Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan sang Istri
"Al, minggu depan istrimu mulai tinggal di sini. Kamu nanti jemput istrimu di terminal, ya?" tanya Mahira sembari meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang tengah. Matanya menatap penuh harap pada putranya.
"Apa?" pekik Albiru, hampir tersedak camilan yang sedang dikunyahnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Bunda, kenapa dia harus ke sini sih? Kenapa Bunda gak diskusikan dulu sama Al? Pokoknya, Al gak setuju!"
"Albiru!" Nada suara Mahira meninggi, sarat akan teguran.
"Bunda, please!" Albiru mengacak rambut hitamnya frustrasi. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di depan ibunya. "Sudah cukup masa depan Al dikorbankan lewat pernikahan konyol setahun lalu itu. Al ini masih SMA, Bun! Masih sekolah! Dan sekarang wanita itu mau datang ke sini? Mau menghancurkan hidup Al di sekolah kalau sampai teman-teman tahu?"
"Astaghfirullah, Albiru! Jaga bicaramu!" Mahira mengusap dadanya yang mendadak sesak. Tatapannya berubah kecewa dan terluka melihat penolakan keras dari putranya. "Ellea itu istrimu. Sah secara agama, sah juga di mata hukum. Neneknya baru saja meninggal seminggu yang lalu, Al. Dia sebatang kara di kampung. Mau di mana lagi dia tinggal kalau bukan di rumah suaminya sendiri?"
Albiru mendengus kasar. Pernikahan via video call satu tahun lalu adalah noda hitam dalam hidupnya yang selalu ingin ia hapus dari ingatan. Saat itu, ia terpaksa mengiyakan demi memenuhi wasiat terakhir sang kakek, ditambah kondisi nenek Ellea yang kala itu sakit keras. Sejak hari itu, Albiru memilih amnesia. Ia tidak pernah menghubungi gadis itu, tidak tahu-menahu kabarnya, dan menolak mencari tahu.
Bagi Albiru, status pernikahan itu hanyalah coretan tak berarti di atas selembar kertas.
"Al gak peduli. Dan Al gak akan pernah sudi menjemputnya," ucap Albiru dingin.
Tepat saat Albiru hendak melangkah pergi, terdengar suara deru motor ninja hitamnya memasuki halaman rumah. Detik berikutnya, pintu depan terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang tak lain adalah paman Albiru, mengembalikan motor yang kemarin dipinjamnya. Namun, fokus Mahira teralihkan saat menyadari Albiru langsung menyambar kunci motor tersebut dari meja.
Mata Mahira berbinar seketika. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ia mengira amarah putranya mereda dan nurani remaja itu akhirnya terketuk.
"Al?" panggil Mahira dengan nada lembut, melangkah mendekat. "Kamu ... mau berubah pikiran, Nak? Kamu mau pergi menjemput Ellea ke terminalkan saat nanti?”
Albiru menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tanpa menoleh ke belakang, ia menjawab dengan suara datar yang teramat dingin. "Al mau pergi main ke apartemen Dylan. Al bakal menginap di sana beberapa hari. Jadi, jangan harap Al ada di rumah ini saat wanita itu datang."
Brak!
Pintu depan tertutup dengan dentuman cukup keras, disusul suara raungan mesin motor ninja yang menjauh membelah jalanan. Mahira terpaku di tempatnya berdiri. Harapan kecil yang sempat melambung kini jatuh berkeping-keping.
"Astaghfirullah ... bagaimana bisa anak itu sekeras batu?" gumam Mahira frustrasi. Air matanya mulai menggenang.
Alisa adik perempuan Albiru yang sejak tadi menyimak dari arah dapur hanya bisa mendekat dan mengusap bahu ibunya pelan.
“Bunda, biar saja Kak Biru menolak Kak Ellea, kan masih ada Alisa,” ujarnya polos.
Mahira hanya tersenyum, puterinya yang masih duduk di kelas 1 SMA itu tak mengerti dengan apa yang terjadi.
***
Seminggu berlalu jauh lebih cepat dari yang Albiru harapkan, dan jauh lebih mendebarkan dari yang Ellea bayangkan.
Di sebuah sudut terminal kota yang bising, debu dan asap kendaraan berjelaga di udara. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian mengejar waktu, seorang gadis dengan gamis longgar berwarna hitam dan khimar panjang senada tampak berdiri anggun. Penampilannya begitu kontras dengan lingkungan sekitar. Wajahnya tertutup selembar kain cadar berwarna hitam, hanya menyisakan sepasang mata bulat nan bening dengan bulu mata lentik, memancarkan perpaduan antara ketegaran dan kecemasan yang mendalam.
