NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

​"Nad, tuh! Udah giliran Lo yang dipanggil!" ucap Riska setengah berbisik sewaktu seorang staf meneriakkan nomor urut Nadya, bersamaan dengan keluarnya peserta sebelum dirinya.

​"Iya, Ris."

​Nadya menarik napas panjang demi mengumpulkan sisa keberaniannya. Sebelum melangkah, ia sempat menoleh sekilas ke arah Rexsaka. Pria itu membalas tatapannya dengan raut datar khas tanpa ekspresi. Meski begitu, ada kehangatan tipis yang tersirat dari sorot matanya yang tajam, tak lagi sedingin biasanya.

​Dengan ketegangan yang membumbung tinggi, Nadya akhirnya melangkah melewati ambang pintu ruang audisi, meninggalkan Riska dan Rexsaka di luar.

​​Sepeninggal Nadya, atmosfer di sekitar Rexsaka mendadak berubah kaku. Riska yang kini hanya berdua dengan perwira garang itu tiba-tiba memegang perutnya dengan wajah pias.

​"Mas... Bang... Pak Bodyguard... sorry banget, gue izin mengamankan diri ke toilet lagi!" cicit Riska meringis menahan mulas yang makin menjadi-jadi. "Sumpah, bukan Nadya doang yang mau pingsan, perut gue juga ikut trauma! Kalau dia nyariin, bilang aja manajernya lagi panggilan darurat di WC!"

​Tanpa menunggu jawaban dari Rexsaka yang hanya menatapnya heran, Riska langsung ngacir meninggalkannya sendirian di tengah keramaian lobi.

Sepeninggal Riska yang berlari terbirit-birit menuju toilet, Rexsaka kembali berdiri tegap. Dari posisi berdirinya di balik dinding lobi, matanya terpaku pada jendela kaca besar berdinding transparan yang memperlihatkan bagian dalam ruang penjurian.

​Dari luar, ia bisa melihat Nadya berdiri anggun di tengah ruangan. Meski tahu gadis itu sedang berusaha keras menutupi rasa gugup di depan para juri, Rexsaka menyadari detail sekecil apa pun, gestur jemari Nadya yang meremas ujung roknya, hingga helaan napas halusnya sebelum memulai dialog. Ada desakan aneh di dada Rexsaka untuk membiarkan gadis itu tetap aman, tapi sekali lagi dia tekankan pada dirinya bahwa dia disini hanya sebagai misi khusus dan setelah ini selesai semua akan berakhir.

​"Ternyata kamu cuma bodyguard-nya Nadya... Hampir saja aku kira kalian berpacaran."

​Sebuah suara manja nan berani mendadak memecah fokus Rexsaka. Aroma parfum manis menyengat mendahului langkah sang pemilik sebelum Jesica sepenuhnya berdiri di sampingnya, pria yang baru kemarin mendatanginya, mengancam akan memenjarakannya atas tuduhan merekam dan menyebarkan video tanpa izin. Tanpa rasa canggung, Jesica bersandar santai pada bingkai jendela kaca yang sama.

​Jesica menyunggingkan senyum miring, mengamati sosok Nadya di balik kaca sebelum mengalihkan pandangan ke rahang kaku Rexsaka. Jemarinya yang berhias kuku merah menyala mengusap pelan rantai emas tas Gucci-nya.

​"Mau jadi pengawalku saja? Aku bisa bayar kamu jauh lebih mahal dari Nadya," rayu Jesica sembari mengikis jarak, sengaja mendekatkan tubuhnya.

​Rexsaka tak bergeming sedikit pun. Ia bahkan tak menoleh, tetap menancapkan pandangannya pada sosok Nadya di dalam ruang audisi. Namun, aura di sekitar pria itu mendadak mendingin pesat.

​"Jaga jarakmu," sahut Rexsaka rendah dan dalam. Suaranya tidak keras, tetapi sarat intimidasi murni yang sanggup membekukan udara di antara mereka.

Bukannya takut, Jesica justru merasa tertantang. Rasa gentarnya pada Rexsaka atas ancaman kemarin mendadak menguap, tergilas oleh fakta betapa memesonanya pria di hadapannya ini. Terlebih setelah tahu bahwa perwira itu adalah pengawal milik Nadya. Penolakan itu justru membuat senyum di bibir berlipstik merah Jesica semakin lebar. Ia memang tak pernah suka kalah, terlebih jika yang dipertaruhkan adalah sesuatu yang berkaitan dengan Nadya.

​Jesica bertindak nekad. Ia berjinjit, mengikis jarak lalu berbisik menggoda tepat di samping telinga Rexsaka, "Atau... kamu mau bayaran dalam bentuk lain?"

