Naina mengira akan hidup bahagia, setelah berstatus sebagai istri dari Romi, seorang pengusaha kaya dan terkenal di negaranya, tapi ternyata banyak cobaan hidup yang harus ia jalani sesudah pernikahan itu.
Awalnya, mereka menikah hanya sebatas kerjasama bisnis, dan Romi tidak mencintai Naina karena gadis itu tuna wicara. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan Romi mulai berubah pada istrinya, dan mereka mulai tertarik satu sama lain.
Suatu hari, hal naas terjadi kepada Romi yang mengalami kecelakaan hingga ia menderita kebutaan.
Setelah kecelakaan itu Naina di perlakuan sangat tidak baik oleh keluarga Romi, terutama sang ibu mertua, karena mereka menganggap perempuan itu pembawa sial.
Bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi, dan apakah benar Naina penyebabnya? Akankah Naina terus bertahan dalam penyiksaan mertuanya, dan akan hidup bahagia bersama Romi ?
Yuk ikuti terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Dari mana saja kamu baru pulang? " tanya Rasti terhadap Naina, dengan sorot mata tajam.
Naina hanya diam dan menunduk kepala nya, ia tidak ingin niatnya untuk menjual rumah di ketahui oleh Rasti. Jika perempuan itu tahu, Naina sangat takut bahwa uangnya nanti akan di ambil oleh ibu mertua yang tidak memiliki hati nurani.
Ketika tidak ada jawaban dari Naina, Rasti merasa kesal ia ingin melampiaskan semua kemarahan nya tetapi Naina hanya diam saja. Akhirnya Rasti menunjuk ke arah belakang rumah, bahwa semua jemuran belum di angkat.
Padahal dia juga masih punya tangan dan kaki masih sehat, kenapa hanya untuk melakukan aktivitas seperti itu saja merasa berat. Semoga saja ini ibu mertua seperti ini akan mendapatkan hidayah di kemudian hari, agar tidak ada lagi korban kekejaman ibu mertua. Naina diam bukan berarti hatinya juga diam, dia sebetulnya merasakan sakit hati. Akan tetapi apalah daya tidak mampu untuk menolak semua keinginan ibu mertua nya, ia juga sudah tidak kuat ingin segera pergi. Setelah urusan nya selesai, tapi takdir Tuhan seperti nya berkata lain. Jadwal operasi belum juga ada kabar dari dokter, padahal untuk operasi mata itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Mungkin sekitar setengah jam, tapi kenapa seperti ini. Apakah ini juga sebuah rencana dari Tuhan bahwa tidak mengijinkan untuk melakukan ini, sehingga rasanya susah sekali.
Setelah berada di belakang m, Naina seperti biasanya melakukan aktivasi dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia Ingin mengistirahatkan tubuh nya, dengan penuh harapan bahwa esok hari akan bisa bernafas kembali dan bisa melakukan aktivasi seperti biasanya.
Waktu bergulir begitu cepat, pagi hari telah tiba.
Hari-hari yang di lalui Naina selalu seperti ini, mengurus kebutuhan suami. Ibu mertua serta kakak ipar, jika saja ia melakukan ini di sertai dengan suaminya dan rasa ikhlas yang keluar dari hati Naina mungkin akan terasa lebih indah. Ini yang di lakukan nya atas dasar paksakan atau siksaan, sejujurnya ia juga ingin berlari dari kehidupan seperti ini. Tapi nunggu Romi bisa melihat, tetapi mengapa hari itu terasa lama sekali.
Semua pekerjaan sudah selesai, di saat Naina ingin kembali ke kamar. Suara bell begitu berisik sehingga ia langsung membuka pintu dengan hati yang ngedumel, dan berkata dalam hati siapa yang bertamu sepagi ini. Dan ternyata orang itu adalah Sandra, dengan angkuh nya dan seperti putri di rumah ini langsung melengos begitu saja tanpa berkata apapun pada orang yang telah membuka pintu.
Dasar manusia tidak memiliki attitude.
Naina kembali ke belakang dengan tujuan ingin beristirahat sejenak, sebab sarapan untuk suaminya sudah di siapkan dan Naina tidak di beri kesempatan masuk ke kamar sang suami. Meskipun itu hanya sebatas mengantarkan makanan.
Sandra di sambut hangat oleh Rasti, dan Romi sudah berada di ruang makan. Mungkin mereka sudah merencanakan ini, untuk menyakiti Naina. Yang biasanya Romi melakukan sarapan di kamar, kali ini bersama mereka dan Sandra yang melayani nya seolah sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Naina yang sudah jelas bagian dari keluarga ini, malah di perlakuan sangat tidak baik bahkan tidak mereka anggap.
Susana di meja makan terlihat sangat bahagia, dan Naina kembali ke ruang pribadi milik nya. Dengan hati yang di penuhi kesakitan, setelah sampai di sana ia melihat ponsel nya dan ada sebuah pesan dan ternyata itu kabar baik untuk nya.
Setelah membaca pesan itu, Naina langsung bersiap untuk segera pergi ke tempat yang sudah di janjikan oleh orang tersebut. Ia tidak mau ambil pusing, dan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu. Sebab ia tidak ingin melihat perempuan lain berada di meja yang sama makan bersama suaminya, sedangkan dirinya di perlakuan seperti pembantu yang statusnya lebih rendah sehingga tidak ada tempat untuk mendekat ke arah suaminya bahkan hanya untuk makan bersama saja rasanya seperti apa.
Naina sudah berada di luar rumah, ia keluar lewat pintu belakang sehingga tidak melewati ruang makan jadi Rasti dan Sandra tidak mengetahui bahwa Naina pergi.
Ia pergi ke tempat tujuan, dengan menggunakan jasa ojeg online. Dan menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, sudah sampai di tempat tujuan.
Ia langsung melangkahkan kakinya ke tempat yang sudah di janjikan oleh orang tersebut. Dan ia sangat aneh ternyata yang di pesan oleh orang tersebut yaitu private room berapa terkejutnya Naina, mengapa bisa melakukan ini di tempat yang begitu rahasia ada apakah ini. Naina terus berbicara dalam hati semoga ini hal baik yang akan menguntungkan dirinya, sebab sudah terlalu lama kesakitan yang di terimanya.
Setelah sampai di dalam ruangan tersebut, Naina langsung di suruh duduk di sebuah tempat yang sudah tersedia dan belum ada siapa pun di sana. Dengan langkah ragu Naina mengikuti perintah orang tersebut lalu duduk sambil melihat kanan dan kiri.
Buktikan kepada Naina bahwa kamu mencintainya
Wahai emakkkk kenapa sifatmu bikin orang darah tinggi ga ada baiknya sedikitpun