Ellea meremas kuat tali tas ranselnya yang terasa berat bergelayut di pundak. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya menginjakkan kaki di kota metropolitan yang begitu luas dan asing ini. Di jemari manisnya, sebuah cincin perak sederhana melingkar dengan pas. Cincin yang sama dengan yang ia lihat secara sekilas lewat layar ponsel setahun lalu saat prosesi ijab kabul yang sunyi.
"Nenek ... Ellea sudah sampai di kota tempat suami Ellea tinggal," bisiknya lirih dalam hati, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya akibat rindu pada almarhumah neneknya.
Sesuai petunjuk dan alamat yang dikirimkan oleh ibu mertuanya, Ellea menaiki taksi menuju sebuah kawasan perumahan elite di pusat kota. Sepanjang perjalanan, pandangannya terpaku pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Jantungnya berdebar bertalu-talu. Bagaimanakah rupa suaminya sekarang? Apakah pria itu bersedia menerimanya? Ataukah kedatangannya justru akan menjadi benalu yang tidak diinginkan?
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang rumah megah berarsitektur modern minimalis, Ellea menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Begitu ia turun, pintu utama rumah langsung terbuka.
Mahira berlari kecil keluar rumah, menyambutnya dengan sangat hangat.
"Ellea ... Sayang," panggil Mahira dengan suara bergetar.
Wanita paruh baya itu tanpa ragu langsung mendekap tubuh Ellea dengan erat. Air mata Mahira menetes seketika, menyalurkan rasa duka yang mendalam atas kehilangan nenek Ellea, sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat atas perlakuan putranya. Ellea membalas pelukan itu, merasa sedikit hangat di tengah keasingan kota ini.
Namun, setelah pelukan terurai, pandangan Ellea secara alami menyapu sekeliling halaman dan rumah yang sunyi. Sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seorang pria muda yang seharusnya menyambutnya sebagai seorang suami.
Menyadari arah pandang menantunya, senyum di wajah Mahira mendadak kaku. Ada rasa perih di dadanya karena harus berbohong demi menutupi kelakuan egois putranya yang saat ini sedang asyik melarikan diri di apartemen sepupunya.
"Albiru ... dia sedang ada urusan sekolah yang sangat padat, Nak. Tugas-tugasnya menumpuk karena sudah mau ujian, jadi hari ini belum bisa menyambutmu di rumah," ucap Mahira dengan senyum yang dipaksakan, berusaha meyakinkan.
Ellea terdiam sejenak. Namun, matanya yang bening tidak bisa berbohong bahwa ada setitik kekecewaan dan rasa maklum yang getir di sana. Ia tahu, pernikahan mereka bukanlah pernikahan normal yang didasari cinta. Dari balik cadarnya, Ellea memaksakan sebuah senyuman yang tulus.
"Tidak apa-apa, Tante. Ellea sangat mengerti. Tugas sekolah memang harus diutamakan," jawab Ellea dengan suara lembut dan santun.
Mendengar panggilan itu, Mahira langsung mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal untuk mencairkan suasana. "Kok panggilnya Tante sih? Kan sudah jadi anak bunda."
Wajah Ellea seketika bersemu merah di balik cadarnya. Ia merasa tersipu sekaligus haru. "B-bunda," ucapnya malu-malu.
"Nah, begitu dong. Panggil Bunda," ujar Mahira, kembali membawa Ellea ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Mulai sekarang, kamu bukan hanya sekadar menantu di keluarga ini, Ellea. Tapi kamu sudah jadi anak kandung bunda sendiri. Rumah ini adalah rumahmu juga."
"Terima kasih, Bunda. Terima kasih banyak sudah mau menerima Ellea yang sebatang kara ini," ucap Ellea terharu, matanya mulai berkaca-kaca.
Sembari menuntun Ellea masuk ke dalam rumah untuk mengantarnya ke kamar, Mahira melirik ke arah luar dengan helaan napas berat. Di dalam hatinya, kejengkelan pada Albiru kembali membubung tinggi.
“Albiru ini ... mau cari wanita seperti apa lagi coba? Ellea ini gadis yang sholehah, santun, cantik matanya, hatinya juga tulus. Kurang apa lagi coba? Awas kamu ya, Al, kalau pulang nanti!” gerutu Mahira dalam hati, bertekad untuk memberi pelajaran pada putranya yang masih kekanak-kanakan itu.