​Rahang Rexsaka mengeras kaku mendengar bisikan berani itu. Sorot matanya beralih, menghujam Jesica dengan tatapan dingin, tajam, dan sarat akan ancaman berbahaya.

​"Satu langkah lebih dekat lagi, saya anggap sebagai bentuk pelecehan," ucap Rexsaka rendah, suaranya bak vonis telak yang tak bisa diganggu gugat.

​"Kak Rex?"

​Panggilan jernih Nadya mendadak mengudara dari ambang pintu ruang audisi, memotong intrik Jesica seketika. Gadis itu berdiri tegap di sana, jemarinya masih mencengkeram gagang pintu sewaktu melemparkan tatapan menelisik pada dua orang yang berdiri terlampau dekat di sudut lobi. Matanya menyipit penuh kecurigaan, jelas terkejut sekaligus tak suka menyaksikan pemandangan di depannya.

***

Sejak masih di dalam ruangan, sudut mata Nadya sudah memantau resah dari balik jendela kaca. Perasaannya mulai gusar saat si ular keket Jesica meliuk-liuk mendekati my little T-Rex-nya. Beruntung, Nadya masih bisa menguasai diri dan dengan cepat menyelesaikan penampilannya. Tak ada kritik berarti dari para juri, mereka hanya mengangguk-angguk, yang Nadya artikan sebagai sinyal kepuasan atas aktingnya.

​Begitu urusannya di dalam usai, ia bergegas keluar. Namun, pemandangan di lobi justru membuat dadanya berdenyut nyeri: Rexsaka dan Jesica berdiri begitu dekat. Di mata Nadya yang diselimuti cemburu, Rexsaka bahkan tampak tak menghindar, seolah menikmati kedekatan itu. Hatinya mendadak sesak. Kendati sudah bertekad untuk melupakan sang perwira, hatinya tak bisa bohong, ia sungguh tak rela melihat pria itu disentuh wanita lain.

​"Kak Rex, ayo pulang!" hardik Nadya tanpa basa-basi. Ia melangkah cepat lalu menyambar lengan Rexsaka, memosisikan tubuhnya persis di antara Rexsaka dan Jesica seperti benteng penghalang.

​Rexsaka yang menyadari letupan emosi gadis di sampingnya hanya menatap datar, lalu berucap tenang, "Temanmu masih di toilet."

Tanpa memedulikan ucapan Rexsaka tentang Riska, Nadya sudah terlanjur dikuasai cemburu. Ia mengabaikan eksistensi Jesica sepenuhnya, mencengkeram erat lengan kemeja Rexsaka lalu menyeret pria tegap itu untuk segera angkat kaki dari lobi.

​"Biar Riska menyusul sendiri nanti! Ayo keluar sekarang!" tegas Nadya setengah menuntut, melangkah cepat dengan kepala terangkat tinggi.

​Rexsaka yang tidak berniat memicu kegaduhan lebih jauh menuruti tarikan itu tanpa perlawanan. Langkah kakinya yang panjang dan tenang menyelaraskan irama langkah Nadya yang terburu-buru, membiarkan tubuhnya dibawa pergi oleh gadis yang saat ini sibuk memasang wajah cemberut.

​Sepeninggal mereka berdua, Jesica berdiri kaku di tempatnya. Senyum miring yang tadinya terpatri di wajah cantiknya runtuh seketika, berganti raut kekesalan yang amat sangat.

​"Cih! Sok jual mahal!" desis Jesica penuh kedengkian.

​Ia menghentakkan kaki beralas sepatu high heels-nya ke lantai marmer dengan gusar, memancing pandangan beberapa orang di sekitar lobi. Kedua tangannya bersedekap rapat di dada, melipat jemarinya yang berkuku merah hingga meremas kain gaun ketatnya sendiri. Tatapannya menancap sengit pada punggung Rexsaka dan Nadya yang berangsur menghilang di balik pintu kaca.

​"Awas saja kamu, Nadya. Boleh saja kamu menang hari ini, tapi pengawalmu itu... bakal jadi milikku cepat atau lambat," gumam Jesica dengan napas memburu, mengibaskan rambutnya kasar sebelum melangkah pergi membawa kekalahan yang membakar gengsinya.

Sementara itu di luar gedung, Nadya masih enggan melepaskan genggamannya pada lengan Rexsaka. Ia mengabaikan detak jantungnya sendiri yang bergemuruh hebat, tak lagi peduli pada hasil audisinya hari ini, karena untuk pertama kalinya Nadya menyadari satu hal yang tidak mampu ia sangkal, melihat rexsaka begitu dekat dengan dengan perempuan lain ternyata jauh lebih menyakitkan dari pada yang ia bayangkan.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!