izin dulu sama suami aku!"
"Oh, iya itu harus! Ya udah nanti kalau kamu udah dapat izin dari suami kamu datang aja langsung ke madrasah, nanti aku yang kenalin kamu sama anak-anak!"
"Ya in syaa allah ..." sahut jihan.